PENDEKATAN ANTROPOLOGIS DALAM KAJIAN ISLAM

M. Ghaza Kusairi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mengkaji fenomena keagamaan berarti mempelajari perilaku manusia dalam kehidupan beragamanya. Fenomena keagamaan itu sendiri merupakan perwujudan dari sikap dan perilaku manusia yang menyangkut hal-hal yang dipandang suci, keramat, yang berasal dari kegaiban.
Fenomena agama adalah fenomena universal manusia. Selama ini belum ada laporan penelitian dan kajian yang menyatakan bahwa ada sebuah masyarakat yang tidak mempunyai konsep tentang agama. Walaupun peristiwa perubahan sosial telah mengubah orientasi dan makna agama, hal itu tidak berhasil meniadakan eksistensi agama dalam masyarakat. Sehingga kajian tentang agama selalu akan terus berkembang dan menjadi kajian yang penting. Karena sifat universalitas agama dalam masyarakat, maka kajian tentang masyarakat tidak akan lengkap tanpa melihat agama sebagai salah satu faktornya. Seringkali kajian tentang politik, ekonomi dan perubahan sosial dalam suatu masyarakat melupakan keberadaan agama sebagai salah satu faktor determinan. Tidak mengherankan jika hasil kajiannya tidak dapat menggambarkan realitas sosial yang lebih lengkap.
Pernyataan bahwa agama adalah suatu fenomena abadi di dalam di sisi lain juga memberikan gambaran bahwa keberadaan agama tidak lepas dari pengaruh realitas di sekelilingnya. Seringkali praktik-praktik keagamaan pada suatu masyarakat dikembangkan dari doktrin ajaran agama dan kemudian disesuaikan dengan lingkungan budaya. Pertemuan antara doktrin agama dan realitas budaya terlihat sangat jelas dalam praktik ritual agama. Dalam Islam, misalnya saja perayaan Idul Fitri di Indonesia yang dirayakan dengan tradisi sungkeman-bersilaturahmi kepada yang lebih tua-adalah sebuah bukti dari keterpautan antara nilai agama dan kebudayaan. Pertautan antara agama dan realitas budaya dimungkinkan terjadi karena agama tidak berada dalam realitas yang vakum-selalu original. Mengingkari keterpautan agama dengan realitas budaya berarti mengingkari realitas agama sendiri yang selalu berhubungan dengan manusia, yang pasti dilingkari oleh budayanya.
Antropologi, sebagai sebuah ilmu yang mempelajari manusia, menjadi sangat penting untuk memahami agama. Antropologi mempelajari tentang manusia dan segala perilaku mereka untuk dapat memahami perbedaan kebudayaan manusia. Dibekali dengan pendekatan yang holistik dan komitmen antropologi akan pemahaman tentang manusia, maka sesungguhnya antropologi merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama dan interaksi sosialnya dengan berbagai budaya. Nurcholish Madjid mengungkapkan bahwa pendekatan antropologis sangat penting untuk memahami agama Islam karena konsep manusia sebagai ”Khalifah” (wakil Tuhan) di bumi, misalnya, merupakan simbol akan pentingnya posisi manusia dalam Islam.
Posisi penting manusia dalam Islam juga mengindikasikan bahwa sesungguhnya persoalan utama dalam memahami agama Islam adalah bagaimana memahami manusia. Persoalan-persoalan yang dialami manusia adalah sesungguhnya persoalan agama yang sebenarnya. Pergumulan dalam kehidupan kemanusiaan pada dasarnya adalah pergumulan keagamaannya. Para antropologi menjelaskan keberadaan agama dalam kehidupan manusia dengan membedakan apa yang mereka sebut sebagai ‘common sense’ dan ‘religious atau mystical event.’ Dalam satu sisi common sense mencerminkan kegiatan sehari-hari yang biasa diselesaikan dengan pertimbangan rasional ataupun dengan bantuan teknologi, sementera itu religious sense adalah kegiatan atau kejadian yang terjadi di luar jangkauan kemampuan nalar maupun teknologi.
Dengan demikian, memahami Islam yang telah berproses dalam sejarah dan budaya tidak akan lengkap tanpa memahami manusia. Karena realitas keagamaan sesungguhnya adalah realitas kemanusiaan yang mengejawatah dalam dunia nyata. Terlebih dari itu, makna hakiki dari keberagamaan adalah terletak pada interpretasi dan pengalaman agama. Oleh karena itu, antropologi sangat diperlukan untuk memahami Islam, sebagai alat untuk memahami realitas kemanusiaan dan memahami Islam yang telah dipraktikkan yang menjadi gambaran sesungguhnya dari keberagamaan manusia. Jika mengkaji tentang manusia, maka kita tidak bisa melepaskan manusia dari objek kajian kita.

BAB III
PEMBAHASAN
A. Pengertian Antropologi
Antropologi adalah istilah kata bahasa Yunani yang berasal dari kata anthropos dan logos. Anthropos berarti manusia dan logos memiliki arti cerita atau kata. Antropologi adalah suatu studi ilmu yang mempelajari tentang manusia baik dari segi budaya, perilaku, keanekaragaman, dan lain sebagainya. Dr Akbar S. Ahmad menjelaskan bahwa antrpologi adalah sebuah ilmu yang didasarkan atas observasi gartisigasi yang luas tentang kebudayaan, menggunakan data yang terkumpul, dengan menetralkan nilai, analisa yang tenang (tidak memihak) menggunakan metode komgeratifi.
Definisi yang lain antropologi adalah studi tentang manusia dalam semua aspek meskipun sebagian besar antropologi telah menulis seolah-olah mereka mampu, secara keseluruhan antropologi sosial telah mengkonsentrasikan dirinya mempelajari manusia dalam aspek sosialnya, yakni hubungannya dengan orang lain dalam masyarakat yang hidup. Tentu saja antropologi terterik kepada manusia karena mereka adalah bahan mentah dimana dia bekerja sebagai seorang antropologi sosial, bagaimanapun perhatian utamanya adalah dengan apa manusia ini berbagi dengan yang lainnya. Mereka mengkonsentrasikan diri mereka utamanya terhadap hal-hal yang bersifat kebiasaan dan secara relatif mempertahankan ciri-ciri masyarakat dimana mereka terjadi.
Berdasarkan pengertian tersebut, maka tugas utama antropologi, studi tentang manusia adalah untuk memungkinkan kita memahami diri kita dengan memahami kebudayaan lain. Antropologi menyadarkan kita tentang kesatuan manusia secara esensil, dan karenanya membuat kita saling menghargai antara satu dengan yang lain. Islam sangat memuliakan keberadaan manusia, yaitu Allah ciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini dengan segala kemampuannya.
Usaha terberat ilmuan muslim untuk membangun antropologi Islam adalah bagaimana mengelaborasi warisan antropologis yang telah ditinggalkan oleh ilmuan muslim terdahulu, kemudian merekonstruksi warisan keilmuan itu dalam format keilmuan modern. Begitu juga dalam mencari definisi yang tepat untuk mengartikan natropologi itu sendiri. Sepanjang waktu, pemahaman tentang antropologi selalu mengalami perubahan. Antropologi bermula pada abad-19 sebagai penelitian terhadap asal-usul manusia. Penelitian antropologi ini mencakup pencarian fosil yang masih ada, dan mengkaji keluarga binatang yang terdekat dengan manusia. Objek dari antropologi adalah manusia di dalam masyarakat suku bangsa, kebudayaan dan prilakunya. Ilmu pengetahuan antropologi memiliki tujuan untuk mempelajari manusia dalam bermasyarakat suku bangsa, berperilaku dan berkebudayaan untuk membangun masyarakat itu sendiri.
Islamisasi tidak lagi berarti menempatkan berbagai tubuh ilmu pengetahuan dibawah masing-masing dogmatis atau tujuan yang berubah-ubah, tetapi membebaskannya dari belenggu yang senantiasa mengungkungnya. Islam memandang semua ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang kritis, yakni universal, penting dan rasional. Ia ingin melihat setiap tuntutan melampaui teks hubungan internal, akan sesuai dengan realitas, meninggikan kehidupan manusia dan moralitas. Karenanya, bidang-bidang yang telah kita islomisasikan akan membuka halaman baru dalam sejarah semangat manusia dan lebih menekatkan kepada kebenaran. Antropologi seperti semua disiplin ilmu pengetahuan lainnya, harus membebaskan dirinya dari visi yang sempit. Ia harus mempelajari sesuatu yang baru, sederhana, tetapi kebenaran yang primordinal dari semua ilmu pengetahuan yaitu kebenaran pertama Islam.
Berdasarkan penjelasan diatas, perdebatan dan perselisihan dalam masyarakat Islam berkaitan dengan antropologi sesungguhnya adalah perbedaan dalam masalah interpretasi, dan merupakan gambaran dari pencarian bentuk pengamalan agama yang sesuai dengan kontek budaya dan sosial. Misalnya dalam menilai persoalan-persoalan tentang hubungan politik dan agama yang dikaitkan dengan persoalan kekuasaan dan suksesi kepemimpinan, adalah persoalan keseharian manusia-dalam hal ini masalah interpretasi agama dan penggunaan simbol-simbol agama untuk kepentingan kehidupan manusia. Tentu saja peran dan makna agama akan beragam sesuai dengan keragaman masalah sosialnya. Antropologi, sebagai sebuah ilmu yang mempelajari manusia, menjadi sangat penting untuk memahami agama. Antropologi mempelajari tentang manusia dan segala perilaku mereka untuk dapat memahami perbedaan kebudayaan manusia.

B. Objek Kajian Antopologi Islam
Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agana dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini, agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawanannya. Dengan kata lain bahwa cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologis dalam melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama. Antropologi dalam kaitan ini sebagaimana dikatakan Powam Rahardjo, lebih mengutamakan pengamatan langsung, bahkan sifatnya partisipatif.
Jika kembali pada persoalan kajian antropologi bagi kajian Islam, maka dapat dilihat relevansinya dengan melihat dari dua hal. Pertama, penjelasan antropologi sangat berguna untuk membantu mempelajari agama secara empirik, artinya kajian agama harus diarahkan pada pemahaman aspek-aspek konteks sosial yang melingkupi agama. Kajian agama secara empiris dapat diarahkan ke dalam dua aspek yaitu manusia dan budaya. Pada dasarnya agama diciptakan untuk membantu manusia untuk dapat memenuhi keinginan-keinginan kemanusiaannya, dan sekaligus mengarahkan kepada kehidupan yang lebih baik. Hal ini jelas menunjukkan bahwa persoalan agama yang harus diamati secara empiris adalah tentang manusia. Tanpa memahami manusia maka pemahaman tentang agama tidak akan menjadi sempurna.
Walaupun sejak awal disadari bahwa kajian tentang agama akan mengalami kesulitan karena meneliti sesuatu yang menyangkut kepercayaan (beliefs) yang ukuran kebenarannya terletak pada keyakinan, tradisi antropologi untuk mengkaji agama, terutama abad ke 16 dan 17, berkembang dengan pesat. Dilema kajian tentang agama adalah bahwa pemahaman realitas agama tidak akan sepenuhnya dapat difahami kecuali oleh orang yang mengamalkan agama itu sendiri. Namun sesungguhnya harus disadari bahwa tidak dapat dielakkan agama tanpa pengaruh budaya dan ulah pikir manusia tidak akan dapat berkembang meluas ke seluruh manusia. Bukankah penyebaran agama sangat terkait dengan usaha manusia untuk menyebarkannya ke wilayah-wilayah lain. Dan bukankah pula usaha-usaha manusia, jika dalam Islam bisa dilihat peran para sahabat, menerjemahkan dan mengkonstruksi ajaran agama ke dalam suatu kerangka sistem yang dapat diikuti oleh manusia. Lahirnya ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fikih dan ilmu usul fikih adalah hasil konstruksi intelektual manusia dalam menerjemahkan ajaran agama sesuai dengan kebutuhan manusia di dalam lingkungan sosial dan budayanya. Keberagaman sosial budaya yang ada di dunia ini mengakibatkan pada kompleksitas agama.
Secara garis besar kajian dalam antropologi Islam dapat dikategorikan ke dalam empat kerangka teoritis, yaitu:
1. Intelektual (intelectualist)
Tardisi kajian agama dalam antropologi diawali dengan mengkaji agama dari sudut pandang intlektualisme yang mencoba untuk melihat definisi agama dalam setiap masyarakat dan kemudian melihat perkembangan religius dalam masyarakat.
2. Struktural (structuralist)
Pada bagian ini mencoba untuk mengkaji agama berdasarkan struktur sosial masyarakat. Dengan mengkaji hal ini, maka akan mempermudah dalam memahami agama manusia. Hal ini mencoba mencari hubungan individu, masyarakat dan agama dalam lingkungan sosial, tetapi tidak seja secara sosial namun juga dalam masalah ideologi dan pikiran sebagai struktur sosial.
3. Fungsional (funcsionalist)
Yang menjadi dasar dari perkembangan teori fungsionalisme adalah fungsi psikologi agama, sebagai penguat dari ikatan moral masyarakat dan fungsi sosial agama, sebagai penguat solidaritas manusia. Fungsi agama dalam masyarakat adalah memberikan jawaban-jawaban terhadap permasalahan-permasalahan yang tidak dapat diselesaikan dengan akal sehat (rasionalitas) dan kemampuan menggunakan teknologi.
4. Simbolis (symbilits)
Makna dan fungsi ritual dalam masyarakat sebagai suatu aktifitas untuk mengembalikan kesatuan masyarakat menghilhami para antropologi untuk menerapkan pandangan ritual sebagai simbol. Ritual agama tidak hanya sebagai kewajiban saja, melainkan sebagai simbol dari apa yang sebenarnya terjadi dalam masyarakat.
Jika agama diperuntukkan untuk kepentingan manusia, maka sesungguhnya persoalan-persoalan manusia adalah juga merupakan persoalan agama. Dalam Islam manusia digambarkan sebagai Khalifah di muka bumi, sebagaimana firman Allah yang berbunyi:
                     •        
Artinya:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (Q.S. al-Baqarah: 30)
Secara antropologis ungkapan ini berarti bahwa sesungguhnya realitas manusia adalah realitas ketuhanan. Tanpa memahami realitas manusia termasuk di dalamnya adalah realitas sosial budayanya dan pemahaman terhadap ketuhanan tidak akan sempurna, karena separuh dari realitas ketuahanan tidak dimengerti. Di sini terlihat betapa kajian tentang manusia, yang mejadi pusat perhatian antropologi Islam, menjadi sangat penting.
Pentingnya mempelajari realitas manusia ini juga terlihat dari pesan al-Qur’an ketika membicarakan konsep-konsep keagamaan. Al-Qur’an seringkali menggunakan “orang” untuk menjelaskan konsep keshalehan. Misalnya, untuk menjelaskan tentang konsep takwa, al-Qur’an menunjuk pada konsep “muttaqien”, untuk menjelaskan konsep sabar, al-Qur’an menggunakan kata “orang sabar” dan seterusnya. Kalau kita merujuk pada pesan al-Qur’an yang demikian itu sesungguhnya, konsep-konsep keagamaan itu termanifestasikan dalam perilaku manusia. Oleh karena itu pemahaman konsep agama terletak pada pemahaman realitas kemanusiaan.

Sejarah ilmu pengetahuan justru mengukir dengan tinta emas bahwa ilmuan Islamlah yang telah membangun dan menyusun konstruksi ilmu antropologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Tercatat nama-nama Ibn-Khaldun, al-Biruni, Ibn-Bathuthah, al-Mas’udii, al-Idrisi, Ibnu Zubair serta Raghib al Ashfahani yang menulis kitab Tafshil ‘n Nasyatain wa Tahshil ‘s Sa’adatain. Pada era modern ini, terdapat beberapa ilmuan Islam yang telah melakukan kajian antropologis, seperti Dr. Bintu Syathi, ‘Abbas Mahmud al ‘Aqqad, Dr. Aminah Nushair, Abdul Mun’im Allam, Muhammad Khadar, Dr. Zaki Isma’il, Dr. Akbar S. Ahmad, Kurshid Ahmad, Muhammad Iqbal, Sayyid Quthb, Muhammad Quthb, Abul Wafa at-taftazani, Al ‘Ajami dan ilmuan lainnya.
Dengan demikian, realitas manusia sesungguhnya adalah realitas empiris dari ketuhanan, dan persoalan-persoalan yang dihadapi manusia adalah cerminan dari permasalahan ketuhanan. Jika mempelajari realitas manusia, maka dengan segala aspeknya adalah mempelajari Tuhan berdasarkan agama dalam realitas empiris. Kenyataan bahwa realitas manusia yang tercermin dalam bermacam-macam ragam budaya, maka diperlukan cross culture untuk melihat realitas universal agama. Kenyataan di atas menunjukkan bahwa kajian agama dengan menggunakan perspektif cross culture dibutuhkan untuk lebih memahami realitas agama yang lebih luas. Kajian agama dalam perspektif lintas budaya sangat berguna untuk melihat realitas empiris agama dalam wilayah yang luas. Pemahaman tentang realitas yang berbeda akhirnya akan menumbuhkan sikap menghargai terhadap perbedaan dalam melaksanakan agama. Lebih dari itu kajian lintas budaya juga akan memberikan informasi tentang betapa realitas agama tidak bisa steril dari pengaruh budaya.
Usaha yang lebih meluas adalah membentuk sebuah konsep keilmuan Islam, yang mencakup tidak saja antropologi namun juga ilmu-ilmu sosial lainnya. Jamaluddin ‘Athiyyah menawarkan apa yang ia namakan dengan ‘ilmu umm—mother knowledge, yang darinya pilsafat ilmu Islam digagas. Ilmu ini terdiri dari tauhid sebagai pokok dari sekalian ilmu. Darinya akan berkembang ilmu-ilmu lain sebagai margin-margin yang menyerap cahaya ‘ilmu umm tersebut. Secara cerdas, dengan substanssi yang sama, Ziauddin Sardar menawarkan untuk membentuk world View Islam. Dalam konsep ini, epistemologi Islam disusun dari sintesa aqidah, syari’ah dan akhlak. Epistemologi ini akan menjadi aksis meminjam istilah S.H. Nasr bagi sistem pandangan dunia Islam, mencakup Sains dan tekhnologi, struktur politik dan sosial, usaha ekonomi, serta teori lingkungan.
Kemudian, setelah sistem pandangan dunia Islam tersebut dapat dirumuskan, langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah:
1. Mengembalikan wahyu sebagai sumber antropologi. Dari al-Qur’an dan Hadits ditelusuri konsep-konsep maupun petunjuk tentang antropologi Islam . Nash-nash tersebut, sebagian memberikan kata putus pada beberapa masalah antropologis, dan sebagian lain hanya memberikan tuntunan dalam kajian antropologis. Di sini, dibutuhkan suatu usaha untuk mengklasifikasikan sumber-sumber tersebut dan kemudian menyimpulkan inti sari dari petunjuk- petunjuk tersebut, sehingga dihasilkan petunjuk konsep antropologis Islami yang utuh.
2. Menjadikan tauhid sebagai dasar teoritis-metodologis dalam melakukan riset-riset ilmiah. Dalam langkah ini, konsep-konsep antropologi Barat yang materialis dibersihkan dari unsur-unsur materialisme dan atheisme, kemudian ditiupkan didalamnya konsep tauhid sebagai ganti dari kecenderungan materialis dan atheis tersebut.
3. Membebaskan anggitan keilmuan antropologi dari metodologi empiris yang terbatas. Sebaliknya, dalam anggitan antropologi Islam yang kita gagas menggunakan multi metodologi; induksi, deduksi, exprimental, historis, palsafi, dan tekstual.
4. Menciptakan kedisiplinan ilmiah dan membebaskan riset ilmiah dari pengaruh ideologis.
5. Mengembalikan unsur moral/akhlak dalam riset ilmiah. Dalam konsep-konsep antropologi Barat, manusia “ditelanjangi” dari nilai-nilai yang ia pegang serta kecenderungannya, maka dalam konsep antropologi Islam unsur akhlak ini dimasukan sebagai bagian dari konsep tersebut.

Setelah langkah-langkah di atas dilaksanakan, maka kita sudah mendapatkan sebuah konsep antropologi Islam yang utuh. Namun dengan terciptanya sebuah konsep tidak serta merta menghasilkan apa yang diinginkan jika tidak dilakukan langkah aplikatif yang real. Oleh karena itu, untuk mewujudkan secara real konsep-konsep antropologi Islam, Akbar S. Ahmad menyarankan untuk melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menulis sejarah sosial yang ringkas tentang sirah Rasulullah Saw. yang bisa dipahami oleh orang Muslim maupun non-muslim. Sehingga dari sejarah masyarakat Islam ideal —meminjam istilah Akbar S. Ahmad — tersebut dapat ditarik suatu konsep tentang masyarakat Islam yang dicita-citakan.
2. Menulis buku-buku antropologi percontohan berkualitas tinggi, kemudian buku- buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa besar umat Islam. Sehingga buku-buku tersebut bisa menjadi acuan kajian lanjutan di semua wilayah masyarakat Islam.
3. Menulis buku-buku kajian antropologis tentang setiap wilayah Islam, kemudian buku itu disebarkan ke seluruh dunia Islam.
4. Menseponsori pakar-pakar antropologi Islam untuk mengadakan penelitian atas seluruh wilayahh negara Islam.
5. Mengadakan kajian komparatif antara setiap wilayah-wilayah masyarakat Islam, sehingga kita bisa mendapatkan pemahaman yang lebih untuk tentang masing- masing wilayah tersebut.
6. Menguasai secara utuh prinsip-prinsip teknis kajian sosial, terutama yang berkaitan dengan pembangunan, sehingga bisa dirancang sebuah agenda pembangunan duni Islam bersama yang lebih baik pada abad dua puluh satu nanti.
7. Menelaah secara intens karya-karya ilmuan Islam yang berkaitan dengan sosiologi dan antroppologi, kemudian hasil telaah tersebut diterbitkan dalam jurnal-jurnal ilmiah atau buku khusus.
Setelah permasalahan, teori, konsep dan langkah-langkah di atas telah diuraikan, selanjutnya adalah bagaimana objek kajian antropologi Islam itu. Pertanyaan yang mungkin timbul kemudian adalah, topik apa saja yang akan menjad objek kajian antropologi Islam. Jamaluddin ‘Athiyyah, dalam artikelnya di jurnal The Contemporery Muslim menawarklan bahwa antropologi Islam yang kita gagas nantinya akan memberikan objek kajiannya pada topik-topik berikut ini:
1. Penciptaan manusia.
Dalam poin ini, akan dikaji tentang awal penciptaan manusia dan bagaimana manusia kemudian berkembang. Tentu saja teori evolusi Darwin akan menjadi bagian kajian point ini. Juga pertanyaan tentang apakah sebelum Adam as ada Adam-Adam lain. Seperti kecenderungan Iqbal, misalnya, yang mengatakan dalam bukunya The Reconstraction of Religious Thought in Islam, bahwa Adam yang disebut dalam al-Qur’an lebih banyak bersifat konsep daripada historis. Berkaitan dengan penciptaan manusia terdapat beberapa proses. Jika badannya diciptakan dari tanah, berarti telah ada proses lebih awal penciptaan berupa bahan tanah itu. Disini badan diabaikan, dan jiwa diperhatikan. Jiwa mengalami berbagai proses penanganan dan penyesuaian dengan berbagai fungsi dalam berbagai keadaan lingkungan. Namun, setiap jiwa manusia setelah dipisahkan dari badan, akan kembali kepada keadaan sebagaimana ia diciptakan, tidak lebih dari sejarahnya sendiri. Allah menjadiakan jiwa, dan memberikannya tata aturan, proporsi, dan kesempurnaan relatif, agar dapat menyesuaikan dengan lingkungannya. Allah memancarkan kepada jiwa pemahaman mengenai dosa, keburukan, kejahatan dan pemahaman mengenai kebaikan dan perilaku benar. Manusia mempunyai kewajiban spritual di bawah sebuah perjanjian dengan Allah: Allah telah menganugerahkan kepada manusia akal (reason), pertimbangan (judgement) dan bahkan posisi sebagai khalifah Allah di muka bumi, serta manusia diwajibkan beribadah keapda Allah dengan ikhlas serta mematuhi kehendak-Nya. Kebersihan dan kesucian jiwa merupakan proses atau kewajiban spritual yang harus dijalankan oleh manusia sepanjang kehidupannya di dunia.
2. Susunan manusia.
Akan dikaji tentang susunan yang membentuk manusia; tubuh, jiwa, ruh, akal, hati, mata hati dan nurani. Sehingga dapat didapatkan konsep manusia yang utuh sesuai dengan konsep Islam. Sehingga dengannya manusia akan berbeda dengan malaikat, jin, hewan, tumbuh-tumbuhan dan benda mati. Sambil menjelaskan perbedaan manusia dengan makhluk-makhluk tersebut. Hal ini Allah jelaskan dalam firman-Nya yang berbunyi:
    •           
Artinya:
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (Q.S. al-Nahl: 78)
Berdasarkan ayat tersebut, bahwa dalam mengemban tugasnya sebagai hamba Allah, manusia adalah makhluk yang paling sempurna dalam penciptaannya agar mereka lebih mudah dalam menjalankan agama yang diamanahkan kepada umat mausia.
3. Macam-macam manusia.
Meneliti tentang perbedaan manusia antara lelaki dan perempuan, suku-suku, bangsa-bangsa, perbedaan bahasa, dan hikmah dibalik perbedaan ini.
4. Tujuan diciptakannya manusia.
Mengkaji tujuan diciptakan manusia dan apa misi yang dibawanya di atas bumi. Sambil menjelaskan tentang pengertian ibadah, khilafah, pembumi dayaan dunia dan sebagainya.
5. Hubungan manusia dengan semesta.
Pada poin ini akan diteliti tentang konsep taskhir alam semesta bagi manusia. Apakah dengan konsep tersebut manusia adalah pusat semesta ini. Serta tentang equilibrium antara manusia dengan semesta dengan segala isinya. Hal ini akan berkaitan dengan ilmu lingkunngan hidup.
6. Hubungan manusia dengan Tuhan-nya.
Akan dikaji apakah beragama adalah fithrah dalam diri manusia. Juga tentang peran nabi-nabi, kitab-kitab suci dan ibadah dalam hubungan ini. Abu Hurairah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan fitrah agama adalah Islam. Karena setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam) tetapi kedua orang tua dan lingkungannyalah yang mempengaruhi fitrah tersebut. Secara primordial manusia telah dikarunia fitrah. Fitrah sebagai karakter hakiki dan kepercayaan dasar manusia, yakni fitrah tauhid, suatu keyakinan akan keesaan Allah dan kesaksian bahwa tiada Tuhan (ilah) kecuali Dia, yakni Allah SWT. Dia itu Maha Tunggal, Maha Berkuasa, Maha Menatap, Maha Mengetahui, Maha Dibutuhkan atau tempat satu-satunya bergantung. Oleh karena itu, Dia sebagai tujuan akhir dari setiap diri kita maupun semua makhluk-Nya. Hal ini AllAh tegaskan dalam al-Qur’an yang berbunyi:
                         •   
Artinya.
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu? mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan). (Q.S al-A’raaf:172)
7. Manusia masa depan.
Di sini akan dikaji tentang rekayasa manusia masa depan. Antara lain tentang pembibitan buatan, bioteknologi, manusia robot dan hal-hal lainnya. Dalam hal ini, antripologi Islam mencoba untuk mengkaji manusia yang akan datang dari segi perkembangan pola pikir dan peradabannya. Kelangsungan manusia kedepannya sangat mempengaruhi agama itu sendiri, jika keberadaan manusia akan hilang, maka secara atomatis agama kan hilang dari dunia ini. Tidak ada agama tanpa manusia. Dalam menjalankan kehidupan di dunia ini, tanpa agama manusia akan menjadi orang-orang yang hanya mencari kekayaan materi semata.
8. Manusia setelah mati.
Pada poin ini akan dikaji tentang bagaiman manusia setelaha mati, serta apa yang harus ia persiapkan di dunia ini bagi kehidupannya di akherat nanti. Berbicara tentang kematian, hal ini merupakan problem yang dihadapi umat manusia. Setiap manusia akan mati dan akan diminta semua pertanggung jawabannya sebagai hambah dan khalifah Allah di muka bumi.

Tanpa bermaksud untuk memecahkan problema definisi agama yang sudah banyak dibicarakan dalam literatur kajian, disini kita melihat agama sebagai sejumlah fenomena atau menifestasi dari fenomena yang berkaitan dengan apa yang dipandangan dengan sistem Ilahiyah. Posisi penting manusia dalam Islam juga mengindikasikan bahwa sesungguhnya persoalan utama dalam memahami agama Islam adalah bagaimana memahami manusia. Persoalan-persoalan yang dialami manusia adalah sesungguhnya persoalan agama yang sebenarnya. Pergumulan dalam kehidupan kemanusiaan pada dasarnya adalah pergumulan keagamaannya. Para antropolog menjelaskan keberadaan agama dalam kehidupan manusia dengan membedakan apa yang mereka sebut sebagai ‘common sense’ dan ‘religious atau mystical event.’ Dalam satu sisi common sense mencerminkan kegiatan sehari-hari yang biasa diselesaikan dengan pertimbangan rasional ataupun dengan bantuan teknologi, sementera itu religious sense adalah kegiatan atau kejadian yang terjadi di luar jangkauan kemampuan nalar maupun teknologi.
Walaupun sejak awal disadari bahwa kajian tentang agama akan mengalami kesulitan karena meneliti sesuatu yang menyangkut kepercayaan (beliefs) yang ukuran kebenarannya terletak pada keyakinan, tradisi antropologi untuk mengkaji agama, terutama abad ke 16 dan 17, berkembang dengan pesat. Evans-Pritchard, salah seorang pionir dalam tradisi antropologi sosial di Inggris, mengatakan bahwa dilema kajian tentang agama adalah bahwa pemahaman realitas agama tidak akan sepenuhnya dapat difahami kecuali oleh orang yang mengamalkan agama itu sendiri. Hal ini pernah ia rasakan, misalnya, ketika menulis tentang perjuangan para Sufi di Cyrenica Libia melawan penjajahan Italia, dimana ia merasa kesulitan untuk menjelaskan fenomena ketaatan pengikut Sufi kepada guru Sufi mereka. Tak dapat disangkal bahwa kemudian Evans-Pritchard dapat menggambarkan fenomena Sufi di Cyrenica dengan penuh empati.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Tidak bisa diabaikan bahwa ilmu antropologi berkembang dalam kebutuhan-kebutuhan kolonial. Antropologi merupakan ilmu yang menyelidiki manusia, dari segi fisik maupun budayanya. Tetapi sasaran antropologi Islam bukanlah manusia pada umumnya, melainkan manusia tertentu khususnya manusia yang dianggap masih kurang berkembang. Kesadaran akan setuasi itu akan menampilkan pendekatan antropologi sosial atau antropologi budaya yang memusatkan perhatiannya pada kedudukan individu, hubungan efektif antar-individu, kelompok masyarakat kecil, hubungan manusia dengan alam, kedudukan dan peranan keluarga, serta peran agama yang menyakut tujuan hidup dan hakikat hidup itu sendiri.
Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agana dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini, agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawanannya. Dengan kata lain bahwa cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologis dalam melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama. Antropologi dalam kaitan ini sebagaimana dikatakan Dawam Rahardjo, lebih mengutamakan pengamatan langsung, bahkan sifatnya partisipatif.
Sebagai fenomena universal yang kompleks, keberadaan agama dalam masyarakat telah mendorong lahirnya banyak kajian tentang agama. Kajian-kajian tentang agama berkembang bukannya karena agama ternyata tak dapat dipisahkan dari realitas sosial, tetapi ternyata realitas keagamaan berperan besar dalam perubahan sosial dan transformasi sosial. Socrates berapa ribu tahun yang lalu menyatakan bahwa fenomena agama adalah fenomena kemanusiaan. Pernyataan ini seringkali digunakan para apologis agama untuk menguatkan keyakinan mereka akan betapa mendasarnya posisi agama dalam nilai-nilai kemanusiaan. Namun perlu juga ditandaskan bahwa sikap mempertanyakan kembali makna agama dan relevansinya dengan kehidupan sosial juga fenomena universal yang ada dimana-mana.
Berdasarkan penjelasan dan uraian di atas dapat ditarik suatu kesimpulan dalam mengkaji pendekatan antropologis dalam kajian Islam antara lain:
1. Jika mengkaji antropologi Islam, maka yang menjadi objek utamanya adalah agama dan manusia. Berbicara masalah agama, maka kita tdak bisa lepas dari mengkaji dan memahami manusia karena tanpa manusia agama tidak akan ada
2. Mengembalikan wahyu sebagai sumber antropologi. Dari al-Qur’an dan Hadits ditelusuri konsep-konsep maupun petunjuk tentang antropologi Islam . Nash-nash tersebut, sebagian memberikan kata putus pada beberapa masalah antropologis, dan sebagian lain hanya memberikan tuntunan dalam kajian antropologis. Di sini, dibutuhkan suatu usaha untuk mengklasifikasikan sumber-sumber tersebut dan kemudian menyimpulkan inti sari dari petunjuk- petunjuk tersebut, sehingga dihasilkan petunjuk konsep antropologis Islami yang utuh.
3. Menjadikan tauhid sebagai dasar teoritis-metodologis dalam melakukan riset-riset ilmiah. Dalam langkah ini, konsep-konsep antropologi Barat yang materialis dibersihkan dari unsur-unsur materialisme dan atheisme, kemudian ditiupkan didalamnya konsep tauhid sebagai ganti dari kecenderungan materialis dan atheis tersebut.
4. Membebaskan anggitan keilmuan antropologi dari metodologi empiris yang terbatas. Sebaliknya, dalam anggitan antropologi Islam yang kita gagas menggunakan multi metodologi; induksi, deduksi, exprimental, historis, palsafi, dan tekstual.
5. Menciptakan kedisiplinan ilmiah dan membebaskan riset ilmiah dari pengaruh ideologis.
6. Mengembalikan unsur moral/akhlak dalam riset ilmiah. Dalam konsep-konsep antropologi Barat, manusia “ditelanjangi” dari nilai-nilai yang ia pegang serta kecenderungannya, maka dalam konsep antropologi Islam unsur akhlak ini dimasukan sebagai bagian dari konsep tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: