PENDIDIKAN ANAK BANGSA TANGGUNGJAWAB PEMERINTAHAN

Oleh: M.Ghaza Kusairi

Pada tahun 1998 bangsa Indonesia mengalami krisis keuangan dan krisi ekonomi. Hal ini diawali dengan runtuhnya rezimdan koloni-koloni Orde Baru. Soeharto sebagai presiden pada waktu itu dipaksa turun dari jabatannya sebagai orang nomor satu di Indonesi para mahasiswa Indonesia. Dampak dari krisis keuangan dan krisis ekonomi sangat mempengaruhi bangsa Indonesia sehingga melanda sektor-sektor yang lain yaitu kebijakan politik, pertahanan dan lain-lain. Dunia sangat perhatin dengan kondisi Indonesia pada saat itu, para pemerintahan Indonesia kebingungan untuk mengatasi krisis tersebut. Namun hal itu sedikit demi sedikit, krisis yang melanda bangsa ini bisa diatasi.
Jika kita tinjau dari segi ekonomi, memang Indonesia bisa mengatasi krisis tersebut, perokonomian bangsa ini normal kembali. Memasuki era melenium, pada awal tahun 2000 bangsa Indonesia tidak hanya mengalami krisis keuangan, tetapi Indonesia mengalami krisis yang sangat dahsyat yaitu krisis multidemensi. Dalam hal ini yang sangat memperhatinkan adalah Indonesia mengalamim krisis moral dan dan kebodohan dimana-mana. Hal ini disebabkan karena pemerintahan saat itu hingga sakarang hanya peduli dengan kekayaan, jabatan dan harta sehingga mengabaikan negerasi anak bangsa.
Setiap kita mengalami krisis ekonomi, mengapa para pemerintahan begitu bigung, pada hal dalam sudut pandang penulis, krisis ekonomi tidak begitu membahayakan bangsa ini. Ada krisis yang lebig besar bahayanya daripada sekedar krisis ekonomi yaitu krisis akhlak (moral) dan kebododhan dimana-mana. Tidak ada dari pemerintahan yang peduli terhadap moral dan pendidikan anak bangsa. Kenapa hal ini terjadi, karena ahklak dan moral para pemimpin bangsa Indonesia saat ini adalah bejat-bejat semua tanpa peduli terhadap anak bangsa.
Hal ini dapat kita buktikan dengan masalah yang melanda bank century, dalam pengamatan penulis berdasarkan apa yang telah dikatakan oleh bapak Jusuf Kalla, bahwa beliau mengatakan kegagalan yang dialami bank century karena dirampok oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Lalu kenapa Sri Mulyani selaku menteri keuangan pada saat itu, begitu ngotot untuk mengulirkan dana sebesar 6,7 T untuk membantu bank century, pada hakikatnya Sri Mulyani bukan ingin mengatasi krisis yang dialami bank century, tetapi uang 6,7 T itu hanya untuk menembah kekayaan para perompok tersebut.
Jika Sri Mulyani, punya hati pada saat itu, maka uang 6,7 T tidak akan digunakan untuk membantu para perampok bank century tersebut, tetapi digunakan untuk pendidikan anak bangsa yang mampu melanjutkan pendidikannya, atau uang sebesar 6,7 T diberikan sabagai beasiswa pada mahasiswa untuk melanjutkan S2, maka berapa banyak para intelektual muda yang akan dihasilkan bangsa ini, tetapi sangat disayangkan hal ini tidak terpikirkan oleh Sri Mulyani dan Boediono karena mereka tidak waras, mereka tidak punya hati lagi. Atau uang sebesar 6,7 T digunakan untuk mengoabati Sri Mulyani dan Boediono yang telah sakit jiwa.
Bertolak belakang dari penjelasan diatas, bahwa krisis moral dan banyak generasi bangsa yang tidak bisa menlanjutkan pendidikan lebih bahaya dampaknya terhadap kemajuan bangsa Indonesia dibandingkan dari dampak bank century yang telah dirampok. Pendidkan atau mencerdaskan anak bangsa merupakan tanggungjawab pemerintahan, krisis yang melanda bangsa Indonesia selama ini lebih disebabkan karena banyaknya para anak bangsa yang tidak bisa menikmati dan melanjuti pendidikan, sehingga dampaknya yaitu kebodohan dimana-mana dan krisis moral yang dialami bangsa ini. Apabila tingginya angka kebodohan, maka akan mendorong munculnya kejahatan-kejahatan.
Para pemerintahan kabinet Indonesia bersatu JILID II ala SBY-Boediono tidak lagi memperhatikan pendidikan anak bangsa ini, tidak lagi peduli dengan rakyat. Keterpurukan dan keterbelakangan bangsa Indonesia saat ini disebabkan oleh para pemimpinnya tidak lagi memliki perasaan, hati dan akal, mereka semua telah gila. Dihadapan manusia mereka adalah orang-orang hebat, tetpai dihadapan Tuhan mereka dalah kumpulan orang-orang gila. Apabila seseorang tidak lagi memliki rasa, hati dan peduli dengan orang lain, itulah orang gila. Apakah para pemerintahan kita dihuni oleh orang-orang gila, ini yang menjadi pertanyaan kita semua.
Jika para pemerintahan adalah orang-orang yang sehat, maka mereka pasti peduli dengan kemiskinan, kebodohan dan pendidikan rakyatnya, kenyataannya mereka tidak lagi peduli dengan hal tersebut, inilah penulis katakan bahwa “para pemerintahan kabinet Indonesia bersatu” banyak dihuni oleh orang-orang gila. Disini saya tidak bermaksud untuk menjelekkan dan menghina para pemerintahan saat ini, tetapi inilah fakta yang sbenarnya walaupun masih ada yang peduli dengan rakyat, tapi persentasenya sangat kecil dibandingakan dengan orang-orang yang tidak peduli (wong edan/orang gila).
Jika bangsa Indonesia ingin maju dalam segala bidang, maka hal yang pertama dan utama dibenahi adalah pendidikan anak bangsa. Tanpa adanya kepedulian terhadap pendidikan generasi anak bangsa, maka untuk kedepannya bangsa kita sulit untuk bersaing dengan bangsa-bangsa lain yang sangat maju dalam masalah pendidikan. Jiwa para pemimpin kita saat ini adalah jiwa kekayaan, jabatan dan harta, tidak ada yang memiliki jiwa untuk memajukan pendidikan anak bangsa. Hal ini dapat kita buktikan, misalnya ketika bangsa Indonesia dilanda musibah Tsunami Aceh dan Gempa Padang, semua para pemerintahan Indonesia yang berbicara atau dialog di televisi selalu mengklaim berapa kerugian yang dialami oleh Tsunami dan gempa. Tidak pernah saya mendegarkan secara langsung atau pun melalui tulisan yang mengatakan “berapa orang guru yang selamat”. Ini menunjukkan bahwa kepedulian kita terhadap pendidikan sangat rendah, apalagi kepedulian terhadap pendidikan orang lain atau anak bangsa.
Melalui artikel ini, penulis mengajak kepada kita semua untuk selalu memperhatikan terhadap pendidikan anak bangsa, karena pendidikan generasi bangsa adalah tanggungjawab kita semua terutama para pemerintahan. Yang peduli terhadap pendidikan rakyat Indonesia adalah orang-orang yang bemiliki perasaan, hati dan akal. Jika kita tidak peduli dengan pendidikan generasi bangsa ini, maka kita sama dengan orang gila yang tidak memiliki perasaan, hati dan peduli dengan orang lain, hal ini yang dialami pemerintahan kebinet Indonesia bersatu JILID II ala SBY-Boediono yang telah menjadi perkumpulan orang-orang gila yang tidak lagi peduli dengan rakyatnya dan pendidikan generasi anak bangsa.
Pendidikan merupakan faktor yang sentral untuk memajukan bangsa Indonesia terutama dibiadang keilmuan. Kebodohan merupakan faktor utama yang menyebabkan mandegnya keilmuan bangsa Indonesia. Jika bangsa Indonesia ingin maju dalam segala bidang, maka cerdaskan dulu anak bangsanya, berantas kebodohan yang telah menjamur di negara ini. Tetapi, faktanya berbicara lain, para pemerintahan hanya memikirkan masalah ekonomi, politik dan pertahanan dan keamanan, dan mengabaikan masalah pendidikan. Tidak ada perhatian yang khusus pemrintahan SBY-Boediono terhadap pendidikan. Mereka sibuk diskusi dan dialog membicarakan masalah ekonomi dan politik yang menghiasai media televisi, tetapi tidak ada satupun yang membicarakan tentang pendidikan generasi anak bangsa kedepannya. Hal ini menunjukan lemah perhatian pemerintahan terhadap dunia pendidikan. Indonesia tidak akan pernah maju jika pemerintahannya tidak memberikan perhatian yang besar terhadap pendidikan genarsa bangsa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: