POLA PENULISAN KITAB HADITS

M. Ghaza Kusairi

(Mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Malang, Jurusan Manajemen Pendidikan Islam)

PENDAHULUAN

Dalam sejarah penghimpunan dan kodifikasi hadits mengalami perkembangan yang agak lamban dan bertahap dibandingkan dengan perkembangan dan kodifikasi al-Qur’an, hal ini wajar karena al-Qur’an pada masa Rasulullah SAW sudah tercatat seluruhnya sekalipun sangat sederhana, dan mulai dibukukan pada masa Abu Bakar khalifah pertama sekalipun dalam penyempurnaannya dilakukan pada masa khalifah Utsman bin Affan yang disebut dengan mushaf Utsmani. Sedangkan penulisan hadits pada masa Rasulullah SAW secara umum justru dilarang. Pembukuan hadits mulai pada abad ke 2 hijriyah, penghimpunan dan pengkodifikasi hadits mengalami proses pengembangan yang lambat, melibatkan banyak orang dari masa ke masa dan menghadapi kendala serta permasalahan yang banyak.

Kondisi hadits pada masa perkembangan sebelum pengkodifikasian dan filterisasi pernah mengalami pembauran dan kesimpangsiuran di tengah jalan sekalipun hanya minoritas saja. Oleh karena itu, para ulama bangkit mengadakan riset hadits-hadits yang beredar dan meletakkan dasar kaidah-kaidah atau peraturan-peraturan yang ketat bagi orang yang meriwayatkan hadits nantinya. Dr. M. Syuhudi Isma’il menjelaskan latar belakang perlunya penelitian hadits karena hadits Nabi sebagai salah satu sumber ajaran Islam, tidak seluruh hadits tertulis pada zaman Nabi masih hidup, telah timbul berbagai pemalsuan hadits, dan proses pembukuan hadits memakan waktu yang lama.[1]

Dengan demikian, dalam pandangan penulis bahwa pola penyususnan hadits pada hakikatnya sama antara ahli hadits satu dengan yang lainnya karena pola penyusunan hadits telah ditetapkan para ulama-ulama terdahulu. Begitu juga dengan pola penyusunan hadits Imam Bukhari dan hadits Imam Muslim, berdasarkan ilmu hadits yang telah ditetapkan oleh para ulama terdahulu, pada dasarnya pola penyusunan hadits kedua imam tersebut (Imam Bukhari dan Imam Muslim) adalah sama. Oleh karena itu dapat penulis katakan, bahwa pola penyusunan hadits Imam Muslim banyak mengaju atau berpedoman kepada pola penyusunan hadits Imam Bukhari, namun jika diamat secara teliti ada perbedaan yang sangat mendasar antara keduanya.

Sudah dimaklumi bahwa Shahih Bukhari dan Shahih Muslim merupakan dua kitab yang paling shahih setelah al-Qur’an. Melalui dua kitab itu panji-panji sunnah menjadi lebih berkibar, lebih intens perspektifnya dan lebih melebar perkembangannya pada masa-masa sesudahnya, karena pengaruh kedua kitab shahih itu terhadap orang-orang yang datang sesudahnya. Eksistensi kedua kitab itu telah membuktikan adanya gerakan menghimpun dan meriwayatkan hadits pada masa Imam Bukhari dan Imam Muslim, sehingga derajat kedua kitab itu tidak bisa ditandingi oleh karya imam-imam hadits yang datang sesudahnya.[2]

Apapun bentuk metode dan pola penyusunan kitab hadits yang dilakukan Imam Bukhari dan Imam Muslim, sebagai insan akademis kita memberikan apresiasi yang besar kepada kedua imam tersebut. Berkat jasa beliau berdualah kemurnian hadits dapat terjaga terutama dari kalangan orentalis yang selalu mengkritik dan menghujat para ahli hadits termasuk salah satunya adalah Imam Bukhari. Kitab Shahih Imam Bukhari banyak mendapat kritikan dan hujatan dari para orentalis yang berkaitan dengan metode dan pola punyusunan kitab tersebut. Imam Muslim merupakan salah satu murid dari Imam Bukhari, berdasarkan hal tersebut pola penyusunan kitab Shahih Imam Muslim banyak dipengaruhi oleh pola penyusunan kitab hadits yang dilakukan oleh gurunya yaitu Imam Bukhari.

Namun, keberadaan kitab hadits Shahih Bukhari dalam perkembangan berikutnya sampai sekarang banyak menjadi pedoman, sedangkan kitab hadits Shahih Muslim merupakan kitab hadits kedua setelah kitab hadits Shahih Imam Bukhari. Walaupun ada perbedaan yang mendasar antara keduanya, penulis beranggapan bahawa tidak ada perselisihan dan perpecahan antara ulama-ulama ahli hadits tentang pola penyusunan kitab hadits kedua imam tersebut. Dengan demikian, dapat penulis simpulkan bahwa dalam penulisandan pola penyusunan kitab hadits, antara Imam Bukhari dan Imam Muslim pada hakikatnya tidak ada perbedaan yang mencolok, akan tetapi pada hal-hal tertentu yang membedakan antara keduanya terutama tentang titik tekan kitab hadits yang ditulis. Apapun perbedaan antara keduanya, penulis berharap jangan ada perpecahan dan perselisihan antara kita tentang perbedaan yang berkaitan dengan pola penyusunan kitab hadits terutama antara Imam Bukhari dan Imam Muslim

 

  1. A.     Hadits Shahih Imam Bukhari

Imam Bukhari adalah ahli hadits yang termasyhur diantara para ahli hadits sejak dulu hingga kini bersama dengan Imam Ahmad, Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah. Bahkan dalam kitab-kitab fiqih dan hadits, hadits-hadits beliau memiliki derajat yang tinggi. Sebagian menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam hal Ilmu Hadits). Dalam bidang ini, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya.

Nama lengkap Imam Bukhari adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn Mughirah al-Ja’fi ibn Bardizbah al-Bukhari, salah seorang dari perawi dan ahli hadits yang terkenal. Beliau lebih dikenal dengan nama al-Bukhari, hal ini disandarkan pada tempat kelahirannya yakni Bukhari.[3] Namun dilain sumber mengatakan bahwa Imam Bukhari dilahirkan di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya pada tanggal 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Ayahnya yang bernama Ismail terkenal sebagai seorang ulama shaleh. Tempat beliau lahir kini termasuk wilayah Rusia, yang waktu itu memang menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan Islam sesudah Madinah, Damaskus dan Baghdad. Daerah itu pula yang telah melahirkan filosof-filosof besar seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Bahkan ulama-ulama besar seperti Zamachsari, al-Durdjani, al-Bairuni dan lain-lain, juga dilahirkan di Asia Tengah. Sekalipun daerah tersebut telah jatuh di bawah kekuasaan Uni Sovyet (Rusia).[4] Keberadaan Imam Bukhari tidak hanya dikenal dikalangan umat Islam, namun seluruh umat manusia mengetehui kehebatan beliau. Kitab hadist Shahih Imam Bukhari merupakan kitab hadits pertama yang menjadi rujukan para ahli hadits selanjutnya hingga sekarang terutama dikalangan para ilmuwan muslim maupun non-muslim terutama tentang metode dan pola penyusunan kitab hadits tersebut.

Di antara kota yang pernah beliau kunjungi dalam rangka mencari ilmu hadits adalah ke Maru, Naisaburi, Ray, Baghdad, Basrah, Kuffah, Mdinah, Mekkah, Mesir, Damaskus dan Asqalani. Guru-gurunya dalam bidang hadits lebih dari 1.000 orang. Beliau sendiri pernah menyebutkan bahwa kitab al-Jami al-Shahih atau yang terkenal dengan nama Shahih al-Bukhari, disusun hasil dari menemui 1.080 orang guru dalam bidang ilmu hadits. Dari perjalanan beliau tersebut, Imam Bukhari berhasil mengumpulkan hadits sebanyak 600.000 hadits, 300.000 hadits di antaranya beliau hafal, yang terdiri atas 200.000 hadits yang tidak shahih, dan 100.000 hadits yang shahih.[5]

Dalam analisis penulis, sebagai intelektual yang berdisiplin tinggi, Imam Bukhari  dikenal sebagai pengarang kitab yang produktif. Karya-karyanya tidak hanya dalam disiplin ilmu hadits, tapi juga ilmu-ilmu lain, seperti tafsir, fikih, dan tarikh. Fatwa-fatwanya selalu menjadi pegangan umat sehingga ia menduduki derajat sebagai mujtahid mustaqil (ulama yang ijtihadnya independen), tidak terikat pada mazhab tertentu, sehingga mempunyai otoritas tersendiri dalam berpendapat dalam hal hukum. Pendapat-pendapat beliau bisa sejalan dengan Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi) (pendiri mazhab hanafi), tetapi terkadang bisa berbeda dengan mereka. Sebagai pemikir bebas yang menguasai ribuan hadits shahih, suatu saat beliau sejalan dengan Ibnu Abbas. Sehingga pola penyusunan dan pola pimikiran beliau tentang hadits tidak tergantung pada satu mazhab saja, namun beliau mengambil dari berbagai pemikiran para ulama-ulama dalam penyusunan kitab hadits tersebut.

Imam Bukhari diakui memiliki daya hafal tinggi, yang diakui oleh kakaknya Rasyid bin Ismail. Kakak sang Imam ini menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberapa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia sering dicela membuang waktu karena tidak mencatat, namun Bukhari diam tak menjawab. Suatu hari, karena merasa kesal terhadap celaan itu, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka, kemudian beliau membacakan secara tepat apa yang pernah disampaikan selama dalam kuliah dan ceramah tersebut. Tercenganglah mereka semua, lantaran Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 hadits, lengkap dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat.

Berpedoman pada pendapat tersebut, dapat penulis katakana bahwa Imam Bukhari merupakan seorang yang jenius dan cerdas. Beliau diusia muda telah menunjukan kesukaannya kepada ilmu hadits. Dalam menghimpun hadits-hadits shahih dalam kitabnya tersebut, Imam Bukhari menggunakan kaidah-kaidah penelitian secara ilmiah dan sah yang menyebabkan keshahihan hadits-haditsnya dapat dipertanggungjawabkan. Ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meneliti dan menyelidiki keadaan para perawi, serta memperoleh secara pasti kesahihan hadits-hadits yang diriwayatkannya.

  1. 1.      Keutamaan Shahih Imam Bukhari

Kedudukan hadits dalam Islam sebagai sumber hukum. Para ulama juga telah berkonsesus dasar hukum Islam adalah al-Qur’an dan Sunnah (al-Hadits). Kitab shahih Imam Bukhari telah memperoleh penghargaan tertinggi dari para ulama. Terhadap kitab ini, para ulama telah memberikan pernyataan bahwa Shahih al-Bukhari adalah satu-satunya kitab yang paling shahih sesudah al-Qur’an.[6]

Kitab Shahih Imam Bukhari diterima (qabul) oleh para ulama secara aklamasi di setiap masa dan banyak sekali keistimewaan kitab Imam Bukhari yang diungkapkan oleh para ulama, diantaranya:

  1. Imam al-Tirmidzi berkata: Aku tidak melihat dalam ilmu ’Ilal (cacat yang tersembunyi dalam hadits) dan para tokoh hadits seorang yang lebih mengetahui dari Al-Bukhari.[7]
  2. Ibn Khuzaimah berkata: Aku tidak melihat di bawah kolong langit sesorang yang lebih mengetahui hadits Rasulullah SAW dan yang lebih hafal daripada Muhammad bin Ismail Al-Bukhari.[8]
  3. Al-Hafizh Adz-Dzahabi berkata: Dia adalah kitab Islam yang paling agung setelah kitab Allah.[9]

Di antara kelebihan daya ingat (dhabith) dan kecerdasan Imam Bukhari mampu mengembalikan dan menerapkan kembali 100 pasangan sanad hadits dan matan yang sengaja diacak (hadits maqlub) oleh 10 ulama baghdad dalam rangka menguji kapabilitas daya ingat dan intelektual Imam Bukhari dalam periwayatan hadits. Semua itu dapat dijawab oleh Imam Bukhari dengan lugas dan dikembalikan sesuai dengan proporsinya semula. Para ulama yang mengambil hadits dari Imam Bukhari banyak sekali di antaranya yang sangat populer adalah Al-Tirmidzi, Imam Muslim, An-Nasai, Ibrahim bin Ishaq al-Hurri, Muhammad bin Ahmad Ad-Daulabi, Manshur bin Muhammad al-Bazdawi. Imam Bukhari meninggal dunia 1 Syawal 256 H/31 Agustus 870 M pada hari jum’at malam sabtu malam Hari Raya Idul Fitri dalam usia 62 tahun kurang 13 hari di Samarkand.[10]

Berdasarkan pejelasan tersebut, penulis sangat sependapat dengan apa yang telah dikatakan beberapa para ulama tersebut di atas tentang keutamaan Imam Bukhari. Disamping cerdas, Imam Bukhari termasuk para ahli hadits yang kuat dan banyak hafalannya, sehingga para ulama menempatkan kitabnya hadits Shahih Bukhari kitab yang paling shahih setelah al-Qur’an. Namun disisi lain, terutama dari kalangan orientalis tidak henti-hentinya menghujat dan mengkritik Imam Bukhari terutama tentang medote dan pola penyusunan kitan haditsnya. Apapun bentuk hujatan dan kritikan yang ditujukan kepada Imam Bukhari oleh orientalis, panulis tetap memberikan apresiasi yang besar kepada beliau, semoga Allah SWT selalu melindung beliau.

Di antara kalangan/tokoh orientalis yang menghujat Imam Bukhari adalah antara lain, yaitu

  1. Ignaz Goldziher, seorang orientalis asal Hungaria dari keluarga Yahudi – yang menjadi pelopor penggugat kredibilitas Imam Bukhari dalam periwayatan hadits. Prof. Dr. MM Azami dalam bukunya Dirasat fil Hadits an-Nabawi wa Tarikh Tadwinih menyatakan bahwa Ignaz Goldziher menuduh penelitian hadits yang dilakukan oleh ulama klasik (terutama Imam Bukhari) tidak dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah karena kelemahan metodenya. Hal itu menurut Goldziher karena para ulama lebih banyak menggunakan metode kritik sanad, dan kurang menggunakan metode kritik matan. Karenanya, Goldziher kemudian menawarkan metode kritik baru yaitu kritik matan saja.[11] Dalam pandangan penulis, menyikapi kritikan Ignaz Goldziher, sebenarnya para ulama klasik sudah menggunakan metode kritik matan. Hanya saja apa yang dimaksud kritik matan oleh Ignaz Goldziher itu berbeda dengan metode kritik matan yang digunakan oleh para ulama. Menurutnya, kritik matan hadits itu mencakup berbagai aspek seperti politik, sains, sosio-kultural dan lain-lain. Ia mengatakan bahwa dalam kitab Shahih Bukhari dimana menurutnya Imam Bukhari hanya melakukan kritik sanad dan tidak melakukan kritik matan. Sehingga setelah dilakukan kritik matan oleh Ignaz Goldziher, hadits itu ternyata palsu. Namun penulis belum menemukan hadits palsu yang terdapat dalam Shahih Bukhari yang dimaksudkan oleh Ignaz Goldziher, inilah yang menjadi tugas kita sebagai intelektual muslim untuk meneliti apa yang telah dikatakan olek Ignaz Goldziher tersebut.
  2. Diantara para penulis modern atau intelektual Islam yang mengikuti cara berfikir kaum orientalis ini adalah Profesor Ahmad Amin. Dalam bukunya Fajr al-Islam, ia ikut melecehkan kredibilitas ulama Hadits secara umum. Kemudian secara khusus, Imam Bukhari dihujatnya. Katanya, “Kita melihat sendiri, meskipun tinggi reputsi ilmiyahnya dan cermat penelitiannya, Imam Bukhari ternyata menetapkan hadits-hadits yang tidak shahih ditinjau dari segi perkembangan zaman dan penemuan ilmiyah, karena penelitian beliau hanya terbatas pada kritik sanad saja. Menurut Ahmad Amin, banyak hadits-hadits Bukhari yang yang tidak shahih, atau tepatnya palsu. Diantaranya adalah sebuah hadits di mana Rasulullah SAW bersabda, “Seratus tahun lagi tidak ada orang yang masih hidup diatas bumi ini”. Hadits ini oleh Ahmad Amin dinilai palsu, karena ternyata setelah seratus tahun sejak Rasulullah SAW mengatakan hal itu masih banyak orang yang hidup diatas bumi ini.

Dengan demikian, dapat penulis simpulkan berdasarkan pandangan tersebut, bahwa Ahmad Amin yang ikut ramai-ramai melecehkan Imam Bukhari ini ternyata keliru dalam memahami maksud hadits tersebut. Sebab yang dimaksud oleh hadits itu bukanlah sesudah seratus tahun semenjak Rasulullah SAW mengatakan hal itu tidak akan ada lagi yang masih hidup di atas bumi ini, melainkan adalah bahwa orang-orang yang masih hidup ketika Rasulullah SAW mengatakan hal itu, seratus tahun lagi mereka sudah wafat semua. Dan ternyata memang demikian, sehingga hadits itu oleh para ulama dinilai sebagi mukjizat Rasulullah SAW. Lalu apakah kita sebagai intelektual Islam diam saja dengan apa yang telah mereka lakukan terhadap Imam hadits kita yaitu Imam Bukhari.

Seorang pakar hadits asal Indonesia, Prof. Dr. Ali Musthafa Yaqub dalam bukunya Kritik Hadis menyatakan, adalah suatu tindakan yang sangat gegabah dan tidak ilmiyah sama sekali apabila ada orang yang terburu-buru menvonis bahwa suatu hadits itu palsu menurut penilaiannya, karena bertentangan dengan nalar yang sehat, bertentangan dengan al-Qur’an dan bertentangan dengan hadits yang lain yang sederajat kualitasnya, sebelum ia memeriksa karya tulis para ulama dahulu yang membahas masalah tersebut. Sebab, ketidaktahuan seseorang dalam memahami maksud suatu hadits tidak dapat dijadikan alasan untuk menilai bahwa hadits tersebut palsu.[12]

Dengan demikian, dapat penulis simbulkan bahwa disinilah letak ketidak ilmiyahan para orientalis dalam menvonis bahwa dalam hadits-hadits Imam Bukhari terdapat riwayat-riwayat yang palsu dan bertentangan dengan al-Qur’an. Karena kritikan mereka tidak ilmiyah, juga akan berakibat fatal terhadap umat Islam karena manakala kepercayaan umat Islam terhadap Imam Bukhari dalam kitabnya Shahih Imam Bukhari sudah tumbang, akan tumbang pula kepercayaan mereka terhadap hadits Nabawi, terutama yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang merupakan kitab paling shahih setelah al-Qur’an. Namun dalam pandangan penulis, berdasarkan kritikan dan gugatan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh orientalis kepada Imam Bukhari, hanya masalah kecil yaitu dalam pola penyusunan hadits yang dilakukan  oleh Imam Bukhari hanya menggunakan pendekatan sanad saja, beliau mengabaikan pengkajian hadits yang disandarkan kepada matan.

Disinilah yang menjadi perbedaan yang sangat mendasar antara pola penyusunan kitab hadits antara Imam Bukhari dan Imam Muslim yaitu terletak pada sanad dan matan. Dalam analisis dan pengamatan penulis, berdasarkan pada kitab hadits Imam Bukhari dan Imam Muslim, bahwa metode atau pola penyusunan kitab hadits yang dilakukan Imam Bukhari adalah menggunakan pendekatan kepada sanad, sedangkan Imam Muslim adalah menggunakan pendekatan sanad dan matan. Akan tetapi, jika penulis amati secara teliti, bahwa Imam Muslim lebih mengutama kepada pendekatan matan dibandingakan dengan gurunya Imam Bukhari.

  1. B.     Hadits Shahih Imam Muslim

Dalam khazanah ilmu-ilmu Islam, khususnya dalam bidang ilmu hadits, nama Imam Muslim begitu monumental, setara dengan gurunya, Abu Abdullah Muhammad bin Ismail al-Bukhari al-Ju’fy atau lebih dikenal dengan nama Imam Bukhari. Sejarah Islam sangat berhutang jasa kepadanya, karena prestasinya di bidang ilmu hadits, serta karya ilmiahnya yang luar biasa sebagai rujukan ajaran Islam, setelah al-Qur’an. Dua kitab hadits shahih karya Bukhari dan Muslim sangat berperan dalam standarisasi bagi akurasi akidah, syariah dan tasawwuf dalam dunia Islam. Melalui karyanya yang sangat berharga, selain menempati urutan kedua setelah Shahih Bukhari, kitab  Shahih Muslim tersebut memenuhi khazanah pustaka dunia Islam, terutama Indonesia khususnya di pesantren-pesantren menjadi kurikulum wajib bagi para santri dan mahasiswa.

Nama lengkap Imam Muslim adalah Abu Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Quraysyi An-Naysaburi. Beliau dilahirkan di Naisaibur pada tahun 204 H/820 M yaitu kota kecil terletak di negara Iran. Beliau adalah salah seorang ahli hadits terkemuka dan murid Imam Bukhari. Sejak kecil beliau belajar hadits ke beberapa guru di berbagai negara diantaranya ke Hijaz, Syam, Irak, Mesir, dan lain-lain seperti gurunya Imam Bukhari.[13] Apabila Imam Bukhari merupakan ulama terkemuka di bidang hadits shahih berpengetahuan luas mengenai ilat-ilat dan seluk beluk hadits serta tajam kritiknya, maka Imam Muslim adalah orang kedua setelah Imam Bukhari baik dalam ilmu dan pengetahuannya maupun dalam keutamaan dan kedudukannya.

Telah disebutkan di muka bahwa Imam Muslim memiliki metode tersendiri dalam menentukan keshahihannya. Metode ini berbeda dengan yang digunakan oleh Imam Bukhari. Hadits yang hendak dimuat di dalam shahihnya harus memenuhi standar tertentu, kemudian disebut dengan syarat Muslim. Syarat keshahihan versi Imam Muslim itu adalah bersambung sanad di kalangan rawi yang tsiqah dari awal hingga akhir. Berpijak dari syarat ini, boleh dikatakan semua hadits yang terdapat di dalam kitab ini adalah shahih. Walaupun demikian, di dalam menentukan tingkat rawi hadits, beliau agak berbeda dengan gurunya Imam Bukhari. Terdapat beberapa orang rawi yang dianggap tsiqah oleh Imam Muslim tetapi tidak diterima oleh Imam Bukhari berdasarkan beberapa sebab tertentu.[14]

Kemasyhuran kita Shahih Muslim hampir tak perlu disiarkan lagi, karena nama itu sendiri telah cukup menjadi jaminan. Semua orang akan percaya bila dikatakan kepadanya bahwa hadits ini riwayat Muslim.[15] Menurut penelitian para ulama, persyaratan yang ditetapkan Imam Muslim dalam kitabnya pada dasarnya sama dengan penetapan Shahih Bukhari. Ibnu Ash-Shalah mengatakan bahwa persyaratan Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya adalah:[16]

  1. Hadits itu bersambung sanad-nya.
  2. Hadits diriwayatkan oleh orang kepercayaan (tsiqah) dari generasi permulaan sampai akhir
  3. Terhindar dari syudzudz ’illah.[17]

Persyaratan di atas sama dengan juga dipergunakan oleh Imam Bukhari, hanya apa yang dimaksud dengan bersambung sanad ada sedikit perbedaan. Menurut Imam Bukhari, seorang perawi harus benar-benar bertemu dengan pemberi hadits kendati hanya sekali. Dalam arti guru membaca murid mendengar langsung. Sedangkan menurut Imam Muslim, asal mereka itu semasa (al-mu’asharah/ hidup satu masa) sudah dinilai bersambung sanad-nya. [18]

Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, dapat penulis katakan bahwa yang menjadi perbedaan pola penyusunan kitab hadits Imam Bukhari dan Imam Muslim adalah berkaitan dengan sanadnya. Penulis sependapat dengan penjelasan tersebut, jika dilihat dari segi sanadnya, Imam Bukhari pola penyusunan kitab Shahihnya, seorang perawi hadits benar-benar bertemu dengan yang meriwayatkan/pemberi hadits walau hanya sekali. Jika diantara perawi tidak pernah bertemu, maka hadits tersebut dianggap cacat oleh Imam Bukhari dari segi sanadnya. Berbeda dengan Imam Muslim, pola penyusunan kitab Shahihnya, seorang perawi tidak perlu bertemu, asal mereka hidup satu masa, maka hadits tersebut dianggap shahih oleh Imam Muslim dari segi sanadnya. Oleh karena itu dapat penulis katakan, hal inilah yang menyebabkan para ulama menilai Shahih Bukhari lebih tinggi tingkat keshahihannya dibandingkan dengan Shahih Muslim, namun Shahih Muslim lebih unggul dalam hal sistematikanya lebih bagus.

  1. 1.      Keutamaan Shahih Imam Muslim

Pokok pembahasan kitab Shahih Muslim adalah hadits-hadits shahih yang berpusat pada Rasulullah SAW saja. Metode dan sistematika penyusunannya sama dengan yang digunakan Imam Bukhari, dalam hal menghimpun hadits-hadits yang shahih saja, yang kemudian disusunnya sesuai dengan bab-bab ilmu, baik mengenai persolan fiqh maupun khilafah. Di antara susunan judul-judul bab yang dibuat dalam Shahih Muslim yang paling baik adalah yang dibuat oleh Imam Muhyiddin Abu Zakaria Yahya Al-Nawawi.

Imam Nawawi berkata, bahwasanya Imam Muslim pada dasarnya telah menyusun kitabnya secara tertib menurut bab per bab, hanya saja tidak menyebutkan judul-judul babnya, hal itu dimaksudkan untuk menghindari ketebalan kitabnya, atau karena ada alasan lain. Selanjutnya, Imam Nawawi juga mengatakan bahwa segolongan ulama telah membuat judul-judul bab dalam kitab Shahih Muslim dengan baik, dan ada juga yang membuatnya kurang baik. Hal itu barangkali disebabkan oleh kurangnya perbendaharaan kata, atau tidak ditemukan kata yang relanfantif yang bisa digunakan untuk judul-judul bab itu, atau mungkin oleh sebab lain. Dalam kitabnya Imam Muslim telah menghimpun 4.000 hadits tanpa diulang-ulang.[19]

Berdasarkan apa yang telah dikatakan oleh Imam Nawawi tersebut, dapat penulis sikapi bahwa pola penyusunan kitab hadits Shahih Muslim lebih sistematika dan tertib sesuai dengan bab-bab masing-masing hadits. Sehigga tidak terjadi pengulangan hadits pada satu bab kepada bab-bab lainnya, berbeda dengan Imam Bukhari pola penyusunanya belum sistematika dan serapi kitab Shahih Muslim. Inilah yang menjadi keunggulan dan kelebihan dari ktab Shahih Muslim jika dibandingkan dengan pola penyusunan kitab Shahih Imam Bukhari. Pola penyusunan kitab Shahih Muslim banyak belajar dari pola penysunan kitab gurunya Imam Bukhari, sehingg dari pola penyusunannya kitab Shahih Muslim lebih bagus dan sempurnah. Namun, perbedaan pola penyusunan kitab hadits kedua imam tersebut tidak menimbulkan perpecahan dan permusuhan antara para ulama hadits, mereka tetap memberikan apresiasi yang besar terhadap jasa kedua imam tersebut yaitu Imam Bukhari dan Imam Muslim, Semoga Allah selalu melindung beliau berdua, amin.

Di antara keistimewaan karya Imam Muslim adalah bahwa beliau membedakan secara tegas dan jelas antara penggunaan ungkapan akhbaranaa dengan ungkapan haddatsanaa, dimana perbedaan itu diaplikasikannya pula terhadap gurunya dalam meriwayatkan. Perbedaan-perbedaan yang dibuat ini merupakan metode yang paling istimewa dalam alirannya. Kata haddatsanaa tidak boleh digunakan kecuali jika seseorang rawi dalam kondisi berperan pasif. Artinya, rawi itu hanya mendengar dari gurunya, tidak membaca di depannya secara seksama. Sedangkan kata akhbaranaa digunakan dalam kondisi rawi berperan aktif. Artinya, rawi itu membaca di depan gurunya dengan didengar oleh gurunya itu secara seksama. Perbedaan penggunaan istilah tersebut juga merupakan metode Al-Syafi’i dan sahabat-sahabatnya serta kebanyakan ahli-ahli ilmu dari negara-negara timur.[20]

Sedangkan keistimewaan lainnya dari Shahih Muslim adalah ketelitiannya dalam memperhatikan lafadz hadits yang disampaikan oleh rawi-rawi dan memiliki sikap konsekuen serta disiplin dalam hal periwayatannya. Sistematika penulisannya yang kronologis, dimana jalinan hadits-haditsnya memberikan kesan pembacanya untuk lebih mendalami pembahasan. Imam Muslim juga tidak melakukan pemotongan hadits di dalam kitab shahihnya sesuai dengan bab-babnya, sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Bukhari. Tetapi, beliau meriwayatkan hadits itu secara lengkap dan utuh tanpa dibagi-bagikan dengan sanadnya yang berbeda-beda.[21]

Dengan demikian, dalam analisis penulis dapat dikatakan bahwasanya hanya Imam Muslim yang memiliki kaidah yang baik dalam sistematika penyusunan kitab hadits, sehingga orang bisa memperoleh hadits yang dikehendakinya, karena beliau telah menempatkan hadits pada proporsi yang sebenarnya. Imam Muslim menghimpun dan menyebutkan semua sanad hadits yang dianggapnya shahih dari sanad yang berbeda-beda, sehingga memudahkan orang yang mencari hadits untuk diteliti secara detail terhadap sisi-sisi hadits itu. Imam Muslim wafat di Naisabur pada tahun 261 H/875 M dalam usia 55 tahun. Walaupun beliau telah tiada, namun kitab hadits Imam Muslim maupun Imam Bukhari tetap terjaga keshahihannya walaupun ada beberapa tokoh orientalis yang mengkritik dan mengugut terutama terhadap pola penyusunan kitab hadits Shahih Imam Bukhari.

Pola penyusunan hadits antara Imam Bukhari dan Imam Muslim memiliki perbedaan yang sangat mendasar antara keduanya. Walaupun ada perbedaan, namun tidak menimbulkan perpecahan di kalangan umat Islam dalam menyikapi hal tersebut. Dalam pandangan penulis, bahwa pola penyusunan kitab hadits shahih Imam Bukhari lebih utama jika dibandingkan dengan Imam Muslim karena kemurnian hadits lebih terjaga. Alasan kenapa penulis lebih mengikuti pola penyusunan hadits Imam Bukhari karena ditinjau dari segi bagaimana kemurnian hadits itu terjaga dan bagaimana hadits itu dikumpulkan. Walau keberadaan metodologi penyusunan kitab hadits Imam Bukhari banyak mendapat kritikan dari kalangan orang-orang orientalis, namun penulis tetap pada pendirian bahwa motodologi penulisan dan penyusunan hadits Imam Bukhari lebih utama dan lebih mudah untuk dipahami terutama oleh kalangan akademisi.

Namun jika kita padang dari segi sistem tata aturan penulisannya, maka kitab shahih Imam Muslim lebih bagus karena telah tersusun secara sistematika penulisan. Sebagai insan akademis kita tidak boleh menyalahkan dan mengklaim salah satu adalah yang paling benar. Kita jangan sampai terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran orientalis, yang mana mereka mempunyai tujuan dan kepentingan yaitu untuk memecahbela persatuan dan kesatuan umat Islam. Mereka tidak puas dengan Islam kerena begitu menghargai karya-karya para ulama/para ilmuwan.

Dengan demikian, berdasarkan penjelasan di atas dapat penulis simpulkan bahwa pada hakikatnya pola penyusunan hadits Imam Bukhari dan Imam Muslim sama benarnya, namun bagi kita bagaimana mampu mengamalkan isi dari kadungan yang terdapat dalam kitab-kitab hadits tersebut. Kitan hadits merupakan sumber hukum Islam yang kedua setelah kitab al-Qur’an. Sebagai insan akademis dan pejuang Islam, marilah kita jaga kemurnian kitab hadits yang telah disusun oleh para ahli hadits, jangan sampai ada segolongan umat Islam berpecahbela karena perbedaan dalam mazhab hadits.

 

  1. C.     Kesimpulan

Pola penyusunan kitab hadits antara Shahih Imam Bukhari dan Shahih Imam Muslim pada hakikatnya sama, namun jika dilihat dari sistematika penyusunan Shahih Imam Muslim lebih unggul dan baik serta lebih sempurna dari pola penyusunan Shahih Imam Bukhari. Adapun perbedaan yang sangat mendasar yang berkaitan dengan pola penyusunan kitab hadits Shahih Imam Bukhari dan Shahih Imam Muslim berdasarkan analisis dan pengamatan penulis antara lain:

  1. Dari tinjauan sanadnya. Jika dilihat dari sanadnya, Shahih Imam Bukhari, seorang perawi hadits harus benar-benar bertemu dengan pemberi/periwayat hadits walau hanya sekali, namun Shahih Imam Muslim tidak perlu bertumu asal pernah hidup satu masa, maka hadits tersebut dianggap shahih.
  2. Secara sistematikan penulisan, Shahih Imam Bukhari belum tersusun secara sistematika dengan baik, sedangkan Shahih Imam Muslim telah tersusun secara sistematika dengan baik bahkan lebih unggul dari Shahih Imam Bukhari dari sistematika penyusunannya
  3. Adanya pemotongan dan pengulangan hadits dalam kitab Shahih Imam Bukhari, tetapi dalam kitab Shahih Imam Muslim tidak terdapat pemotongan dan pengulangan hadits, sehingga keberadaan hadits dalam Shahih Imam Muslim lebih mudah untuk meneliti secara detail keberadaan sanadnya

DAFTAR PUSTAKA

 

 

                        Alawi Al-Maliki, Muhammad. 2006. Ilmu Ushul Hadits. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Al-Qardhawi, Yusuf. 2007. Pengantar Studi Hadis. Bandung: CV. Pustaka Setia

Khon, Majib, Abdul. 2008. Ulumul Hdits. Jakarta: Amzah

H.A Razak dan H. Rais Lathief. 1979. Terjemahan Hadits Shahih Muslim Jilid I. Jakarta: Pustaka al-Husna

                                                            . 1979. Terjemahan Hadits Shahih Bukhari Jilid I. Jakarta: Pustaka al-Husnah

Soetari, Endang. 2008. Ilmu Hadits: Kajian Riwayah & Dirayah. Bandung: CV. Mimbar Pustaka

http://webcache.goolecontetnt.kumpulanhadits/shahihbukhari/sejarah-singakt-imam-bukhari, diakses Rabu 12 Mei 2010 jam 18.30

                        http://webcache.goolecontetnt.kumpulanhadits/shahihmuslim/sejarah-singakt-imam-muslim, diakses Rabu 12 Mei 2010 jam 18.50

 


[1] Dr. H. Abdul Majid Khon, Ulumul Hadits, Jakarta: Amzah, 2008, hlm. 67-68

[2] Prof. Dr. Muhammad Alawi al-Maliki, Ilmu Ushul Hadits, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006, hlm. 270

[3] Prof. Dr. H. Endang Soetari Ad, Ilmu Hadits, Kajian Riwayat & Dirayah, Bandung: CV. Mimbar Pustaka, 2008, hlm. 280

[4] http://webcache.gooleusercontent.kumpulanhadits shahih-bukhari/sejarah-singkat-imam-bukhari, diakses Rabu 12 Mei 2010 jam 18.30

[5] Prof. Dr. H. Endang Soetari Ad, Ilmu Hadits, Kajian Riwayah & Dirayah, Bandung: CV. Mimbar Pustaka, 2008, hlm. 281

[6] Prof. Dr. Muhammad Alawi Al-Maliki, Ilmu Ushul Hadits, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006, hlm. 257

[7] Dr. H. Abdul Majid Khon, Ulumul Hadits, Jakarta: Amzam, 2008, hlm. 259

[8] Ibid, hlm. 259

[9] Op.cit., hlm. 259

[10] Lihat Dr. H. Abdul Majid Khon, hlm. 259

[13] Dr. H. Abdul Majid Khon, Ulumul Hadits, Jakarta: Amzah, 2008, hlm. 259-260

[15] H.A Razak dan H. Rais Lathief, Terjemahan Hadits Shahih Muslim Jilid I, Jakarta: Pustaka al-Husna, 1979, hlm. XXXVI

[16] Dr. H. Abdul Majid Khon, ibid, hlm. 260

[17] ’Illah disini adalah bahwa hadits yang dikutip oleh Imam Muslim tidak terdapat kecacatan baik ditinjau dari segi sanad maupun matannya.

[18] Dr. H. Abdul Majid Khon, op.cit. hlm. 260

[19] Prof. Dr. Muhammad Alawi Al-Maliki, Ilmu Ushul Hadits, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006, hlm. 264-265

[20] Lihat Prof. Dr. Muhammad Alawi Al-Maliki, ibid, hlm. 265-266

[21] Op.cit. hlm. 267

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: