KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENGEMBANGKAN IMTAQ

M. Ghaza Kusairi

(Mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Malang, Jurusan Manajemen Pendidikan Islam)

Keberadaan seorang pemimpin dalam organisasi sangat dibutuhkan untuk membawa organisasi kepada tujuan yang telah ditetapkan. Berbagai gaya kepemimpinan akan mewarnai perilaku seorang pemimpin dalam menjalankan tugasnya. Bagaimanapun gaya kepemimpinan seseorang tentunya akan diarahkan untuk kepentingan bersama yaitu kepentingan anggota dan organisasi. Dalam sebuah lembaga pendidikan, salah satu elemen yang berperan penting sebagai agent of change adalah pemimpin yang memimpin lembaga pendidikan tersebut. Hal ini karena pemimpinlah yang menjadi “pengemudi” ke mana lembaga pendidikan yang pimpinnya itu akan dibawa. Peran key position kemajuan dan perkembangan tidak keliru dialamatkan kepada kepemimpinan kepala sekolah.

Kepemimpinan kepala sekolah sebagai agen perubahan dalam sekolah mempunyai peran aktif dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Untuk meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah maka kepala sekolah sebagai pemimpin harus mampu mempunyai leadership yang baik. Kepemimpinan yang baik adalah kepala sekolah yang mampu dan dapat mengelolah sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran dan sumber daya manusia hendaknya mampu menciptakan iklim organisasi yang baik agar semua komponen sekolah dapat memerankan diri secara bersama untuk mencapai sasaran dan tujuan organisasi.

Kepemimpinan merupakan prilaku mempengaruhi individu atau kelompok untuk melakukan sesuatu dalam rangka tercapainya tujuan organisasi. Secara lebih sederhana dibedakan antara kepemimpinan dan manajemen, yaitu pemimpin mengerjakan suatu yang benar (people who do think right), sedangkan manajer mengerjakan suatu dengan benar (people do right think). Landasan inilah yang menjadi acuan mendasar untuk melihat peran pemimpin dalam suatu organisasi. Perbedaan ini memberikan gambaran bahwa pemimpin biasanya terkait dengan tingkat kebijakan puncak atau pengambil keputusan puncak yang bersifat menyeluruh dalam organisasi, sedangkan menejer merupakan pengambil keputusan tingkat menengah.[1] Sehingga kepemimpinan kepala sekolah juga dituntut untuk mampu menciptakan iklim organisasi yang baik agar semua komponen sekolah dapat memerankan diri secara bersama untuk mencapai sasaran dan tujuan organisasi sekolah, yaitu membentuk generasi yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Dalam abad modern ini, berbagai penjelasan dalam organisasi memerlukan pemimpin yang berorientasikan pada perubahan. Kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang mampu membawa organisasi sesuai dengan asas-asas manajemen modern[2], sekaligus mampu mengembangkan lingkungan organisasi yang berawawas iman dan taqwa dalam kegiatan sehari-hari. Suatu kenyataan bahwa kemerosotan akhlak akhir-akhir ini tidak hanya menimpa kalangan orang dewasa tetapi telah merembet pada kalangan pelajar tunas-tunas muda. Orang tua, pendidik, dan mereka yang berkecimpung dalam bidang agama dan sosial banyak mengeluh terhadap perilaku mereka yang tidak baik. Perilaku mereka yang nakal, keras kapala, mabuk-mabukan, tawuran, pergaulan bebas, pesta obat-obatan terlarang, bergaya hidup mewah dan pendek kata perilaku mereka tidak mencerminkan pelajar yang berpendidikan. Disinilah peran kepemimpinan kepala sekolah dituntut untuk mampu membimbing bawahannya yaitu peserta didik. Peran kepemimpinan kepala sekolah sangat berperanan penting dalam mengembangan lingkungan berwawasan iman dan taqwa pada organisasi yang dipimpinnya.

Dalam memimpin suatu organisasi sekolah, kepala sekolah dapat menekankan salah satu bentuk atau model kepemimpinan yang ada. Model atau gaya kepemimpinan mana yang paling sesuai masih menjadi pertanyaan. Keberadaan sekolah sebagai organisasi pendidikan akan berpengaruh terhadap keefektifan model kepemimpinan kepala sekolah yang diterapkan. Karena sekolah adalah lembaga yang bersifat kompleks dan unik. Bersifat kompleks karena sekolah sebagai organisasi di dalamnya terdapat berbagai dimensi yang satu sama lain saling berkaitan dan saling menentukan. Sedangkan bersifat unik menunjukkan bahwa sekolah  sebagai organisasi memiliki ciri-ciri tertentu yang tidak dimiliki oleh organisasi-organisasi lain. Oleh karena itu, sekolah yang sifatnya kompleks dan unik itulah, maka sekolah sebagai organisasi memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi, sehingga keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah. Kepala sekolah yang berhasil apabila mereka memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang kompleks dan unik, serta mampu melaksanakan peran kepala sekolah sebagai seseorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin sekolah.[3]

Pada umumnya seorang yang diangkat menjadi pemimpin didasarkan atas kelebihan-kelebihan yang dimilikinya dibandingkan dengan orang-orang yang dipimpinnya, dimana kelebihan-kelebihan tersebut diantaranya adalah sifat-sifat yang dimiliki berkaitan dengan kepemimpinannya. Kelebihan sifat ini merupakan syarat utama menjadi seorang pemimpin yang sukses. Berkaitan dengan masalah sifat-sifat pemimpin sebagai syarat utama kepemimpinan, sebagaimana dinyatakan oleh Slikbour bahwa sifat-sifat kepemimpinan itu meliputi: (a) sifat-sifat serta kemampuan dalam bidang intelektual, (b) sifat-sifat yang berkaitan dengan watak, dan (c) sifat-sifat yang berhubungan dengan tugasnya sebagai pemimpin. Sedangkan Roeslan Abd. Ghoni menyatakan bahwa, kelebihan seorang pemimpin meliputi  3 (tiga) hal, yaitu: (a) kelebihan menggunakan pikiran, (b) kelebihan dalam rohaniah dan (c) kelebihan dalam badaniah.[4]

Kepemimpinan adalah aktor dari sebuah rencana yang kemudian diaplikasikan dalam suatu organisasi, dimana pemimpin dan kepemimpinan yang baik itu dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Sebagai pengatur, pengarah aktivitas organisasi untuk mencapai suatu tujuan.
  2. Penanggung jawab dan pembuat kebijakan-kebijakan organisasi.
  3. Pemersatu dan motivasi para bawahan dalam melaksanakan aktivitas organisasi.
  4. Pelopor dalam menjalankan aktivitas manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan serta pengelolaan sumber daya manusia yang ada.
  5. Sebagai pelopor dalam memajukan organisasi dan lain-lain.[5]

Sebagaimana telah dikatakan oleh Nawawi, bahwa setiap dan semua organisasi apapun jenisnya pasti memiliki dan memerlukan seorang pemimpin yang harus menjalankan kepemimpinan (leadership) dan manajemen (management) bagi keseluruhan organisasi sebagai satu kesatuan.[6] Pemimpin pada hakikatnya adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Kekuasaaan adalah kemampuan untuk mengarahkan dan mempengaruhi bawahan sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakannya. Semakin banyak jumlah sumber kekuasaan yang tersedia bagi pemimpin, maka makin besar potensi kepemimpinan yang efektif.[7] Menurut kodrat serta irodatnya bahwa manusia dilahirkan untuk menjadi pemimpin. Sejak Adam diciptakan sebagai manusia pertama dan diturunkan ke bumi, ia ditugasi sebagai khalifah Allah di muka bumi ini. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi:

øŒÎ)ur tA$s% š•/u‘ Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ’ÎoTÎ) ×@Ïã%y` ’Îû ÇÚö‘F{$# Zpxÿ‹Î=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ߉šøÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡o„ur uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ωôJpt¿2 â¨Ïd‰s)çRur y7s9 ( tA$s% þ’ÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès?

Artianya:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. al-Baqarah: 30)[8]

Namun demikian, walaupun dari definisi kepemimpinan tersebut bertitik tolak dari pemberian pengaruh kepada orang lain untuk melaksanakan apa yang dikehendaki pemimpin untuk menuju suatu tujuan secara efektif dan efisien, namun tenyata proses mempengaruhinya dilakukan secara berbeda-beda. Proses pelaksanaan kegiatan mempengaruhi yang berbeda inilah yang kemudian menghasilkan tingkatan-tingkatan dalam kepemimpinan.[9] Dalam ajaran Islam sendiri banyak ayat al-Qur’an maupun hadits Nabi SAW baik secara lagsung maupun tidak langsung yang menjelaskan pengertian dari kepemimpinan. Kepemimpinan juga dapat dikatakan penting apabila mampu memanfaatkan dan mengelola potensi setiap sumber daya yang ada. Seorang pemimpin dituntut harus mampu membimbing anngotanya kearah yang baik. Diantaranya sebagaimana  telah dijelaskan dalam firman Allah SWT yang berbunyi:

ô‰s)s9ur $uZ÷Wyèt/ ’Îû Èe@à2 7p¨Bé& »wqߙ§‘ Âcr& (#r߉ç6ôã$# ©!$# (#qç7Ï^tGô_$#ur |Nqäó»©Ü9$# ( Nßg÷YÏJsù ô`¨B “y‰yd ª!$# Nßg÷YÏBur ïƨB ôM¤)ym Ïmø‹n=tã ä’s#»n=žÒ9$# 4 (#r玍šsù ’Îû ÇÚö‘F{$# (#rãÝàR$$sù y#ø‹x. šc%x. èpt7É)»t㠚úüÎ/Éj‹s3ßJø9$#

Artinya:

Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyeruhkan), ‘sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu’. Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan di antara mereka ada pula orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kalian dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (para rasul) (QS. an-Nahl: 36)[10]

Dalam surat An-Nahl ayat 36 tersebut, dijelaskan bahwa pada dasarnya para Rasul diutus kepada manusia sebenarnya hanyalah untuk memimpin umat dan mengelurkannya dari kegelapan menuju kepada aqidah yang lurus yaitu menyembah hanya kepada Allah SWT. Dalam menjalankan organisasi sekolah seorang kepala sekolah sebagai pemimpin harus mampu mengemudikan dan menjalankan organisasinya. Dalam artian bahwa seorang pemimpin harus mempu membawa perubahan, karena perubahan merupakan tujuan pokok dari kepemimpinan. Dalam hal ini, pada hakikatnya seorang pemimpin adalah harus bertanggung jawab terhadap apa yang sedang dipimpinnya, dan kepemimpinannya akan diminta pertanggung jawabannya dihadapan Allah SWT.

Kepemimpinan kepala sekolah dalam pengembangan imtaq di sekolah sangat penting sebagai upaya untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Sesuai dengan UU NO. 20 Tahum 2003 pasal 3 yang berbunyi, “ Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar manjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. ”Dalam pembukaan UUD 1945 dalam menyebutkan bahwa konsep mencerdaskan kehidupan bangsa harus dimaknai secara luas, yakni meliputi (a) kecerdasan intelektual, (b) kecerdasan emosional, dan (c) kecerdasan spiritual.[11] Untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, pendidik hendaknya tidak hanya membina kecerdasan intelektual, wawasan dan keterampilan semata, tetapi harus diimbangi dengan membina kecerdasan emosional dan keagamaan. Dengan kata lain memberikan nilai-nilai agama atau imtaq dalam ilmu pengetahuan atau memberikan moralitas agama kepada ilmu.

Selaras dengan hal tersebut, dikatakan oleh Ahmad Djazuli bahwa dalam tujuan pendidkan nasional, pembinaan imtaq merupakan inti tujuan pendidikan nasional. Hal ini berarti bahwa pembinaan imtaq bukan hanya tugas dari bidang studi pendidikan agama saja melainkan tugas pendidikan secara keseluruhan sebagai suatu sistem. Artinya, sistem pendidikan nasional dan seluruh upaya pendidikan sebagai satu sistem yang terpadu harus secara sistematis diarahkan untuk menghasilkan manusia yang utuh, sebagai ciri pokoknya adalah manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.[12] Salah satu tujuan pendidikan adalah untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi yang dimiliki oleh peserta didik, salah satunya adalah potensi agama atau fitrah agama yaitu beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal inilah yang menjadi tanggung jawab kepala sekolah sebagai pemimpin dalam membimbing dan mengarahkan peserta didik untuk selalu berada dalam kebaikan. Tanggung jawab kepala sekolah sebagai pemimpin, sebagaimana Allah jelaskan dalam firman-Nya yang berbunyi:

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3‹Î=÷dr&ur #Y‘$tR $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou‘$yfÏtø:$#ur $pköŽn=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâŸxÏî ׊#y‰Ï© žw tbqÝÁ÷ètƒ ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtƒur $tB tbrâsD÷sãƒ

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia-manusia dan batu-batu; Di atasnya malaikat-malaikat yang kasar-kasar, keras-keras, yang tidak mendurhakai Allah menyangkut apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan (QS. Al-Thariim: 6)[13]

Dengan demikian, segala perubahan dan pengembangan lingkungan berwawasan imtaq pada suatu lembaga pendidikan bukanlah suatu yang kebetulan namun memiliki sebab akibat tersendiri. Berdasarkan pemikiran bahwa sekolah pada dasarnya adalah sebuah organisasi, maka pengembangan lingkungan berwawasan imtaq tidak lepas dari unsur baik internal maupun eksternal. Ada tiga hal yang mendorong terjadinya perubahan dalam sebuah organisasi yaitu faktor internal, faktor eksternal dan change agent (pemimpin), namun bagaimanapun besarnya potensi ataupun rangsangan baik internal maupun eksternal tidak akan berimplikasi positif tanpa diimbangi oleh kepemimpinan ideal. Ini berarti, seorang pemimpin berperan penting dalam mengembangkan lingkungan yang berwawasan imtaq. Sehingga pemimpin juga dituntut untuk mampu menciptakan iklim organisasi yang baik agar semua komponen sekolah dapat memerankan diri secara bersama untuk mencapai sasaran dan tujuan organisasi sekolah, yaitu membentuk generasi yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan-kegiatan seseorang atau kelompok dalam mencapai tujuan bersama (shared goal). Sedangkan kepemimpinan yang dimaksud dalam lembaga pendidikan adalah kepemimpinan pendidikan (educational leadership). Kepemimpinan pendidikan adalah proses mempengaruhi personel yang mendukung proses belajar mengajar dalam rangka merealisasikan tujuan pendidikan.[14]

Keimanan dan ketaqwaan siswa merupakan core tujuan pendidikan nasional. Untuk mencapai tujuan tersebut, lembaga pendidikan sekolah yang efektif dinilai merupakan salah satu wahana yang sangat efektif untuk mencapai tujuan pendidikan, dengan alasan karena melalui proses pendidikan di sekolah peserta didik akan memperoleh bukan saja aspek pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga sikap. Dalam rangka peningkatan keimanan dan ketakwaan siswa melalui lembaga pendidikan sekolah, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah telah mengembangkan lima strategi, yakni (1) optimalisasi pelaksanaan Pendidikan Agama Islam, (2) integrasi Iptek dan Imtaq dalam proses pembelajaran, (3) pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler berwawasan Imtaq, (4) penciptaan situasi yang kondusif dalam kehidupan sosial di sekolah, dan (5) melaksanakan kerjasama antara sekolah dengan orang tua dan masyarakat.[15]

Dengan demikian, kepemimpinan kepala sekolah memiliki peran yang besar untuk mengatasi krisi moral dan akhlak yang melanda bangsa Indonesia saat ini terutama krisis moral dan akhlak yang melanda peserta didik. Dalam hal ini, kepimpinan kepala sekolah untuk mengembangkan lingkungan berwawasan iman dan taqwa kepada Allah SWT sangat dibutuhkan. Latar belakang pendidikan kepala sekolah dalam kepemimpinnya sangat mempengaruhi terhadap pengembangan lingkungan berwawasan iman dan taqwa tersebut. Disinilah ketertarikan peneliti terhadap judul tesis tersebut yaitu Model Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Mengembangkan Lingkungan Berwawasan Iman dan Taqwa di SMA Negeri 1 Malang. Kenakalan peserta didik sekarang ini, sangat memperhatinkan, ini mengindikasikan adanya kegagalan kepemimpinan kepala sekolah dalam memimpin organisasi untuk menciptakan peserta didik imam dan taqwa kepada Allah SWT.

Oleh karena itu, pengembangan iman dan taqwa siswa merupakan tanggung jawab kepala sekolah sebagai pemimpin, tidak hanya dibebankan kepada guru-guru pendidikan agama Islam. Pengembangan imtaq selama ini hanya dibebankan kepada para guru-guru pendidikan agama Islam yanga lebih bersifat mentransfer ilmu pengetahuan tentang ilmu agama yang hanya mengutamakan pencapaian materi ajar secara kuantitatif dari pada menanamkan nilai agama kepada siswa. Hal ini sebagaimana telah dikatakan oleh Mudjia Rahardjo: Jika kita mau jujur, pendidikan agama yang terjadi saat ini sesungguhnya tidak lebih dari upaya mentransfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) tentang ilmu agama kepada anak didik dari pada upaya mendidik anak dalam arti yang luas melalui metode pembelajaran seperti yang terjadi dalam bidang studi ilmu umum. Hal ini bisa dilihat dengan jelas pada aktivitas belajar mengajar di kelas, dimana guru lebih menekankan tercapainya meteri ajar secara kuantitatif dari pada menanamkan nilai agama kepada anak sebagai kerangka spritual dan pedoman moral untuk menatap masa depan.[16]

Pengembangan iman dan taqwa pada peserta didik di lingkungan sekolah selama ini hanya dibebankan kepada guru, sehingga peran kepala sekolah sebagai pemimpin tidak berjalan dengan baik. Dalam mengembangkan lingkungan berwawasan iman dan taqwa di sekolah kepada para peserta didik tidak hanya dibebankan kepada para guru-guru agama saja, tetapi juga tanggung jawab kepala sekolah sebagai pemimpin.


[1] Rasmianto, Kepemimpinan Kepala Sekolah Berwawasan Visioner-Transformatif Dalam Otonomi Pendidikan, Malang: Jurnal el-Harakah, Wacana Kependidikan, Keagamaan dan Kebudayaan., Fakultas Tarbiyah UIN-Malang Edisi 59, 2003, hlm. 15

[2] Veithzal Rivai, Arviyan Arifin, Islamic Leadership: Membangun SuperLeadership Melalui Keceerdasan Spritual (Jakarta: Bumi Askara, 2009), hlm. 7

[3] Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepela Sekolah (Tinjauan Teoritik dan Permasalahan) (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999), hlm. 81

[4] Ach. Mohyi, Teori & Prilaku Organisasi (Malang: UMM-Press Malang, 1999), hlm. 180-181

[5] EK. Imam Munawir, Asas-Asas Kepemimpinan Dalam Islam (Surabaya, tt., Usaha Nasional), hlm 176

[6]  Hadari Nawawi, Kepemimpinan Mengefektifkan Organisasi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2003), hlm. 18

[7] Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), hlm. 88

[8] Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Kasir: Juz 1 Al-Fatihah s.d. Al-Baqarah (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000), hlm. 358

[9] Muhaimin, Suti’ah, Sugeng Listyo Prabowo, Manajemen Pendidikan: Aplikasinya Dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), hlm. 30

[10] Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi:Juz 14 (Semarang: CV. Toha Putra, 1992), hlm. 140-141

[11]  Himpunan Undang-Undang Republik Indonesia: Guru dan Dosen, SISDIKNAS, Standar Nasional Pendidikan (Surabaya: Wacana Intelektual, 2009), hlm. 372

[12] Achmad Djazuli, dkk, Peningkatan Wawasan Keagaamaan (Islam) Guru Bukan Pendidikan Agama SLTP dan SLTA (Jakarta:DIKNAS, 2005), hlm. 2

[13] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah (Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an) (Jakarta: Lentera Hati, volume 14, 2002), hlm. 326

[14] Wahjosimudjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah: Tinjauan Teoritik dan Pemasalahannya (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2000), hlm. 27.

[15] http://pemberdayaan-sekolah-berwawasan-imtaq.html, diakses pada tanggal 7 Maret 2011

[16] Mudjia Rahardjo, Agama dan Moralitas: Reaktualisasi Pendidikan Agama Di Masa Transisi (Dalam Quo Vadis Pendidikan Islam, Pembaca Pendidikan Islam, Sosial dan Keagamaan) (Malang: UIN Press, 2006), hlm. 58

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: