MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE DISCIPLINE

 M. Ghaza Kusairi

(Mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Malang, Jurusan Manajemen Pendidikan Islam


 

  1. A.     Latar Belakang

Dalam proses belajar mengajar terdapat dua masalah yang turut menentukan berhasil tidaknya suatu proses belajar mengajar, yaitu masalah pengajaran (instructional problem) dan masalah manajemen kelas (classroom management). Antara keduanya diyakini mempunyai implikasi dalam pencapaian hasil pembelajaran. Masalah pembelajaran itu akan berhasil, dalam arti tercapainya tujuan-tujuan pengajaran akan sangat tergantung pada masalah manajemen kelas. Dengan kata lain, masalah manajemen kelas itu perlu diatur sedemikian rupa sehingga dapat menciptakan atau mempertahankan kondisi optimal yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar yang kondusif.

Pengajaran dan manajemen kelas adalah dua kegiatan yang saling berkaitan, namun dapat dibedakan satu sama lain, sebab keduanya mempunyai tujuan yang berbeda. Pengajaran mencakup semua kegiatan yang secara langsung dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan khusus pengajaran, sedangkan manajemen kelas merujuk kepada kegiatan-kegiatan yang menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajara dan suasana kelas yang kondusif, efektif, efisien dan produktif sesuai dengan tujuan daripada manajemen kelas (classroom management)

Cooperative discipline atau cooperatine learning adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Cooperative discipline merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam cooperative discipline atau cooperative learning, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.[1]

Rendahnya motivasi belajar siswa akan membuat mereka tertarik pada hal-hal yang negative. Raymond J.W dan Judith mengungkapkan bahwa secara harfiah anak- anak tertarik pada belajar, pengetahuan, seni (motivasi positif) namun mereka juga bisa tertarik pada hal–hal yang negative  seperti minum obat- obatan terlarang, pergaulan bebas dan lainnya. Motivasi belajar anak-anak muda tidak akan lenyap tapi ia akan berkembang dalam cara-cara yang bisa membimbing mereka untuk menjadikan diri mereka lebih baik atau juga bisa sebaliknya. Hal inilah yang harus diperhatikan oleh orang tua dan guru.[2]

Dalam model pembelajaran cooperative discipline Linda Albert ini terdapat dasar teoritis yang kuat untuk memprediksi bahwa metode-metode pembelajaran kooperatif yang menggunakan tujuan kelompok dan tanggung jawab individual akan meningkatkan pencapaian prestasi siswa. Walau demikian, sangat penting untuk melakukan penilaian atas metode-metode kooperatif ini langsung di dalam kelas pada proses belajar mengajar berlangsung.[3]

Cooperative discipline  dikembangkan untuk model kelas kode etik yang memegang semua siswa dan mengajarkan mereka bagaimana untuk menilai perilaku mereka sendiri. Cooperative discipline menggunakan teori tiga “C” sebagai inti dari kode etik. Tiga “C” adalah: terhubung, berkontribusi/aktif, dan merasa mampu. Cooperative discipline dirancang untuk mempengaruhi siswa sehingga mereka akan membuat pilihan yang baik dan menunjukkan keterampilan sosial yang baik melalui dorongan, intervensi, dan kolaborasi.  Tiga “C” adalah strategi yang diletakkan untuk mencegah perilaku siswa dalam proese belajar mengajar di kelas. Dr Linda Albert, yang penulis cooperative discipline, mendefinisikan tiga “C” sebagai berikut:

  1. Siswa diajarkan untuk mampu dalam belajar bersama, dalam belajar itu boleh saja melakukan kesalahan, membangun keyakinan, fokus pada kesuksesan masa lalu, membuat pembelajaran yang nyata, dan mengakui prestasi
  2. Siswa diajarkan rasa tanggung jawab dalam kelompok belajarnya, dengan cara memberikan perhatian, penghargaan dan rasa kasih sayang
  3. Siswa diajarkan untuk aktif di dalam kelas, sekolah dan di masyarakat

Pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Pelaksanaan prosedur model pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas lebih efektif. Model pembelajaran kooperatif akan dapat menumbuhkan pembelajaran efektif yaiut pembelajaran yang bercirikan: (1) memudahkan siswa belajar, sesuatu yang bermanfaat seperti: fakta, keterampilan, nilai, konsep dan bagaimana hidup serasi dengan sesama, (2) pengetahuan, nilai dan keterampilan diakui oleh mereka yang berkompetetnsi menilai.[4]

Dalam hal ini, Cooperative Discipline yang dikemukakan oleh Linda Albert, yang menjadi landasan model teori pembelajaran ini sama dengan konsep pembelajaran Demokratic Teacing oleh R. Dreikurs atau dengan menggunakan doktrin filsafat Alfred Adler dan R. Dreikurs yang beranggapan bahwa manusia diciptakan sama, sehingga memiliki hak yang sama memiliki rasa bermartabat dan rasa dihormati. Dengan demikian, dalam makalah ini, penulis mencoba menjelaskan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan model cooparative discipline dengan tujuan untuk menciptakan kelas yang aktif dan kondusif. Cooperative discipline ini bisa diartikan sebagai proses belajar bersama atau disiplin bekerja sama dalam proses belajar mengajar dalam kelas.

  1. 1.      Sekilas Manajemen Kelas (Classroom Management)

Pengajaran dan manajemen kelas adalah dua kegiatan yang saling berkaitan, namun dapat dibedakan satu sama lain, sebab keduanya mempunyai tujuan yang berbeda. Pengajaran mencakup semua kegiatan yang secara langsung dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan khusus pengajaran, sedangkan manajemen kelas merujuk kepada kegiatan-kegiatan yang menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajara dan suasana kelas yang kondusif, efektif, efisien dan produktif sesuai dengan tujuan daripada manajemen kelas (classroom management).

John W. Santrock dalam Mulyadi (2009) berpendapat bahwa menajemen kelas yang efektif bertujuan membantu siswa menghabiskan lebih banyak waktu untuk belajar dan mengurangi waktu aktivitas yang tidak diorientasikan pada tujuan pembelajaran dan mencegah siswa mengalami problem akademik dan emosional. Kelas yang dikelola denga biak tidak hanya akan meningkatkan pembelajaran yang berarti, tetapi juga membantu mencegah berkembangnya problem emosional dan akademik. Kelas yang dikelola dengan akan membuat siswa sibuk dengan tugas yang menantang dan akan memberikan aktivitas di mana siswa manjadi terserap ke dalamnya, termotovasi belajar, memahami aturan dan regulasi yang harus dipatuhi.[5]

Manajemen kelas mengacu kepada penciptaan suasana atau kondisi kelas yang yang memungkinkan siswa dalam kelas tersebut untuk dapat belajar dengan efektif. Untuk memperjelas pengertian manajemen kelas, Cooper, J. M. mendefinisikan tentang manajemen kelas, yaitu:[6]

  1. manajemen kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas
  2. manajemen kelas ialah seperangkat kegiatan memaksimalkan kebebasan siswa
  3. manajemen kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan.
  4. manajemen kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio emosional kelas yang positif
  5. manajemen kelas ialah seperangkat kegiatan untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif. Definisi pertama, memandang bahwa manajemen kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa. Dalam kaitan ini tugas guru adalah menciptakan dan memilihara ketertiban suasana kelas. Jadi pandangan ini bersifat otoritatif dan penggunaan disiplin amat diutamakan.[7]

Dengan demikian, berdasarkan definisi tersebut dapat penulis tarik suatu kesimpulan tentang pengertian manajemen kelas yaitu seperangkat kegiatan untuk untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah lahu yang tidak diinginkan, mengembangkan hubungan interpersonal dan iklim sosio omosional yang positif serta mengembangkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif dan produktif. Manajemen kelas jika ditinjau dari pendekatan psikologi pendidikan adalah ingin mengarahkan dan membimbing perkembangan tingkah laku siswa agar tidak mengarah kepada hal yang negatif. Dalam hal ini, guru memiliki peranan kunci untuk mengembangkan iklim sosio emosional kelas yang positif melalui penumbuhan hubungan interaksi antar guru dengan siswa dan siswa dengan siswa.

Namun, dalam pengamatan dan analisis penulis, fakta dilapangan masih banyak guru yang belum mampu mamahmi arti dan tujuan dari pelaksanaan manajemen kelas ini. Suatu yang mustahil akan tercipta suasana kelas yang efektif dan kondusif apabila guru tidak mampu memahami dari manajemen kelas. Hal ini berdampak pada siswa itu sendiri, misalnya ada siswa yang ramai atau menggangu temannya ketika proses belajar mengajar berlangsung, kemudian guru menghampiri siswa yang ramai atau menggangu temannya, lalu melayangkan tamparan ke pipih/wajah siswa. Hal ini akan menganggu pengembangan dan penciptaan iklim sosio emosional siswa dalam kelas. Ini terjadi karena guru tidak bisa menyikapi setiap tingkah laku siswa dalam kelas tersebut.

Banyak persoalan terhadap tingkah laku siswa dalam kelas ketika proses belajar berlangsung, maka seorang guru harus mencoba melibatkan peran orang tua atau berkerja sama dengan orang tua siswa, hal ini penulis mencoba mendefinisikan model pembelajaran Linda Albert  yaitu cooperative discipline dengan istilah menciptakan hubungan kerja sama yang disiplin antar guru dengan orang tua siswa. Dalam pendidikan guru harus melibatkan langsung peran orang tua dalam mengarahkan perkembangkan tingklah laku siswa.

Pendidik pertama dan utama adalah orang tua sendiri. Mereka keduanya bertanggung jawab penuh atas kemajuan dan perkembangan anak kandungnya, karena sukses tidaknya anak sangat tergantung pengasuhan, perhatian, dan pendidikannya. Kesuksesan anak merupakan cerminan kesuksesan orang tua juga.[8] Orang tua memiliki tanggung jawab terhadap perkembanhgkan tingkah laku anaknya. Sebagaimana firman Allah yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. al-Tahriim: 06)

Sebagai pendidika pertama dan utama terhadap anak-anaknya, orang tua tidak selamanya memiliki waktu yang leluas dalam mendidik anak-anaknya. Selain kerna kesibukan kerja, tingkat efetivitas dan efesiensi pendidikan tidak akan baik jika pendidikan hanya dikelola secara alamiah. Guru adalah pendidik profesional, karenanya secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagai tanggung jawab pendidikan yang terpikul di pundak para orang tua. Mereka ini, tatkala menyerahkan anaknya ke sekolah, sekaligus berarti melimpahkan sebagian tanggung jawab pendidikan anaknya kepada guru. Hal itupun menunjukkan pula bahwa orang tua tidak mungkin menyerahkan anaknya kepada sembarangan guru/sekolah karena tidak sembarang orang dapat menjabat guru.[9]

Tanggung jawab pendidikan bukan semata-mata menjadi tanggung jawab guru di sekolah, meski sekolah sudah menyiapkan kurikulum untuk mendidik anak. Pendidikan terbaik tetap saja terletak pada pendidikan orang tua. Pelaksanaan pembelajaran dengan meningkatkan kerja sama antara guru dengan orang tua, maka dalam pandnagan penulis, orang tua perlu terlibat langsung dalam pendidikan anak di sekolah, hal ini jika penulis mengartikan model pembelajaran Linda Albert yaitu Cooperative Discipilen dengan istilah disiplin kerja sama antara guru dan orang tua siswa. Dalam pandangan penulis, beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua, yaitu:

  1. Memberikan Dukungan. Selalu berikan perhatian kepada anak, dan tanamkan nilai dan tujuan pendidikan. Upayakan untuk selalu mengetahui perkembangan anak di sekolah. Orang tua bisa melakukan kunjungan untuk melihat situasi dan lingkungan pendidikan di sekolah. Menaruh minat terhadap aktivitas sekolah akan secara langsung mempengaruhi pendidikan anak.
  2. Sediakan Waktu untuk Anak. Sebagai orang tua, harus selalu menyediakan waktu yang cukup banyak bagi anak. Jadilah tempat curhat untuk menampung stress anak. Mendengarkan keluhannya, dan berusaha turut memberikan solusi atas permasalahannya disarankan dalam pendidikan anak.
  3. Awasi Kegiatan Belajar di Rumah. Tunjukkan orang tua berminat pada pendidikan anaknya. Pastikan anak sudah mengerjakan tugas mereka. Orang tua mewajibkan dirinya  untuk mempelajari sesuatu bersama anak-anaknya. Membacalah bersama-sama mereka. Jangan lupa jadwalkan waktu setiap hari untuk memeriksa pekerjaan rumah anak. Kendalikan waktu menonton TV, Internet dan kegiatan lainnya.
  4. Mengajarkan Tanggung Jawab. Anak dapat bertanggung jawab mengerjakan tugas di sekolah jika orang tua telah mengajar mereka untuk mengerjakan tanggung jawab di rumah. Cobalah mulai memberikan pekerjaan rumah tangga rutin setiap hari dengan jadwal yang spesifik. Hal itu akan mengajarkan rasa tanggung jawab yang mereka butuhkan agar berhasil di sekolah dan di kemudian hari dalam kehidupan.
  5. Menjadi Teman Terbaik. Jadilah teman terbaik bagi anak. Luangkan waktu untuk berbagi dalam banyak hal. Seorang anak membutuhkan semua teman yang matang yang bisa ia dapatkan. Sebagai orang-tua, kita dapat menghindari banyak problem dan kekhawatiran atas pendidikan anak dengan mengingat bahwa kerja sama yang sukses dibangun atas komunikasi yang baik.
  6. Disiplin. Jalankan disiplin dengan tegas namun penuh kasih sayang. Selalu menuruti keinginan anak tidak disarankan dalam pendidikan anak, karena membuatnya manja dan tidak bertanggung jawab. Problem lain bisa muncul seperti seks remaja, narkoba, prestasi yang buruk, dan lain sebagainya. Pendidikan dengan kasih saying sangat penting untuk membentuk kedisiplinan anak. Sebagaimana firman Allah yang Artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. ali-Imran: 159)

  1. Menjaga Kesehatan. Orang tua harus menjaga dan memperhatikan kesehatan anaknya agar prestasi belajarnya tidak terganggu. Buat jadwal tidur yang cukup untuk anak. Jika kelelahan, mereka tidak dapat belajar dengan baik. Hindari makanan seperti junk food (cepat saji), yang mendatangkan pengaruh buruk terhadap kesanggupannya untuk berkonsentrasi.
  2. Kerja Sama dengan Guru. Tidak ada salahnya jika orang tua mengenal guru dan menjalin hubungan baik dengan mereka. Berkomunikasilah untuk perkembangan anak. Guru perlu tahu bahwa orang tua memandang penting pendidikan anaknya, sebagai bagian kehidupannya. Ini akan membuat guru lebih memperhatikan anak. Hadirilah pertemuan orang tua murid dan guru yang diselenggarakan oleh sekolah, sehingga memiliki kesempatan untuk mengetahui prestasi akademis serta perkembangannya di sekolah.

Oleh karena itu, kerja sama antara guru dan orang tua sangat memberikan warna dan dampak terhadap pelaksanaan dan pengembangan kelas oleh guru kita kegiatan proses belajar mengajar berlangsung. Mengapa hal demikian penting, sebab apabila anak telah dididik dengan baik oleh orang tua dalam lingkungan keluarga, maka ketika proses belajar mengajar berlangsung di kelas, anak sudah biasa dengan disiplin yang tinggi dan selalu mengikuti prosese belajar dengan baik. Inilah tujuan yang ingin dicapai dalam pembentukan disiplin kerja sama antara guru dengan orang tua siswa, hal ini penulis mencoba mendefinisikan model pembelajaran Cooperative Discipline oleh Linda Albert dengan pengertian yang luas.

  1. 2.      Faktor-faktor Penghambat Manajemen Kelas

Manajemen kelas merupakan keterampilan yang harus dimiliki oleh guru dalam memutuskan, memahami, mendiagnosa dan kemampuan bertindak menuju perbaikan suasana kelas yang dinamis. Aspek yang harus diperhatikan guru dalam manajemen kelas adalah sifat kelas, pendorong kekuatan kelas, setuasi kelas, tindakan seleksi dan kreaktivitas.[10] Sedangkan tujuan dari manajemen kelas adalah: (1) mewujudkan situasi dan kondisi kelas, sebagai lingkungan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan mereka semaksimal mungkin, (2) menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalamgi terwujudnya interaksi pembelajaran, (3) menyediakan dan mengatur fasilitas serta media pembelajaran yang mendukung dan memungkinkan peserta didik belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional dan intelektual mereka dalam kelas, (4) membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya dan sifat-sifat induvidunya.

Dalam pelaksanaan manajemen kelas (classroom Management) akan ditemui berbagai faktor penghambat, yaitu:

  1. Faktor Guru. Salah satu tugas pokok guru adalah mengajar. Mengajar merupakan pekerjaan profesional yang memerlukan keahlian khusus yang ditempuh melalui pendidikan dan pengalaman. Untuk dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab secara profesional, guru harus memiliki kemampuan dan keterampilan mengajar secara teori maupun praktik.[11] Dalam arti sempit guru yang berkewajiban mewujudkan program kelas adalah orang yang kerjanya mengajar atau memberikan pelajaran di kelas. Secara lebih luas, guru berarti orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut bertanggung jawab dalam membantu anak-anak mencapai kedewasaan masing-masing.[12] Dalam manajemen kelas, menurut pandangan penulis bahwa guru pun dapat merupakan faktor penghambat dalam pelaksanaan penciptaan suasana yang efektif dan kondusif dalam proses belajar mengajar. Dalam hal ini guru bukanlah sekedar orang berdiri di depan kelas untuk menyampaikan materi pelajaran tertentu, akan tetapi guru adalah anggota masyarakat yang harus ikut aktif, kreaktif dan berjiwa besar dalam mengarahkan perkembangan anak didiknya. Ada beberapa faktor yang menghambat jika dilihat dari guru sebagai penyampaian meteri, antara lain yaitu: (a) tipe kepemimpinan guru yang otoriter, (b) format belajar mengajar yang menoton, (c) kepribadian guru, (d)terbatasnya kesempatan guru untuk memahami tingkah laku siswa dan latar belakangnya dan (e) terbatasnya pengetahuan guru tentang masalah manajemen dan pendekatan manajemen baik yang sifatnya teoritis maupun pengalaman praktis.[13]
  2. Faktor Siswa. Siswa sebagai unsur kelas memiliki perasaan kebersamaan yang sangat penting bagi terciptanya situasi kelas yang dinamis. Setiap siswa memiliki peraaan diterima terhadap kelasnya agar mampu ikut serta dalam kegiatan-kegiatan kelas. Perasaan diterima itu akan menentukan sikap bertanggung jawab terhadap kelas yang secara langsung berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangannya masing-masing.
  3. Faktor Keluarga. Tingkah laku siswa di dalam kelas merupakan pencerminan keadaan keluarganya. Sikap otoriter orang tua akan tecermin dari tingkah laku siswa yang agresif atau apatis. Di dalam kelas sering ditemukan siswa-siswi pengganggu dan pembuat ribut di kelas biasanya berawal dari keluarga yang tidak utuh dan broken home.
  4. Faktor Fasilitas. Ruangan kelas yang kecil dibandingkan dengan jumlah siswa dan kebutuhan siswa untuk bergerak dalam kelas merupakan salah satu problema yang terjadi pada manajemen kelas. Sehingga proses belajar mengajar tidak kondusif lagi untuk dilakukan.

Dengan demikian, dapat penulis analisis dari bebrapa faktor tersebut di atas, bahwa yang menjadi persoalan yang belum mendapat pehatian khusus oleh para ahli pendidikan  dalam menajemen kelas adalah faktor guru itu sendiri. Selama ini, toeri-teori manajemen kelas yang diterapkan hanya menyebutkan bahwa siswa merupakan faktor utama dan pertama penghambat dalam manajemen kelas termasuk teori model pembelajaran Linda Albert dengan Cooperative discipline-nya tetapi mengabaikan faktor dari guru itu sendiri. Oleh karena itu, dalam hal ini penulis tidak setuju dengan teori pembelajaran dengan model manajemen kelas (classroom management) termasuk model pembelajaran Linda Albert tersebut, karena fakta di lapangan masih banyak guru yang belum profesional dalam mengelola kelas sehinga kegagalan siswa maupun dalam menciptakan suasana kelas yang efektif dan kondusif banyak disebabkan karena guru tidak memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu dalam artian guru belum profesional menjadi seorang guru. Inilah yang harus menjadi perhatian dan tanggung jawab kita semua yang berkecimpung dalam dunia pendidikan.

  1. 3.      Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Discipline Linda Albert

Dalam pembelajaran cooperatif disiplin (cooperative discipline) model pembelajaran Linda Albert para guru harus memperhatikan hal-hal berikut:

  1. Menspesifikan tujuan pembelaran: di setiap pembelajaran seharusnya ada tujuan akademis yang mengkhususkan untuk mempelajari konsep da strategi dan tujuan kecakapan sosial yang mengkhususkan pada kecakapan interpersonal atau kelompok kecil untuk digunakan dan dikuasai selama pelajaran berlangsung.
  2. Membuat sejumlah keputusan sebelum pelajaran dimulai: Guru harus menentukan ukuran kelompok, metode penugasan, peran siswa yang akan diberi tugas, materi yang perlukan untuk menjalankan pelajaran dan cara menata ruangan.
  3. Menjelaskan tugas dan interdependensi positif: Guru menentukan penugasan dengan jelas, mengajarkan konsep dan strategi yang diperlukan, menentukan cara saling membantu yang positif dan akuntabilitas individual, memberikan kriteria keberhasilan dan menjelaskan kecakapan sosial yang diharapkan bisa dijalankan siswa
  4. Mengawasi pembelajari siswa dan memberikan intervensi di dalam kelompok untuk memberikan bantuan dalam mengerjakan tugas atau meningkatkan keterampilan interpersonal siswa atau kelompok: Guru secara sistematis mengamati dan mengumpulkan data tentang tiap-tiap kelompok ketika mereka bekerja. Jika dibutuhkan, guru ikut campur untuk membantu siswa menyelesaikan tugas secara tepat dan ketika bekerja bersama secara efektif.
  5. Mengevaluasi pembelajaran siswa dan membantu siswa memproses seberapa baik kelompok mereka berfungsi: Pembelajaran siswa secara hati-hati dinilai dan pemahaman mereka dievaluasi. Para anggota kelompok belajar kemudian memproses seberapa efektif mereka dalam bekerja bersama.[14]   

Jika guru memiliki keahlian dalam menggunakan cooperative discipline dalam proses belajar mengajar dan telah mampu mengelola kelas dengan baik, maka dalam padangan penulis guru harus menyusun lima komponen mendasar tersebut ke dalam ativitas pengajaran agar tercipta suasana kelas yang kondusif. Peningkatan kesadaran diri sebagai guru, merupakan langkah sangat strategis dan mendasar karena akan meningkatkan rasa tanggung jawab (sense of responsibility) dan rasa memiliki (sense of belonging) yang merupakan modal dasar bagi guru dalam melaksanakan tugasnya. Manajemen kelas akan dipengaruhi oleh sikap dan nilai guru, bagaimana mana menyikapi siswa yang pada gilirannya sebagai manusia akan merespons sikap guru tersebut secara positif sehingga terjadilah interaksi edukatif yang hangat, intim dan terbuka. Hal inilah yang diharapkan terjadi dalam manajemen kelas agar hambatan-hambatan yang tidak dinginkan bisa dikurangi.

Dalam hal ini, yaitu Cooperative Discipline yang dikemukakan oleh Linda Albert, yang menjadi landasan model teori pembelajaran ini sama dengan konsep pembelajaran Demokratic Teacing oleh R. Dreikurs atau dengan menggunakan doktrin filsafat Alfred Adler dan R. Dreikurs yang beranggapan bahwa manusia diciptakan sama, sehingga memiliki hak yang sama memiliki rasa bermartabat dan rasa dihormati. Dalam proses kegiatan belajar mengajar dalam kelas, seorang guru memerlukan strategi dan model pembelajaran efektif untuk mengelola kegiatan belajar mengajar tersebut. Salah satu model pembelajaran yang dikembangkan di dunia pendidikan adalah model cooperative discipline yang dikemukakan oleh Dr. Linda Albert. Dalam pengelolaan kelas, dalam padangan Linda Albert ada beberapa hal yang diperhatikan guru ketika proses belajar mengajar berlangsung. Hal ini sama dengan apa yang dikumukakan oleh R. Dreikurs dalam Management and Demokratic Teaching seorang guru harus memperhatikan empat model manajanmen dan pengajaran demokratis, yaitu: (1) mistaken goals, (2) demokratic teaching, (3) encouragement, dan (4) logical consequences.

Sedangkan Linda Albert dengan model pembelajaran coopertaive discipline, menjelaskan bahwa dalam proses belajar mengajar seorang guru harus menerapakan empat hal dalam pengelolaan pembelajarannya, antara lain yaitu:

  1. Mistaken Goals: Guru harus mampu meluruskan niat atau tujuan siswa yang salah agar proses belajar mengajar berjalan dengan efektif dan kondusif.
  2. Encourages: Linda Albert mondorong guru dalam proses belajar mengajar bekerja sama dengan orang tua dan siswa untuk menyelesaikan masalah-masalah para siswa yaitu:[15]
    1. 1.      Connect: terjalinnya hubungan antara guru dan murid dalam proses belajar mengajar
    2. 2.      Contribute: guru harus mampu membantu siswa agar berperan aktif dalam kelas, diskusi kelompok dan lain sebagainya.
    3. 3.      Capable: guru harus mampu membatu siswa berperilaku baik dan menyelesaikan masalah pendidikan/akademisnya.
  3. Consequences: sebelum proses kegiatan belajar mengajar dimulai guru harus membuat peraturan yang harus ditaati oleh siswa dan apabila melanggar maka siswa tersebut akan menanggung akibatnya.

Pada poin kedua yaitu Encourages, dalam pandangan dan analisis penulis bahwa kerja sama yang disiplin antar guru dan orang tua siswa sangat membantu permasalahan pendidikan yang dialami siswa, misalnya siswa yang tidak aktif di kelas, malas mengerjakan tugas dan berperilaku yang buruk serta mengganggu temannya bisa diselesaikan dengan baik sehingga manajemen kelas bisa tertata dengan baik pula dan akhirnya berdampak terhadap proses belajar mengajar di kelas yang efektif dan kondusif.

 

Penerapan teori Linda Albert dalam proses belajar mengajar dapat di pratikan dalam kegiatan diskusi siswa, terutama dalam mengatasi perilaku siswa yang buruk ketika kegiatan diskusi atau belajar bersama berlangsung. Ada empat tingkah laku buruk siswa yang biasa terjadi dalam kegiatan belajar mengajar menurut Linda Albert dalam cooperative discipline, yaitu:

  1. Attention (ingin mencari perhatian): seorang siswa yang memperoleh kegagalan menemukan kedudukan dirinya secara wajar dalam suasana hubungan sosial yang saling menerima biasanya bertingkah laku mencari perhatian orang lain, baik secara aktif maupun pasif. Tingkah laku secara aktif dapat dijumpai pada para siswa yang suka pamer, membuat onar, melawak, terus menerus bertanya dan memperlihatkan kenakalannya. Sedangkan yang betingkah laku pasif dapat ditemukan pada para siswa yang terus menerus meminta bantuan orang lain. Untuk mengatasi masalah siswa yang ingin mencari perhatian ini, menurut Linda Albert[16]seorang guru harus melakukan hal berikut, yaitu:
    1. Gunakan tatapan mata agar siswa menyadari bahwa tingkah laku buruknya diketahui
    2. Bergerak mendekati siswa sambil mengajarinya
    3. Minta pertanyaan langsung pada siswa atau menyebut namanya sambil melajutkan pelajaran
    4. Berikan pujian spesifik sambil mendekati siswa yang mengerjakan tugas
  2. Power (ingin berkuasa/merasa berkuasa/mencari kekuasaan): tingkah laku ini sama dengan tingkah laku mencari perhatian, tetapi lebih mendalam. Pencari kekuasaan aktif suka bohong, tidak mau melakukan apa yang diperintahkan guru/orang lain, menampilkan adanya pertentangan pendapat dan menunjukkan sikap tidak hormat/patuh secara terbuka. Sedangkan yang bersifat pasif tampak pada anak yang malas tidak mau melakukan apa-apa sama sekali. Untuk mengatasi siswa bertingkah laku buruk ini, linda Albert dalam cooperative discipilen-nya menyarankan guru untuk melakukan hal berikut, yaitu:[17]
    1. Hindari konfrontasi langsung dengan murid lalu bermusyawara atau ganti topik pembahasan
    2. Akui bahwa murid tersebut memang berkuasa sambil memberikan penilaian
    3. Rubalah aktivitas, lakukan sesuatu yang tidak diduga, atau mulai diskusi kelas dengan topik yang menarik
    4. Diperbolehkan istirahat dengan memberikan satu pilihan, kamu boleh duduk dengan tenang, sampai menyelesaikan tugas
  3. Revenge (pembalsan/dendam/rasa benci):  siswa yang menuntut balas mengalamai frustasi yang sangat mendalam dan tidak menyadari bahwa dia sebenarnya mencari sukses dengan jalan menyakiti orang lain. Siswa seperti ini sering melakukan penyerangan secara fisik terhadap sesame siswa, petugas dan guru. Anak yang berperilaku seperti ini biasanya lebih suka bertindak secara aktif daripada secara pasif dan dirinya merasa sakit kalau dikalahkan. Linda Albert dengan model pembelajaran cooperative discipline-nya mencoba menyelesaikan siswa yang bertingkah laku buruk ini dengan pendekatan khusus, antara lain yaitu:
    1. Berikan suatu perlakuan khusus
    2. Bangun hubungan komunikasi dan menggunakan statemen untuk mengatakan kamu setuju, tetapi kamu telah memilih perilaku yang salah
    3. Perlu diperbaiki kembali atau mengganti artikel yang dirusak
    4. Perlu melibatkan pihak/personel sekolah atau orang tua
  4. Avoidance of Failure (takut gagal/menghidari kegagalan/ketidakmampuan): siswa yang menunjukkan ketidakmampuan pada dasarnya merasa sengat tidak mampu berusaha mencarai sesuatu yang diinginkannya dan bersikap menyerah terhadap tantangan yang menghambatnya, bahkan siswa ini menganggap bahwa yang ada di depannya hanyalah kegagalan yang terus menerus. Perasaan tanpa harapan biasanya diikuti tingkah laku mengundurkan diri. Ada empat solusi yang harus diperhatiakan guru dalam menyelesaikan permasalahan siswa berperilaku putus asa/takut gagal ini, menurut Linda Albert, antara lain yaitu:
    1. Akui adanya kesulitan pada tugas yang diberikan, tetapi ingat siswa dengan kesuskesan masa lalu
    2. Ubahlah cara pelaksanaan dan materi/bahan pembelajaran
    3. Ajarkan/tanamkan pada siswa dengan mengatakan saya bisa/mampu daripada saya tidak bisa/mampu dengan menjadi berprestasi
    4. Menyediakan guru privat atau mintalah siswa lain untuk membantunya, barangkali siswa lebih mudah untuk membangun kepercayaan diri.[18]

Dari empat permasalahan tingkah laku siswa yang dihadapi ketika proses belajar mengajar berlangsung, menurut penulis seorang guru hendaknya benar-benar mampu mengenal dan memahami secara tepat arah tingkah laku siswa agar guru mampu menangani masalah-masalah yang dihadapi siswa secara tepat pula. Guru harus menyikapi semua tingkah laku siswa tersebut dengan bijaksana dan melibatkan pihak-pihak tertentu seperti orang tua siswa dan pihak sekolah yang diwakili guru bimbingan dan konseling.

Menurut Maman Rahman (1998) dalam mulyadi, bahwa dari keempat tindakan individual siswa di atas akan mengakibatkan terbentuknya empat pola tingkah laku yang sering dijumpai pada anak usia sekolah, yaitu:[19]

  1. pola aktif konstruktif yaitu pola tingkah laku yang ekstrem, ambiguous untuk menjadi superstar di kelasnya dan berusaha membentuk guru dengan penuh vetilitas dan sepenuh hati.
  2. pola aktif destruktif yaitu pola tingkah laku yang diwujudkan dalam bentuk suka marah, kasar dan pemberontak
  3. pola pasif konstruktif yaitu yang menunjukkan kepada satu bentuk tingkah laku yang lamban dengan maksud supaya selalu dibantu dan mengharapkan perhatian
  4. pola pasif destruktif yaitu pola tingkah laku yang menunjukkan kemalasan dan keras kepala.[20]

Manajemen kelas dikatakan menarik, karena pada satu sisi memerlukan kemampuan pribadi dan ketekunan menghadapi, sedangkan disisi lain manajemen kelas sangat menentukan berhasil tidaknya pencapaian tujuan instruksional yang telah ditentukan. Oleh karena itu, menurut penulis guru merupakan kunci keberhasilan dalam manajemen proses belajar mengajar, sehingga sudah seharusnya guru harus memiliki kemampuan profesional termasuk kemampuan manajemen kelas.

Dari empat tingkah laku buruk siswa (Attention, Power, Revenge, Avoidance of Failure) yang dikemukakan oleh Dr. Linda Albert, dalam pandangan penulis sangat baik untuk diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar untuk menyelesaikan permasalah-permasalahan dalam kelas, terutama dengan memberikan solusi atau sesuatu yang harus dilakukan guru apabila menghadapi siswa yang bertingkah laku buruk tersebut. Namun, teori Linda Albert masih banyak kelemahan dan kekurangannya dalam pelaksaan proses belajar mengajar berlangsung. Model pembelajaran cooperative discipline yang dikemukakan oleh Linda Albert ini, hanya menempatkan siswa sebagai faktor tunggal yang menyebabkan pengelolaan kelas yang tidak efektif dan kondusif, hal inilah yang tidak sesuai dengan pandangan penulis. Menurut penulis, tidak kondusif dan efektifnya pengelolaan kelas tidak hanya disebabkan oleh faktor siswa saja, tetapi faktor guru juga harus mendapatkan perhatian khusus. Kondisi kelas yang tidak efektif dan kondusif bisa jadi karena guru tidak mampu untuk mengelola kelas dengan baik atau guru kurang profesional menjadi guru. Inilah yang diabaikan oleh Linda Albert dalam kegiatan proses belajar mengajar.

Dalam menghadapi tingkah laku siswa yang buruk, menurut Linda Albert dalam model pembelajaran cooperative discipline, sikap yang harus dilakukan guru, antara lain yaitu:[21]

  1. a.      Assertive discipline(disiplin yang tegas)
    1. Non-assertive (tidak tegas/lemah lembut). Dalam menghadapi pemasalahan di kelas, guru harus menyikapinya dengan rasa kasih saying dan lemah lembut
    2. Hostile (marah) seorang guru harus memperhatikan bagaimana caranya untuk menegur siswa yang bertingkah laku buruk dalam kelas ketika proses belajar mengajar berlangsung, mungkin bisa dengan memarahinya sambil meberikan nasehat.
    3. Assertive (tegas) sorang guru harus bersikap tegas terhadap tingkah laku siswa yang menganggu proses belajar mengajar berlangsung di kelas
  2. b.      Establishing a positive discipline system: sebelum proses belajar mengajar berlangsung, guru harus membuat suatu sistem atau peraturan dengan murid yang berpengaruh positif terhadap proses belajar mengajar dan siswa di kelas.
  3. c.       Positive rather than negative consequences: guru harus menjelaskan konsekuensi logis apabila siswa bertingkah laku baik dan yang bertingkah laku buru.
  4. d.      Control techniques for disruptive students: seorang guru harus memiliki pengetahuan atau kemampuan tentang teknik untuk mengatasi siswa yang menganggu dalam kelas ketika proses belajar mengajar berlangsung.
  5. e.      Criticisms of assertive discipline: guru harus bersikap tegas terhadap siswa yang menganggu atau siswa yang bertingkah laku buruk di kelas ketika proses belajar mengajar berlangsung.

Dalam menciptakan dan mempertahan suasana kelas yang efektif dan kondusif, kelima langkah tersebut merupakan suatu yang harus dilakukan guru apabila dalam kegiatan belajar mengajar berlangsung di kelas ada siswa yang bertingkah laku buruk atau menganggu proses belajar mengajar tersebut. Penulis menganjurkan kepada guru agar benar-benar memahami strategi dalam pengelolaan kelas ketika proses belajar mengajar berlangsung. Setuju atau tidak setuju, dengan padangan penulis bahwa kenyataan dilapangan masih banyak guru belum mampu mengeolala kelas dengan baik, hal ini disebabkan karena foktor guru itu sendiri bukan faktor dari siswa. Masih banyak guru yang belum memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru sebagaimana telah dijelaskan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.

Pedekatan manajemen kelas dalam proses belajar mengajar Dr. Linda Albert berdasarkan perubahan tingkah laku bertolak dari sudut pandangan psikologi behavioral yang mengemukakan asumsi sebagai berikut:

  1. semua tingkah laku yang baik dari yang kurang baik merupakan hasil proses belajar. Asumsi ini mengharuskan guru berusaha menyusun program kelas dan suasana yang dapat merangsang terwujudnya proses belajar yang memungkinkan siswa mewujudkan tingkah laku yang baik menurut ukuran norma yang berlaku di lingkungan sekitarnya.
  2. dalam proses belajar terdapat proses psikologi fundamental. Asumsi ini menunjukkan bahwa ada empat proses yang perlu diperhitungkan dalam belajar bagi semua orang pada segala tingkatan umur dan segala keadaan (kondisi). Proses belajar itu sebagian atau seluruhnya dipengaruhi oleh kejadian-kejadian yang berlangsung di lingkungan. Dengan demikian tugas guru ialah menguasai dan menerapkan keempat proses yang telah terbukti merupakan pengontrol tingkah laku manusia, yaitu:[22]
    1. Penguatan Positif (positive reinforcement), dalam kegiatan belajar mengajar, penghargaan (penguatan positif) mempunyai arti penting. Tingkah laku dan penampilan siswa yang baik, diberi penghargaan dalam bentuk senyuman atau kata-kata pujian yang merupakan penguat terhadap tingkah laku dan penampilan siswa.
    2. Hukuman (punishment), masalah hukuman masih merupakan suatu delema atau masih diperdebatkan yaitu penggunaan hukuman untuk mengurangi atau meniadakan tingkahl laku siswa yang menyimpang. Dalam hal ini ada tiga pokok pandangan yaitu: pertama, penggunaan hukuman itu hendaklah sama sekali dihindarkan, kedua, penggunaan hukuman secara tepat adalah amat efektif untuk mengurangi atau menghilangkan tingkah laku siswa yang menyimpang, dan ketiga, penggunaan hukuman secara bijaksana terhadap hal-hal tertentu secara terbatas dapat menimbulkan akibat baik secara cepat, tetapi guru harus hati-hati mencatat akibat-akibat sampingan dari hukuman itu.
    3. Penghapusan (extinction) dan Penundaan (time out), penghapusan adalah menahan atau tidak lagi memberikan ganjaran yang diharapkan akan diberikan seperti yang sudah-sudah. Sedangkan penundaan merupakan tindakan tidak jadi memberikan ganjaran atau mengecualikan pemberian ganjaran untuk siswa tertentu.
    4. Penguatan Negatif (negative reinforcement), yang dimaksud dengan penguatan negative adalah peniadaan perangsangan yang tidak mengenakkan (hukuman) sehingga mengurangi tingkah laku yang menyimpang biasa dilakukan.[23]

Dalam pembelajaran cooperatif disiplin (cooperative discipline) model pembelajaran Linda Albert memiliki implikasi terhadap para guru dalam pengelolaan kelas ketika proses belajar mengajar berlangsung, yaitu:

  1. Menspesifikan tujuan pembelaran: di setiap pembelajaran seharusnya ada tujuan akademis yang mengkhususkan untuk mempelajari konsep da strategi dan tujuan kecakapan sosial yang mengkhususkan pada kecakapan interpersonal atau kelompok kecil untuk digunakan dan dikuasai selama pelajaran berlangsung.
  2. Membuat sejumlah keputusan sebelum pelajaran dimulai: Guru harus menentukan ukuran kelompok, metode penugasan, peran siswa yang akan diberi tugas, materi yang perlukan untuk menjalankan pelajaran dan cara menata ruangan.
  3. Menjelaskan tugas dan interdependensi positif: Guru menentukan penugasan dengan jelas, mengajarkan konsep dan strategi yang diperlukan, menentukan cara saling membantu yang positif dan akuntabilitas individual, memberikan kriteria keberhasilan dan menjelaskan kecakapan sosial yang diharapkan bisa dijalankan siswa
  4. Mengawasi pembelajari siswa dan memberikan intervensi di dalam kelompok untuk memberikan bantuan dalam mengerjakan tugas atau meningkatkan keterampilan interpersonal siswa atau kelompok: Guru secara sistematis mengamati dan mengumpulkan data tentang tiap-tiap kelompok ketika mereka bekerja. Jika dibutuhkan, guru ikut campur untuk membantu siswa menyelesaikan tugas secara tepat dan ketika bekerja bersama secara efektif.
  5. Mengevaluasi pembelajaran siswa dan membantu siswa memproses seberapa baik kelompok mereka berfungsi: Pembelajaran siswa secara hati-hati dinilai dan pemahaman mereka dievaluasi. Para anggota kelompok belajar kemudian memproses seberapa efektif mereka dalam bekerja bersama.[24]

Apabila kelima implikasi teori Linda Albert tersebu dapat dilaksanakan dengan baik oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, maka akan berdampak terhadap tingkah laku dan respon siswa ketika proses belajar berlangsung. Guru adalah aktor pertama dan utama dalam proses belajar mengajar, memiliki pengaruhi yang besar terhadap penciptaan suasana kelas yang efektif dan kondusif sehingga akan berpengaruhi juga terhadap prestasi siswa di kelas. Dengan demikian, dari keseluruahan penjelasan di atas, penulis mempunyai pandangan berbeda dengan apa yang dijelaskan oleh Linda Albert, yang mempokuskan kepada siswa penyebab utama dari tidak efektif dan kondusifnya keadaan kelas. Namun dibaliki itu, ada faktor lain yang mempengaruhi tidak kondusif dan tidak efektifnya suatu kelas sangat ditentukan oleh guru yang mengajar. Disisi inilah yang menjadi kelemahan dari teori Linda Albert jika diterapkan dalam pembelajaran menurut padangan penulis.

Namun, secara keseluruhan keberadaan guru dan siswalah yang akan menetukan keadaan dan situasi kelas. Guru yang tidak profesional dalam mengajar dampaknya jauh lebih besar jika dibandingkan daripada dampak yang disebabkan oleh tingkah laku siswa yang menyimpang. Kelas yang efektif dan kondusif merupakan dampak antara guru dan siswa. Dampak yang disebabkan karena tidak profesionalnya guru inilah yang harus menjadi perhatian khusus oleh pakar pendidikan dan pembelajaran. Oleh karena itu, peningkatan kualitas guru dalam manajemen kelas dan proses belajar mengajar harus menjadi prioritas pertama utama untuk saat ini, apalah artinya sebuah kelas dan sekumpulan siswa jika tanpa dikelola oleh tenaga profesional yaitu guru. Salah satu solusi menurut pandangan penulis dalam rangka mengelola kelas yang efektif dan kondusif ketika proses belajar mengajar berlangsung adalah tingkatkan kinerja dan profesional guru, tanpa itu seorang guru akan merasa kesulitan untuk mengelola kelas ketika proses belajar mengajar berlangsung.

.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Mujib, Jusuf Mudzakkir. 2006. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media.

Daradjat, Zakiah. 1992. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Askara.

Isjoni. 2009. Cooperative Learning: Efektifitas Pembelajaran Kelompok. Bandung: Alfabet, cet 2.

Mulyadi.2009. Classroom Management: Mewujudkan Suasana Kelas yang Menyenangkan bagi Siswa. Malang: UIN-Malang Press

M. Lee Manning, Katherine T., Bucher. 2003. Classroom Management Models, Applications and Cases. New Jersey: Marril Prentice

Robert E, Slavin. 2009. Cooperative learning: Teori, Riset dan Praktik. Bandung: Nusa Media

Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning: Teori dan Aplikasinya PAIKEM. Yokyakarta: Pustaka Pelajar

Sharan, Shlomo. 2009. Handbook of Cooperative Learning: Inovasi Pengajaran dan Pembelajaran untuk Memacu Keberhasilan Siswa di Kelas. Yogyakarta: Imperium

Tim Laboratorium LP3I. 2010. Keterampilan Dasar Mengajar. Malang: Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Wlodsowski R. J. & Jaynes J. H. 2004. Hastrat Untuk Belajar: Jogjakarta: Pustaka Pelajar


[1] Isjoni, Cooperative Learning: Efektifitas Pembelajaran Kelompok, Bandung: Alfabet, 2009, Cet 2, hlm. 11-12

[2] Wlodsowski R. J & Jaynes J. H., Hastrat Untuk Belajara, Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2004, hlm. 22

[3] Robert E. Slavin, Cooperative Learning: Teori, Riset dan Praktik, Bandung: Nusa Media, 2009, hlm. 41

[4] Agus Suprijono, Cooperative Learning: Teori & Aplikasi Paikem, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009, hlm. 58

[5] Mulyadi, Classroom Management: Mewujudkan Suasana kelas yang Menyenangkan bagi Siswa, Malang: UIN-Malang Press, 2009, hlm. 5

[6] Ibid, hlm. 2

[7] Mulyadi, op. cit., hlm. 2-3

[8] Abdul Mujib, Jusuf Mudzkkir, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006, hlm. 88

[9]  Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam,Jakarta: Bumi Askara, 1992, hlm. 39

[10] Lihat Mulyadi,…hlm. 4

[11] Tim Laboratorium LP3I, Keterampilan Dasar Mengajar, Malang: Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, 2010, hlm 35-36

[12] Hadari Nawawi dalam Mulyadi, ibid, hlm. 6

[13] Mulyadi, op.cit., hlm. 6-8

[14] Shlomo Sharan, Handbook Of Cooperative Learning: Inovasi Pengajaran dan Pembelajaran untuk Memacu Keberhasilan Siswa di Kelas, Yogyakarta: Imperium, 2009, hlm. 75-77

[15] M. Lee Manning, Katherine T. Bucher, Classroom Management Models, Applications and Cases, New Jersey: Marril Prentice, 2003, hlm. 239-240

[16]  M. Lee Manning, Katherine T. Bucher, ibid., hlm. 241

[17]  M. Lee Manning, Katherine T. Bucher, op.cit., hlm 241

[18]  Lihat M. Lee Manning, Katherine T. Bucher,…hlm. 241

[19] Lihat Mulyadi,…hlm. 15

[20] Maman Rahman dikutip dalam Mulyadi…., ibid., hlm. 15

[21] Linda Albert, Classroom Management and Cooperative Group Work for Efective Larning, New Jersey: tth., hlm. 271-273

[22] Lihat Mulyadi, ibid., hlm. 36

[23] Lihat Mulyadi..op.cit., hlm. 36-45

[24] Shlomo Sharan, Handbook of Cooperative Learning, Yogyakarta: Imperium, 2009, hlm. 75-77

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: