PENIDIKAN ANAK DALAM KELUARGA

Oleh: M. Ghaza Kusairi

A. PENDAHULUAN
Berbicara tentang pendidikan, fokusnya selalu berkenaan dengan persoalan anak, sosok manusia yang dicintai, disayangi, dan generasi yang masa depannya harus dipersiapkan. Tugas mendidik anak ini ternyata tidak mudah dilakukan, lebih-lebih pada zaman sakarang ini. Kesulitan-kesulitan menjalankan tugas mendidik itu amat terasa, terutama ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa pengaruh lingkungan sudah demikian kuat, bahkan melampaui kekuatan pengaruh faktor-faktor pendidikan lainnnya. Kenakalan remaja sudah menjadi modus berita dan topik wacana di masyarakat, termasuk di media baik elektronika maupun cetak. Wacana yang disunguhkan oleh berbagai pemberitaan yang terutama adalah adalah kenakalan remaja, perkelahian, hubungan seks bebas, mabuk, penggunaan obat terlarang, dan bahkan tindakan kekerasan yang tidak selayaknya dilakukan.

Menghadapi persoalan-persoalan seperti ini, sudah pasti para orang tua menjadi risau. Cita-cita berupa agar kelak menjadi orang tua yang berhasil, yaitu memiliki anak yang sukses, shalih dan shalihah, patuh kepada kedua orang tua, berbakti kepada nusa dan bangsa, dan agama menjadi harapan yang terlalu sulit untuk diwujudkan. Kesulitan menunaikan tugas pendidikan, terutama pada masa sekarang ini, bukan semata-mata oleh karena keterbatasan lembaga pendidikan yang tersedia, melainkan disebabkan amat sedikitnya lembaga pendidikan yang mampu melakukan peran-peran pendidikan secara utuh terhadap para siswanya.

Manusia mendapat kehormatan menjadi khalifah di muka bumi untuk mengolah alam beserta isinya. Hanya dengan ilmu dan iman sajalah tugas kekhalifahan dapat ditunaikan menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan seluruh makhluk-Nya. Tanpa iman akal akan berjalan sendirian sehingga akan muncul kerusakan di muka bumi dan itu akan membahayakan manusia. Demikian pula sebaliknya iman tanpa didasari dengan ilmu akan mudah terpedaya dan tidak mengerti bagaimana mengolahnya menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan seisinya.

Secara sepintas pembahasan tentang dasar pelaksanaan pendidikan agama di lingkungan keluarga ini yaitu atas dasar cinta kasih seseorang terhadap darah dagingnya (anak), atas dasar dorongan sosial dan atas dasar dorongan moral. Akan tetapi dorongan yang lebih mendasar lagi tentang pendidikan agama di lingkungan keluarga ini bagi umat Islam khususnya adalah karena dorongan syara yang mewajibkan bagi orang tua untuk mendidik anak-anak mereka, lebih-lebih pendidikan agama.

Pendidikan dapat diarikan sebagai proses bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani manusia menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Oleh karena itu, pendidikan dipandang sebagai salah satu aspek yang memiliki peranan pokok dalam membentuk generasi muda agar memiliki kepribadian yang utama. (Zuhairini dan Abdul Ghofir, 2004: 1)

Pendidikan dalam keluarga memiliki peranan yang sangat penting terhadap perkambangan fitrah anak, terutama pendidikan yang diberikan oleh kedua orang tua terhadap anak. Keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama, dalam hal ini orang tua memiliki peran yang besar terhadap pendidikan anaknya kedepan. Apabila kegagalan dalam manajemen pendidikan dalam keluarga, maka akan bertampak pada pendidikan anak berikutnya yaitu tatkala anak-anak menempuh pendidikan diluar lingkungan keluarga.

Problem pendidikan yang muncul saat ini bukan disebabkan oleh keterbatasan-keterbatasan tenaga ahli, dana, maupun jumlah lembaga pendidikan. Semua itu justru saat ini sudah jauh meningkat bila dibandigkan dengan benerapa tahun yang lalu. Fasilitas dan daya dukung pendidikan sebenarnya sudah semakin tercukupi. Demikian pula kenakalan remaja bukan saja dialami oleh anak-anak dari kalangan keluarga miskin, melainkan justru anak-anak dari keluarga orang berpendidikan yang juga memiliki kekuatan ekonomi yang cukup. Jika demikian halnya, kita dapat mempertanyakan, apakah sesungguhnya yang salah dari proses pendidikan yang dilaksanakan selama ini. (Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, 2004: 4)

Pada dasarnya, tugas utama pendidikan, khususnya pendidikan Islam adalah mengubah potensi-potensi manusia menjadi kemampuan-kemampuan atau keterampilan-keterampilan yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Pendidikan Islam sesungguhnya merupakan solusi bagi penyakit yang menimpa manusia modern. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang dibangun atas dasar fitrah manusia. Pendidikan Islam senantiasa bertujuan menimbulkan pertumbuhan yang seimbang dari kepribadian total manusia melalui latihan spiritual, intelek, rasional diri, perasaan dan kepekaan tubuh manusia. Oleh karenanya, pendidikan Islam selalu berusaha menyediakan jalan bagi pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya. (Toto Suharto, 2006: 91-92)

Pendidikan diibartkan sebagai sebuah rumah yang dapat menaungi penghuninya dari sengatan matahari dan hujan. Tetapi rumah tidak dapat dibangun dalam awang-awang, melainkan harus ditata sedemikian rupa sehingga menjadi indah dan asri. Oleh karena itulah mereka yang membangun dan mendirikan rumah tentunya bertanggung jawab atas terbentuknya rumah yang indah dan asri agar dapat menjadi tempat berteduh yang nyaman untuk dirinya, pasangan hidunya dan akan-anaknya. Begitu pula dalam mendidik anak, apabila anak diarahkan sesuai dengan kapasitas, potensi dan perkembangan serta tahapan-tahapan yang akan dilaluinya, maka anak akan menjadi penyejuk sanubari dan menyenagkan bila dipandang mata. Dalam hal ini orang tua, memiliki kewajiban yang besar dalam pendidikan anaknya dalam keluarga. Namun pada zaman modern ini, bnayak orang tua tidak lagi memperhatikan pendidikan anaknya karena sebuk dengan karir, sehingga pendidikan anaknya terabaikan.

Al-Qur’an merupakan firman Allah yang selanjutnya dijadikan pedoman hidup (way of life) kaum muslim yang tidak ada lagi keraguan di dalamnya. Di dalamnya terkandung ajaran-ajaran pokok (prinsip dasar) menyangkut segala aspek kehidupan manusia yang selanjutnya dapat dikembangkan sesuai dengan nalar masing-masing bangsa dan kapanpun masanya dan hadir secara fungsional memecahkan problem kemanusiaan. Salah satu permasalah yang tidak sepi dari perbincangan umat adalah masalah pendidikan.

B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Pendidikan
Al-Qur’an sebagai petunjuk, pebeda, penjelas, dan juga syifa’ ma fis shudur (obat dari penyakit yang ada dalam dada) pasti berbicara tentang pendidikan. Pendidikan menyangkut kebutuhan hakiki seseorang. Ajaran yang bersifat universal ini tidak mungkin secara operasional dan mendetail memperbincangkan pendidikan yang amat mendasar ini. (Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, 2004: 7)
Dalam al-Qur’an sendiri telah memberi isyarat bahwa permasalahan pendidikan sangat penting, jika al-Qur’an dikaji lebih mendalam maka kita akan menemukan beberapa prinsip dasar pendidikan yang selanjutnya bisa kita jadikan inspirasi untuk dikembangkan dalam rangka membangun pendidikan yang bermutu. Ada beberapa indikasi yang terdapat dalam al-Qur’an yang berkaitan dengan pendidikan antara lain; Menghormati akal manusia, bimbingan ilmiah, fitrah manusia, penggunaan cerita (kisah) untuk tujuan pendidikan dan memelihara keperluan sosial masyarakat.
Dalam al-Qur’an kata pendidikan dikenal dengan istilah tarbiyah. Kata ini berasal dari kata rabba-yurabbi yang berarti memelihara, mengatur, mendidik, seperti yang terdapat dalam surat al-Isra’ yang artinya:
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil. (Q.S. al-Isra’: 24)

Kata tarbiyah berbeda dengan ta’lim yang secara harfiyah juga memiliki kesamaan makna yaitu mengajar. Akan tetapi, kata ta’lim lebih kepada arti transfer of knowladge (pemindahan ilmu dari satu pihak kepada pihak lain). Sedangkan tarbiyah tidak hanya memindahkan ilmu dari satu pihak kepada pihak lain, namun juga penanaman nilai-nilai luhur atau akhlakul karimah, serta pembentukan karakter. Oleh karena itulah, Allah swt menyebut dirinya dengan sebutan rabb yang berarti pemelihara dan pendidik.

Dalam pandangan penulis, bahwa ayat ini memerintahkan kepada kedua orang tua agar mendidikan anaknya dengan baik. Pendidikan dalam ayat tersebut diatas adalah pendidikan dalam keluarga yang dilakukan oleh orang tua terhadap putra-putrinya agar kelak putra-putrinya menjadi anak yang shalih dan shalihah yang selalu mendoakan kedua orang tuannya tatkala mereka berdua telah tiada. Kita semua memahami bahwa setiap anak adam yang meninggal maka putuslah semua amalnya kecuali tiga hal, salah satu dari tiga hal tersebut adalah doa anak yang shalih yang selalu mendoakannya. Hal inilah fungsi dari pendidikan anak dalam lingkungan keluarga yang kita harapkan semua.

Istilah pendidikan bisa ditemukan dalam al-Qur’an dengan istilah tarbiyah, ta’lim dan tadhib tetapi lebih banyak kita temukan dengan ungkapan kata rabbi, kata tarbiyah adalah bentuk masdar dari fi’il madhi rabba, yang mempunyai pengertian yang sama dengan kata ‘rabb’ yang berarti nama Allah. Dalam al-Qur’an tidak ditemukan kata tarbiyah, tetapi ada istilah yang senada dengan itu yaitu rabb, rabbayani, murabbi, rabbiyun, rabbani. Sebaiknya dalam hadis digunakan istilah rabbani. Semua istilah tersebut mempunyai konotasi makna yang berbeda-beda. Beberapa ahli tafsir berbeda pendapat dalam mengartikan kat-kata diatas. Sebagaimana dikutip dari Ahmad Tafsir bahwa pendidikan merupakan arti dari kata tarbiyah kata tersebut berasal dari tiga kata yaitu rabba-yarbu yang bertambah, tumbuh, dan rabbiya- yarbaa’ berarti menjadi besar, serta rabba-yarubbu yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga, memelihara. Konferensi pendidikan Islam yang pertama tahun 1977 ternyata tidak berhasil menyusun definisi pendidikan yang dapat disepakati, hal ini dikarenakan: pertama, banyaknya jenis kegiatan yang dapat disebut sebagai kegiatan pendidikan, kedua, luasnya aspek yang dikaji oleh pendidikan. (Ahmad Tafsir, 1992: 23)

Bertolak dari asumsi bahwa life is education and education is life dalam arti pendidikan merupakan persoalan hidup dan kehidupan, dan seluruh proses hidup dan kehidupan manusia adalah proses pendidikan maka pendidikan Islam pada dasarnya hendak mengembangkan pandangan hidup Islami, yang diharapakan tercermin dalam sikap hidup dan keterampilan hidup orang Islam. Maka dari itu, menurut hemat penulis, pendidikan meiliki peranan yang penting untuk mengembangan fitrah atau potensi dasar yang dimiliki anak, karena setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah.

Tujuan pendidikan adalah untuk mengembangan fitrah atau potensi dasar yang dimiliki anak sejak ia dilahirkan. Agar potensi-potensi itu berkembangan sesuai dengan fitrahnya, maka pendidik terutama kedua orang tua memilki peranan yang besar untuk mengarahkannya kepada perkembangan yang lebih baik. Dari penjelasaan di atas, maka pengertian pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintahan melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan pelatihan yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat, untuk memersiapkan perserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang.

Nuquib al-Attas menjelaskan, pendidikan Islam adalah merupakan proses pengenalan yang ditanamkan secara bertahap dan berkesinambungan dalam diri manusia mengenai objek-objek yang benar sehingga hal itu akan membimbing manusia ke arah pengenalan dan pengakuan terhadap eksistensi Tuhan dalam kehidupan. Kemudian dengan pengetahuan itu manusia diarahkan untuk mengembangkan kehidupannya yang lebih baik ( Nuquib al-Attas, 1984: 52)

Menurut zuhairini dan Abdul Ghofir, pendidikan Agama Islam berarti usaha untuk membimbing ke arah pembentukan kepribadian peserta didik secara sistematis dan pragmatsi supaya mereka hidup sesuai dengan ajaran Islam sehingga terjalin kebahagian di dunia dan akhirat. Sedangkan menurut Zakiyah Darajad, pendidikan adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pegangan hidup.

Pendidikan Islam dalam bahasa Arab disebut tarbiyah Islamiyah merupakan hak dan kewajiban dalam setiap insan yang ingin menyelamatkan dirinya di dunia dan akhirat. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai akhir hayat.” Maka menuntut ilmu untuk mendidik diri memahami Islam tidak ada istilah berhenti, semaki banyak ilmu yang kita peroleh maka kita bertanggung jawab untuk meneruskan kepada orang lain untuk mendapatkan kenikmatan berilmu, disinilah letak kesinambungan.

Dari beberapa pengertian diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa pengertian pendidikan Islam adalah proses transformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam pada peserta didik melalui penumbuhan dan pengembangan potensi fitrahnya untuk mencapai keseimbangan dan kesempurnaan hidup dalam segala aspeknya. Sehingga dapat dijabarkan pada enam pokok pikiran hakekat pendidikan Islam yaitu:
a. Proses tranformasi dan internalisasi, yaitu upaya pendidikan Islam harus dilakukan secara berangsur-angsur, berjenjang dan istiqomah, penanaman nilai/ilmu, pengarahan, pengajaran dan pembimbingan kepada anak didik dilakukan secara terencana, sistematis dan terstuktur dengan menggunakan pola, pendekatan dan metode/sistem tertentu.
b. Kecintaan kepada Ilmu pengetahuan, yaitu upaya yang diarahkan pada pemberian dan pengahayatan, pengamalan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan yang bercirikhas Islam, dengan disandarkan kepada peran dia sebagai khalifah di muka bumi dengan pola hubungan dengan Allah (hablum min Allah), sesama manusia (hablum minannas) dan hubungan dengan alam sekitas (hablum min al-alam).
c. Nilai-nilai Islam, maksudnya adalah nilai-nilai yang terkandung dalam praktek pendidikan harus mengandung nilai Insaniah dan Ilahiyah.
d. Pada diri peserta didik, maksudnya pendidikan ini diberikian kepada peserta didik yang mempunyai potensi-potensi rohani. Potensi ini memmungkinkan manusia untuk dididik dan selanjutnya juga bisa mendidik.
e. Melalui pertumbuhan dan pengembangan potensi fitrahnya, tugas pokok pendidikan Islam adalah menumbuhkan, mengembangkan, memelihara, dan menjaga potensi manusia, sehingga tercipta dan terbentuklah kualitas generasi Islam yang cerdas, kreatif dan produktif.
f. Menciptakan keseimbangan dan kesempurnaan hidup, dengan kata lain ‘insan kamil’ yaitu manusia yang mampu mengoptimalkan potensinya dan mampu menyeimbangkan kebutuhan jasmani dan rohani, dunia dan akherat. Proses pendidikan yang telah dijalani menjadikan peserta didik bahagia dan sejahtera, berpredikat khalifah di muka bumi.

Dalam pandangan penulis, prinsip-prinsip diatas adalah pikiran idealitas pendidikan Islam terutama di Indonesia, tetapi dalam mewujudkan cita-cita tersebut banyak sekali permasalah yang telah menghambat pencapaian cita-cita tersebut malah terkadang membelokkan tujuan utama dari pendidikan Islam. Problem pendidikan Islam harus menjadi tanggung jawab bersama baik dari pendidik, pemerintah, orang tua didik dan anak didik itu sendiri, jadi kesadaran dari semua pihak sangatlah diharapkan.

2. Dasar-dasar Pendidikan Keluarga
Pendidikan dalam keluarga berusaha untuk membina atau mengembalikan manuasia kepada fitrahnya yaitu kepada Rububiyyah Allah sehingga mewujudkan manusia yang berakhlak yang baik dan bertakwa kepada Allah SWT. Bahwa tujuan pendidikan bukan menjadikan manusia sebagai hamba ilmu, budak teori atau penkultusan kepada seorang tokoh ilmuwan. Tetapi tujuan utama dari pendidikan adalah menjadikan manusia sebagai insan rabbani (manusia yang berketuhanan). Pendidikan tidak hanya menjadikan manusia pintar dan menguasai ilmu pengetahuan, namun menjadikan manusia sebagai manusia yang kenal dan takut dengan Tuhannya dengan ilmu yang dimiliki tersebut.

Dalam mewujudkan tujuan dari pendidikan Islam yang ingin dicapai, maka pendidikan dalam keluarga yang dilakukan orang tua harus bertanggung jawab untuk mancapai hal tersebut. Dasar-dasar dalam pendidikan keluarga yang menjadi pedoman kita semua sebagai orang tua adalah dasar religius. Dengan berpedoman dengan dasar inilah tujuan pendidikan yang diinginkan dalam keluarga akan tercapai. Maksud adari dasar religius disini adalah dasar yang bersumber dari ajaran Islam. Dalam pandangan Islam, menuntut ilmu dan mendidik anak merupakan perintah dari Allah SWT. Islam juga mengajarkan kita bagaimana cara mendidik anak dengan baik, hal ini sebagamana Allah jelaskan dalam firman Allah yang artinya:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. an-Nahl: 125)

Dalam hal ini penulis menyimpulkan bahwa pendidikan di lingkungan keluarga itu penting sekali, sebab pendidikan di lingkungan keluarga itu adalah pendidikan pertama dan yang utama, bisa memberi warna dan corak kepribadian anak seandainya orang tua tidak menyempatkan diri untuk mendidik anak-anaknya di keluarga sehingga terabai begitu saja karena kesibukan orang tua. Maka hal ini akan membawa pengaruh yang tidak baik terhadap perkembangan dan pendidikan anak. Maka mengacu pada surat an-Nahl ayat 125 diatas, adalah bahwa dalam memberikan pendidikan dengan dengan cara baik yang mengandung unsur kasih-sayang. Orang tua tidak boleh membantah atau memarahi anak-anaknya, karena kita dianjurkan untuk membantah dan menegur mereka dengan cara yang baik pula. Jika dalam pendidikan keluarga masih ada sistem kekerasan, maka kita belum pantas menjadi orang tua.

3. Pendidikan dalam Keluarga
Anak dalam pertumbuhannya memerlukan contoh. Dalam Islam percontohan yang diperlukan itu disebut uswah hasanah, atau keteladanan. Keteladanan ini pertama kali diperoleh dari lingkungan keluarga. Biasanya seseorang anak akan mencontoh perbuatan orang yang terdekat, orang yang dicintai, orang yang dikagumi, atau orang yang memiliki kewibawaan. Kewibawaan pada diri seseorang itu muncul karena kelebihan yang disandang oleh yang bersangkutan. Selain keluarga terutama orang tua, uswah hasanah juga dapat diperoleh lewat bacaan, guru, dan tokoh masyarakat yang dikenali. (Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, 2004: 6)

Selain merupakan kewajiban, kegiatan didik mendidik adalah suatu usaha agar dapat memiliki alasan untuk berlepas diri bila kelak diminta pertanggung jawaban di sisi Allah SWT yakni telah dilakukan usaha optimal untuk memperbaiki diri dan keluarga pada kebenaran sesuai manhaj yang diajarkan Rasulullah SAW. Untuk menghasilkan pendidikan dalam keluarga yang berkesinambungan maka dibutuhkan beberapa sarana, baik yang mendidik maupun yang dididik, yaitu:
1. Istiqomah
Setiap kita harus istiqomah terus belajar dan menggali ilmu Allah, tak ada kata tua dalam belajar

2. Disiplin dalam tanggung jawab
Dalam belajar tentu kita membutuhkan waktu untuk kegiatan tersebut. sekiranya salah satu dari kita tidak hadir, maka akan mengganggu proses belajar. Apabila kita sering bolos sekolah, apakah kita akan mendapatkan ilmu yang maksimal. Kita akan tertinggal dengan teman-teman kita, demikian pula dengan guru, apabila ia sering membolos tentu anak didiknya tidak akan maju karena pelajaran tidak bertambah.
3. Menyuruh memainkan peran dalam pendidikan
Setiap kita dituntut untuk memerankan diri sebagai seorang guru pada saat-saat tertentu, memerankan fungsi mengayomi, saat yang lainnya berperan sebagai teman. Demikiannya semua peran digunakan untuk memaksimalkan kegiatan pendidikan.

Pentingnya pendidikan orang tua terhadap anak di lingkungan keluarga itu karena didorong oleh beberapa kewajiban, kewajiban moral, kewajiban sosial dan oleh dorongan cinta kasih dari seseorang terhadap keturunannya. Dalam hubungannya dengan kelanjutan pendidikan atau kehidupan anak di masa mendatang, maka pendidikan di lingkungan keluarga, termasuk di dalamnya pendidikan agama, hal itu merupakan sebagai tindakan pemberian bekal-bekal kemampuan dari orang tua terhadap anak-anaknya, dalam menghadapi masa-masa yang akan dilaluinya.

Secara sepintas pembahasan tentang dasar pelaksanaan pendidikan agama di lingkungan keluarga ini telah disebutkan di atas, yaitu atas dasar cinta kasih seseorang terhadap darah dagingnya (anak), atas dasar dorongan sosial dan atas dasar dorongan moral. Akan tetapi dorongan yang lebih mendasar lagi tentang pendidikan agama di lingkungan keluarga ini bagi umat Islam khususnya adalah karena dorongan syara (ajaran Islam), yang mewajibkan bagi orang tua untuk mendidik anak-anak mereka, lebih-lebih pendidikan agama. Sebagaimana firman Allah yang artinya:
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Q.S. at-Thariim: 06)

Keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama yang dikenal anak, hal ini disebabkan karena kedua orang tuanyalah orang yang pertama di kenal anak dan diterimanya pendidikan, bimbingan, perhatian dan kasih sayang yang terjalin antar kedua orang tua dengan anak-anaknya merupakan basis ampuh bagi pertumbuhan dan perkembangan psikis serta nilai-nilai sosial dan religius pada diri anak didik. Dalam keluarga anak mulai mnegenal hidupnya, hal ini harus disadari dan dimengerti oleh tiap orang tua. Bahwa anak dilahirkan dalam lingkungan keluarga yang tumbuh dan berkembang sampai anak melepaskan diri dari ikatan keluarga.

Pendidikan keluarga memberikan pengalaman pertama yang merupakan faktor penting dalam perkembangan pribadi anak. Suasana pendidikan keluarga ini sangat penting diperhatikan sebab dari sinilah keseimbangan jiwa dalam perkembangan individu anak. Kehadiran anak di dunia ini disebabkan hubungan kedua orang tua, maka mereka harus bertanggung jawab terhadap anaknya. Kewajiban orang tua tidak hanya sekedar memilihara eksistensinya untuk menjadikan anak yang tumbuh dan berkemabang. Seorang anak dilahirkan dalam keadaan tidak berdaya dan dalam keadaan ketergantungan dengan orang tua tidak mampu berbuat apa-apa bahkan tidak mampu menolong dirinya sendiri. Anak dilahirkan dalam keadaan suci yang telah membawah fitrah yang harus ditumbuhkembangkan oleh kuduo orang tua.

Menurut Ibnu Katsi, dalam tafsirnya, mejelaskan Q.S. al-Thariim ayat 06 tersebut, yakni hendaklah engkau menyuruh mereka berbuat taat kepada Allah dan mencegah mereka durhaka kepada-Nya. Dan hendaklah engkau menjalankan perintah Allah kepada mereka dan perintahkan mereka untuk menjalankannya, serta membantu mereka dalam menjalankannya. Jika engkau melihat mereka berbuat maksiat kepada Allah, peringatkan dan cegahlah mereka. (Ibnu Katsir, 2005: 229)

Dalam pandangan penulis, berdasarkan analisis dari tafsir Ibnu Katsir tersebut, dapat dikatakan bahwa maksud firman Allah tersebut adalah bahwa setiap muslim atau kedua orang tua berkewajiban menjaga keluarganya dari siksa neraka serta mengajari keluarganya termasuk anak-anaknya. Pendidikan yang ditanamkan pada diri anak pada ayat inilah adalah pemahaman tentang keyakinan kepada adanya kehidupan akhirat setelah kehidupan dunia ini.

Setiap perbuatan pendidikan adalah bagian dari suatu proses yang diharapakn untuk menuju ke suatu tujuan, dan tujuan-tujuan ini diperintah oleh tujuan-tujuan akhir yang umum di mana essensinya ditentukan oleh masyarakat serta dirumuskan secara singkat dan padat, seperti kematangan dan integritas atau kesempurnaan integritas atau kesempurnaan pribadi.(Muhammad Noor Sjam, 1973:76) Adapun tujuan dan maksud dari al-Qur’an surat at-Thariim ayat 06 tersebut adalah untuk mencapai tujuan pendidikan dalam keluarga yaitu selamat dari siksa api neraka. Inilah yang menjadi konsep dan tujuan utama dari pendidikan anak dalam lingkungan keluarga.

Dengan demikian, tujuan pendidikan selalu berkaitan dengan zamannya. Dengan kata lain bahwa dalam merumuskan tujuan pendidikan dapat dibaca dari unsur filsafat dan kebudayaan yang mempengaruhinya. Suatu tujuan yang hendak dicapai dalam pendidikan pada hakikatnya adalah suatu perwujudan dari nilai-nilai ideal yang terbentuk dalam diri pribadi manusia. Pendidikan merupakan salah satu bentuk interaksi manusia. Ia adalah suatu tindakan sosial yang dimungkinkan berlakunya melalui suatu jaringan hubungan-hubungan kemanusiaan. Jaraingan-jaringan inilah bersama dengan hubungan-hubungan dan peranan-peranan individu di dalamnyalah yang menentukan watak pendidikan suatau masyarakat. (Hasan Langgulung, 1992: 17)

Para ahli pendidikan telah sepakat bahwa maksud dari pendidikan dan pengajaran bukalah otak anak didik dengan segala macam ilmu yang belum mereka ketahui, tetapi maksudnya ialah mendidika akhlak dan jiwa mereka, menanamkan rasa fadhilah (keutamaan), membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci seluruhnya ikhlas dan jujur. Maka tujuan pokok dan terutama dari pendidikan Islam ialah mendidik budi pekerti dan pendidikan jiwa.(M. Athiyah Abrasyi, 1987: 1) Inilah yang menjadi tujuan pendidikan anak dalam keluarga adalah untuk membentuk kepribadian anak yang berakhlak mulia dalam beriteraksi dalam msyarakat. Ppendidikan di sekolah tidak lagi mampu untuk mengatasi krisi akhlak yang terjadi dikalangan anak bangsa ini, maka salah satu faktor yang sangat membantu untuj terwujudnya anak yang berakhlakul karimah adalah pendidikan dalam keluarga yang dilakukan kedua orang. Kenakalan remaja, tawur antar pelajar yang sering terjadi pada saat ini disebabkan karena gagalnya orang tua dalam menjalankan pendidikan dalam lingkungan keluarga. Tetapi aneh yang terjadi, kebanyakan orang tua protes kepada sekolah karena kelakuan anaknya yang sangat mamalukan, hal semacam ini tidak bisa dibenarkan sebab pendidikan akhlak dan nilai-nilai adalah merupakan tanggung jawab orang tua.

Sebenarnya tuntunan yang jelas dari al-Qur’an tentang kegiatan pendidikan Islam dalam keluarga telah digambarkan Allah dengan memberikan contoh keberhasilan pendidikan dalam keluarga dengan mengabadikan nama Luqman, sebagaimana firman Allah, artinya:
Dan (ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (Q.S. al-Luqman: 13)

Dari penjelasan ayat ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa pendidikan yang pertama dan utama diberikan kepada anak adalah penanaman keyakinan yakni iman kepada Allah bagi anak-anak dalam rangka membentuk sikap, tingkah laku dan kepribadian anak. Menurut Ahmad Mushthafa al-Maraghi dalam tafsirnya: ingatlah, hai rasul yang mulia, kepada nasehat luqman terhadap anaknya, karena ia adalah orang yang palingbelas kasihan kepada anaknya supaya menyembah Allah semata, dan meralarang berbuat syirik (menyekutukan Allah dengan lain-Nya). (Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, 1992: 153) Luqman menjelaskan kepada anaknya, bahwa perbuatan syirik itu merupakan kezalim yang besar. Syirik dinamakan perbuatan yang zalim, karena perbuatan syirik berarti meletekkan sesuatu bukan pada tempatnya. Berdasarkan penjelasan dari tafsir al-Maraghi tersebut, dapat penuliskan simpulkan bahwa pendidikan yang utama dalam pendidikan keluarga adalah pendidikan tauhid dan akhlak, jika hal ini telah ditanamkan pada idiri anak sejak dini maka dia tidak akan terpengaruhi oleh lingkunagan apapun. Tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang berjasmani kuat, sehat dan trampil, berotak cerdas dan berilmua banyak, berhati tunduk kepada Allah serta mempunyai semangat kerja yang hebat, disiplin yang tinggi dan berpendirian teguh. Dari berbagai pendapat tentang tujuan pendidikan Islam diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohani serta moral yang tinggi, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai anggota masyarakat.

Dalam al-Qur’an sendiri telah memberi isyarat bahwa permasalahan pendidikan sangat penting, jika al-Qur’an dikaji lebih mendalam maka kita akan menemukan beberapa prinsip dasar pendidikan yang selanjutnya bisa kita jadikan inspirasi untuk dikembangkan dalam rangka membangun pendidikan yang bermutu. Ada beberapa indikasi yang terdapat dalam al-Qur’an yang berkaitan dengan pendidikan antara lain: menghormati akal manusia, bimbingan ilmiah, fitrah manusia, penggunaan cerita (kisah) untuk tujuan pendidikan dan memelihara keperluan sosial masyarakat

Mengkaji sebagian isi al-Qur’an tersebut maka menjadi jelas, bagamana kitab suci yang diturunkan lewat Muhammad Saw melalui perantaraan malaikat Jibril memberikan petunjuk tentang bagaimana pendidikan itu seharusnya dilakukan. Prinsip-prinsip tersebut rasanya masih banyak yang belum ditangkap dan semestinya dijadikan pedoman operasional dalam pengembangan pendidikan, baik pendidikan yang dilakukan di institusi keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Hal-hal di atas jika diperhatiakn secara bijak tampak jelas betapa al-Qur’an sangat manusiawi dalam membimbing kehidupan manusia.

Pendidikan Islam berpadu dalam pendidikan ruhiyah, fikriyah (pemahaman/pemikiran) dan amaliyah (aktivitas). Nilai Islam ditanamkan dalam individu membutuhkan tahapan-tahapan selanjutnya dikembangkan kepada pemberdayaan di segala sektor kehidupan manusia. Potensi yang dikembangkan kemudian diarahkan kepada pengaktualan potensi dengan memasuki berbagai bidang kehidupan. Jika dalam proses pendidikan pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan fitrahnya, maka anak ini akan memliki kepribadian yang utama yaitu berakhlak yang tinggi dan mendekatkan diri kepada Allah. Jika dua hal ini tidak tercapai dalam pendidikan, maka ini menunjukan kegagalan dalam mengembangkan fitrah tersebut.

Dalam pendidikan anak dalam keluarga, orang tua harus benar-benar memperhtaikan perkembangan dan pertumbuhan fitrah atau potensi dasar anaknya agar anak tersebut tidak menyimpang dari fitrah dasarnya. Orang tu memliki tanggungjawab yang besar terhadap perkembangan dan masa depan anaknya, bagaimana firman Allah, artinya:
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Q.S. at-Thariim: 06)

Ayat ini sangat jelas memerintahkan kepada kita umat Islam untuk menjaga keluarga kita dari siksa apai neraga. Jika ayat ini kita kaitkan dengan pendidikan, maka ayat ini sangat memiliki hubungan yang sangat erat dengan pendidikan dalam keluarga, yaitu dalam proses pendidikan anak, maka yang menjadi dasar yang pertama dan utama adalah pendidikan tentang keimanan dan akhlak. Kenakalan remaja pada saat ini karena disebabkan oleh gagalnya orang tua dalam membangun pondasi dasar pertama dan utama dalam pendidikan anaknya dalam keluarga.

Namun faktanya berbicara lain, bnayak orang tua yang protes terhadap sekolah tempat anaknya belajar, karena sekolah dianggap gagal dalam memberikan pendidikan akhlak atau moral kepada anaknya sehingga anaknya terjerumus kepada obat-obatan terlarang, pergaulan seks bebas, tawur antar pelajar dan mabuk-mabukan. Tindak semacam ini tidak bisa dinarkan, sebab jika bercermin pada firman Allah dalam surat at-Tharim ayat 06 tersebut, tampak jelas bagi kita bahwa pendidikan akhlak merupakan tanggungjawab orang tua terhadap anaknya bukan tanggungjawab sekolah. Inilah yang menunjukan kegagalan orang tua dalam mendidika anaknya dalam keluarga. Krisis moral yang dialami bangsa Indonesia saat ini karena bobroknya akhlak dan moral generasinya. Hal ini disebabkan karena orang tua telah gagal dalam memberikan dan menananmkan nilai-nilai ajaran agama kepada anaknya dalam keluarga.

C. KESIMPULAN
Pendidikan merupakan kata kunci untuk setiap manusia agar ia mendapatkan ilmu. Hanya dengan pendidikanlah ilmu akan didapat dan diserap dengan baik. Tak heran bila kini pemerintah mewajibkan program belajar 9 tahun agar masyarakat menjadi pandai dan beradab. Pendidikan juga merupakan metode pendekatan yang sesuai dengan fitrah manusia yang memiliki fase tahapan dalam pertumbuhan dan perkembangannya

Dengan demikian, Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk berhenti mencari ilmu, karena ilmu itu begitu luasnya. Semakin banyak yang diketahui akan semakin sadar manusia itu, bahwa begitu banyak yang belum dia ketahui. Itulah agaknya kenapa dalam wahyu pertama yang diturunkan Allah SWT kata iqra’ diulang dua kali. Hal itu berarti bahwa membaca dan proses belajar harus selalu dilakukan. Sebab, semakin banyak kita membaca semakin mulia kita di depan manusia dan di mata Allah SWT karena kemulian Tuhan akan diberikan kepada orang yang selalu membaca dan menuntut ilmu.

Dari penjelasan di atas, kita semua menginsyafi, bahwa pendidikan merupakan persoalan strategis bagi sebuah bangsa. Pendidikan bukan saja penting bagi upaya melahirkan individu dan masyarakat yang terpelajar, tetapi juga untuk membangun generasi baru yang siap menghadapi tantangan masa depan. Selain itu, pendidikan juga menjadi bekal utama sebagai persiapan memasuki kompetisi global, sebuah persaingan antarbangsa yang demikian ketat dan berpengaruh terhadap semua dimensi kehidupan: ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Pada akhirnya pendidikan juga akan menentukan kualitas sebuah bangsa, serta berpengaruh signifikan dalam mendorong proses transformasi sosial menuju kehidupan yang maju, modern, dan bermartabat. Basar harapkan penulis, bahwa kita harus menyadari keterburukan dan krisi akhlak dan moral yang dialami bangsa Indonesia di era global ini, disebabkan karena gagalnya orang tua membnagun pendidikan anaknya dalam keluarga. Maka dari itu, penulis mengimbau kepada seluruh orang tua agar memperhatian pendidikan anaknya dalam keluarga dan selalu memantau perkembangan fitrah anak tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

1. Al-Abrasyi, Athiyah. 1987. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan. Jakarta: PT. Bulan Bintang
2. Al-Maraghi, Ahmad Mushthafa. 1992. Tafsir Al-Maraghi 21. Semarang: CV. Toha putra
3. Langgulung, Hasan. 1992. Asas-Asas Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka al-Husna
4. Katsir, Ibnu. 2005. Tafsir Ibnu KatsirJilid 6, terj. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i
5. Noor Sjam, Muhammad. 1973. Pengantar Filsafat Pendidikan. Malang: FIP HUP MalanG
6. Suprayogo, Imam. 2004. Pendidikan Berparadigma Al-Qur’an. Malang: Aditya Media bekerjasama dengan UIN Malang Press
7. Suharto, Toto. 2006Filsafat Pendidikan Islam. Yogjakarta: Ar-Ruzz
8. Tafsir, Ahmad. 1992 Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Rosda Karya
9. Zuhairini, Abdul Ghofir, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Malang: UIN dan UM Press, 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: