MEDIA PEMBELAJARAN

M. Ghaza Kusairi

(Mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Malang)

Upaya untuk meningkatkan dan memperbaiki kualitas pendidikan seakan-akan tidak pernah berhenti. Beragam program-program inovatif yang telah, sedang dan akan dilaksanakan dalam hal pendidikan, termasuk dalam hal restrukturisasi model-model pembelajaran dan pemilihan metode pembelajaran dalam proses belajar mengajar.

Dan perlu disadari bersama bahwa dari sekian banyak generasi penerus yang ada di masyarakat pada umumnya ada sebagian kecil dari mereka yang kurang beruntung, karena mengalami atau memiliki kelainan

baik dari segi fisik, mental, perilaku dan ataupun campuran. Oleh karena itu, dalam kegiatan proses belajar mengajar diperlukan media-media pembelajaran yang berguna untuk membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap peserta didik.

Autisme atau juga disebut anak dengan kebutuhan khusus merupakan suatu gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi interaksi sosial, dan aktivitas imajinasi. Anak autisme mempunyai masalah atau gangguan sensoris, pola bermain, perilaku dan emosi. Sehingga anak autisme atau anak dengan kebutuhan khusus ini juga berhak mendapatkan suatu layanan pendidikan yang layak dengan anak-anak normal lainnya.

Pemberian layanan pendidikan bagi mereka yang berkebutuhan khusus berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 2003 pasal 32 ayat 1 yang berbunyi: “Pendidikan Khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, dan atau memiliki potensi dan bakat yang istimewa”.

Berdasarkan aturan perundang-undangan tersebut, maka anak yang menyandang autisme atau anak dengan kebutuhan khusus berhak mendapat pendidikan dan pengajaran yang layak sesuai dengan kemampuan dan juga potensi yang ada dalam diri anak. Pada dasarnya semua yang ada dalam kehidupan di dunia tidak dapat dengan mudah dicapai apalagi anak yang memagalami autisme yaitu anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan perilakunya.

Menurut pendapatnya H. Asnawir dan M. Basyiruddin Usman: “Media pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah semua aktifitas yang ada hubungannya dengan materi pendidikan agama, baik yang berupa alat yang dapat diragakan maupun teknik atau metode yang secara efektif dapat digunakan oleh pendidik dalam rangka mencapai tujuan tertentu dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam”. Begitu pentingnya media pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam proses belajar mengajar peserta didik khususnya pada anak autisme, membuat para pendidik harus memiliki kemampuan dan kecakapan yang lebih memadai, juga diperlukan kinerja dan sikap yang baru, peralatan yang lebih lengkap dan adminitrasi lebih teratur dalam mendidik atau memberikan pelatihan-pelatihan khusus bagi anak autisme tersebut.

Menurut Y. Handojo, pada dasarnya anak autisme merupakan anak “Special Needs” atau anak dengan kebutuhan khusus, termasuk anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan perilakunya yang terdiri dari wicara dan okupasi yang tidak berkembang seperti pada anak yang normal. Kedua jenis perilaku ini sangat penting untuk komunikasi dan sosialisasiny, apabila hambatan ini tidak diatasi dengan cepat dan tepat, maka proses dalam belajar anak-anak tersebut juga akan terhambat. Oleh sebab itu, sangat penting upaya-upaya yang harus dilakukan oleh seorang pendidik atau orang tua untuk melakukan deteksi sedini mungkin bagi anak-anak yang mengalami autisme ini. Salah satunya dengan mendidik anak yang mengalami autisme dengan menggunakan media pembelajaran.

Hampir semua media pembelajaran sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar khususnya pada anak autisme atau anak yang memiliki kelainan dalam hal perilakunya. Menurut  Y. Handojo perilaku adalah semua tindakan atau tingkah laku seorang individu, baik kecil maupun besar, yang dapat dilihat, didengar dan dirasakan oleh orang lain atau diri sendiri. Jadi perilaku ini meliputi bicara atau suara, gerakan-gerakan atau aksi-aksi baik berupa gerakan yang beraturan atau tidak beraturan, tertuju atau tidak tertuju, sengaja atau tidak sengaja, berguna atau tidak berguna yang kesemuanya itu sebagai bentuk dari perilaku yang didahului oleh suatu penyebab baik secara eksternal maupun internal. Setiap perilaku itu juga akan memberikan suatu akibat, baik yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan, baik bagi individu peserta didik itu sendiri, orang lain maupun pada lingkungannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: