KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH

M. Ghaza Kusairi

(Mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Malang, Jurusan Manajemen Pendidikan Islam)

  1. 1.      PENGERTIAN KEPEMIMPINAN

Kepemimpinan sebagai istilah umum dapat dirumuskan sebagai proses mempengaruhi orang lain dalam merealisasikan tujuan. Kepemimpinan berarti rangkaian kegiatan yang saling berhubungan dengan orang lain, meskipun tidak mengikuti rangkaian yang sistematis. Rangkaian itu berisi kegiatan menggerakkan, membimbing dan mengarahkan serta mengawasi orang lain dalam berbuat sesuatu, baik secara perseorangan maupun bersama-sama.[1]

Pandangan Islam tentang kepemimpinan bukanlah suatu hal yang istimewa tetapi tanggung jawab, ia bukan fasilitas tetapi pengorbanan juga bukan untuk berleha-leha tetapi kerja keras. Pemimpin juga bukan kesewenang-wenangan bertindak tetapi kewenangan melayani. Kepemimpinan adalah berbuat dan kepeloporan bertindak. Imam dan Khalifah merupakan dua istilah yang digunakan al-Qur’an untuk menunjuk pemimpin. Kata imam terambil dari kata ammayaummu, yang berarti menuju, menumpu dan meneladani. Kata khalifah berakar kata khalafa yang pada mulanya berarti dibelakang seringkali juga diartikan pengganti, karena menggantikan selalu berada dibelakang atau datang sesudah yang digantikannya.[2]

Kepemimpinan kepala sekolah yang efektif sudah barang tentu akan meningkatkan kinerja guru. Beberapa penelitian membuktikan bahwa kepemimpinan yang paling tepat tergantung pada beberapa variabel yang saling berhubungan karena kepemimpinan merupakan permasalahan yang kompleks. Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan-kegiatan seseorang atau kelompok dalam mencapai tujuan bersama. Sedangkan kepemimpinan yang dimaksud dalam lembaga pendidikan adalah kepemimpinan pendidikan (educational leadership). Kepemimpinan pendidikan adalah proses mempengaruhi personel yang mendukung proses belajar mengajar dalam rangka merealisasikan tujuan pendidikan. Kepemimpinan pendidikan ini biasanya dipegang oleh Rektor, direktur, kepala sekolah, kepala madrasah ataupun pimpinan pesantren. Dalam rangka mengembangkan amanahnya itu, seorang pemimpin harus mengetahui apa yang ingin dicapai (visi), bagaimana pencapaiannya (misi) serta harus memiliki kompetensi dan karakter-karakter tertentu yang menunjukkan integritasnya sebagai sosok pemimpin.

Fred E. Fielder&Martin Chammers dalam Wahjosumidjo menyatakan bahwa persoalan kepemimpinan pada dasarnya tidak lepas dari tiga hal yaitu (1) bagamana seorang menjadi pemimpin (how one become leader), (2) bagaimana pemimpin berperilaku (how leader behave), dan (3) apa yang membuat pemimpin itu berhasil (what makes the leader effective).[3]

Menurut Yukl dalam Husaini Usman, beberapa definisi tentang kepemimpinan yang dianggap cukup mewakili selama seperempat abad adalah sebagai berikut:[4]

  1. Kepemimpinan adalah perilaku dari seseorang individu yang memimpin aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingin dicapai bersama (shared goal)
  2. Kepemimpinan adalah pengaruh antarpribadi yang dijalankan dalam suatu situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi ke arah pencapaian tujuan satu atau beberapa tujuan tertentu.
  3. Kepemimpinan adalah pembentukan awal serta pemiliharaan struktur dalam harapan dan interaksi.
  4. Kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit, pada dan berada di atas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan-pengarahan rutin organisasi.
  5. Kepemimpinan adalah proses memengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan.
  6. Kepemimpinan adalah sebuah proses memberikan arti (pengarahan yang berarti) terhadap usaha kolektif, dan yang mengakibatkan kesedian untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran.[5]

Sedangkan Terry & Rue menyatakan bahwa kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam diri seseorang pemimpin, memengaruhi orang lain untuk bekerja sama secara sadar dalam hubungan tugas yang diinginkan. Sanusi menyatakan bahwa kepemimpinan adalah penyatupaduan dari kemampuan, cita-cita dan semangat kebangsaan dalam mengatur, mengendalikan, dan mengelola rumah tangga keluarga maupun organisasi atau rumah tangga negara.[6] Sementara Stogdill dan Stoner mendefinisikan kepemimpinan adalah suatu upaya untuk mempengaruhi aktivitas individu atau kelompok secara sengaja untuk mencapai tujuan organisasi.[7]

George Terry di dalam bukunya “Principles Of Management” mengartikan kepemimpinan sebagai hubungan dimana satu orang yakin pemimpin mempengaruhi pihak lain untuk bekerja sama sukarela dalam usaha mengerjakan tugas-tugas yang berhubungan untuk mencapai yang dinginkan oleh pemimpin tersebut.[8] Ibrahim Bafadal lebih lanjut memberikan pengertian kepemimpin yaitu:

Kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai keseluruhan proses mempengaruhi, mendorong, mengajak, menggerakkan, dan menuntun orang lain dalam proses bekerja agar berpikir, bersikap dan bertindak sesuai aturan yang berlaku dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hakikat kepemimpinan adalah kegiatan seseorang menggerakkan orang lain, agar orang lain itu berkenan melaksanakan tugas-tugasnya.[9]

Dengan demikian, kepemimpinan merupakan inti manajemen yakni sebagai motor penggerak bagi sumber-sumber dan alat-alat dalam organisasi. Sukses tidaknya suatu organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan tergantung model kepemimpinan yang digunakan atau dipraktikkan orang-orang atasan (pemimpin-pemimpin itu). Pemimpin merupakan salah satu faktor yang sangat berperan dalam organisasi, baik buruknya organisasi sering kali sebagian besar tergantung pada faktor pemimpin.

  1. 2.      MPDEL KEPEMIMPINAN

Kepemimpinan seseorang dapat digolongkan ke dalam salah satu tipe dan mungkin setiap tipe memiliki berbagai macam gaya kepemimpinan. Salah seorang pemimpin yang memiliki salah satu tipe bisa menyesuaikan diri dengan situasi yang dihadapi dalam melaksanakan kepemimpinannya.[10] Kartini Kartono membagi tipe kepimimpinan sebagai berikut:[11]

  1. Tipe Kharismatik. Pemimpin yang tergolong tipe ini pada umumnya memiliki kewibawaan yang sangat besar terhadap pengikutnya. Kewibawaan memancar dari pribadinya, yang dibawanya sejak lahir. Dengan demikian, pemimpin yang karismatik itu biasanya memiliki kekuatan gaib (supranatural power). Dari penampilannya memancar kewibawaan yang menyebabkan pengikutnya merasa tertarik dan kagum serta patuh. Beberapa orang pemimpin yang tergolong dalam tipe ini adalah: Iskandar Zulkarnain, F. Kennedy, Soekarno, serta Gandhi.[12] Dalam Islam, tipe kepemimpinan karismatik (spritual Leadership) diartikan sebagai kepemimpinan yang sangat menjaga nilai-nilai etis, nilai moral yang luhur serta menjaga nilai-nilai spiritual yang ada dibalik posisinya sebagai pemimpin. Pemimpin macam ini melakukan aktifitasnya benar-benar hanya memuaskan hati pengikutnya  melalui pemberdayaan, memulihkan, menguntungkan dan juga tidak hanya mampu memberikan keuntungan  financial saja, akan tetapi hati, jiwa, mereka juga dihibur sehingga termotivasi dengan pekerjaan yang efektif, efisien dan produktif dan akhirnya berdampak terhdap pengembangan organisasi.[13] Dalam al-Qur’an telah ditemukan beberapa sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin karismatik walaupun ciri ini adalah karakteristik pemimpin pada umumnya, yaitu:

1)      Berpengetahuan luas, kreatif, inisiatif, peka, lapang dada dan selalu tanggap, hal ini sebagaimana Allah jelaskan dalam firman-Nya yang berbunyi:

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) Ÿ@ŠÏ% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? †Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿtƒ ª!$# öNä3s9 ( #sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% (#râ“à±S$# (#râ“à±S$$sù Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_u‘yŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis-majlis,” maka lapangkanlah niscaya Allah akan melapangkan buat kamu, dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah terhadap apa yang kamu kerjakan Maha Mengetahui.” (QS. al-Mujadilah: 11)[14]

2)      Bertindak adil dan jujur serta konsekwen

3)      Bertanggung Jawab

4)      Selektif terhadap informasi

5)      Memberikan peringatan

6)      Memberikan petunjuk dan pengarahan

  1. Tipe Paternalistis. Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin tipe paternalistis adalah pemimpin yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: memandang dan menganggap bawahan sebagai anak-anak (belum dewasa), bersikap terlalu melindungi, jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan, jarang memberikan kesempatan kepada bawahan mengembangkan kreasi dan vitalitasnya, jarang memberikan kesempatan untuk berinisiatif, dan bersifat mahatahu.
  2. Tipe Militeristik. Seorang pemimpin yang melaksanakan kepemimpinannya dengan tipe militeristik adalah pemimpin dengan sifat-sifat sebagai berikut: sering mempergunakan sistem perintah (intruksi), menyandarkan diri kepada pangkatan dan jabatan, senang pada hal-hal formalistik yang berlebih-lebihan, disiplin mati, tidak senang dikritik, dan menggemari upacara-upara.[15]
  3. Tipe Partisipatif. Gaya kepemimpinan ini dipakai oleh mereka yang percaya bahwa cara untuk memotivasi orang-orang adalah dengan melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini diharapkan akan menciptakan rasa memiliki sasaran dan tujuan bersama[16]
  4. Tipe Administratif. Kepemimpinan ini mampu melaksanakan tugas-tugas administrasi secara efektif. Sedang para pemimpinnya terdiri dari teknokrat dan administratur-administratur yang mampu menggerakan dinamika modernisasi dan pembangunan. Dengan adanya kepemimpinan semacam ini diharapkan adanya perkembangan teknologi keadministrasian yang canggih
  5. Tipe Laissez-Faire. Ini sama sekali bukanlah kepemimpinan. Tipe ini membiarkan segala sesuatunya berjalan dengan sendirinya. Pemimpin hanya melaksankan berfungsi pemiliharaan saja.[17] Pemimpin tidak berpartisipasi dalam kelompoknya. Semua pekerjaan dan tanggung jawab harus dilakukan oleh bawahan sendiri. Dia merupakan pemimpin simbul, yang tidak memiliki keterampilan teknis dalam kepemimpinan.
  6. Tipe Otokratis. Tipe ini ditandai dengan ketergantungan kepada yang berwenang dan biasanya menganggap bahwa orang lain tidak akan melakukan apa-apa kecuali jika diperintah.[18] Pemimpin tipe otokratis memiliki ciri-ciri sebagai berikut: menganggap organisasi sebagai milik pribadi, mengidentifikasi organisasi sebagai milik pribadi, menganggap bahwa organisasi sebagai alat, tidak menerima kritik, saran dan pendapat, dan sering menggunakan pendekatan yang bersifat paksaan dan bersifat menghukum.[19]
  7. Tipe Demokratis. Tipe kepemimpinan ini paling tepat untuk memimpin organisasi modern. Beberapa sifat dari tipe ini antara lain:[20] selalu bertitik tolak dari rasa persamaan hak dan persamaan kewajiban sebagai manusia, berusaha menyinkronkan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi/bawahan, senang menerima saran, pendapat dan kritik, mengutamakan kerja sama kelompok dalam pencapaian tujuan organisasi, memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahan untuk melakukan tugas, berusaha memberikan kesempatan untuk berkembang kepada bawahan, dan membimbing bawahan untuk lebih berhasil daripadanya.

Tipe dan gaya kepemimpinan tentu berbeda-beda, demikian juga dengan para pengikutnya. Organisasi-organisasi perlu memperbaharui diri mereka sendiri, dan tipe kepemimpinan yang berbeda sering kali dibutuhkan. Idealnya, dalam organisasi seorang pemimpin harus memiliki berbagai macam tipe atau gaya kepemimpinnya. Pemimpin harus siap dengan bermacam keadaan yang dihadapi. Apabila tipe kepemimpina tidak sesuai dengan sasaran dan tujuan organisasi, sering organisasi tersebut mengadaptasi strategi menhindari kegagalan.

Kasali, dalam Muhaimin mengemukakan 5 tahap kepemimpinan yang meliputi: (a) level 1, pemimpin karena hal-hal yang bersifat legalitas semisal menjadi pemimpin karena Surat Keputusan (SK), (b) level 2, pemimpin yang memimpin dengan kecintaannya, pemimpin pada level ini sudah memimpin orang bukan memimpin pekerjaan, (c) level 3, pemimpin yang lebih berorientasi pada hasil, pada pemimpin level ini prestasi kerja adalah sangat penting, (d) level 4, pada tingkat ini pemimpin berusaha menumbuhkan pribadi-pribadi dalam organisasi menjadi untuk menjadi pemimpin, dan (e) level 5, pemimpin yang memiliki daya tarik yang luar biasa. Pada pemimpin level ini orang-orang yang mengikutinya bukan hanya karena apa yang telah diberikan pemimpin secara personal atau manfaatnya, tetapi juga kerena nilai-nilai dan simbol-simbol yang melekat pada diri orang tersebut. Agar seorang kepala sekolah/madrasah mampu bergerak dari pemimpin level 1 menuju pemimpin level di atasnya, sampai dengan pemimpin level 5 dibutuhkan empat unsur, yaitu: Visi (vision), Keberanian (courageness), Realita (reality), dan Etika (ethics).[21]

  1. 3.      TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN

Ada beberapa teori kepemimpinan yang berkembang selama ini dalam organisasi antara lain yaitu:[22]

  1. Teori sifat tentang kepemimpinan. Teori sifat menjelaskan bahwa kepemimpinan seseorang sangat erat kaitannya dengan faktor sifat bawaan pribadi pemimpin sejak lahir.
  2. Teori kontengency tentang kepemimpinan. Teori ini berbeda dengan teori pendekatan sifat, bahwa teori kontengenci menyatakan situasi menentukan gaya kepemimpinan seorang pemimpin.
  3. Teori transformasional atau harismatik. Teori ini merupakan teori yang relatif baru dalam ilmu manajemen, khususnya tentang kepemimpinan suatu organisasi. Teori transfomasional lebih mengutamakan partisipasi aktif para anggota organisasi dalam mencapai tujuan organisasi.
  4. Teori kepemimpinan pendekatan kecerdasan emosional. Dalam pendekatan ini, bahwa kepemimpinan merupakan upaya untuk menyakinkan orang lain untuk bekerja keras menuju sasaran bersama.[23]

Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan.[24] Teori kepemimpinan terdiri atas pendekatan, antara lain:

  1. Teori Pedekatan Sifat. Pendekatan ini berdasarkan pada sifat seseorang yang dilakukan dengan cara: membandingkan sifat yang timbul sebagai pemimpin dan bukan pemimpin dan membandingkan sifat pemimpin yang efektif dengan pemimpin yang tidak efektif. Pendekatan sifat-sifat berpendapat bahwa pemimpin itu dilahirkan bukan diciptakan, artinya seorang telah membawa bakat kepemimpinan sejak dilahirkan bukan dididik atau dilatih. Pemimpin yang dilahirkan tanpa melalui diklat sudah dapat menjadi pemimpin yang efektif. Pelatihan kepemimpinan hanya bermanfaat bagi mereka yang memang telah meiliki sifat-sifat kepemimpinan. Artinya, seseorang yang tidak memiliki sifat dan bakat kepemimpinan yang dibawa sejak lahir, tidak perlu dilatih kepemimpinan karena akan sia-sia saja.[25]
  2. Teori Pendekatan Perilaku. Pendekatan perilaku memandang bahwa kepemimpinan dapat dipelajari dari pola tingkah laku, dan bukan dari sifat-sifat pemimpin. Alasannya sifat seseorang relatif sukar untuk diindentifikasi. beberapa pandangan ahli, antara lain James Owen berkeyakinan bahwa perilaku dapat dipelajari, hal ini berarti bahwa seorang yang dilatih dalam perilaku kepemimpinan yang tepat akan dapat memimpin secara efektif.[26]
  3. Teori Kepemimpinan Situasional-Kontingensi. Pendekatan ini merevisi pendekatan perilaku yang ternyata mampu menjelaskan kepemimpinan yang ideal. Pendekatan ini terkenal dengan beberapa model  teori kepemimpinan  yang dikemukakan oleh para ahli, yaitu:
    1. Model kontingensi Fiedler. Model kepemimpinan Fiedler merupakan kakek (grand daddy) dari semua model kontingensi lainnya. Fiedler berpendapat bahwa pemimpin akan berhasil menjalankan kepemimpinanya jika menerapkan gaya kepemimpinan yang berbeda di suatu situasi yang berbeda pula.  Artinya, gaya kepemimpinan yang digunakan tergantung situasi. Ada tiga sifat situasi yang dapat mempengaruhi kefektifan kepemimpinan, yaitu (a) hubungan pemimpin-bawahan yang menguntungkan situasi, (b) derajat susunan tugas yang menguntungkan situasi dan (c) kekuasaan formal yang menguntungkan situasi.[27]
    2. Model rangkaian kesatuan kepemimpinan Tennenbaum & Schmidt. Dalam model ini, Tennenbaum & Schmidt berpendapat bahwa ada tiga faktor yang dipertimbangkan pemimpin dalam memilih gaya kepemimpinannya, yaitu kekuatan dirinya sendiri sebagai pemimpin, kekuatan bawahannya, dan kekuatan situasi.
    3. Model kontinum kepemimpinan Vroom & Yetton. Vroom & Yetton terkenal dengan gaya pembuatan keputusan manajemen. Dengan menggunakan model Vroom & Yetton yang sederhana dan praktis, kita dapat menentukan sejauh mana masukan bawahan dapat dijadikan bahan pengemabilan keputusan di dalam berbagai situasi.[28]
    4. Model kepemimpinan Path Goal Theory. Model kepemimpinan Path Goal theory mengadaptasi kepemimpinan situasional. Model ini dikembangkan pada tahun 1970-an oleh Evan dan House. Peranan pemimpin adalah menjelaskan kepada bawahannya cara mendapatkan imbalan (mencapai tujuan individu). Kefektifan kepemimpinan tergantung dari kemampuan pemimpin memuaskan kebutuhan bawahannya dan kemampuan pemimpin memberi petunjuk kepada bawahannya.[29]
    5. Model kepemimpinan situasional Hersey & Blanchard. Kepemimpinan situasional menurut Hersey & Blanchard didasarkan saling pengaruh antara perilaku kepemimpinan yang ia terapkan, sejumlah pendukungan emosional yang ia berikan, dan tingkat kematangan bawahannya.
  4. Teori Kepemimpinan Transformasional. Pemimpin dengan kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang memiliki visi ke depan dan mampu menidentifikasi perubahan lingkungan serta mampu mentransformasi perubahan tersebut ke dalam organisasi. Yukl menyimpulkan esensi kepemimpinan transformasional adalah:[30]

Memberdayakan peran pengikutnya untuk berkinerja secara efektif dengan membangun kometmen mereka terhadap nilai-nilai baru, mengembangkan keterampilan dan kepercayaan mereka, menciptakan iklim yang kondusif bagi berkembangnya inovasi dan kraktivitas.

Esensi kepemimpinan transformasional adalah sharing of power dengan melibatkan bawahan secara bersama-sama untuk melakukan perubahan. Dengan demikian, kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang mampu menciptakan perubahan yang mendasar dan dilandasi oleh nilai-nilai agama, sistem dan budaya untuk menciptakan inovasi dan kreaktivitas pengikutnya dalam rangka mencapai visi yang telah ditetapkan. Pemimpin transformasional sesungguhnya merupakan agen perubahan, karena memang erat kaitannya dengan transformasi yang terjadi dalam suatu organisasi. Fungsi utamanya adalah berperan sebagai katalis perubahan, bukanya sebagai pengontrol perubahan. Seorang pemimpin transformasional memiliki visi yang jelas, memiliki gambaran holistik tentang bagaimana organisasi di masa depan ketika semau tujuan dan sasaran sudah tercapai.

MacGilchrist, et al., mengembangkan sembilan kecerdasan pemimpin yang dibutuhkan sekolah untuk memimpin guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik. Kesembilan kecerdasan kepemimpinan pendidikan itu adalah sebagai berikut:[31]

  1. Kecerdasan etika: adil, hormat kepada orang lain, mejunjung tinggi kebenaran dan bertanggung jawab.
  2. Kecerdasan spritual: mencari makna hidup, berakhlak mulia (iman dan taqwa).
  3. Kecerdasan kontekstual: memahami lingkungan lokal, regional, nasional dan global.
  4. Kecerdasan operasional: berpikir strategis, mengembangkan perencanaan, mengatur manajemen, dan mendistribusikan kepemimpinan.
  5. Kecerdasan emosional: mengenal diri sendiri, mengenal diri orang lain, mampu mengendalikan emosi, dan mengembangkan kepribadian.
  6. Kecerdasan kolegial: komitmen terhadap tujuan bersama, mengetahui kreasi, pembelajaran multilevel, dan membangun kepercayaan.
  7. Kecerdasan reflektif: menyediakan waktu untuk refleksi, evaluasi diri, mempelajarai secara mendalam, dan menerima umpan balik untuk perbaikan.
  8. Kecerdasan pedagodik: mengembangkan visi baru dan tujuan pembelajaran, meningkatkan kompetensi mengajara, sikap keterbukaan di kelas, dan bersikap mendidik.
  9. Kecerdasan sistematik: memberi contoh model mental, berpikir sistem, mengorganisasi diri sendiri, dan mengefektifkan jaringan kerja.[32]

Seorang pemimpin yang sukses adalah seorang pemimpin yang pemberani, bukan hanya dalam pengertian fisik. Jika pemimpin tidak memiliki keberanian yang diperlukan untuk bertindak demi kepentingan orang banyak, maka pemimpin itu kehilangan kepercayaan dari kelompoknya. Pemimpin yang sempurna harus mampu menerapkan kedisiplinan dalam arti yang klasik, yakni mengajarkan kepada para pengikutnya ke jalan yang benar. Disiplin bukan hanya menerapkan kontrol dan menghukum orang yang tidak menaati instruksi, tetapi disiplin adalah membingan, aturan, latihan, yang tanpa semua itu tidak seorang pun yang akan memimpin dengan efektif. Lewis H. Lapham mengatakan bahwa kepemimpinan bukan menghendaki ukuran teknis, tetapi sikap dan karakter. Sesuatu yang diperlukan dalam kepemimpinan adalah kekuatan moral, bukan kekuatan fisik atau intelektual.[33] Kepemimpinan merupakan suatu usaha untuk menggerakkan manusia untuk mencapai tujuan tertentu baik yang bersifat duniawi maupun bersifat ukhrowi sesuai dengan nilai dan syariat Islam. Dengan demikian, semakin banyak jumlah sumber kekuasaan yang tersedia bagi pemimpin, akan semakin besar potensi kepemimpinan yang efektif.

  1. PERAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH

Kepemimpinan yang efektif memiliki peran yang menentukan terhadap kelangsungan hidup sebuah organisasi. Namun, terdapat prinsip pokok yang disepakati tentang kepemimpinan yang efektif yaitu sikap seorang pemimpin yang mampu mempengaruhi orang lain (stafnya) untuk bekerja lebih keras dalam mengemban tugas dan tanggung jawab, serta merubah prilaku anggota organisasi sesuai dengan tujuan organisasi.[34] Dalam mengembangkan sekolah berwawasan imtaq, pemimpin harus memiliki komitmen yang kuat untuk mewujudkannya.

Peran kepala sekolah sebagai seorang pemimpin harus mampu meningkatkan peran strategis dan teknis dalam meningkatkan kualitas lembaga yang dipimpinnya. Kepemimpinan kepala sekolah sebagai agen perubahan dalam meningkatkan kualitas keagamaan (IMTAQ) sangat penting juga untuk diperhatikan, karena dengan dasar iman dan taqwa (IMTAQ) siswa mampu menjaankan aktivitas berlajar dan bergaul di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat dengan didasari oleh nilai-nilai agama yang merupakan implikasi dari iman dan taqwa (IMTAQ) kepada Allah SWT.

Pihak sekolah dalam mengapai visi dan misi pendidikan perlu ditunjang oleh kemampuan kepala sekolah dalam menjalankan roda kepemimpinannya. Meskipun pengangkatan kepala sekolah tidak dilakukan secara sembarangan, bahkan diangkat dari guru yang sudah berpengalaman atau sudah lama menjabat sebagai wakil kepala sekolah, namun tidak dengan sendirinya membuat kepala sekolah menjadi profesional dalam melakukan tugas.[35] Dinas Pendidikan (dulu: Depdikbud) telah menetapkan bahwa kepala sekolah harus mampu melaksanakan pekerjaannya, yaitu:

  1. Kepala Sekolah sebagai Educator (pendidik). Dalam melakukan fungsinya sebagai educator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolah. Menciptakan iklim sekolah yang kondusif, memberikan nasehat kepada warga sekolah. Peran kepala sekolah sebagai pendidik, harus mampu menanamkan pembinaan moral, yaitu pembinaan pembinaan para tenaga kependidikan tentang hal-hal yang berkaitan dengan ajaran baik buruk mengenai suatu perbuatan, sikap, dan kewajiban masing-masing. Kepala sekolah profesional harus berusaha memberikan nasehat kepada seluruh warga sekolah, misalnya pada setiap upacara bendera atau pertemuan rutin.[36]
  2. Kepala Sekolah sebagai Manajer. Manajemen pada hakekatnya merupakan suatu proses merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, memimpindan mengendalikan usaha para anggota organisasi serta mendayagunakan seluruh sumber-sumber daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dikatakan suatu proses, karena semua manajer dengan ketangkasan dan keterampilan yang dimilikinya mengusahakan dan mendayagunakan berbagai kegiatan yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan.[37] Berdasarkan uraian tersebut, seorang manajer atau kepala sekolah pada hakikatnya adalah seorang perencana, organisator, pemimpin, dan seorang mengendali. Keberadaan manajer pada suatu organisasi sangat diperlukan, sebab organisasi sebagai alat mencapai tujuan organisasi di mana di dalamnya berkembang berbagai macam pengetahuan, serta organisasi yang menjadi tempat untuk membina dan mengembangkan karier-karier sumber daya manusia, memerlukan manajer yang mampu untuk merencanakan, mengorganisasikan, memimpin dan mengendalikan agar organisasi dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[38]
  3. Kepala Sekolah sebagai Administrator. Kepala sekolah sebagai administrator memiliki hubungan yang sangat erat dengan berbagai aktivitas pengelolaan administrasi yang bersifat pencatatan, penyusunan dan pendokumenan seluruh program sekolah. Secara spesifik, kepala sekolah harus memiliki kemampuan untuk mengelola kurikulum, mengelola administrasi peserta didik, mengelola administrasi personalia, mengelola administrasi sarana dan prasarana, mengelola administrasi kearsiapan dan mengelola administrasi keuangan.[39] Dalam melaksanakan tugas-tugas di atas, kepala sekolah sebagai administrator, khususnya dalam meningkatkan keinerja dan produktifitas sekolah, dapat dianalisis berdasarkan beberapa pendekatan, baik pendekatan sifat, pendekatan perilaku, maupun pendekatan situasional. Dalam hal ini, kepala sekolah harus mampu bertindak situasional, sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Meskipun demikian, pada hakekatnya kepala sekolah harus lebih mengutamakan tugas (task oriented), agar tugas-tugas yang diberikan kepada setiap tenaga kependidikan bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian, efektifitas kerja kepala sekolah bergantung pada tingkat pembauran antara gaya kepemimpinan dengan tingkat menyenangkan dalam situasi tertentu.[40]
  1. Kepala Sekolah sebagai Supervisor. Kegiatan utama pendidikan di sekolah dalam rangka mewujudkan tujuannya adalah kegiatan pembelajaran, sehingga seluruh aktifitas organisasi sekolah bermuara pada pencapaian efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Oleh karena itu, salah satu tugas kepala sekolah adalah sebagai supervisor, yaitu mensupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan.[41] Kepala sekolah sebagai supervisor harus diwujudkan dalam kemampuan menyusun, dan melaksanakan program supervisi pendidikan, serta memanfaatkan hasilnya.
  2. Kepala Sekolah sebagai Leader (pemimpin). Kepala sekolah sebagai leader (pemimpin) harus mampu memberikan petunjuk dan pengawasan, meningkatkan kemampuan tenaga kependidikan. Ada beberapa karakater yang harus dimiliki kepala sekolah sebagai leader yaitu, kepribadian, keahlian dasar, pengelaman dan pengetahuan profesional, serta pengetahuan administrasi dan pengawasan.[42] Sedangkan kepribadian kepala sekolah sebagai pemimpin (leader) akan tercermin dalam sifat-sifatnya (1) jujur, (2) percaya diri, (3) tanggung jawab, (4) berani mengambil resiko dan keputusan, (5) berjiwa besar, (6) emosi yang stabil, dan (7) teladan.[43] Di samping itu, kemampuan yang harus diwujudkan kepala sekolah sebagai leader (pemimpin) dapat dianalisis dari kepribadian, pengetahuan terhadap tenaga kependidikan, visi dan misi sekolah, kemampuan mengambil keputusan, kemampuan berkomunikasi dan kemampuan untuk memahami siswa.
  3. Kepala Sekolah sebagai Innovator. Dalam rangka melakukan peran dan fungsinya sebagai innovator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan, mencari gagasan baru, mengintegrasikan setiap kegiatan, memberikan teladan kepada seluruh warga sekolah, dan mengembangkan model-model pembelajaran yang inovatif. Kepala sekolah sebagai innovator harus mampu mencari, menemukan, dan melaksanakan berbagai pembaharuan di sekolah.
  4. Kepala Sekolah sebagai Motivator. Sebagai motivator, kepala sekolah harus mamiliki strategi yang tepat untuk meberikan motivasi kepada para tenaga kependidikandan para siswa dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Peran kepala sekolah sbagai motivator sangat penting dalam mengembangkan dan mencapai tujuan sekolah yang telah ditetapkan.


[1] Hadari Nawawi, Kepemimpinan Yang Efektif (Jogjakarta: PT. Gaja Mada University Press, 2004), hlm. 22

[2] Veithzal Rivai, Arviyan Arifin, Op.cit., hlm. 112

[3] Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah (Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya (Jakarta: RaraGrafindo Persada, 1999, hlm. 19

[4] Husaini Usman, Manajemen: Teori, Praktik dan Riset Pendidikan (Jakarta: Bumi Askara, 2010, Edisi 3), hlm. 279

[5] Ibid, hlm. 279

[6] Ibid, hlm. 280

[7] Rasmianto, Jurnal er-Harakah, op.cit., hlm. 14

[8] George R. Terry, Asas-Asas Manajemen,Terj. oleh Winardi (Bandung: Alumni, 1986), hlm: 343

[9] Ibrahim Bafadal, Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasar, dari Sentralisasi Menunju Desentralisasi (Jakarta: PT. Bumi Askara, 2006), hlm. 44

[10] Veithzal Rivai, Sylviana Murni, Education Management: Analisis Teori dan Praktik (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2009), hlm. 288

[11] Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan (Apakah Kepemimpinan Abnormal itu) (Jakarta: Rajawali, 1991), hlm. 69

[12] Veithzal Rivai, Sylviana Murni, Op.cit., hlm. 189

[13] Mas’ud Said, Kepemimpinan Pengembangan Organisasi Team Building dan Perilaku Inovatif (Malang: UIN-Malang Press, 2007), hlm. 110.

[14] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Op.cit., hlm. 77

[15] Veithzal Rivai, Sylviana Murni.,Op.cit., hlm. 288

[16] Veithzal Rivai, Arviyan Arifin, Op.cit., hlm. 306

[17] Ibid, hlm. 306

[18] Ibid, hlm. 306

[19] Veithzal Rivai, Sylviana Murni, Op.cit., hlm. 288

[20] Ibid, hlm. 289

[21] Muhaimin, el.al., Manajemen Pendidikan, Op.cit., hlm. 30-31

[22] Rasmianto, Jurnal er-Harakah, Op.cit., hlm. 16-18

[23] Ibid, hlm. 16-18

[24] Nanang Fattah, Op.cit., hlm. 88

[25] Husaini Usman., Op.cit., hlm. 294

[26] Nanang Fattah., Op.cit., hlm. 91

[27] Husaini Usman, Op.cit., hlm. 313-314

[28] Ibid, hlm. 316-317

[29] Ibid, hlm. 319-320

[30] Ibid, hlm. 334

[31] Ibid, hlm. 375

[32] Ibid, hlm. 375

[33] Sabrina Jasmine, 101 Prinsip Kepemimpinan Terhebat Sepanjang Sejarah (Jogjakarta: Diglossia, 2009), hlm. 9

[34] Syahrizal Abbas, Manajemen Perguruan Tinggi (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), hlm. 62

[35] E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), hlm. 97

[36] Ibid., hlm. 98-99

[37] Ibid, hlm. 103

[38] Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah: Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1999), hlm. 95-96

[39] E. Mulyasa, Op.cit., hlm. 107

[40] Ibid, hlm. 108-109

[41] Ibid, hlm. 111

[42] Wahjosumidjo,Op.cit., hlm. 110

[43] E. Mulyasa, Op.cit., hlm. 115

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: