MUNCULNYA ISLAM LIBRAL DI INDONESIA
Oleh: M. Ghaza Kusairi

Memasuki kemerdekaan Indonesia, gerakan pembaruan Islam menurun. Tokoh Islam lebih banyak mencurahkan energi mengupayakan dan mengisi kemerdekaan Indonesia. Sebagian besar terlibat dalam perdebatan isu keislaman pada tahun 1930-an. Agus Salim dan Muhammad Natsir sibuk dengan politik, terlibat aktif dalam pemerintahan Soekarno-Hatta. Salim pernah menjabat sebagai menteri luar negeri; Natsir menteri penerangan kemudian perdana menteri. Mungkin karena keterlibatan mereka yang intensif dengan dunia politik, para tokoh Islam tak sempat merenung dan berefleksi mendalam terhadap persoalan pembaruan Islam. Gerakan Islam Liberal menemukan momentumnya kembali di Indonesia pada awal 1970-an, seiring dengan perubahan politik dari era Soekarno ke Soeharto. Gerakan ini dipicu oleh munculnya generasi santri baru yang lebih banyak berkesempatan mempelajari Islam dan melakukan refleksi lebih serius atas berbagai isu sosial-keagamaan. Seperti berulang dicatat buku sejarah, tokoh paling penting dalam gerakan pembaruan ini adalah Nurcholish Madjid.1 Sumbangan yang paling besar bagi Indonesia adalah gagasannya tentang sekularisasi Nurcholishlah cendikiawan pertama yang meyakinkan kaum Muslim Indonesia: menjadi seorang Muslim yang baik tak harus berafiliasi kepada partai Islam. Memperjuangkan Islam tak harus lewat lembaga atau partai dengan nama Islam. Baginya, Islam bisa diperjuangkan dengan berbagai cara, lewat berbagai medium. Pandangan ini cukup ampuh. Tiga dekade kemudian, dalam dua Pemilu (1999 dan 2004) tak banyak kaum Muslim yang tertarik dengan partai Islam dan agenda negara Islam, yang pada tahun 1960-an dianggap sakral. Nurcholish tak sendirian. Menjelang tahun 1980-an, gerbong Islam Liberal diperkuat dengan semakin banyaknya intelektual santri yang muncul. Harun Nasution, Abdurrahman Wahid, Munawir Sjadzali, dan Ahmad Syafii Maarif adalah di antara para eksponen pembaruan yang mewarnai kancah pemikiran Islam dasawarsa 1980-an dan 1990-an. Semua intelektual ini menganggap diri sebagai penerus cita-cita kebangkitan (nahdah) dalam semangat Abduh, Qassim Amin, Ali Abd al- Raziq, dan Muhammad Iqbal. Tulisan dan refleksi mereka tersebar di media massa. Gagasan pembaruan mereka dikaji dan disebarkan generasi lebih muda di Universitas Islam Negeri (UIN) maupun Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.2

Sejak 25 Juni 2001, JIL mengisi satu halaman Jawa Pos Minggu, berikut 51 koran jaringannya dengan artikel dan wawancara seputar perspektif Islam Liberal. Tiap kamis sore JIL menyiarkan wawancara langsung (talkshow) dan diskusi interaktif dengan para kontributor Islam Liberal, lewat kantor, Berita Radio 68H dan puluhan radio jaringannya.3 Dalam konsep JIL, talkshow itu dinyatakan sebagai upaya mengundang sejumlah tokoh yang selama ini dikenal sebagai ”pendekar pluralisme dan inklusivisme” untuk berbicara tentang berbagai isu sosial keagamaan di tanah air. 4

Forum ini berawal dari komunitas diskusi beberapa intelektual muda muslim yang sudah berjejaring sebelumnya. Salah satu penggagasnya adalah jurnalis senior Goenawan Mohammad 2001. Forum ini berkembang menjadi forum mailing group. Sejak Maret 2001 forum ini mulai aktif sebagai Jaringan Islam Liberal, terutama dalam menyelenggarakan diskusi-diskusi. Pada usia awalnya, perkembangan forum ini juga tak lepas dari dukungan dan kontribusi beberapa intelektual di luar maupun dari dalam kalangan JIL, seperti Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra, Komaruddin Hidayat, Ahmad Sahal, Budhy Munawar-Rachman, Hamid Basyaib, Luthfi Assyaukanie, Rizal Mallarangeng, Denny J. A., Ihsan Ali-Fauzi, A.E. Priyono, Samsurizal Panggabean, Ulil Abshar Abdalla, Saiful Mujani, and Hadimulyo.

JIL tidak punya sistem keanggotaan untuk menjaga kelonggaran dan inklusivisme. Setelah Ulil Abshar-Abdalla dan Hamid Basyaib, saat itu koordinator JIL adalah Luthfi Assyaukanie, seorang tokoh Islam liberal muda alumni Yordania, ISTAC Malaysia, dan University of Melbourne, Australia. Di awal masanya, JIL juga bekerja sama dengan The Asia Foundation sebuah yayasan yang peduli terhadap sekulerisme, pluralisme, liberalisme, hingga kesetaraan gender. Saat ini ada beberapa lembaga donor yang bekerja sama dengan JIL, di samping dana sumbangan dari perorangan.5

Dalam sejarah perjalanan politik Indonesia, kelompok sekuler berhasil mempertahankan dominasinya dalam perpolitikan di Indonesia, sejak kemerdekaan sampai zaman reformasi. Usaha-usaha untuk menetapkan Islam sebagai agama resmi negara atau menerapkan syriat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara senantiasa mengalami kegagalan. Bahkan, setelah reformasi, tokoh-tokoh Islam turut menolak dimasukkannya ”tujuh kata” dari Piagam Jakarta ke dalam konstitusi.6 Jadi menurut Adian perjuangan kelompok Islam Liberal di Indonesia secara jelas hendak membentuk negara sekuler. Mereka sudah menyatakan secara terbuka dan mendapat dukungan kuat dari tokoh-tokoh Islam di Indonesia. Hal inilah yang belum pernah terjadi dalam sejarah Islam di Indonesia. Sebab, dulunya yang mengembangkan paham sekuler bukanlah dari kelompok-kelompok dan organisasi Islam, tetapi dari kelompok sekuler atau kebangsaan.

A.Islam Liberal di Timur tengah
Ada alasan khusus dalam mengkaji Islam liberal di Timur tengah, hal ini dapat kita amati dari awal mula munculnya tokoh Islam liberal itu. Seperti, pada abad ke 18 di kerajaan Turki Ustmani. Soal Timur Tengah, ada satu image bahwa Timur Tengah lebih kental dengan Islam Tradisional atau Islam Fundamentalis. Padahal kalau kita menelusuri sejarah kebangkitan Islam di kawasan itu, pembaruan dipelopori oleh tokoh Islam liberal. Saya ingin mengambil contoh, kalau kita berbicara tentang Arab, maka yang paling penting adalah berbicara tentang Mesir, karena Mesir merupakan pusat kebangkitan di dunia Arab. Meskipun di Tunisia ada Muhammad al-Sanusi. Perkembangan Islam liberal di Timur Tengah berbeda dengan perkembangan di Barat dan Indonesia.7 Di Timur Tengah ada kemunduran dari gerakan liberalisme Islam di Timur Tengah. Mengapa? Karena gerakan ini sudah berjalan dua ratus tahun lebih dan tidak ada kemajuan yang berarti. Kalau kita kembali ke masa silam, ketika Islam berada pada masa-masa penterjemahan pada abad ke-2 dan ke-3 H, periode ini tak berlangsung lama. Karena masa-masa penerjemahan buku tak berlangsung lama, karena setelah itu muncul ulama-ulama dan filosof-filosof besar. Artinya ada kemajuan yang sangat cepat dan signifikan. Seperti halnya Madrasatullughah yang didirikan oleh Tahtawi sudah berusia dua ratus tahun, tapi tidak melahirkan pemikir-pemikir sekaliber intelektual Arab masa silam. Seharusnya setelah penerjemahan adalah ibda’ atau kreasi. Hal ini berarti perkembangan Islam liberal di Timur Tengah kurang menarik untuk diperbincangkan dalam lingkungan pemikir-pemikir modern yang skuler. Timur Tengah juga sering dikabarkan dimedia sebagai citra yang Fundamentalis dan teroristik saja. Padahal dalam kenyataannya di wilayah itu sering terjadi ketegangan, terjadi dialektika, dan banyak sekali arus-arus pemikiran yang sangat beragam, dari yang sangat liberal, sampai yang fundamentalis atau puritan.

B.Gagasan Islam Liberal
Kalangan liberal membagi wilayah kehidupan menjadi dua, yaitu wilayah privat dan wilayah publik. Ritus-ritus keagamaan merupakan sesuatu yang terkait dengan persoalan privat, sedangkan persoalan kenegaraan merupakan wilayah kehidupan publik. Al-Quran menurut kalangan liberal lebih memberikan penekanan pada penciptaan masyarakat yang adil, ketimbang ideologi negara.
Kaum liberal juga berpandangan, terjadinya kesalahan kalangan tertentu dalam memahami status Syari’ah. Al-Qur’an, menurut Islam liberal memaksudkan Syariah sebagai jalan (path), bukan sebagai sistem hukum yang siap pakai untuk diberlakukan. Bahkan menurut pandangan liberal yang lain, hukum Allah itu sebenarnya tidak ada, apabila hukum itu di anggap sebagai seperangkat aturan yang meliputi seluruh aspek kehidupan. Secara singkat, Syari’ah bukanlah kaidah-kaidah, aturan-aturan, dan hukuman-hukuman, melainkan spirit yang berkelanjutan dalam menciptakan aturan-aturan baru, melakukan pembaharuan dan interpretasi-interpretasi modern. Ia adalah sebuah gerak langkah dinamis yang selalu membawa manusia pada tujuan-tujuan yang mulia, supaya mereka tidak terjebak ke dalam teks, terkoyak dalam lafal dan tenggelam dalam ungkapan.

Penolakan atas pemberlakuan Syari’ah dalam kehidupan negara berpijak pada dua argumen dasar yaitu: pertama, tidak adanya pengertian yang memadahi dan absolut menenai apa yang disebut Syari’ah. Apakah yang dimaksud Syari’ah adalah hukum-hukum agama seperti aturan ibadah, hukum-hukum mu’amalat, ataukah ajaran-ajaran sebagaimana termuat dalam khazanah fikih? Kedua, penolakan atas pemberlakuan Syari’ah Islam dalam kehidupan negara juga didasarkan berdasarkan argumen demokrasi. Demokrasi dalam pendangan liberal merupakan instrumen bagi pencapaian indeks kemaslahatan publik.

Menurut pemikiran liberal, Syari’ah dalam bentuk formalnya menyimpan sejumlah komplikasi, terutama kaitannya dengan discourse dan praxis kehidupan negara modern. Oleh karena itu agenda pemikiran yang sesungguhnya bagi umat Islam adalah melakukan dekonstruksi8 terhadap konsep Syari’ah Islam.

Gender equality merupakan salah satu gagasan penting dari gerakan Islam liberal. Tidak sebagaimana persoalan lain, seperti demokrasi yang bisa diselesaikan baik melalui perspektif silent Syari’ah maupun interpretative Syari’ah9 yang bisa memperkuat maupun mengintrodusir kepentingan demokrasi bagi kehidupan Islam modern, persoalan kesetaraan gender justru banyak menghadapi sejumlah pernyataan tekstual Al-Qur’an maupun hadits yang menunjukkan penentangan terhadap hak-hak perempuan. Teks Al-Qur’an yang menyatakan lelaki adalah pemimpin wanita, dan teks Al-Hadits yang menyatakan bahwa tidak akan beruntung suatu kaum yang dipimpin oleh seorang kaum perempuan, merupakan pernyataan yang menunjukkan penentangan terhadap hak-hak perempuan. Dalam teks seperti ini, islam liberal mengambil sikap dengan memandang teks mengandung bias dari kebudayaan Arab patriarchal. Namun demikian, Islam sesungguhnya telah mengangkat sedemikian tinggi derajat perempuan apabila dilihat dari sudut masa kelahiran Islam itu sendiri. Bagaimana tidak, di tengah ketiadaan hak-hak perempuan pada masyarakat Arab, Islam memberikan hak waris bagi perempuan. Namun demikian, seluruh ajaran mengenai perempuan ini sudah selayaknya ditafsirkan ulang dengan tetap berpegang pada prinsip ajaran Islam untuk mewujudkan kesetaraan gender.

Kaum liberal meyadari adanya tafsir terhadap simbol-simbol agama kaitannya dengan kelompok agama lain. Mereka mengkritisi dengan surat Al-Baqarah ayat 12010, yang menyatakan ”orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela (membiarkan kamu), hingga kamu mengikuti ajaran mereka”. Ayat ini sering dijadikan justifikasi untuk bersikap curiga bahkan memusuhi terhadap kedua agama tersebut. Pandangan liberal menyatakan, ayat tersebut sama sekali terkait dengan pandangan yang prinsip dalam Islam mengenai keberadaan agama lain. Ayat tersebut sesungguhnya hanya terkait dengan permasalahan pemindahan kiblat sebagaimana diterangkan dalam ayat sebelumnya surat Al-Baqarah 11511, ”Allah adalah penguasa Timur dan Barat, kemanapun kamu menghadap maka akan menatap wajah (kekuasaan Allah)”. Dengan demikian, tidak ada landasan normatif untuk memandang sinis keberadaan agama lain. Setiap agama mempunyai kebebasan untuk menentukan kiblatnya masing-masing. Dan perbedaan kiblat itu bukanlah hal yang prinsip dan mendasar dalam agama-agama.

Bahkan agama samawi bersumber dari satu Tuhan. Tidak ada tujuan lain dalam kehidupan beragama kecuali untuk membebaskan manusia dari ketertindasan dan menciptakan keadilan di muka bumi. Dengan demikian, kehidupan agama yang pluralistik itu harus dikukuhkan dengan prinsip dasar persamaan dan keadilan untuk semua agama. Pluralisme menjadi sebuah keniscayaan dalam membangun hubungan agama yang lebih toleran dan dialogis.

Kebebasan berfikir merupakan pangkal dari prinsip-prinsip liberal lainnya. Dalam sejarah Islam persoalan-persoalan akal dan kebebasan berfikir telah menjadi perdebatan yang cukup panjang. Bagi kaum liberal, dapat dipastikan hampir tidak mungkin berlaku prinsip-prinsip liberal seperti demokrasi, kesetaraan gender, dan penafisran kontekstual terhadap teks-teks keagamaan, tanpa didasari atas prinsip kebebasan berfikir. Dengan kebebasan berfikir ini dimungkinkan adanya kewajiban manusia, juga ijtihad bagi pengembangan prinsip-prinsip dasar agama dimungkinkan.

Menurut kaum liberal, Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi pemikir, dan Syari’ah mendorong kaum muslim untuk melakukan refleksi dan penyelidikan. Hal ini karena kebebasan berfikir bagi kemajuan intelektual dunia Muslim. Bahkan kebebasan berfikir menjadi landasan utama keberagamaan yang sejati. Oleh karena itu, tokoh liberal Abdul Karim Sorous mengatakan: ”Siapapun yang menghapus kebebasan dari keimanan dan dinamisme dari pemahaman agama, baik melalui perebutan kekuasaan atau melalui perampasan, akan membahayakan landasan dan makna masyarakat agama. Memaksa setiap orang supaya beriman secara palsu: dan menutup gerbang kritik, revisi, modivikasi agar setiap orang tunduk pada satu ideologi tunggal, pastilah tidak akan menciptakan masyarakat yang religius, melainkan massa rakyat monolitik yang terteror, lumpuh, pasrah dan hipokrit”.12

Islam dan Liberal adalah dua istilah yang antagonis, saling berhadap-hadapan tidak mungkin bisa bertemu. Namun demikian ada sekelompok orang di Indonesia yang rela menamakan dirinya dengan Jaringan Islam Liberal (JIL). Suatu penamaan yang “pas” dengan orang-orangnya atau pikiran-pikiran dan agendanya. Islam adalah pengakuan bahwa apa yang mereka suarakan adalah haq tetapi pada hakikatnya suara mereka itu adalab bathil karena liberal tidak sesuai dengan Islam yang diwahyukan dan yang disampaikan oleh Rasul Muhammad, akan tetapi yang mereka suarakan adalah bid’ah yang ditawarkan oleh orang-orang yang ingkar kepada Muhammad Rasulullah.13

D. Tokoh-Tokoh Islam Liberal
Islam liberal menurut Charless Kurzman muncul sekitar abad ke-18 dikala kerajaan Turki Utsmani Dinasti Shafawi dan Dinasti Mughal tengah berada digerbang keruntuhan. Pada saat itu tampillah para ulama untuk mengadakan gerakan permurnian, kembali kepada al-Qur’an dan sunnah. Pada saat ini muncullah cikal bakal paham liberal awal melalui Syah Waliyullah (India, 1703-1762), menurutnya Islam harus mengikuti adat lokal suatu tempat sesuai dengan kebutuhan penduduknya. Hal ini juga terjadi dikalangan Syi’ah. Ada Muhammad Bihbihani (Iran, 1790) mulai berani mendobrak pintu ijtihad dan membukanya lebar-lebar. Ide ini terus bergulir. Rifa’ah Rafi’ al-Tahtawi (Mesir, 1801-1873) memasukkan unsur-unsur Eropa dalam pendidikan Islam. Shihabuddin Marjani (Rusia, 1818-1889) dan Ahmad Makhdun (Bukhara, 1827-1897) memasukkan mata pelajaran sekuler kedalam kurikulum pendidikan Islam.

Di India muncul Sir Sayyid Ahmad Khan (1817) yang membujuk kaum muslimin agar mengambil kebijakan bekerja sama dengan penjajah Inggris. Pada tahun 1877 ia membuka suatu kolese14 yang kemudian menjadi Universitas Aligarh (1920). Sementara Amir Ali (1879-1928) melalui buku The Spirit of Islam berusaha mewujudkan seluruh nilai liberal yang dipuja di Inggris pada masa Ratu Victoria. Amir Ali memandang bahwa Nabi Muhammad adalah Pelopor Agung Rasionalisme.

Di Mesir muncullah Muhammad Abduh (1849-1905) yang banyak mengadopsi pemikiran mu’tazilah berusaha menafsirkan Islam dengan cara yang bebas dari pengaruh salaf. Lalu muncul Qasim Amin (1865-1908) kaki tangan Eropa dan pelopor emansipasi wanita, penulis buku Tahrir al-Mar’ah. Lalu muncul Ali Abd. Raziq (1888-1966). Lalu yang mendobrak sistem khilafah, menurutnya Islam tidak memiliki dimensi politik karena Muhammad hanyalah pemimpin agama. Lalu diteruskan oleh Muhammad Khalafullah (1926-1997) yang mengatakan bahwa yang dikehendaki oleh al-Qur’an hanyalah sistem demokrasi tidak yang lain.

Di Al-Jazair muncul Muhammad Arkoun (lahir 1928) yang menetap di Perancis, ia menggagas tafsir al-Quran model baru yang didasarkan pada berbagai disiplin Barat seperti dalam lapangan semiotika (ilmu tentang fenomena tanda), antropologi, filsafat dan linguistik. Intinya Ia ingin menelaah Islam berdasarkan ilmu-ilmu pengetahuan Barat moderen, dan ingin mempersatukan keanekaragaman pemikiran Islam dengan keanekaragaman pemikiran diluar Islam

Di Pakistan muncul Fazlur Rahman (lahir 1919) yang menetap di Amerika dan menjadi guru besar di Universitas Chicago. Ia menggagas tafsir konstekstual, satu-satunya model tafsir yang adil dan terbaik menurutnya. Ia mengatakan al-Qur’an itu mengandung dua aspek: legal spesifik dan ideal moral, yang dituju oleh al-Qur’an adalah ideal moralnya karena itu ia yang lebih pantas untuk diterapkan.

Di Indonesia muncul Nurcholis Madjid (murid dari Fazlur Rahman di Chicago) yang memelopori gerakan kelompok liberal bersama dengan Djohan Efendi, Ahmad Wahid dan Abdurrahman Wahid. Nurcholis Madjid telah memulai gagasan pembaruannya sejak tahun l970-an. Pada saat itu ia telah menyuarakan pluralisme agama dengan menyatakan: “Rasanya toleransi agama hanya akan tumbuh diatas dasar paham kenisbian (relativisme) bentuk-bentuk formal agama ini dan pengakuan bersama akan kemutlakan suatu nilai yang universal, yang mengarah kepada setiap manusia, yang kiranya merupakan inti setiap agama” .15

Dari tokoh-tokoh pencetus Islam liberal di atas, ada beberapa di bawah ini tokoh-tokoh pendukung beserta penerus yang melanjutkan pemikira-pemikiran Islam liberal. Mereka itu ialah:
– Charles Kurzman, University of North Carolina.
– Azyumardi Azra, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
– Abdallah Laroui, Muhammad V University, Maroko.
– Masdar F. Mas’udi, Pusat Pengembangan Pesantren dan Masyarakat, Jakarta.
– Goenawan Mohammad, Majalah Tempo, Jakarta.
– Edward Said
– Djohan Effendi, Deakin University, Australia.
– Abdullah Ahmad an-Naim, University of Khartoum, Sudan.
– Jalaluddin Rahmat, Yayasan Muthahhari, Bandung.
– Asghar Ali Engineer.
– Nasaruddin Umar, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
– Mohammed Arkoun, University of Sorbone, Prancis.
– Komaruddin Hidayat, Yayasan Paramadina, Jakarta.
– Sadeq Jalal Azam, Damascus University, Suriah.
– Said Agil Siraj, PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), Jakarta.
– Denny JA, Universitas Jayabaya, Jakarta.
– Rizal Mallarangeng, CSIS, Jakarta.
– Budi Munawar Rahman, Yayasan Paramadina, Jakarta.
– Ihsan Ali Fauzi, Ohio University, AS.
– Taufiq Adnan Amal, IAIN Alauddin, Ujung Pandang.
– Hamid Basyaib, Yayasan Aksara, Jakarta.
– Ulil Abshar Abdalla, Lakpesdam-NU, Jakarta.
– Luthfi Assyaukanie, Universitas Paramadina Mulya, Jakarta.
– Saiful Mujani, Ohio State University, AS.
– Ade Armando, Universitas Indonesia, Depok -Jakarta.
Syamsurizal Panggabean, Universitas Gajahmada, Yogyakarta.16

Mereka itu diperlukan untuk mengkampanyekan program penyebaran gagasan keagamaan yang pluralis dan inklusif. Program itu mereka sebut “Jaringan Islam Liberal”. Penyebaran gagasan keagamaan yang pluralis dan inklusif itu di antaranya disiarkan oleh Kantor Berita Radio 68H yang diikuti 10 Radio; 4 di Jabotabek (Jakarta Bogor, Tangerang, Bekasi) dan 6 di daerah. Di antaranya Radio At-Tahiriyah di Jakarta yang menyebut dirinya FM Muslim dan berada di sarang NU tradisionalis pimpinan Suryani Taher, dan juga Radio Unisi di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Dua Radio Islam itu ternyata sebagai alat penyebaran Islam Liberal, yang fahamnya adalah pluralis, semua agama itu sama/paralel, dan kita tak boleh memandang agama lain dengan pakai agama kita. Sedang faham inklusif adalah sama dengan pluralis, hanya saja memandang agama lain dengan agama yang kita peluk. Dan itu masih dikritik oleh orang pluralis.

Dari sekian tokoh-tokoh Islam liberal kita akan mencoba mengangkat pemikiran Nurcholis Madjid yang mana beliau adalah seorang pelopor Islam liberal di Indonesia. Dari dua tokoh dibawah ini, kita akan mempertanyakan pluralitas agama menurut Nurcholis Madjid dan Ulil Abshar Abdala. Alasan mendasar dari penulis mengambil kedua tokoh itu, karena keduanya sangat sering muncul di media. Nurcholis sebagai tonggak pertama berdirinya Islam liberal di Indonesia, dan begitu dengan Ulill sebagai koordianator JIL saat ini, yang ide-idenya sering menjadi bahan perbincangan pada http://www.islamlib.com.

Pluralisme atau kemajemukan agama menurut Cak Nur adalah sunatullah. Dalam banyak ayat, al-Quran menyebutkan kemajemukan sebagai sesuatu yang memang dikehendakai Allah. Karena itu, siapa saja yang berusaha menolak kemajemukan sama artinya dengan menolak sunnatullah. Meurut Rektor Universitas paramadina ini, karena kehidupan bermasyarakat itu majemuk, maka tak boleh ada pemaksaan kehendak, termasuk memaksa seorang untuk beriman. Menurutnya tidak boleh ada pemaksaan dalam beragama disini sangat banyak seperti, tidak boleh memaksa manusia memeluk satu agama tertentu. Agama-agama yang ada betul-betul bersifat standar dan mempunyai kitab suci yang harus dotolerir dan diberi hidup. Plural yang dimaksud oleh Cak Nur plural itu sebagai sesuatu yang positif, bukan negatif, maka kita memasuki pluralisme sebagai suatu konsep yang didukung al-Qur’an. Cak Nur juga memahami kemejemukan itu tidak ada, tapi sama juga dengan kalam fikih, atau tasawuf, ajaran-ajaran kemajemukan itu tersirat dalam al-Qur’an, seperti firman Allah: ”Kalau Tuhan menghendaki, maka semua orang di muka bumi ini akan beriman.” Allah pernah menegur nabi Muhammad: ” Apakah engkau hendak memaksa manusia menjadi beriman?”. Yang menurutnya ayat tersebut sering dikutip oleh Mubaligh, maksudnya jelas, bahwa dalam agama Islam tidak boleh ada paksaan (la ikraha fi al-diin). Riwayat ini merujuk pada sebuah keluarga Yahudi di Madinah yang sudah masuk Islam mengadu kepada Nabi karena anak-anak mereka tak mau mengikuti jejak mereka. Lalu turun firman tersebut. Cak Nur juga tidak berbalik pendapat dengan adanya pendapat bahwa Ahlu kitab adalah seprti Nasrani, selain agama Nasrani atau lainnya juga merupakan golongan dari ahlu kitab.

Menurut Nurcholish, ada tiga sikap dialog agama yang dapat diambil. Yaitu, pertama, sikap eksklusif dalam melihat agama lain (agama-agama lain adalah jalan yang salah, yang menyesatkan bagi pengikutnya. Kedua, sikap inklusif (agama-agama lain adalah bentuk implisit agama kita). Ketiga, sikap pluralis yang bisa terekspresi dalam macam-macam rumusan. Misalnya, ”Agama-agama lain adalah jalan yang sama-sama sah untuk mencapai kebenaran yang sama”, ” Agama-agama lain berbicara secara berbeda, tetapi merupakan kebenaran-kebenaran yang sama sah”, atau ” Setiap agama megekspresikan bagian penting sebuah kebenaran.” 17

Ada makna lain juga dalam mengatakan alasan lain agama yang pluralis, dapat diketahui dari masyarakat Indonesia yang ditandai dengan kebermacaman atau keanekaragaman dalam berbagai ras, suku, bangsa, agama, adat dan perbedaan-perbedaan kedaerahan. Semuanya itu sangat berhubungan dalam arti suatu golongan atau kelompok yang saling menyilang yang kemudian akan mengasilkan suatu kelompok yang saling menyilang pula (cross cutting afiliation).

Pluralisme menurut Ulil Abshar Abdala yang dapat diambil dari tulisannya ”Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”. Judul tersebut bagian dari pemahamannya yang pluralis, menurutnya, “Islam pertama-tama sebuah “organisme” yang hidup; sebuah agama yang berkembang sesuai denyut nadi perkembangan manusia. Islam buka sebuah monumen mati yang dipahat abad ketuju masehi, lalu dianggap sebagai “patung” indah yang tak boleh disentuh tangan sejarah. Saya melihat, kecenderungan untuk “memonumenkan” Islam amat menonjol saat ini”

Dari pendapat Ulil tersebut, bahwa dia menginkinkan Islam tidak hanya ada yang telah tertulis dalam al-Quran dan Hadits. Yang mana Islam hanya akan menjadi statis dalam kehidupan dan perkembangan zaman. Syariat-syariat dan dustur-dusturnya harus mengikuti perkembangan yang selanjutnya dapat dicerna oleh akal fikiran yang slaing beriringan yang kemudian melahirkan ide dan fikiran-fikiran baru. ”Sesungguhnya agama yang diridhai Allah disisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran 19). ”Barang siapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah aka diterima agama itu daripadanya, dan di akhirat termasuk orang-orang rugi.” (Ali Imran 85). Ayat ini secara literal sangat jelas meneguhkan mengenai adanya keselamatan dalam agama-agama. Akan tetapi menurut mereka (JIL) berbalik dengan pada ayat tersebut, karena mereka berpendapat semua agama benar dan masing-masing agama adalah benar. Karena Tuhan semesta alam juga Tuhan semua agama.

C.Ragam Kontroversi dari Pemikiran Islam Liberal

Dari macam kontroversi yang diangkat yaitu menanggapi dari permasalahan dan perbincangan pluralisme agama, seperti yang diangkat pada harian Tempo Sabtu, tulisan tersebut ditulis oleh anggota JIL pada 24 Desember 2005, oleh M.Guntur Romli
Cuplikan tulisan:
”Lebih dari itu, mengucapkan Natal, merupakan pintu menuju ruangan lebih luas” pengakuan terhadap pluralisme agama. Bagi saya, Al-Quran tidak hanya sekadar ikut “merayakan” Natal, tapi juga merayakan “pluralisme agama”—bukan sekadar “pluralitas agama”.
Sebagai muslim, saya ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Natal bagi umat Kristiani. Al-Quran, kitab suci umat Islam lebih unik dan lengkap memberikan ucapan selamat. Jika Hari Natal, hanya merayakan kelahiran Nabi Isa (Jesus Kristus), Al-Quran, memberi selamat pada tiga momen sekaligus: saat kelahiran, wafat, dan kebangkitan kembali. “Dan salam sejahtera semoga dilimpahkan kepadaku (Isa: Jesus), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku akan meninggal dan pada hari aku dibangkitkan kembali.” (QS Maryam: 33). Itulah, perayaan Natal “plus” versi Al-Quran.

Lebih dari itu, mengucapkan Natal, merupakan pintu menuju ruangan lebih luas: pengakuan terhadap pluralisme agama. Bagi saya, Al-Quran tidak hanya sekadar ikut “merayakan” Natal, tapi juga merayakan “pluralisme agama” (maksudnya pencampur adukan ajaran agama)—bukan sekadar “pluralitas agama” (maksudnya keberagaman agama).
Jawaban dari pejuang Islam 18: ”Takallama fil qur-an bi rakyihi fal yatabawwak maq’adahu minan naar (barang siapa mengatakan dalam menafsiri Alquran hanya dengan pendapatnya, maka siap-siaplah untuk duduk di atas bara api/neraka). Alquran memberi selamat pada tiga momen dalam QS. Maryam: 33 bukan untuk Yesus seperti yang dipahami oleh orang-orang Kristen. Sangat jauh pemahaman umat Islam tentang siapa itu Isa dan pemahaman orang Kristen tentang siapa itu Yesus. Isa bagi umat Islam adalah nabi ke-24, manusia yang juga makan dan minum sebagaimana yang diterangkan dalam QS, Almaidah 75, yang artinya, “Almasaih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul, yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, keduanya biasa memakan makanan, perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan Kami”. Nabi Isa belum meninggal dunia hingga kini, melainkan diangkat oleh Allah ke langit dengan ruh dan jasadnya wamaa qotaluuhu wamaa sholabuuhu (padahal mereka tidak membunuhnya, dan tidak pula menyalibnya, QS. Annisa 157) dan kelak akan turun ke bumi untuk menghancurkan salib-salib yang menjadi identitas orang Kristen, kemudian diwafatkan oleh Allah SWT.”

Kutipan yang kedua diambil dari tulisan Ulil Abshar yang berjudul ”Menyegarkan Kembali Pemahaman Agama”. Berikut akan diambil sedikit cuplikan tulisan Ulil ”Menyegarkan Kembali Pemahaman Agama”.
”Saya mengemukakan sejumlah pokok pikiran di bawah ini sebagai usaha sederhana menyegarkan kembali pemikiran Islam yang saya pandang cenderung membeku, menjadi ”paket” yang sulit didebat dan dipersoalkan: paket Tuhan yang disuguhkan kepada kita semua dengan pesan sederhana, take it or leave it! Islam yang disuguhkan dengan cara demikian, amat berbahaya bagi kemajuan Islam adalah dengan mempersoalkan cara kita menafsirkan agama ini. Untuk menuju ke arah itu, kita memerlukan beberapa hal. Pertama, penafsiran Islam yang non-literal, subtansial, kontekstual, dan sesuai denyut nadi peradaban mausia yang sedang dan teus berubah. Kedua, penafsiran Islam yang dapat memisahkan mana unsur-unsur di dalamnya yang merupakan kreasi budaya setempat. Ketiga, umat Islam hendaknya tidak memandang dirinya sebagai ”masyarakat” atau ”umat” yang terpisah dari golongan lain. Keempat, kita membutuhkan struktur sosial yang dengan jelas memisahkan mana kekuasaan politik dan mana kekuasaan agama. Agama adalah urusan pribadi; sementara pengaturan kehidupan publik adalah sepenuhnya hasil kesepakatan masyarakat melalui prosedur demokrasi. Menurut saya (Ulil), tidak ada yang disebut ”hukum Tuhan” dalam pengertian seperti dipahami kebanyakan orang Islam. Misalnya, hukum Tuhan tentang pencurian, jual beli, pernikahan, pemerintahan dan sebagainya. Yang adalah prinsip-prinsip umum yang universal yang dalam tradisi pengkajian hukum Islam klasik disebut sebagai maqashid al-syari’ah, atau tujuan umum syariat Islam.19
Pada judul tersebut ada pro dan kontra dalam menyikapinya. Yang pertama yang sependapat dengan tulisan tersebut saya dapat diambil dari Benny Susetyo20 yang mengatakan:
Dalam dekonstruksi cara beragama seperti dalam pikiran Ulil, kita bisa melihat betapa bukan dogma, kulit muka, institusi, dan ritus agama yang harus dipentingkan alias diutamakan seperti terjadi dewasa ini. Lebih penting dari itu adalah keharusan umat agar melihat agama sebagai sebentuk relativisme, isi, substansi, dan pengalaman-pengalaman kemanusiaan. Untuk pertarungan kedua visi beragama ini, praktis tidak hanya terjadi di Islam saja seperti disorot Ulil, melainkan juga sembarang agama di muka bumi ini yang mengalami hal serupa. Maka betul yang dikataan Ulil bahwa persoalan besar yang dihadapi agama-agama di era globalisasi ini adalah di sekitar cara Cuma umatnya menafsir teks yang ia hadapi. Jadi kegundahan Ulil dalam pemikirannya itu merupakan keprihatinan semua umat beragama yang merindukan rasa damai.

Dan berikut tanggapan kontra dari Husni Muadz21:
Meliberalkan Islam adalah satu keinginan Ulil dan kelompoknya. Berhasil tidaknya nanti akan sangat tergantung pada ada tidaknya kriteria keberterimaan yang ia bangun. Yang pertama yang harus ia lakukan adalah membagun model teoritik tentang Islam, yang berisi s system of principles, dengan beberapa parameter tertentu. Bila dalam benak Ulil Islam tidak memiliki model sistem sosial yang bisa di-edialkan, karena, katakanlah ia beranggapan seperti F A Hayek tentang the grown social order, sehingga yang perlu adalah perlindungan tertentu akan kebebasan individual. Langkah berikutnya adalah menginventariskan semua data yang berkaitan dengan nilai-nilai dan konsep Islam yang ada dalam al-Qur’an dan al-Sunnah sebagai data yang akan digunakan sebagai ”the empirical testing ground”.

Dari dua komentar tersebut dapat diambil suatu pendapat baru, pada komentator pro, lebih mengedepankan rasio dan kemudian dikembalikan pada kehidupan dan problematika kehidupan saat ini. Ada juga kekurangan dalam meninjau ulang dibalik ide-ide yang keluarkan oleh Ulil. Yang selanjutnya pada komentator yang kontra, yaitu Husni Muadz yang lebih menekankan akan adanya peninjauan ulang dengan data-data yang lebih empirik, pada kata-kata beliau sebelumnya dia mengangkat tokoh Chomsky, yang mana dia mengambil sisi baik dari Chomsky, bahwa dalam mengutarakan sebuah opini yang empiris seharusnya diperlukan data-data yang validitasnya dapat diterima oleh kalangan luas. Menurutnya juga semua konsep, terminologi dan exposisinya sangat teknis, karena memang dihajatkan untuk pembaca yang memilki spesialis di bidang itu. Sekali lagi dari pendapat Husni, Ulil bukanlah Umar yang mampu memenangkan argumentasi; ia bahkan belum mulai berargumentasi, ia baru hanya mengatakan ayat ini dan ayat itu tidak berlaku bagi Ulil. Dan itu hanya urusan individu dengan Tuhan.

KESIMPULAN

Yang khas dan kontradiktif dari liberalisme ialah tetap dihalalkannya keanekaragaman pendapat tentang sebuah pendapat, kendati dibangun di atas pembedaan antara pengetahuan dan opini, dan pemisahan ruang-terap dari keduanya. Ada kalanya, beberapa pendapat muncul menentukan politik, budaya, kekuasaan dan kebenaran sosial.22. Penyebaran gagasan keagamaan yang pluralis dan inklusif itu di antaranya disiarkan oleh Kantor Berita Radio 68H yang diikuti 10 Radio 4 di Jabotabek (Jakarta Bogor, Tangerang, Bekasi) dan 6 di daerah. Di antaranya Radio At-Tahiriyah di Jakarta yang menyebut dirinya FM Muslim dan berada di sarang NU tradisionalis pimpinan Suryani Taher, dan juga Radio Unisi di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Dua Radio Islam itu ternyata sebagai alat penyebaran Islam Liberal, yang fahamnya adalah pluralis, semua agama itu sama/paralel, dan kita tak boleh memandang agama lain dengan pakai agama kita. Sedang faham inklusif adalah sama dengan pluralis, hanya saja memandang agama lain dengan agama yang kita peluk.

Pada dasarnya mereka tidak setuju bila ada pendapat yang mengatakan tentang kebenaran yang mutlak pada suatu agama, atau ada pengakuan yang sangat benar pada agama itu sendiri. Mereka lebih menyikapi semua agama itu adalah milik Allah, dan Allah Tuhan segala agama. Da kata lain, mereka tidak bisa menerima (keberatan) dan menjalankan syari’at-syari’at Islam sebagaimana mestinya.

Islam dan Liberal adalah dua istilah yang antagonis, saling berhadap-hadapan tidak mungkin bisa bertemu. Namun demikian ada sekelompok orang di Indonesia yang rela menamakan dirinya dengan Jaringan Islam Liberal (JIL). Suatu penamaan yang “pas” dengan orang-orangnya atau pikiran-pikiran dan agendanya.

DAFTAR PUSTAKA

Assyaukanie, Luthfi. Wajah Liberal Islam di Indonesia, JIL Teater Utan Kayu, Jakarta, 2002.
Rasyid,, Daud, Islam Dalam Berbagai Dimensi, Gema Insani Press. Jakarta, 1998.
Husaini, Adian, Islam Liberal (Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan dan Jawabannya), Gema Insani Press, Jakarta, 2002.
Jamil, Muhsin, Membongkar Mitos Menegakkan Nalar Pergulatan Islam Liberal Literal, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2005.
Madjid, Nurcholish, Islam Agama Kemanusiaan (Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia, Paramadina, Jakarta Selatan, 1995.
Abshar Abdalla, Ulil dkk, Islam Liberal dan Fundamental, Elsaq Press, Yogyakarta, 2005.
A’la, Abd, Melampaui Dialog Agama, Kompas, Jakarta, 2002.
Qodir, Zuly, Islam Liberal (Paradigma Baru Wacana Aksi Islam Indonesia), Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003.
– Husaini, Adian, Islam Liberal, Pluralisme Agama&Diabolisme Intelektual, Surabaya: Risalah Gusti, 2005.
– Binder, Leonar, Islam Liberal, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001
http://fuui: wordpress.com/. Jum’at 13 nopember 2009, 9:40
http://id.wikipedia.org/wiki/berkas:jaringan_islam_liberal.gif. 31/10/2009 11:14
http://islamlib.com/id/. Wacana Islam Liberal di Timur Tengah. (Redaksi JIL Luthfi Asyaukani). 15/12/2009. 16:59.
http://forum.upi.edu/v3/index.php?Abu Shofiyyah al-Atsary/Sekali Lagi, Tentang Islam Liberal. 09/12/2009. 09:00.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: