MANAJEMEN KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

Posted in Uncategorized on Mei 23, 2011 by mghazakusairi

M. Ghaza Kusairi

(Mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Malang, Jurusan Manajemen Pendidikan Islam)

Kepemimpinan adalah subyek yang telah lama menarik perhatian banyak orang. Istilah yang mengkonotasikan citra individual yang kuat dan dinamis yang berhasil memimpin dibidang kemiliteran, perusahaan yang sedang berada di puncak kejayaan, atau memimpin negara dan memimpin sebuah Lembaga Pendidikan Islam. Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang sangat berperan dalam organisasi, baik buruknya organisasi seringkali sebagian besar tergantung pada faktor pemimpin, sedangkan faktor pemimpin yang sangat penting adalah karakter dari orang yang menjadi pemimpin tersebut. Secara definisi, kepemimpinan memiliki berbagai perbedaan pada berbagai hal, namun definisi kepemimpinan adalah adanya suatu proses dalam kepemimpinan untuk memberikan pengaruh secara sosial kepada orang lain, sehingga orang lain tersebut menjalankan suatu proses sebagaimana diinginkan oleh pemimpin.

Menurut Yukl (2005: 3) kepemimpinan adalah kekuasaan, wewenang, manajemen administrasi, pengendalian, dan supervisi yang juga menjelaskan hal yang sama dengan kepemimpinan semakin menambah kebingungan. Sedangkan menurut Stoner dkk (1996: 161) tampaknya senada dengan definisi sebelumnya, menurut mereka kepemimpinan adalah proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan dari anggota kelompok. Kepemimpinan dipahami sebagai segala daya dan upaya bersama untuk menggerakkan semua sumber dan alat (resources) yang tersedia dalam suatu organisasi. Untuk itu dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sengat tergantung atas kemampuan pempinannya untuk menumbuhkan iklim kerja sama agar dengan mudah dapat menggerakkan sumber daya tersebut, sehingga dapat mendayagunakannya dan dapat berjalan secara efektif dan efisien.

Menurut pandangan Nanang Fattah (2009: 88) pemimpin pada hakikatnya adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Kekuasaaan adalah kemampuan untuk mengarahkan dan mempengaruhi bawahan sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakannya. Semakin banyak jumlah sumber kekuasaan yang tersedia bagi pemimpin, maka makin besar potensi kepemimpinan yang efektif. Menurut kodrat serta irodatnya bahwa manusia dilahirkan untuk menjadi pemimpin. Sejak Adam diciptakan sebagai manusia pertama dan diturunkan ke bumi, ia ditugasi sebagai khalifah Allah di muka bumi ini. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi:

øŒÎ)ur tA$s% š•/u‘ Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ’ÎoTÎ) ×@Ïã%y` ’Îû ÇÚö‘F{$# Zpxÿ‹Î=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ߉šøÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡o„ur uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ωôJpt¿2 â¨Ïd‰s)çRur y7s9 ( tA$s% þ’ÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès?

Artinya:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. al-Baqarah: 30)

 

Menurut Dirawat dkk (1986: 23), dalam bukunya “Pengantar Kepemimpinan Pendidikan” yang menyatakan bahwa: Kepemimpinan berarti kemampuan dan kesiapan yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerakkan dan kalau perlu memaksa orang lain agar ia menerima pengaruh itu dan selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat membantu mencapai sesuatu maksud atau tujuan-tujuan tertentu. Pendapat ini memberi pengertian yang pada hakekatnya kepemimpinan itu adalah kemampuan dari seseorang pemimpin dalam mempengaruhi bawahan atau orang yang bekerja dengannya untuk mencapai tujuan atau memperoleh hasil maksimal. Dalam Islam tujuan yang ingin dicapai adalah mengandung adanya unsur amal ma’ruf nahi mungkar, hal ini sebagaimana firman Allah yang berbunyi:

`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããô‰tƒ ’n<Î) Ύösƒø:$# tbrããBù’tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9′ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$#

Artinya:

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung (QS. Ali-Imran: 104)

Kepemimpinan merupakan faktor manusiawi yang paling menentukan sukses tidaknya suatu organisasi, lembaga pendidikan maupun lembaga kenegaraan. Sebab kepemimpinan merupakan motor penggerak dan bertanggung jawab atas segala aktifitas dan fasilitas. Kepemimpinan menuntut kemampuan mengantisipasi tindakan-tinadakan yang berdasarkan pada perkiraan-perkiraan untuk menampung apa yang terjadi mengenai kelemahan-kelemahan serta mencapai suatu tujuan dan sasaran dalam waktu yang telah ditentukan. Kepemimpinan merupakan motor penggerak bagi sumber-sumber dan alat-alat manusia dan alat lainnya dalam organisasi. Demikian pentingnya peranan kepemimpinan dalam usaha mencapai tujuan suatu organisasi sehingga dapat dikatakan bahwa sukses atau kegagalan yang dialami sebagian besar ditentukan oleh kualitas kepemimpinan yang dimiliki oleh orang-orang yang diserahi tugas memimpin organisasi itu. Dalam Islam perilaku seorang pemimpin dalam kepemimpinya sangat menentukan mau dibawa kemana arah dari kepemimpinya. Bermacamnya krakter dan watak orang yang dipimpin, maka seorang pemimpin harus bijak dalam mengambil keputusan dalam rangka mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan. Seorang pemimpin harus bijaksana dalam menghadapi segala sesuatu yang terdapat dalam organisasi, sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi:

äí÷Š$# 4’n<Î) È@‹Î6y™ y7În/u‘ ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9ω»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }‘Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u‘ uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#‹Î6y™ ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïωtGôgßJø9$$Î/

Artinya:

“Serulah kejalan Tuhanmu dengan hikmah dan peringatan yang baik. Dan bantahlah mereka dengan (bantahan) yang lebih baik. Sungguh, Tuhanmu, ialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan ialah yang lebih mengetahui orang yang mendapat bimbingan. (QS. an-Nahl: 125)

 

Nawawi (1994:82), mengatakan bahwa kepemimpinan pendidikan adalah proses menggerakkan, mempengaruhi, memberikan motivasi, dan mengarahkan orang-orang di dalam organisasi atau lembaga pendidikan tertentu untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya. Untuk mewujudkan tugas terebut, setiap pimpinan pendidikan harus mampu bekerja sama dengan orang-orang yang dipimpinnya untuk memberikan motivasi agar melakukan pekerjaannya secara ikhlas. Dengan demikian, seorang pemimpin pendidikan harus memiliki jiwa kepemimpinan dalam mengembangkan sumber daya manusia lembaga pendidikan. Dari beberapa pendapat tersebut di atas, tentang pengertian kepemimpinan pendidikan, maka dapat penulis simpulkan bahwa yang dimaksud dengan kepemimpinan pendidikan adalah kemampuan seseorang dalam mempengaruhi, mengkoordinir, menggerakkan, memberikan motivasi dan mengarahkan orang-orang dalam lembaga pendidikan agar pelaksanaan pendidikan dapat lebih efisien dan efektif dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang telah dirumuskan.

Setelah membahas tentang kepemimpinan pendidikan Islam, sebagaimana telah penulis jelaskan di atas, kemudian penulis mencoba menjelaskan hubungan kepemimpinan, manajemen, administrasi dan organisasi pendididkan. Dalam pengembangan dan pengelolaan lembaga pendidikan Islam, maka unsur-unsur atau komponen-komponen yang ikut andil dalam mempengaruhi tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya, karena satu sama lain saling berhubungan dan berkaitan dalam memaju lembaga pendidikan. Komponen-komponen tersebut antara lain, kepemimpinan, manajemen, administrasi dan organisasi. Empat komponen ini, dalam pandangan penulis, saling berhubungan dalam mengembangkan lembaga pendidikan terutama pengembangan sumber daya manusainya. Misalnya kita ambil contoh, Universitas Islam Negeri Maliki Malang (UIN Maliki Malang), lembaga ini tidak akan bias berkembang dengan baik sesuai dengan visi dan misi dari lembaga tersebut tanpa memiliki kepemimpinan yang bagus. Kepemimpinan merupakan penggerak dari organisasi untuk mengembangkan organisasi yang lebih unggul sesuai dengan visi dan misa yang telah disusun. Sedangkan manajemen dan administrasi, merupakan salah satu sarana untuk mengelola oraganisasi dengan baik. Tanpa adanya manajemen dan administrasi yang bagus dan kuat, maka lembaga akan sulit untuk berkembang dan maju. Dalam sebuah organisasi, apabila telah memiliki manajemen dan administrasi yang bagus, tidak akan bias mengantarkan organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan tanpa dipimpin oleh pemimpin yang baik pula. Organisasi yang baik adalah organisasi yang memliki pemimpin, manajemen dan admninistrasi yang baik pula, tanpa itu organisasi tidak akan bias maju dengan baik.

Visi dan misi sekolah merupakan unsur utama dalam organisasi, yang akan menggerakkan ke mana sekolah akan memusatkan segala aktivitasnya. Sekalipun visi sangat bersifat abstrak dalam bentuk suatu harapan dan nilai yang akan dicapai organisasi, tetapi mampu mewarnai kultur dan iklim organisasi. Sehingga sekolah yang mempunyai visi organisasi yang jelas akan mampu untuk merencanakan serangkaian aktivitas organisasi menuju tercapainya visi tersebut.[1] Visi sekolah sebagai pengemban visi pendidikan hendaknya memberikan warna yang kuat pada sekolah agar semua kativitas pendidikan untuk meningkatkan kualitas sekolah dan siswa. Sehingga upaya-upaya proses manajemen dalam sekolah baik yang menyangkut efesiensi dan efektifitas tidak mengurangi arti penting pelaksanaan pendidikan, utamanya bagi peningkatan kualitas pengajaran dan pembelajaran yang akhirnya akan bermuara pada peningkatan mutu pendidikan.

Visi, misi, core beliefs, core values dan tujuan sekolah yang baiktentunya akan menumbuhkan komitmen semua anggota organisasi terhadap sekolah itu sendiri. Sikap seperti ini tentunya akan diharapkan dapat menciptakan iklim dan budaya sekolah yang positif bagi pertumbuhan sekolah. Untuk itulah bahwa visi, misi, core beliefs, core values dan tujuan sekolah yang mempunyai karakteristik meliputi: menantang, mudah diingat, dapat menggerakan organisasi, mobilisasi kebutuhan, dapat diterjemahkan sebagai arah aktivitas sehari-hari, berkaitan dengan kebutuhan siswa. Apabila lima komponen tersebut yang baik, maka akan dapat menciptakan iklim organisasi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan sekolah. Hubungan antara visi, misi, core beliefs, core values dan tujuan sekolah memiliki hubungan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Apbila visi, misi, core beliefs dan core values yang baik akan menghasilkan tujuan sekolah yang baik pula, sehingga semua komponen tersebut saling berhubungan dalam mencapai tujuan sekolah yang telah ditetapkan. Namun, dari lima komponen tersebut, keberadaan visi suatu organisasi sangat menentukan kemana arah dari organisasi tersebut. Visi merupakan penggerak dari organisasi dalam mencapai tujuan sekolah. Dengan demikian, dapat penulis simpulkan bahwa hubungan antara visi, misi, core beliefs, core values dan tujuan sekolah tidak bisa dipisahkan karena semua itu merupakan penggerak dalam rangka untuk mencapai tujuan sekolah yang telah ditetapkan yang tertuang dalam visi dan misi sekolah.

Tatkla seseorang berposisi sebagai manager lembaga pendidikan Islam, sudah barang tentu di benaknya tergambar bahwa tugas yang harus diemban adalah memajukan lembaganya, dengan cara menggerakkan seluruh potensi yang ada guna mencapai tujuan yang dinginkan.[2] Pemimpin perlu menciptakan strategi yang tepat dan didukung dengan tim yang kuat agar dapat mencapai target yang diinginkan, selain itu perlu direncanakan dengan baik bagaimana cara melakukannya dan karena nantinya bisa saja sesuatu yang telah direncanakan dan dilaksanakan dengan baik, namun jika gagal dalam mengendalikan emosinya tidak mustahil akan gagal pula dalam bekerja, sehingga tujuan yang dikehendaki tidak tercapai.[3] Jika mengacu pada pernyataan Ralph Waldo Emerson mengatakan “Setiap institusi besar adalah perpanjangan bayangan-bayangan seorang individu. Karakternya menentukan karakter organisasi”. Berdasarkan pernyataan Ralph Waldo Emerson tersebut mengindikasikan bahwa berkembang dan majunya suatu organisasi sangat tergantung pada kepribadian pemimpinya. Sentuhan tangan dingin seorang pemimpin sangat menentukan terhadap perkembangan organisasinya. Seorang pemimpin harus memiliki jiwa kepemimpinan dan seni mempengaruhi orang lain dalam rangka untuk menggerakkan dan maju oragnisasi. Sorang pemimpin mempunyai peran aktif dalam meningkatkan kualitas organisasinya sehingga ia diharuskan memiliki kemampuan leadership yang baik sebab, kepemimpinan yang baik dalam organisasi adalah yang mampu dan dapat mengelola semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan organisasi baik dari sisi proses pengelolaan maupun pengembangan sumber daya manusia. Jauh sebelum Ralph Waldo Emerson, Rasulullah Muhammad saw telah mempratikan hal tersbut kepada para sahabatnya tatkala beliau membangun kota Madinah. Sebuah organisasi tidak akan berubah, tidak akan maju dan berkembang jika seorang pemimpinnya tidak mau merubah dan memajukan organisasi tersebut. Hal ini jauh sebelum pernyataan Ralph Waldo Emerson di atas, Allah SWT telah menjelaskan dalam firman-Nya yang berbunyi:

3 žcÎ) ©!$# Ÿw çŽÉitóム$tB BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr’Î/ 3 !#sŒÎ)ur yŠ#u‘r& ª!$# 5Qöqs)Î/ #[äþqߙ Ÿxsù ¨ŠttB ¼çms9 4 $tBur Oßgs9 `ÏiB ¾ÏmÏRrߊ `ÏB @A#ur

Artinya:

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. Ar-Ra’du: 11)

Ayat ini menjelakan kepada kita bahwa berkembang dan maju suatu organisasi sangat tergantung dengan pemimpinnya untuk merubah keadaan yang ada pada organisasi tersebut. Misalnya, penulis contohkan UIN Maliki Malang dari IAIN Cabang Tarbiyah Malang berubah menjadi Universita Islam Negeri Maliki Malang merupakan suatu hal yang luar biasa yang dilakukan oleh pemimpinnya untuk berubah. Mungkin apa yang dilakukan oleh Rektor UIN Maliki Malang Prof. Dr. H. Imam Suprayogo adalah mengamalkan dari firman Allah SWT tersebut. Sehingga perkembangan UIN Maliki Malang sangat identik dengan kepemimpinan Prof. Dr. H. Imam Suprayogo selaku Rektor. Dengan demikian, penulis tidak heran apa yang telah diungkapkan oleh Ralph Waldo Emerson tersebut. Oleh karena itu, dapat penulis simpulkan bahwa maju tidaknya suatu organisasi/lembaga pendidikan tergatung dengan pemimpinnya untuk mau melakukan perubahan.

Kepemimpinan diartikan sebagai kemampuan dan keterampilam seseorang yang menduduki jabatan sebagai pemimpin satuan kerja untuk mempengaruhi perilaku orang lain, terutama bawahannya, untuk berpikir dan bertindak sedemikian rupa sehingga melalui yang positif ia memberikan sumbangan nyata dalam pencapaian tujuan organisasi.[4] Kepemimpinan merupakan perilaku untuk mempengaruhi individu atau kelompok untuk melakukan sesuatu dalam rangka tercapainya tujuan organisasi. Penerapan model kepemimpinan yang dilakukan oleh pemimpin suatu lembaga pendidikan sangat mempengaruhi perkembangan dan kemajuan lembaga tersebut. Universitas Islam Negeri (UIN) Maliki Malang misalnya, maju dan berkembang seperti sekarang ini tidak lepas dari peran dan strategi yang dilakukan oleh pemimpinnya baik itu Rektor, Dekan Fakultas maun Ketua jurusan sangat mempengaruhi terhadap kemajuan lembaga UIN Maliki Malang sekarang ini.

Kepemimpinan Kharismatik

Nilai-nilai kepribadian yang memiliki standar kepemimpinan dalam diri seorang pemimpin merupakan kunci kesuksesan dan keberhasilan dalam lembaga yang bersangkutan. Keberhasilan dan kesuksesan suatu lembaga, organisasi,  baik itu dalam tatanan non birokrasi maupun dalam taraf birokrasi, adalah sangat tergantung kepada kepribadian seorang pemimpin itu sendiri. Kepribadian yang cukup signifikan dalam diri seorang pemimpin dalam menyukseskan kepemimpinannya adalah kepribadian yang mampu tampil sebagai sosok yang memiliki nilai-nilai yang cukup luar biasa, kepribadian yang memiliki kelebihan baik secara psikis maupun mental, kepribadian yang memiliki aura yang mampu menghipnotis pengikutnya ataupun bawahannya sehingga setiap perintah, suruhan, peringatan selalu dituruti yang kadangkala tanpa memperhatikan rasionalitas dari perintah itu Model kepribadian seperti itu adalah merupakan tipologi kepemimpinan yang kharismatik.

Sebuah kepemimpinan yang memiliki aura yang luar biasa, kepemimpinan yang mampu melaksanakan tugasnya  dengan baik, yang dalam dirinya terkandung jiwa yang hebat, memiliki kewibawaan yang ditakuti dan popularitas yang disegani. Kepemimpinan seperti ini, merupakan ujung tombak dan titik pangkal bagi para pengikut dan bawahannya, mereka akan melaksanakan segala sasuatu tanpa pamrih, penuh semangat dengan keuletan yang tinggi serta dedikasi yang mantap. Jika kita mengambil contoh kepemimpinan yang memiliki kharisma seperti ini, maka Nabi Muhammad saw adalah contoh seorang pemimpin kharismatik yang ideal sepanjang zaman dan merupakan uswatun hasanah bagi semua pemimpin yang ada sekarang ini, sebagaimana Allah SWT jelaskan dalam Firman-Nya yang berbunyi:

ô‰s)©9 tb%x. öNä3s9 ’Îû ÉAqߙu‘ «!$# îouqó™é& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöqu‹ø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx.

Artinya:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah (QS. Al-Ahzab: 21)

Dalam ayat  tersebut, dapat penulis jelaskan bahwa  kepemimpinan kharismatik yang diterapkan oleh Rasulullah saw dalam mendakwakan Islam memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan dan kemajuan Islam zaman itu hingga sampai sekarang. Kepemimpinan kharismati inilah yang kemudian diimplemetasikan oleh pengembangan UIN Maliki Malang oleh para pemimpinnya banyak berpedoman pada kepribadian dan kepemimpinan Rasulullah saw. Conger dan Kanungo ( 1987 ) menyatakan bahwa kepemimpinan kharismatik pada hakekatnya berdasar pada asumsi, bahwa kharisma merupakan sebuah fenomena yang berhubungan dengan Atribusional, jadi menurut teori ini atribusi dari pengikut dari kwalitas kharismatik bagi seorang pemimpin adalah ditentukan oleh perilaku, keterampilan pimpinannya dan aspek siatuasi. Atribusi pengikut dari charisma seorang pemimpin hanya bergantung kepada beberapa bagian perilaku pemimpin sehingga atribusi itu bergantung sampai pada batas-batas situasi kepemimpinannya yang dalam kepemimpinannya tidak mendukung status Quo.[5]

Dari penjelasan tersebut dapat penulis simpulkan bahwa, seorang pemimpin pada hakekatnya adalah merupakan agen perubahan yang terpenting dan diantara upaya untuk menggapai itu semua adalah dengan menerapkan kepemimpinan kharismatik. Dalam Islam, Kepemimpinan Kharismatik ( Spiritual Leadership ) di artikan sebagai kepemimpinan yang sangat menjaga nilai-nilai etis, nilai moral yang luhur serta menjaga nilai-nilai spiritual yang ada dibalik posisinya sebagai pemimpin. Pemimpin macam ini melakukan aktifitasnya benar-benar hanya memuaskan hati pengikutnya  melalui pemberdayaan, memulihkan, menguntungkan dan juga tidak hanya mampu memberikan keuntungan  finansial saja, akan tetapi hati, jiwa,  mereka juga dihibur sehingga termotivasi dengan pekerjaan yang efektif, efisien dan produktif

Kepemimpinan Visioner

Kepemimpinan visioner merupakan kepemimpinan yang memberikan partisipasi guru, siswa, dan orang tua secara bersama-sama untuk untuk memajukan lembaga pendidikan/sekolah. Berkaitan dengan fungsi kepala sekolah sebagai administrasi pendidikan, pimpinan pendidikan dan supervisor pendidikan. Untuk itulah peran kepemimpinan kepala sekolah akan mengarah pada pengelolaan aspek manejerial pendidikan yang berkaitan dengan kesejahteraan guru dan karyawan, fasilitas pembelajaran dan pendukung pendidikan lainnya. Ini artinya bahwa kepala sekolah harus mampu mengakomodasi semua pihak yang memungkinkan akan membantu atau mendukung bagi tercapainya kualitas pendidikan. Maka untuk melakukan hal tersebut, dibutuhkan tipe kepemimpinan visioner. Dimana kepemimpinan kepala sekolah mampu membangun visi sekolah yang berwawasan pendidikan dengan memberikan keterlibatan semua komponen sekolah dalam mencapai visi organisasi yang diharapkan. Karakteristik kepemimpinan visioner akan membangun organsasi yang berwawasan masa depan dengan landasan dasar pada artikulasi visi dan misi dalam budaya organisasi.

Kepemimpinan Transformasional dan Cultural

Transformasional para pemimpin merangsang para pengikut untuk mampu berinovasi dan kreaktif, keluar dari permasalahan pelik dan mendekati situasi dalam menemukan jalan baru. Bass (1998) dan Avolio (1999) menetapkan bahwa kepemimpinan transformasional dan cultural membentuk basis suatu sistem kepemimpinan yang mendukung.[6] Karakteristik-karakteristik kepemimpinan transformasional dan cultural antara lain yaitu:[7]

  1. Karisma: memberikan visi dan rasa misi, menanamkan kebanggaan, memperoleh respek dan kepercayaan.
  2. Inspirasi: mengkomunikasikan harapan yang tinggi, menggunakan lambang-lambang untuk mempokuskan upaya, mengungkapkan maksud-maksud penting dalam cara yang sederhana.
  3. Rangsangan Intelektual: menggalakkan kecerdasan, rasionalitas, dan pemecahan masalah yang teliti.
  4. Pertimbangan yang diindividualkan: memberikan perhatian pribadi, memperlakukan setiap orang secara indinidual, melatih dan menasehati.

Kepemimpinan Partisipatif dan Pendelegasian

Kepemimpinan yang partisipatif memberikan ruang peran secara bermakna pada para bawahan (guru dan staf) dalam menjalankan aktivitas lembaga serta proses pengambilan keputusan.  Keputusan partisipatif tidak bersifat sepihak, karena keputusan itu timbul dari upaya konsultasi dengan para guru dan pegawai serta keikut sertaan mereka. Dalam hal ini, pemimpin menghargai masukan berguna yang diberikan oleh para guru dan bukan tidak mungkin masukan mereka dijadikan landasan penentuan keputusan. Ada beberapa unsur penting dan tidak mungkin dipisahkan yang membentuk kepemimpinan partisipatif. Beberapa unsur penting tersebut adalah konsultasi, pengambilan keputusan bersama, pembagian kekuasaan, desentralisasi, serta manajemen yang bersifat demokratis. Kepemimpinan partisipatif (particivative leadership) adalah suatu kepemimpinan yang memberikan seperangkat aturan untuk menentukan ragam dan banyaknya pengambilan keputuan partisipatif dalam situasi-situasi yang berlainan. Kepemimpinan partisipatif memberikan suatu perangkat urutan aturan yang seharusnya diiukuti untuk menentukan ragam dan banyaknya partisipatif yang diinginkan dalam pengambilan keputusan.[8]

Dengan demikian, dapat penulis simpulkan bahwa penerapan tipe kepemimpinan dalam lembaga Universitas Islam Negeri (UIN) Malik Malang yang cocok adalah tipe kepemimpinan kharismatik dan kepemimpinan visioner sebab sesok seorang pemimpin harus memilki karisma atau suri tauladan dan uswah hasanah dalam memimpin lembaganya. Kepemimpinan kharismatik akan berjalan dengan baik apabila seorang pemimpin juga memiliki jiwa visioner kedepan untuk memajukan lembaga yang dipimpinnya. Kepemimpinan kharismati dan visioner inilah yang terdapa pada diri Rasulullah Muhammad saw dalam memimpin negara dan memimpin umat manusia. Pemeberian teladan yang baik, pada zaman modern ini sangat dibutuhkan demi memajukan dan mengembangkan lembaga yang dipimpin. Hal sebagaiman telah Allah SWT  jelaskan dalam firman-Nya yang berbunyi:

ô‰s)©9 tb%x. öNä3s9 ’Îû ÉAqߙu‘ «!$# îouqó™é& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöqu‹ø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx.

Artinya:

Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. al-Ahzab: 21)

Kepemimpinan muncul bersama-sama adanya peradapan manusia; yaitu sejak nenek moyang manusia itu berkumpul bersama, bekerja bersama-sama untuk mempertahankan eksistensi hidupnya menantang kebuasan binatang dan alam disekitarnya. Sejak itulah terjadi kerjasama antar-manusia dan ada unsur kepemimpinan. Pada saat itu, yang ditunjuk sebagai pemimpin ialah orang-orang yang paling kuat, paling cerdas, dan paling berani. [9]

Pemimpin memiliki peran yang dominan dalam suatu masyarakat, peranan yang dominan tersebut dapat mempengaruhi moral, keamanan, kualitas kehidupan dan terutama tingkat prestasi suatu organisasi. Sebagaimana dikatakan Hani Handoko bahwa pemimpin juga memainkan peranan kritis dalam membantu kelompok organisasi, atau masyarakat untuk mencapai tujuan mereka.[10]

Secara bahasa makna kepemimpinan itu ialah kekuatan dan kualitas seorang pemimpim dalam mengarahkan apa yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan. Seperti halnya menejemen, kepemimpinan atau leadership telah banyak di definisikan oleh banyak para ahli diantaranya adalah Stooner mengemukakan bahwa kepemimpinan menejerial dapat di definisikan sebagai suatu proses mengarahkan pemberian pengaruh kepada kegiatan-kegiatan dari sekelompok anggota yang selain berhubungan dengan tugasnya.

Disinilah peranan pemimpin berpengaruh besar dalam pembentukan prilaku bawahan. Menurut Handoko kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar mencapai tujuan dan sasaran.[11]

Dari beberapa definisi diatas dapat ditarik kesimpulan: bahwa seorang pemimpin adalah pribadi yang memiliki kecakapan khusus, dengan atau tanpa pengangkatan resmi dapat mempengaruhi kelompok yang dipimpinya, untuk melakukan usaha bersama mengarah pada pencapaian sasaran-sasaran tertentu.[12]

Sejarah dan sebab munculnya pemimpin

Kepemimpinan muncul sejak nenek moyang manusia berkumpul bersama, berkerja bersama-sama untuk mempertahankan eksistensi hidupnya. Sejak itulah terjadi kerjasama antar-manusia dan ada unsur kepemimpinan. Pada saat itu, yang ditunjuk sebagai pemimpin ialah orang-orang yang paling kuat, paling cerdas dan paling berani.

Tentang sebab-musabab munculnya pemimpin, ada tiga teori yang menjelaskan kemunculan pemimpin ialah:[13]

1.  Teori genetik menyatakan:

a)  Pemimpin itu tidak dibuat, akan tetapi lahir jadi pemimpin oleh bakat-bakatnya yang luar biasa sejak lahirnya.

b) Dia ditakdirkan lahir jadi pemimpin, dalam situasi-kondisi yang bagaimanapun juga.

c) Secara filsafi, teori tersebut menganut pandangan yang deterministik dan fatalistik.

2.  Teori sosial (lawan teori genetik) menyatakan:

a)  Pemimpin-pemimpin itu harus disiapkan dan dibentuk, tidak terlahrkan saja.

b) Setiap orang bisa jadi pemimpin, melalui usaha panyiapan a pendidikan.

3. Teori ekologi (muncul sebagai reaksi dari kedua teori tersebut) menyatakan:

a)  seorang akan sukses menjadi pemimpin, bila sejak lahirnya dia telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan, dan bakat-bakat ini sempat dikembangkan melalui pengalaman dan usaha pendidikan, juga sesuai dengan tuntunan lingkungan/ekologisnya.

Tipe dan gaya kepemimpinan

Banyak studi dilakukan orang mengenai kepemimpinan, dan hasilnya berupa macam-macam teori tentang kepemimpinan. Teori-teori yang dihasilkan menunjukkan perbedaan dalam: 1) pendapat dan urainya, 2) methodologinya, 3) interpretasi yang diberikan, 4) kesimpulan yang ditarik. Setiap teoritikus mempunyai segi penekananya sendiri, dipandang dari satu aspek tertentu; dan para penganutnya berkeyakinan bahwa teori itulah yang paling benar dan paling tepat.

Dalam kegiatan menggerakkan atau memberi motivasi orang lain agar melakukan  tindakan-tindakan yang selalu terarah pada pencapain tujuan organisasi. Cara itu mencerminkan sikap dan pandangan pemimpin terhadap orang yang dipimpinnya, yang memberikan gambaran pula tentang bentuk (tipe) kepemimpinan yang dijalankanya. Secara teoritis bentuk kepemimpinan itu adalah:

1 tipe otokratis. Otokrat berasal dari autos = sendiri; dan kratos = kekuasaan, kekuatan.jadi otokrat berarti: penguasa absolut. Kepemimpinan dan paksaan yang selalu yang selalu harus dipatuhi. Pemimpinnya selalu mau berperan sebagai ”pemain tunggal” pada ”a one-man show”. Bentuk kepemimpinan ini adalah yang paling banyak dikenal tergolong yang paling tua. Kepemimpinan ini menempatkan kekuasaan di tangan seseorang atau sekelompok kecil orang yang disebut atasan sebagai penguasa. Sejumlah orang lain yang dipimpin jumlahnya lebih banyak disebut bawahan yang kedudukanya tidak lebih daripada pelaksana kehendak atau keputusan atasan. Pihak atasan memandang dirinya lebih dalam segala hal dibandingkan dengan pihak bawahan yang kualitas kemampuanya dipandang jauh di bawah kemampuan atasanya. Pihak atasan bertindak sebagai penguasa atau penentu yang tidak dapat dibantah dan orang lain harus tunduk pada kekuasaanya dengan mempergunakan ancaman dan hukuman sebagai alat dalam menjalankan kepemimpinanya.[14] Cara memimpin yang dikembangkan disebut ”working on his group” kegiatan hanya melaksanakan perintah atasan. Bawahan tidak diberi kesempatan untuk berinisiatif dan mengeluarkan pendapat-pendapatnya. Kreativitas dalam bekerja dipadang sebagai penyimpangan. Keputusan atasan dipandang sebagai sesuatu yang terbaik, oleh karena itu harus dilaksanakan tanpa komentar dan pertanyaan-pertanyaan. Pelaksanaan yang tidak sesuai instruksi dianggap sebagai penyelewengan, walaupun bersifat perbaikan yang mengakibatkan kesempurnaan kerja.kesalahan itu tidak boleh tidak harus dijatuhi sanksi, dengan maksud agar tidak diulangi atau terjadi lagi. Hanya atasan yang boleh berfikir tentang kegiatan yang akan dilaksanakan, yang pada giliranyaditetapkan sebagai keputusan sebagai hak monopoli dari atasan.[15]

2. Tipe Paternalistik dan maternalistik Yaitu tipe kepemimpinan yang kebapakan, dengan sifat-sifat antara lain sebagai berikut:

a)      dia mengangap bawahanya sebagai manusia yang tidak/belum dewasa.

b)      dia bersikap terlalu melindungi (over protective)

c)      dia jarang memberikan kesempatan kepada bawahanya untuk mengambil keputusan sendiri.

d)      Dia tidak pernah memberikan kesempatan kepada bawahanya untuk berinisiatif.

e)      Selalu bersikap maha tahu dan maha-benar.

Tipe kepemimpinan yang maternalistis juga mirip dengan tipe yang paternalistik, hanya dengan perbedaan: adanya sikapnover-protektif atau terlalu melindungi yang lebih menonjol, dan disertai kasih sayang belebih-lebihan.[16]

3. Tipe meliteristis. Bahwa tipe kemimpinan militeristik itu berbeda sekali dengan seorang pemimpin organisasi militer. Adapun sifat-sifat pemimpin yang miletistik antara lian ialah:

a)      lebih banyak menggunakan sistem perintah atau komando terhadap bawahanya.

b)      Menghendaki kepatuhan muthlak dari bawahanya.

c)      Menuntut adanya disiplin keras dan kaku dari bawahanya

d)      Tidak menghendaki saran-saran dan kritikan-kritikan dari bawahanya.

4. tipre kharismatik. Tipe ini memiliki daya tarik dan pembawa yang luar biasa, sehingga ia mempunyai pengikut yang jumlahnyya sangat besar. Sampai sekarangpun orang tidak mengetahui sebab-sebabnya, mengapa seseorang itu memiliki kharisma begitu beesar. Dia dianggap mempunyai kekuatan ghaib dan kemampuan-kemampuan yang superhuman, yang diperoleh dari kekuatan yang maha kuasa, totalitas kepribadian pemimpin itu memancarkan pengaruh dan daya tarik yang teramat besar. Tokoh-tokoh besar semacam itu antara lain: jengis khan, gandhi, soekarno, dll.

5. Tipe laisser faire. Dalam tipe kepemimpina ini sebenarnya pemimpin tidak memberikan pimpinan. Tipe ini diartikan sebagai membiarkan orang-orang berbuat sekehendaknya. Pemimpin sama sekali tidak memberikan kontrol dan koreksi terhadap pekerjaan anggota-anggotanya, kelompok tanpa petunjuk atau saran-saran dari pimpinan. Kekuasaan dan tanggung jawab bersimpang-siur, berserakan di antara anggota-anggota kelompok, tidak merata. Dengan demikian, mudah terjadi kekacauandan benterokan-benterokan. Tingkat keberhasilan organisasi atau lermbaga yang dipimpin dengan gaya laisser faire semata-mata disebabkan karena kesadaran dan dedikasi beberapa anggota kelompok, dan bukan karena pengaruh dari pemimpinnya.[17] Di dalam tipe kepemimpina ini, biasanya stluktur organisasinya tidak jelas dsan kabur. Segala kegiatan dilakukan tanpa rencana yang terarah dan tanpa pengawasan dari pimpinan.

6. Tipe populistik. Kepemimpinan yang dapat membangun solidaritas rakkyat, misalnya sukarno dengan ideologi marhaenismenya, yang menekankan maslah kesatuan nasional, nasionalisme dan sikap yang yang berhati-hati terhadap penindasandan penguasaan kekuatan asing. Kepemimpinan populistik ini berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat yang tradisional, lebih banyak dan kurang mempercayai bantuan serta dukungan kekuatan luar negeri. Kepemimpinan jenis ini mengutamakan penghidupan nasionalisme.

  1. Tipe administratif. Kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan administratif yang efektif. Sedang para pemimpinya terdiri dari pribadi-pribadi yang mampu mmenggerakkan dinamika modernisasi dan pembangunan. Dan denagan demikian dapat dibangun sistem administratif dan birokrasiyang efiisisen untuk memerintah, khususnya untuk memantapkan integritas bangsa pada khususnya dan usaha-usaha pembangunan pada umumnyya. Dengan kepemimpinan administratif ini diharapkan adanya perkembangan teknis yaitu tehnologi, industri dan management modern dan perkembangan sosial ditengan masyarakat.
  2. Tipe demokratis. Bentuk kepemimpinan ini menempatkan manusia sebagai faktor utama dan terpenting. Hubungan antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpin diwujudkan dalam bentuk human relatiionship yang didasari prinsip saling menghargai dan saling menghormati. Kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinanyang aktif, dinamis dan terarah yang berusaha memanfaatkan setiap orang untuk kepentingan kemajuan dan perkembangan organisasi. Saran-saran, pendappat-pendapat dan kritik-kritik setiap anggota disalurkan dengan sebaik-baiknya dan diusahakan memanfaatkanya bagi pertumbuhan dan kemajuan organisasi sebagai perwujutan tanggung jawab bersama.


[1] Jurnal el-Harakah, Penguatan Organisasi Sekolah Melalui Pendekatan Terpadu, Malang: Fakultas Tarbiyah  UIN-Malang, 2003 Edisi 59, hlm. 30

[2] Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, Pendidikan Berbaradigma al-Qur’an, Malang: Aditya Media-UIN-Malang Press, 2004, hlm. 153

[3] Prof. Dr. H. Veithzal Rivai, Ir. H. Arviyan Arifin, Islamic Leadership, Membangun SuperLeadership Melalui Keceerdasan Spritual, Jakarta: Bumi Askara, 2009, hlm. 26

[4] Prof. Dr. H. Veithzal Rivai, Dr. Hj. Sylviana Murni, Education Management, Analisis Teori dan Praktik, Jakarta: Rajawali Press, 2009, hlm 745

[5] Gary Yukl, Kepemimpinan Dalam Organisasi, Leadership In Oragnization, Jakarta: PT. Indeks, 2009, hlm. 290

[6]  Prof. Dr. H. Veithzal Rivai, Dr. Hj. Sylviana Murni, Education Management, Analisis Teori dan Praktik, Jakarta: Rajawali Press, 2009, hlm 278

[7] Prof. Dr. H. Veithzal Rivai, Ir. H. Arviyan Arifin, Islamic Leadership, Membangun SuperLeadership Melalui Keceerdasan Spritual, Jakarta: Bumi Askara, 2009, hlm. 125-126

[8]  Prof. Dr. H. Veithzal Rivai, Ir. H. Arviyan Arifin, Islamic Leadership, Membangun SuperLeadership Melalui Keceerdasan Spritual, Jakarta: Bumi Askara, 2009, hlm. 123

[9] Kartini Kartono,  1983. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: C.V. Rajawali, hal. 28

[10] Hani Handoko,  1999. Menejemen. Edisi Ke-2, hal. 293

[11] Ibid, hal. 294

[12] Kartini Kartono,  Op.cit, hal. 35

[13] Ibid, hlm. 29

[14] Hadari. Nawawi, 1985, Administrasi Pendidikan, Jakarta: PT Gunung Agung, hlm. 92

7 Ibid.

[16] Kartini. Kartono, Opcit, hlm. 52

[17] Ngalim.Purwanto, 2006, administrasi dan supervisi pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, hlm. 49

MANAJEMEN KURIKULUM & PEMBELAJARAN

Posted in Uncategorized on Mei 23, 2011 by mghazakusairi

M. Ghaza Kusairi

(Mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Malang, Jurusan Manajemen Pendidikan Islam)

Kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan manusia, maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan yang kuat, yang didasarkan pada hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Penyusunan kurikulum yang tidak didasarkan pada landasan yang kuat dapat berakibat fatal terhadap kegagalan pendidikan itu sendiri. Dengan sendirinya akan berakibat pula terhadap kegagalan proses pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan mutu pendidikan di Indonesia. Berbicara pengembangan kurikulum tentu akan diikuti dengan strategi manajemen kurikulumnya yang melibatkan komponen-komponen pendidikan lainnya, baik pendidik dan tenaga kependidikan, pembelajaran, prasarana/sarana, peserta didik, lingkungan/konteks belajar, kerja sama kemitraan dengan institusi lain, maupun pembiayaan dan lain-lainnya. Mana yang perlu digarap lebih dahulu, bagi pengembang kurikulum, akan mendahulukan kurikulumnya, karena dengan demikian akan jelas ke mana arah pengembangan pendidikannya, seperti apa model pembelajarannya, pendidik dan tenaga kependidikan seperti apa yang dibutuhkan, seperti apa model penciptaan suasana akademiknya, demikian seterusnya.[1]

Jika kita berbicara tentang kurikulum, sebagaimana tertuang dalam penjelasan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, bahwa salah satu strategi pembangunan pendidikan nasional adalah pengembangan dan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi. Istilah kompeten digunakan untuk menggambarkan suatu tahap pencapaian keahlian, terutama kemampuan menggunakan pengetahuan, pemahaman dan kecakapan-kecakapan berpikir teoritis dan praktis serta kecakapan-kecakapan lainnya untuk melakukan tugas pekerjaan secara efektif sesuai dengan tuntutan standar pekerjaan tertentu. Seorang dikatakan kompoten jika ia telah mencapai standar tersebut. Adanya silabus dan RPP berarti kurikulum siap diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran, proses evaluasi (assesment) dan penciptaan suasana akademis (academic atmosphere). Namun demikian, yang patut dicermati ulang bahwa pada kebanyakan program studi ternyata masih mengalami kesulitan untuk memahami Keputusan Mendiknas Nomor 045/U/2002 tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi Pasal 2, bahwa: elemen-elemen kompetensi (utama, pedukung dan kompetensi lain), terdiri atas landasan kepribadian; penguasaan ilmu dan keterampilan; kemampuan berkarya; sikap dan perilaku dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan ilmu dan keterampilan yang dikuasai; pemahaman keidah kehidupan bermasyarakat sesuai dengan pilihan keahlian dalam berkarya. Elemen-elemen kompetensi tersebut kemudiandijadikan dasar untuk pengelompokan mata kuliah ke dalam: MPK (Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian), MKK (Mata Kuliah Keilmuan dan Keterampilan), MKB (Mata Kuliah keahlian Berkarya), MPB (Mata Kuliah Perilaku Berkarya), dan MBB (Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat). Pengelompokan tersebut mengacu pada the four pillars of education (learning to knom, learning to do, learning to be, learning to live together) yang dicanakan oleh UNISCO.[2] Mengenai masalah kurikulum senantiasa terdapat pendirian yang berbeda-beda, bahkan sering bertentangan. Ketidakpuasan dengan kurikulum yang berlaku adalah suatu yang biasa dan memberi dorongan mencari kurikulum baru. Akan tetapi mengajukan kurikulum yang ekstrim sering dilakukan dengan mengdiskreditkan kurikulum yang lama, pada hal kurikulum itu mengandung kebiakan, sedangkan kurikulum pasti tidak akan sempurna dan akan tampil kekurangannya setelah berjalan dalam beberapa waktu.[3] Pada awalnya pengembangan kurikulum banyak menggunakan konsep lama, dimana kurikulum dipandang hanya sebatas kumpulan isi mata pelajaran atau daftar materi pokok yang ditawarkan ke peserta didik dalam menyelesaikan suatu program belajar dalam satuan pendidikan tertentu. Namun, dengan otonomi pendidikan dan sejalan dengan tuntutan perubahan, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi serta tuntutan kemampuan daya saing dalam kehidupan manusia, pengembangan kurikulum tidak hanya dipandang sebatas deretan mata pelajaran yang harus dipelajari oleh peserta didik, tetapi memiliki makna atau pengertian yang lebih luas, yakni apa saja yang dialami oleh peserta didik atau segala upaya (rekayasa) yang diprogram sekolah/madrasah dalam membantu mengembangkan potensi peserta didik melalui pengalaman belajar yang potensial untuk mencapai visi, misi, tujuan dan hasil yang diinginkan oleh satuan pendidikan baik dilaksanakan di dalam maupun di luar lingkungan sekolah/madrasah.[4]

Berdasarkan beberapa konsep tersebut, maka berimplikasi terhadap pengembangan model dan pendekatan kurikulum yang akan dilaksanakan oleh satuan pendidikan. Model kurikulum merupakan wujud rancangan khusus yang mengambarkan struktur kurikulum yang akan dilaksanakan atau diimplementasikan oleh satuan pendidikan berdasarkan hasil analisis terhadap teori, pendekatan, prinsip dan kondisi internal dan eksternal pendidikan. KTSP yang sekarang sedangkan disosialisasikan untuk dapat diimplementasikan tersebut merupakan salah satu pilihan model kurikulum yang saat ini dipilih guna memenuhi tuntutan perubahan dan perkembangan IPTEK, kondisi pendidikan negara Indonesia saat ini. Dengan adanya otonomi daerah dalam pendidikan, maka daerah memiliki peran yang penting dan strategis dalam mengembangkan kurikulum kedepannya dalam satuan pendidikan tertentu. Pengembagan dan perubahan kurikulum yang gencar dilakukan saat ini dalam rangka untuk meningkat mutu pendidikan Indonesia yang berkualitas dan bermutu tinggi serta siap bersaing dengan era globalisasi saat ini terutama peserta didiknya atau sumber daya manusia (SDM)nya. Untuk mencapai mutu tersebut, maka pengembangan kurikulum mendapatkan perhatian khusus dalam pengembangan pendidikan Indonesia saat ini. Kurikulum merupakan suatu rencana pelaksanaan pembelajaran mengenai ini dan bahan pelajaran serta sekaligus sebagai pedoman pelaksanaan pendidikan dalam jenjang pendidikan tertentu si sekolah. Kurikulum memberikan arah dan pedoman yang jelas tentang proses pendidikan mulai dari tujuan, konsep dan arah pembelajaran yang dilakukan pada satuan pendidikan tertentu. Kurikulum yang baik secara jelas mencerminkan beberapa aspek penting seperi tujuan dan hakikat pendidikan, tujuan dan hakikat kurikulum, asumsi mengenai peserta didik, proses pendidikan dan pengajaran, visi penyusunan kurikulum, tuntutan dan kebutuhan pemakai jasa pendidikan.[5] Kondisi proses belajar dan pembelajaran di lembaga-lembaga pendidikan sampai saat ini relatif belum banyak mengalami perubahan, walaupun kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi dan informasi telah lama menyentuh dunia pendidikan. Seharunya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi dan informasi dapat dimanfaatkan untuk pengembangan pola belajar dan pembelajaran yang dapat mendorong proses belajar secara lebih cepat, dinamis, eksploratif, akseleratif, dan menyenangkan.[6] Dengan demikian, dapat penulis simpulkan bahwa pendidikan Indonesia saat ini membutuhkan adanya perubahan terutama dibidang pengembangan kurikulum dalam rangka mencapai pendidikan Indonesia yang bermutu. KTSP yang dikembangkan saat ini salah satu solusi untuk meningkat kualitas dan mutu pendidikan dan sumber daya manusia yang seutuhnya. Apabila kurikulum telah dikembangkan dengan baik, maka akan berpengaruh terhadap proses belajar dan pembelajaran pada satuan pendidikan. Karena pendidikan dan pembelajaran yang baik, akan dapat berfungsi sebagai pintu utama pengembangan dan peningkatan kualitas manusia dan mutu pendidikan pada era globalisasi sekarang ini. Perubahan kurikulum harus diantisipasi dan dipahami oleh berbagai pihak, karena kurikulum sebagai rancangan pembelajaran yang memiliki kedudukan yang sangat strategis, yang menentukan hasil pembelajaran secara keseluruhan, baik proses maupun hasil. Sekolah sebagai pelaksana pendidikan, baik kepala sekolah, guru maupun peserta didik sangat berkepentingan dan akan terkena dampak langsung dari setiap perubahan kurikulum.

Dengan bertambahnya tanggung jawab sekolah, timbulah berbagai macam definisi kurikulum, sehingga semakin sukar memastikan apakah sebenarnya kurikulum itu. Akhirnya setiap pendidik, setiap guru harus menentukan sendiri apakah kurikulum itu bagi dirinya. Pengertian yang dianut oleh sesorang akan mempengaruhi kegiatan belajar mengajar dalam kelas maupun di luar kelas. Di bawah ini dapat penulis berikan beberapa definisi kurikulum menurut beberapa ahli kurikulum:

  1. J. Galen Saylor dan William M. Alexandar, menjelaskan kurikulum adalah: The Curriculum is the sum total of school’s efforts to influence learning, whether in the classroom, on the playground, or out of school.[7] Jadi segala usaha sekolah untuk mempengaruhi anak belajar, apakah dalam ruangan kelas, di halaman sekolah atau di luar sekolah termasuk kurikulum. Kurikulum meliputi juga apa yang disebut kegiatan ekstra-kurikuler
  2. B. Othanel Smith, W.O. Stanley, dan J. Harlan Shores memandang kurikulum sebagai “a sequence of potential experiences set up in the school for the purpose of disciplining children and youth in group ways of thinking and acting”. Mereka melihat kurikulum sebagai sejumlah pengalaman yang secara potensial dapat diberikan kepada anak dan pemuda, agar mereka dapat berpikir dan berbuat dengan masyarakatnya.[8]
  3. Berdasarkan studi yang telah dilakukan oleh banyak ahli, dapat dikatakan bahwa pengertian kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus dtempuh murid untuk memperoleh ijazah. Pengertian ini mempunyai implikasi sebagai berikut:[9]

a)  Kurikulum terdiri atas sejumlah mata pelajaran. Mata pelajaran pada hakikatnya adalah pengalaman nenek moyang dimasa lampau. Berbagai pengalaman tersebut dipilih, dianalisis, serta disusun secara sistematis dan logis, sehingga muncul mata pelajaran seperti sejarah, ilmu bumi dan sebagainya.

b)  Mata pelajaran adalah sejumlah informasi atau pengetahuan, sehingga penyampaian mata pelajaran pada siswa akan membentuk mereka menjadi manusia yang mempunyai kecerdasan berfikir.

c)  Adanya aspek keharusan bagi siswa untuk mempelajari mata pelajaran sama. Akibatnya, faktor minat dan kebutuhan siswa tidak dipertimbangkan dalam penyusunan kurikulum.[10]

Ada beberapa pendekatan kurikulum dalam pembahasan dan penyusunan kurikulum. Pendekatan kurikulum tersebut antara lain, yaitu:

  1. Pendekatan Mata Pelajaran. Penddekatan mata pelajaran bertitik tolak dari mata pelajaran (subject matter) seperti Ilmu Bumi, Sejarah, Ekonomi, Biologi, Kimia dan lain sebaginya.
  2. Pendekatan Interdisipliner. Berbagai gejala sosial dan permasalahan yang ada dalam kehidupan sehari-hari ternyata tidak mungkin ditinjau hanya dari satu sisi saja.
  3. Pendekatan Integratif. Pendekatan integratif, yang juga dikenal dengan nama pendekatan terpadu, bertitik tolak dari suatu keseluruhan atau kesatuan yang bermakna dan terstruktur. Bermakna mempunyai arti bahwa setiap suatu keseluruhan tersebut, memiliki makna, arti, dan faedah tertentu.
  4. Pendekatan Sistem. Pendekatan sistem adalah suatu totalitas yang terdiri atas sejumlah komponen ata bagian. Komponen itu salaing berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain.[11]

Sedangkan yang dimaksud dengan pengembangan kurikulum adalah proses perencanaan kurikulum agar menghasilkan rencana kurikulum yang luas dan spesifik. Proses ini berhubungan dengan seleksi dan pengorganisasian berbagai komponen situasi belajar-mengajar, antara lain penetapan jadwal pengorganisasian kurikulum dan spesifikasi tujuan yang disarankan, mata pelajaran, kegiatan, sumber dan alat pengukur pengembangan kurikulum yang mengacu kepada kreasi sumber-sumber unit, rencana unit, dan garis pelajaran kurikulum ganda lainnya, untuk memudahkan proses belajar mengajara.[12]

Ada beberapa model kurikulum yang di butuhkan dalam pengembangan kurikulum PAI, antara lain yaitu:

  1. Kurikulum Humanistik. Berdasarkan kurikulum humanistik, fungsi kurikulum adalah menyiapkan peserta didik dengan berbagai pengalaman naluriah yang sangat berperan dalam perkembangan individu.
  2. Kurikulum Rekonstruksi Sosial. Kurikulum rekomstruksi sosial sangat memperhatikan hubungan kurikulum dengan sosial masyarakat dan politik perkembangan ekonomi.
  3. Kurikulum Teknologi. Di kalangan pendidikan, teknologi sudah dikenal dalam bentuk pembelajaran berbasis komputer, sistem pembelajaran individu, serta kaset atau vidio pembelajaran. Teknologi sangat membantu dalam menganalisis masalah kurikulum.

Kurikulum Akademik. Dari waktu ke waktu, para ahli akademik terus mencoba mengembangkan sebuah kurikulum yang akan melengkapi peserta didik untuk masuk ke dunia pengetahuan, dengan konsep dasar dan metode untuk mengamati, hubungan antara sesama, analisis data, dan penarikan kesimpulan. Mereka menginginkan peserta didik berlaku layaknya seorang ahli fisika, biologi, agama maupun saejarawan.

Sejak mulai diberlakukannya otonomi daerah semakin terlihat kelemahan pola lama manajemen pendidikan nasional sehingga manajemen pendidikan di Indonesia perlu segera dilakukan penyesuaian diri dari pola lama manajemen pendidikan menuju pola baru manajemen pendidikan masa depan yang lebih bernuansa otonomi dan yang lebih demokratis. Pasca reformasi, diberlakukan Kurikulum Bebasis Kompetensi  (kurikulum 2004) yang kemudian menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP merupakan kurikulum berbasis kompetensi yang dalam pelaksanaannya di sekolah/madrasah sangat mengandalkan kreativitas dan kemampuan guru. KTSP dirancang untuk menghadapi tantangan bangsa Indonesia pada masa yang akan datang.[13] Perubahan kurikulum mengisyaratkan bahwa pembelajaran bukan semata-mata tanggung jawab guru, tetapi merupakan tanggung jawab bersama antara guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah, bahkan komite sekolah dan dewan pendidikan. Oleh karena itu, pembinaan terhadap komponen-komponen tersebut merupakan tuntutan yang harus dipenuhi dalam perubahan kurikulum.[14]

Keberadaan sekolah-sekolah berbasis agama di Indonesia akhir-akhir ini terusik ketika pemerintah, dalam hal ini Depertemen Pendidikan Nasional, mengulirkan sebuah Rancangan Undang-Undangan Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), khususnya terhadap pelaksanaan pendidikan agama di sekolah beebrapa waktu lalu dan sekarang sudah menjadi bagian dai Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam RUU Sisdiknas secara tegas disebutkan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianut dan diajarkan oleh pendidik yang seagama di semua jenjang dan jenis pendidikan (RUU Ssisdiknas Pasal 13 ayat 1). Sebagai konsekuensi dari kebijakan ini, maka semua satuan atau jenjang pendidikan yang bebasis agama di Indonesia diwajibkan untuk memberikan pelajaran agama kepada semua peserta didik sesuai dengan agama yang dianutnya.[15]

Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, merupakan langkah awal menuju perubahan pada dunia pendidikan Indonesia terutama dalam meningkat mutu dan kualitas sumber daya manusia yang seutuhnya. Setelah diberlakukan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, kemudian diimplementasikan dalam PP. No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, ini merupakan suatu proses untuk meningkat mutu pendidikan Indonesia saat ini. Kemudina PP No. 19 Tahun 2005 tentang SNP dijabarkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas), terutama Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi (SI) dan Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kempetensi Lulusan (SKL), keduanya pada intinya menjlaskan tentang kurikulum yang dilaksanakan pada satuan pendidikan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang dilaksankan saat ini merupakan suatu perwujudkan dan kepedulian pemerintah terhadap pendidikan Indonesia saat ini, rendahnya mutu dan SDM Pendidikan, mendorong para pakar pendidikan untuk membuat kebijakan-kebijakan terutama dalam masalah pengembangan kurikulum pendidikan. Walaupun pelaksanaan KTSP belum berjalan sesuai dengan harapan, namun kita butuh proses untuk mewujudkan pendidikan Indonesia yang bermutu dan berkualitas serta siap saing di era galobalisasi dan teknologi sekarang ini. Untuk mengembangkan kurikulum yang baik, maka salah satu sektor yang perlu mendapatkan perhatian khusus oleh pemerintah adalah Sumber Daya Manusia pendidikan terutama pendidik/guru, karena guru merupakan aktor terpentig dalam dunia pendiidikan. Apabila pendidikan telah memiliki SDM yang berkulitas, maka akan berimplikasi terhadap pelaksanaan dan pengembangan kurikulum itu sendiri. Mana mungkin kurikulum bisa dikembangan dengan baik, apabila pada sektor SDM, disini adalah guru/pendidik masih rendah.

Salah satu solusi untuk mengembangan kurikulum PAI pada saat sekarang ini adalah memperbaiki sektor tenaga pendidik/guru, karena yang menjalankan dan aktor pertama dan utama pendidkan adalah guru. Bagaimana kurikulum PAI yang akan dikembangkan dan yang dubutuhkan oleh peserta didik sangat tergantung kepada guru, sebab gurulah yang sering berinteraksi dan berkomunikasi langsung dengan peserta didik. Bagaimana kurikulum yang harus dibutuhkan oleh peserta didik pada sekarang ini, maka gurulah yang lebih paham dan mengetahuinya. Agar kurikulum PAI yang dikembangkan benar-benar memperhatikan bakat dan minat peserta didik, maka dalam kebijakan penyusunan kurikulum guru harus dilibatkan secara langsung. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru merupakan salah satu solusi untuk meningkat mutu tenaga penddikan dan kependidikan terutama guru/pendidik. Namun kenyataan dilapangan, masih banyak pendidik/guru pendidikan kita yang belum memenuhi standar akademik sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Permendiknas No. 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Hal ini yang menyebabkan kendala terbesar dalam pengembangan kurikulum, terutama pengembangan kurikulum PAI. Dengan demikian, dalam pemikiran penulis, salah satu cara untuk mengembangan kurikulum PAI pada sekarang ini adalah meningkatkat mutu guru/pendidik. Tidak akan mungkin pengembangan kurikulum PAI berjalan dengan baik sesuai dengan harapan tantangan zaman, jika tenaga pendidikan dan kependidikan dalam hal adalah guru/pendidik masih rendah. Walaupun kebijakan tentang guru telah dikeluargan dan dilaksanakan, namun belum berjalan dengan baik, masih banyak permasalahan-permasalahan yang harus diselesaikan antara lain, masih banyak guru/pendidik kita yang belum memenuhi standar kualifikasi akademik terutama di daerah-daerah terpencil, ini merupakan tanggung jawab pemerintahan daerah karena berkaitan dengan otonomi pendidikan. Oleh karena itu, dapat penulis simpulkan, bahwa untuk mengembangkan kurikulum PAI yang lebih baik dan memenuhi kebutuhan peserta didik, maka sektor tenaga pendidik dan kependidikan (guru) harus ditingkat dan dikembangankan dengan lebih baik lagi. Kurikulum dan mutu pendidikan yang baik akan tercapai apabila dikelolah atau ditangan oleh SDM yang baik pula, tidak akan mungkin mutu pendidikan Indonesia akan lebih jika gurunya masih dibawah standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah (Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru)

Jauh sebelum lembaga pendidikan di Indonesia bekembang dan maju dengan pesat, pondok pesantren terlebih dahulu telah berkembangan, bahkan keberadaan pondok pesantern saat masih mampu bersaing dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi. Hal ini mengindikasikan bahwa kurikulum yang digunakan dan dikembangan cukup baik. Kurikulum yang dikembankan di pondok pesantren sangat memperhatikan minat dan bakat peserta didik terutama yang berkaitan dengan ranah kognitif, psikomotorik dan efektif. Pengembangan kurikulum pendidikan di pondok pesantren sangat memperhatikan perkembangan kecerdasan inteluktual, spritual, emaosional dan sosial peserta didik. Hal ini yang menyebabakan sampai saat ini pondok pesantren masih bisa betahan.

  1. Jika mengacu Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi (SI) dan Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL), kurikulum yang dikembangkan saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jauh sebelum KTSP dikemukan oleh Pemerintahan Republik Indonesia pada tahun 2006, pondok pesantren telah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tersebut. Hal ini dapat diliahat, bahwa pelaksanaan pendidikan yang dilakukan pesantren merupakan pendidikan yang mendiri, semua pelaksanaannya dilakukan oleh kebijakan pondok pesantren. Penerapan KTSP pada saat ini lebih cocok diterapkan di pondok pesantren dan madrasah jika dibandingkan dengan sekolah umum. Sebagaimana tertuang dalam penjelasan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, bahwa salah satu strategi pengembangan pendidikan nasional adalah pengembangan dan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi. Pondok Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan nasional yang banyak terdapat di Indonesia memiliki ciri khas yang berbeda dengan sekolah/madrasah pada umumnya. Pondok Pesatren lahir, tumbuh dan berkembang dari, oleh dan untuk masyarakat. Masyarakatlah yang mendirikan, membina dan mengembangkan pondok pesantren. Besarnya partisipasi masyarakat dalam pendidikan pesantren, ini mencerminkan bahwa pondok pesantren memang berbasis kuat pada masyarakat (community based education). Ketertarikan masyarakat terhadap pondok pesantren lebih ditampakkan sebagai ikatan emosional ketimbang ikatan rasional. Ikatan ini muncul karena beberapa motivasi, antara lain yaitu:
    1. Motivasi Agama. Bahwa pendirian pesantren merupakan bagian dari ibadah kepada Allah
    2. Motivasi Dakwah Islam. Hal ini merupakan hal utama para orang tua untuk menyekolahkan anaknya di pondok pesantren
    3. Hasrat kuat masyarakat untuk berperan serta dalam pendidikan dengan mendirikan lembaga pendidikan yang dapat menampung anak-anak disekitar tempat tinggalnya.[16]
    4. Lebih bersifat pertimbangan ekonomis.
    5. Pendidikan dan pembelajaran akan dapat berfungsi sebagai pintu utama pengembangan dan peningkatan kualitas manusia dan pengetahuan yang dibutuhkan abad ilmu pengetahuan, apabila pola belajar dan pembelajaran yang dikembangkan sekarang ini dibenahi, diubah, atau diredesain agar sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan.[17] Krisis moral yang melanda peserta didik saat ini, menuntut adanya pelaksanaan pendidikan Agama Islam di sekolah/madrasah lebih baik lagi. Kurikulum PAI di sekolah/madrasah yang mengacu pada KBK maupun KTSP, semua berpedoman pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Namun dalam pelaksanaannya belum berjalan dengan efektif. Peran pendidikan Agama dalam membangun perkambangan kecerdasan IQ, EQ, SQ pada lembaga pendidikan di sekolah/madrasah belum berjalan dengan seimbang, terutama masalah SQ dan EQ. Merosotnya akhlak peserta didik sekarang ini, menindikasikan bahwa pendidikan agama di sekolah/madrasah belum mampu menyentuh perkembangan kecerdasan SQ peserta didik. Hal ini disebabkan kurangnya perhatian guru dan kepala sekolah terhadap pelaksanaan pendidikan Agama khususnya di sekolah. Namun, dalam ranah kognitif, afektif dan psimotorik sudah berjalan dengan baik walupun masih ada perbaikan terutama barkaitan dengan pengembangan bakat dan minat peserta didik yang berkaitan dengan pelajaran agama Islam.
    6. Berdasarkan LKS Pendidikan Agama Islam untuk SMA kelas 10 semester genap, tahun 2006 dapat penulis analisis bahwa tujuan dan isi dari LKS tersebut sudah sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi (SI), terutama masalah Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SK-KD) sudah mengacu dan berpedoman pada Permindiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi tersebut. Namun, dalam pelaksanaannya belum mampu menyentuh  ranah-ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. LKS yang dikembangkan hanya mengejar target, dalam satu semester harus selesai tanpa memperdulikan bakat dan minat peserta didik. Jika penulis amati masalah Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar sudah sesuai dengan apa yang telah dijelaskan dalam Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, namun dalam pelaksanaannya belum sessuai dengan harapan berdasarkan indikator yang hendak dicapai. Namun, jika penulis mengaju kepada Permenag No. 2 2008, maka bahan ajar PAI di Sekolah belum mampu untuk memenuhi kebutuhan peserta didik. Kurangnya perhatian terhadap peserta didik berdasarkan bahan ajar PAI disebabkan karena sekolah hanya bertujuan bagaimana bahan ajar/materi PAI ini bisah selesai dalam satu semester tepat waktu tanpa ada yang menambah jam pelajaran, inilah yang menjadi perhatian khusus kita semua. Sehingga apabila target yang ingin dicapai adalah selesai materi PAI dalam satu semester, maka aspek IQ, SQ, SQ, serta ranah kognitif, afektif dan psikomotorik peserta didik diabaikan. Guru tidak mampu mentranper ilmu pengetahuan kepada peserta didik, sehingga dampak dari pelaksanaan PAI pada peserta didik tidak bisa terwujudkan terutama masalah berakhlak mulia. Pelaksanaan pendidikan Agama Islam di sekolah khususnya belum mendapatkan perhatian yang serius dari kepada sekolah dan guru. Bagaimana materi pendidikan Agama Islam yang dibutuhkan oleh peserta didik, maka gurulah yang lebih tahu. Apabila guru mampu melaksanakan hal ini, maka krisis moral yang melanda peserta didik saat ini bisa diatasi dengan baik.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arif, Fatchtur. 2010. , Strategi Marketing Pendidikan Melalui Peran Leardership Dalam Peningkatan Mutu Madrasah, makalah disampaikan pada Seminar Nasional Pendidikan 2010 dalam rangka Hardiknas dan Diesnatalis III LKP2-I, Malang

E. Mulyasa. 2006. Kurikulum Yang Disempurnakan, Pengembangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Hamalik, Oemar. 2009. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Muhaimin. 2009. Rekonstruksi Pendidikan Islam, Dari Paradigma Pengembangan, Manajemen Kelembagaan, Kurikulum hingga Strategi Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Press

Muhaimin, Sutiah, Sugeng Listyo Prabowo. 2009. Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Sekolah & Madrasah. Jakarta: Rajawali Press

S. Nasution. 2006. Asas-Asas Kurikulum. Jakarta: Bumi Askara

Veithzal Rivai, Sylniana Murni. 2009. Education Management, Analisis Teori dan Praktik. Jakarta: Rajawali Press

W.M. Alexander, Galen Saylor. 1956. Curriculum Planning of Better Teaching and Learning, New York: Rinehart Company

Jurnal el-Harakah Edisi 59. 2003. Wacana Kependidikan, Keagamaan, dan Kebudayaan. Malang: Fakultas Tarbiyah UIIS-Malang

Jurnal el-Harakah Edisi 62. 2005. Wacana Kependidikan, Keagamaan, dan Kebudayaan. Malang: Fakultas Tarbiyah UIN-Malang


[1] Prof. Dr. Muhaimin, Rekonstruksi Pendidikan Islam: Dari Paradigma Pengembangan, Manajemen Kelembagaan, Kurikulum hingga Strategi Pembelajaran, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2009, hlm. 149-150  

[2] Prof. Dr. Muhaimin, Rekonstruksi Pendidikan Islam: Dari Paradigma Pengembangan, Manajemen Kelembagaan, Kurikulum hingga Strategi Pembelajaran, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2009, hlm. 170-171

[3] Prof. Dr. S. Nasution, Asas-Asas Kurikulum, Jakarta: Bumi Askara, 2006, hlm. 9

[4] Prof. Dr. Muhaimin, Sutiah, Sugeng Listyo Prabowo, Pengembangan Model Kurukulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Sekolah & Madrasah, Jakarta: Rajawali Press, 2009, hlm. 6

[5] Jurnal el-Harakah, Wacana Kependidikan, Keagamaan, dan Kebudayaan, Malang: Fakultas Tarbiyah UIIS Malang, 2003 Edisi 59, hlm. 49

[6] Jurnal el-Harakah, ibid, hlm. 1

[7] J. Galen Saylor and W.M. Alexander, Curriculum Planning of Better Teaching and Learning, New York: Rinehart Company, 1956

[8] Prof. Dr. S. Nasution, Asas-Asas Kurikulum, Jakarta: Bumi Askara, 20006, hlm. 5

[9] Prof. Dr. H. Oemar Hamalik, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum, Bandung: Remaja Rodakarya, 2009, hlm 3

[10] Prof. Dr H. Oemar Hamalik, ibid, hlm. 3-4

[11] Prof. Dr. H. Oemar Hamalik, op.cit., hlm. 31-37

[12] Lihat Oemar Hamalik, hlm. 183

[13] Prof. Dr. H. Veithal Rivai, Dr Hj. Sylviana Murni, Education Manajement, Analisis Teori dan Praktik, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2009, hlm. 191

[14] E. Mulyasa, Kurikulum Yang Disempurnakan: Pengembangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006, hlm. 7

[15] Jurnal el_Harakah, Pelaksanaan Pendidikan Agama pada Sekolah Berbasis Agama di Indonesia: Analisis Penerapan Pasal 13 ayat 1 UU Sisidiknas 2003, Malang : Fakultas Tarbiyah UIN-Malang, 2005 Edisi 62, hlm. 53

[16] Dr. Fatchtur Arif, Strategi Marketing Pendidikan Melalui Peran Leardership Dalam Peningkatan Mutu Madrasah, makalah disampaikan pada Seminar Nasional Pendidikan 2010 dalam rangka Hardiknas dan Diesnatalis III LKP2-I, Malang, 2010, hlm. 1

[17] Lihat Jurnal el-Harakah, Edisi 59, 2003, hlm. 4

POLA PENULISAN KITAB HADITS

Posted in Uncategorized on Mei 23, 2011 by mghazakusairi

M. Ghaza Kusairi

(Mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Malang, Jurusan Manajemen Pendidikan Islam)

PENDAHULUAN

Dalam sejarah penghimpunan dan kodifikasi hadits mengalami perkembangan yang agak lamban dan bertahap dibandingkan dengan perkembangan dan kodifikasi al-Qur’an, hal ini wajar karena al-Qur’an pada masa Rasulullah SAW sudah tercatat seluruhnya sekalipun sangat sederhana, dan mulai dibukukan pada masa Abu Bakar khalifah pertama sekalipun dalam penyempurnaannya dilakukan pada masa khalifah Utsman bin Affan yang disebut dengan mushaf Utsmani. Sedangkan penulisan hadits pada masa Rasulullah SAW secara umum justru dilarang. Pembukuan hadits mulai pada abad ke 2 hijriyah, penghimpunan dan pengkodifikasi hadits mengalami proses pengembangan yang lambat, melibatkan banyak orang dari masa ke masa dan menghadapi kendala serta permasalahan yang banyak.

Kondisi hadits pada masa perkembangan sebelum pengkodifikasian dan filterisasi pernah mengalami pembauran dan kesimpangsiuran di tengah jalan sekalipun hanya minoritas saja. Oleh karena itu, para ulama bangkit mengadakan riset hadits-hadits yang beredar dan meletakkan dasar kaidah-kaidah atau peraturan-peraturan yang ketat bagi orang yang meriwayatkan hadits nantinya. Dr. M. Syuhudi Isma’il menjelaskan latar belakang perlunya penelitian hadits karena hadits Nabi sebagai salah satu sumber ajaran Islam, tidak seluruh hadits tertulis pada zaman Nabi masih hidup, telah timbul berbagai pemalsuan hadits, dan proses pembukuan hadits memakan waktu yang lama.[1]

Dengan demikian, dalam pandangan penulis bahwa pola penyususnan hadits pada hakikatnya sama antara ahli hadits satu dengan yang lainnya karena pola penyusunan hadits telah ditetapkan para ulama-ulama terdahulu. Begitu juga dengan pola penyusunan hadits Imam Bukhari dan hadits Imam Muslim, berdasarkan ilmu hadits yang telah ditetapkan oleh para ulama terdahulu, pada dasarnya pola penyusunan hadits kedua imam tersebut (Imam Bukhari dan Imam Muslim) adalah sama. Oleh karena itu dapat penulis katakan, bahwa pola penyusunan hadits Imam Muslim banyak mengaju atau berpedoman kepada pola penyusunan hadits Imam Bukhari, namun jika diamat secara teliti ada perbedaan yang sangat mendasar antara keduanya.

Sudah dimaklumi bahwa Shahih Bukhari dan Shahih Muslim merupakan dua kitab yang paling shahih setelah al-Qur’an. Melalui dua kitab itu panji-panji sunnah menjadi lebih berkibar, lebih intens perspektifnya dan lebih melebar perkembangannya pada masa-masa sesudahnya, karena pengaruh kedua kitab shahih itu terhadap orang-orang yang datang sesudahnya. Eksistensi kedua kitab itu telah membuktikan adanya gerakan menghimpun dan meriwayatkan hadits pada masa Imam Bukhari dan Imam Muslim, sehingga derajat kedua kitab itu tidak bisa ditandingi oleh karya imam-imam hadits yang datang sesudahnya.[2]

Apapun bentuk metode dan pola penyusunan kitab hadits yang dilakukan Imam Bukhari dan Imam Muslim, sebagai insan akademis kita memberikan apresiasi yang besar kepada kedua imam tersebut. Berkat jasa beliau berdualah kemurnian hadits dapat terjaga terutama dari kalangan orentalis yang selalu mengkritik dan menghujat para ahli hadits termasuk salah satunya adalah Imam Bukhari. Kitab Shahih Imam Bukhari banyak mendapat kritikan dan hujatan dari para orentalis yang berkaitan dengan metode dan pola punyusunan kitab tersebut. Imam Muslim merupakan salah satu murid dari Imam Bukhari, berdasarkan hal tersebut pola penyusunan kitab Shahih Imam Muslim banyak dipengaruhi oleh pola penyusunan kitab hadits yang dilakukan oleh gurunya yaitu Imam Bukhari.

Namun, keberadaan kitab hadits Shahih Bukhari dalam perkembangan berikutnya sampai sekarang banyak menjadi pedoman, sedangkan kitab hadits Shahih Muslim merupakan kitab hadits kedua setelah kitab hadits Shahih Imam Bukhari. Walaupun ada perbedaan yang mendasar antara keduanya, penulis beranggapan bahawa tidak ada perselisihan dan perpecahan antara ulama-ulama ahli hadits tentang pola penyusunan kitab hadits kedua imam tersebut. Dengan demikian, dapat penulis simpulkan bahwa dalam penulisandan pola penyusunan kitab hadits, antara Imam Bukhari dan Imam Muslim pada hakikatnya tidak ada perbedaan yang mencolok, akan tetapi pada hal-hal tertentu yang membedakan antara keduanya terutama tentang titik tekan kitab hadits yang ditulis. Apapun perbedaan antara keduanya, penulis berharap jangan ada perpecahan dan perselisihan antara kita tentang perbedaan yang berkaitan dengan pola penyusunan kitab hadits terutama antara Imam Bukhari dan Imam Muslim

 

  1. A.     Hadits Shahih Imam Bukhari

Imam Bukhari adalah ahli hadits yang termasyhur diantara para ahli hadits sejak dulu hingga kini bersama dengan Imam Ahmad, Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah. Bahkan dalam kitab-kitab fiqih dan hadits, hadits-hadits beliau memiliki derajat yang tinggi. Sebagian menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam hal Ilmu Hadits). Dalam bidang ini, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya.

Nama lengkap Imam Bukhari adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn Mughirah al-Ja’fi ibn Bardizbah al-Bukhari, salah seorang dari perawi dan ahli hadits yang terkenal. Beliau lebih dikenal dengan nama al-Bukhari, hal ini disandarkan pada tempat kelahirannya yakni Bukhari.[3] Namun dilain sumber mengatakan bahwa Imam Bukhari dilahirkan di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya pada tanggal 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Ayahnya yang bernama Ismail terkenal sebagai seorang ulama shaleh. Tempat beliau lahir kini termasuk wilayah Rusia, yang waktu itu memang menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan Islam sesudah Madinah, Damaskus dan Baghdad. Daerah itu pula yang telah melahirkan filosof-filosof besar seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Bahkan ulama-ulama besar seperti Zamachsari, al-Durdjani, al-Bairuni dan lain-lain, juga dilahirkan di Asia Tengah. Sekalipun daerah tersebut telah jatuh di bawah kekuasaan Uni Sovyet (Rusia).[4] Keberadaan Imam Bukhari tidak hanya dikenal dikalangan umat Islam, namun seluruh umat manusia mengetehui kehebatan beliau. Kitab hadist Shahih Imam Bukhari merupakan kitab hadits pertama yang menjadi rujukan para ahli hadits selanjutnya hingga sekarang terutama dikalangan para ilmuwan muslim maupun non-muslim terutama tentang metode dan pola penyusunan kitab hadits tersebut.

Di antara kota yang pernah beliau kunjungi dalam rangka mencari ilmu hadits adalah ke Maru, Naisaburi, Ray, Baghdad, Basrah, Kuffah, Mdinah, Mekkah, Mesir, Damaskus dan Asqalani. Guru-gurunya dalam bidang hadits lebih dari 1.000 orang. Beliau sendiri pernah menyebutkan bahwa kitab al-Jami al-Shahih atau yang terkenal dengan nama Shahih al-Bukhari, disusun hasil dari menemui 1.080 orang guru dalam bidang ilmu hadits. Dari perjalanan beliau tersebut, Imam Bukhari berhasil mengumpulkan hadits sebanyak 600.000 hadits, 300.000 hadits di antaranya beliau hafal, yang terdiri atas 200.000 hadits yang tidak shahih, dan 100.000 hadits yang shahih.[5]

Dalam analisis penulis, sebagai intelektual yang berdisiplin tinggi, Imam Bukhari  dikenal sebagai pengarang kitab yang produktif. Karya-karyanya tidak hanya dalam disiplin ilmu hadits, tapi juga ilmu-ilmu lain, seperti tafsir, fikih, dan tarikh. Fatwa-fatwanya selalu menjadi pegangan umat sehingga ia menduduki derajat sebagai mujtahid mustaqil (ulama yang ijtihadnya independen), tidak terikat pada mazhab tertentu, sehingga mempunyai otoritas tersendiri dalam berpendapat dalam hal hukum. Pendapat-pendapat beliau bisa sejalan dengan Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi) (pendiri mazhab hanafi), tetapi terkadang bisa berbeda dengan mereka. Sebagai pemikir bebas yang menguasai ribuan hadits shahih, suatu saat beliau sejalan dengan Ibnu Abbas. Sehingga pola penyusunan dan pola pimikiran beliau tentang hadits tidak tergantung pada satu mazhab saja, namun beliau mengambil dari berbagai pemikiran para ulama-ulama dalam penyusunan kitab hadits tersebut.

Imam Bukhari diakui memiliki daya hafal tinggi, yang diakui oleh kakaknya Rasyid bin Ismail. Kakak sang Imam ini menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberapa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia sering dicela membuang waktu karena tidak mencatat, namun Bukhari diam tak menjawab. Suatu hari, karena merasa kesal terhadap celaan itu, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka, kemudian beliau membacakan secara tepat apa yang pernah disampaikan selama dalam kuliah dan ceramah tersebut. Tercenganglah mereka semua, lantaran Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 hadits, lengkap dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat.

Berpedoman pada pendapat tersebut, dapat penulis katakana bahwa Imam Bukhari merupakan seorang yang jenius dan cerdas. Beliau diusia muda telah menunjukan kesukaannya kepada ilmu hadits. Dalam menghimpun hadits-hadits shahih dalam kitabnya tersebut, Imam Bukhari menggunakan kaidah-kaidah penelitian secara ilmiah dan sah yang menyebabkan keshahihan hadits-haditsnya dapat dipertanggungjawabkan. Ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meneliti dan menyelidiki keadaan para perawi, serta memperoleh secara pasti kesahihan hadits-hadits yang diriwayatkannya.

  1. 1.      Keutamaan Shahih Imam Bukhari

Kedudukan hadits dalam Islam sebagai sumber hukum. Para ulama juga telah berkonsesus dasar hukum Islam adalah al-Qur’an dan Sunnah (al-Hadits). Kitab shahih Imam Bukhari telah memperoleh penghargaan tertinggi dari para ulama. Terhadap kitab ini, para ulama telah memberikan pernyataan bahwa Shahih al-Bukhari adalah satu-satunya kitab yang paling shahih sesudah al-Qur’an.[6]

Kitab Shahih Imam Bukhari diterima (qabul) oleh para ulama secara aklamasi di setiap masa dan banyak sekali keistimewaan kitab Imam Bukhari yang diungkapkan oleh para ulama, diantaranya:

  1. Imam al-Tirmidzi berkata: Aku tidak melihat dalam ilmu ’Ilal (cacat yang tersembunyi dalam hadits) dan para tokoh hadits seorang yang lebih mengetahui dari Al-Bukhari.[7]
  2. Ibn Khuzaimah berkata: Aku tidak melihat di bawah kolong langit sesorang yang lebih mengetahui hadits Rasulullah SAW dan yang lebih hafal daripada Muhammad bin Ismail Al-Bukhari.[8]
  3. Al-Hafizh Adz-Dzahabi berkata: Dia adalah kitab Islam yang paling agung setelah kitab Allah.[9]

Di antara kelebihan daya ingat (dhabith) dan kecerdasan Imam Bukhari mampu mengembalikan dan menerapkan kembali 100 pasangan sanad hadits dan matan yang sengaja diacak (hadits maqlub) oleh 10 ulama baghdad dalam rangka menguji kapabilitas daya ingat dan intelektual Imam Bukhari dalam periwayatan hadits. Semua itu dapat dijawab oleh Imam Bukhari dengan lugas dan dikembalikan sesuai dengan proporsinya semula. Para ulama yang mengambil hadits dari Imam Bukhari banyak sekali di antaranya yang sangat populer adalah Al-Tirmidzi, Imam Muslim, An-Nasai, Ibrahim bin Ishaq al-Hurri, Muhammad bin Ahmad Ad-Daulabi, Manshur bin Muhammad al-Bazdawi. Imam Bukhari meninggal dunia 1 Syawal 256 H/31 Agustus 870 M pada hari jum’at malam sabtu malam Hari Raya Idul Fitri dalam usia 62 tahun kurang 13 hari di Samarkand.[10]

Berdasarkan pejelasan tersebut, penulis sangat sependapat dengan apa yang telah dikatakan beberapa para ulama tersebut di atas tentang keutamaan Imam Bukhari. Disamping cerdas, Imam Bukhari termasuk para ahli hadits yang kuat dan banyak hafalannya, sehingga para ulama menempatkan kitabnya hadits Shahih Bukhari kitab yang paling shahih setelah al-Qur’an. Namun disisi lain, terutama dari kalangan orientalis tidak henti-hentinya menghujat dan mengkritik Imam Bukhari terutama tentang medote dan pola penyusunan kitan haditsnya. Apapun bentuk hujatan dan kritikan yang ditujukan kepada Imam Bukhari oleh orientalis, panulis tetap memberikan apresiasi yang besar kepada beliau, semoga Allah SWT selalu melindung beliau.

Di antara kalangan/tokoh orientalis yang menghujat Imam Bukhari adalah antara lain, yaitu

  1. Ignaz Goldziher, seorang orientalis asal Hungaria dari keluarga Yahudi – yang menjadi pelopor penggugat kredibilitas Imam Bukhari dalam periwayatan hadits. Prof. Dr. MM Azami dalam bukunya Dirasat fil Hadits an-Nabawi wa Tarikh Tadwinih menyatakan bahwa Ignaz Goldziher menuduh penelitian hadits yang dilakukan oleh ulama klasik (terutama Imam Bukhari) tidak dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah karena kelemahan metodenya. Hal itu menurut Goldziher karena para ulama lebih banyak menggunakan metode kritik sanad, dan kurang menggunakan metode kritik matan. Karenanya, Goldziher kemudian menawarkan metode kritik baru yaitu kritik matan saja.[11] Dalam pandangan penulis, menyikapi kritikan Ignaz Goldziher, sebenarnya para ulama klasik sudah menggunakan metode kritik matan. Hanya saja apa yang dimaksud kritik matan oleh Ignaz Goldziher itu berbeda dengan metode kritik matan yang digunakan oleh para ulama. Menurutnya, kritik matan hadits itu mencakup berbagai aspek seperti politik, sains, sosio-kultural dan lain-lain. Ia mengatakan bahwa dalam kitab Shahih Bukhari dimana menurutnya Imam Bukhari hanya melakukan kritik sanad dan tidak melakukan kritik matan. Sehingga setelah dilakukan kritik matan oleh Ignaz Goldziher, hadits itu ternyata palsu. Namun penulis belum menemukan hadits palsu yang terdapat dalam Shahih Bukhari yang dimaksudkan oleh Ignaz Goldziher, inilah yang menjadi tugas kita sebagai intelektual muslim untuk meneliti apa yang telah dikatakan olek Ignaz Goldziher tersebut.
  2. Diantara para penulis modern atau intelektual Islam yang mengikuti cara berfikir kaum orientalis ini adalah Profesor Ahmad Amin. Dalam bukunya Fajr al-Islam, ia ikut melecehkan kredibilitas ulama Hadits secara umum. Kemudian secara khusus, Imam Bukhari dihujatnya. Katanya, “Kita melihat sendiri, meskipun tinggi reputsi ilmiyahnya dan cermat penelitiannya, Imam Bukhari ternyata menetapkan hadits-hadits yang tidak shahih ditinjau dari segi perkembangan zaman dan penemuan ilmiyah, karena penelitian beliau hanya terbatas pada kritik sanad saja. Menurut Ahmad Amin, banyak hadits-hadits Bukhari yang yang tidak shahih, atau tepatnya palsu. Diantaranya adalah sebuah hadits di mana Rasulullah SAW bersabda, “Seratus tahun lagi tidak ada orang yang masih hidup diatas bumi ini”. Hadits ini oleh Ahmad Amin dinilai palsu, karena ternyata setelah seratus tahun sejak Rasulullah SAW mengatakan hal itu masih banyak orang yang hidup diatas bumi ini.

Dengan demikian, dapat penulis simpulkan berdasarkan pandangan tersebut, bahwa Ahmad Amin yang ikut ramai-ramai melecehkan Imam Bukhari ini ternyata keliru dalam memahami maksud hadits tersebut. Sebab yang dimaksud oleh hadits itu bukanlah sesudah seratus tahun semenjak Rasulullah SAW mengatakan hal itu tidak akan ada lagi yang masih hidup di atas bumi ini, melainkan adalah bahwa orang-orang yang masih hidup ketika Rasulullah SAW mengatakan hal itu, seratus tahun lagi mereka sudah wafat semua. Dan ternyata memang demikian, sehingga hadits itu oleh para ulama dinilai sebagi mukjizat Rasulullah SAW. Lalu apakah kita sebagai intelektual Islam diam saja dengan apa yang telah mereka lakukan terhadap Imam hadits kita yaitu Imam Bukhari.

Seorang pakar hadits asal Indonesia, Prof. Dr. Ali Musthafa Yaqub dalam bukunya Kritik Hadis menyatakan, adalah suatu tindakan yang sangat gegabah dan tidak ilmiyah sama sekali apabila ada orang yang terburu-buru menvonis bahwa suatu hadits itu palsu menurut penilaiannya, karena bertentangan dengan nalar yang sehat, bertentangan dengan al-Qur’an dan bertentangan dengan hadits yang lain yang sederajat kualitasnya, sebelum ia memeriksa karya tulis para ulama dahulu yang membahas masalah tersebut. Sebab, ketidaktahuan seseorang dalam memahami maksud suatu hadits tidak dapat dijadikan alasan untuk menilai bahwa hadits tersebut palsu.[12]

Dengan demikian, dapat penulis simbulkan bahwa disinilah letak ketidak ilmiyahan para orientalis dalam menvonis bahwa dalam hadits-hadits Imam Bukhari terdapat riwayat-riwayat yang palsu dan bertentangan dengan al-Qur’an. Karena kritikan mereka tidak ilmiyah, juga akan berakibat fatal terhadap umat Islam karena manakala kepercayaan umat Islam terhadap Imam Bukhari dalam kitabnya Shahih Imam Bukhari sudah tumbang, akan tumbang pula kepercayaan mereka terhadap hadits Nabawi, terutama yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang merupakan kitab paling shahih setelah al-Qur’an. Namun dalam pandangan penulis, berdasarkan kritikan dan gugatan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh orientalis kepada Imam Bukhari, hanya masalah kecil yaitu dalam pola penyusunan hadits yang dilakukan  oleh Imam Bukhari hanya menggunakan pendekatan sanad saja, beliau mengabaikan pengkajian hadits yang disandarkan kepada matan.

Disinilah yang menjadi perbedaan yang sangat mendasar antara pola penyusunan kitab hadits antara Imam Bukhari dan Imam Muslim yaitu terletak pada sanad dan matan. Dalam analisis dan pengamatan penulis, berdasarkan pada kitab hadits Imam Bukhari dan Imam Muslim, bahwa metode atau pola penyusunan kitab hadits yang dilakukan Imam Bukhari adalah menggunakan pendekatan kepada sanad, sedangkan Imam Muslim adalah menggunakan pendekatan sanad dan matan. Akan tetapi, jika penulis amati secara teliti, bahwa Imam Muslim lebih mengutama kepada pendekatan matan dibandingakan dengan gurunya Imam Bukhari.

  1. B.     Hadits Shahih Imam Muslim

Dalam khazanah ilmu-ilmu Islam, khususnya dalam bidang ilmu hadits, nama Imam Muslim begitu monumental, setara dengan gurunya, Abu Abdullah Muhammad bin Ismail al-Bukhari al-Ju’fy atau lebih dikenal dengan nama Imam Bukhari. Sejarah Islam sangat berhutang jasa kepadanya, karena prestasinya di bidang ilmu hadits, serta karya ilmiahnya yang luar biasa sebagai rujukan ajaran Islam, setelah al-Qur’an. Dua kitab hadits shahih karya Bukhari dan Muslim sangat berperan dalam standarisasi bagi akurasi akidah, syariah dan tasawwuf dalam dunia Islam. Melalui karyanya yang sangat berharga, selain menempati urutan kedua setelah Shahih Bukhari, kitab  Shahih Muslim tersebut memenuhi khazanah pustaka dunia Islam, terutama Indonesia khususnya di pesantren-pesantren menjadi kurikulum wajib bagi para santri dan mahasiswa.

Nama lengkap Imam Muslim adalah Abu Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Quraysyi An-Naysaburi. Beliau dilahirkan di Naisaibur pada tahun 204 H/820 M yaitu kota kecil terletak di negara Iran. Beliau adalah salah seorang ahli hadits terkemuka dan murid Imam Bukhari. Sejak kecil beliau belajar hadits ke beberapa guru di berbagai negara diantaranya ke Hijaz, Syam, Irak, Mesir, dan lain-lain seperti gurunya Imam Bukhari.[13] Apabila Imam Bukhari merupakan ulama terkemuka di bidang hadits shahih berpengetahuan luas mengenai ilat-ilat dan seluk beluk hadits serta tajam kritiknya, maka Imam Muslim adalah orang kedua setelah Imam Bukhari baik dalam ilmu dan pengetahuannya maupun dalam keutamaan dan kedudukannya.

Telah disebutkan di muka bahwa Imam Muslim memiliki metode tersendiri dalam menentukan keshahihannya. Metode ini berbeda dengan yang digunakan oleh Imam Bukhari. Hadits yang hendak dimuat di dalam shahihnya harus memenuhi standar tertentu, kemudian disebut dengan syarat Muslim. Syarat keshahihan versi Imam Muslim itu adalah bersambung sanad di kalangan rawi yang tsiqah dari awal hingga akhir. Berpijak dari syarat ini, boleh dikatakan semua hadits yang terdapat di dalam kitab ini adalah shahih. Walaupun demikian, di dalam menentukan tingkat rawi hadits, beliau agak berbeda dengan gurunya Imam Bukhari. Terdapat beberapa orang rawi yang dianggap tsiqah oleh Imam Muslim tetapi tidak diterima oleh Imam Bukhari berdasarkan beberapa sebab tertentu.[14]

Kemasyhuran kita Shahih Muslim hampir tak perlu disiarkan lagi, karena nama itu sendiri telah cukup menjadi jaminan. Semua orang akan percaya bila dikatakan kepadanya bahwa hadits ini riwayat Muslim.[15] Menurut penelitian para ulama, persyaratan yang ditetapkan Imam Muslim dalam kitabnya pada dasarnya sama dengan penetapan Shahih Bukhari. Ibnu Ash-Shalah mengatakan bahwa persyaratan Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya adalah:[16]

  1. Hadits itu bersambung sanad-nya.
  2. Hadits diriwayatkan oleh orang kepercayaan (tsiqah) dari generasi permulaan sampai akhir
  3. Terhindar dari syudzudz ’illah.[17]

Persyaratan di atas sama dengan juga dipergunakan oleh Imam Bukhari, hanya apa yang dimaksud dengan bersambung sanad ada sedikit perbedaan. Menurut Imam Bukhari, seorang perawi harus benar-benar bertemu dengan pemberi hadits kendati hanya sekali. Dalam arti guru membaca murid mendengar langsung. Sedangkan menurut Imam Muslim, asal mereka itu semasa (al-mu’asharah/ hidup satu masa) sudah dinilai bersambung sanad-nya. [18]

Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, dapat penulis katakan bahwa yang menjadi perbedaan pola penyusunan kitab hadits Imam Bukhari dan Imam Muslim adalah berkaitan dengan sanadnya. Penulis sependapat dengan penjelasan tersebut, jika dilihat dari segi sanadnya, Imam Bukhari pola penyusunan kitab Shahihnya, seorang perawi hadits benar-benar bertemu dengan yang meriwayatkan/pemberi hadits walau hanya sekali. Jika diantara perawi tidak pernah bertemu, maka hadits tersebut dianggap cacat oleh Imam Bukhari dari segi sanadnya. Berbeda dengan Imam Muslim, pola penyusunan kitab Shahihnya, seorang perawi tidak perlu bertemu, asal mereka hidup satu masa, maka hadits tersebut dianggap shahih oleh Imam Muslim dari segi sanadnya. Oleh karena itu dapat penulis katakan, hal inilah yang menyebabkan para ulama menilai Shahih Bukhari lebih tinggi tingkat keshahihannya dibandingkan dengan Shahih Muslim, namun Shahih Muslim lebih unggul dalam hal sistematikanya lebih bagus.

  1. 1.      Keutamaan Shahih Imam Muslim

Pokok pembahasan kitab Shahih Muslim adalah hadits-hadits shahih yang berpusat pada Rasulullah SAW saja. Metode dan sistematika penyusunannya sama dengan yang digunakan Imam Bukhari, dalam hal menghimpun hadits-hadits yang shahih saja, yang kemudian disusunnya sesuai dengan bab-bab ilmu, baik mengenai persolan fiqh maupun khilafah. Di antara susunan judul-judul bab yang dibuat dalam Shahih Muslim yang paling baik adalah yang dibuat oleh Imam Muhyiddin Abu Zakaria Yahya Al-Nawawi.

Imam Nawawi berkata, bahwasanya Imam Muslim pada dasarnya telah menyusun kitabnya secara tertib menurut bab per bab, hanya saja tidak menyebutkan judul-judul babnya, hal itu dimaksudkan untuk menghindari ketebalan kitabnya, atau karena ada alasan lain. Selanjutnya, Imam Nawawi juga mengatakan bahwa segolongan ulama telah membuat judul-judul bab dalam kitab Shahih Muslim dengan baik, dan ada juga yang membuatnya kurang baik. Hal itu barangkali disebabkan oleh kurangnya perbendaharaan kata, atau tidak ditemukan kata yang relanfantif yang bisa digunakan untuk judul-judul bab itu, atau mungkin oleh sebab lain. Dalam kitabnya Imam Muslim telah menghimpun 4.000 hadits tanpa diulang-ulang.[19]

Berdasarkan apa yang telah dikatakan oleh Imam Nawawi tersebut, dapat penulis sikapi bahwa pola penyusunan kitab hadits Shahih Muslim lebih sistematika dan tertib sesuai dengan bab-bab masing-masing hadits. Sehigga tidak terjadi pengulangan hadits pada satu bab kepada bab-bab lainnya, berbeda dengan Imam Bukhari pola penyusunanya belum sistematika dan serapi kitab Shahih Muslim. Inilah yang menjadi keunggulan dan kelebihan dari ktab Shahih Muslim jika dibandingkan dengan pola penyusunan kitab Shahih Imam Bukhari. Pola penyusunan kitab Shahih Muslim banyak belajar dari pola penysunan kitab gurunya Imam Bukhari, sehingg dari pola penyusunannya kitab Shahih Muslim lebih bagus dan sempurnah. Namun, perbedaan pola penyusunan kitab hadits kedua imam tersebut tidak menimbulkan perpecahan dan permusuhan antara para ulama hadits, mereka tetap memberikan apresiasi yang besar terhadap jasa kedua imam tersebut yaitu Imam Bukhari dan Imam Muslim, Semoga Allah selalu melindung beliau berdua, amin.

Di antara keistimewaan karya Imam Muslim adalah bahwa beliau membedakan secara tegas dan jelas antara penggunaan ungkapan akhbaranaa dengan ungkapan haddatsanaa, dimana perbedaan itu diaplikasikannya pula terhadap gurunya dalam meriwayatkan. Perbedaan-perbedaan yang dibuat ini merupakan metode yang paling istimewa dalam alirannya. Kata haddatsanaa tidak boleh digunakan kecuali jika seseorang rawi dalam kondisi berperan pasif. Artinya, rawi itu hanya mendengar dari gurunya, tidak membaca di depannya secara seksama. Sedangkan kata akhbaranaa digunakan dalam kondisi rawi berperan aktif. Artinya, rawi itu membaca di depan gurunya dengan didengar oleh gurunya itu secara seksama. Perbedaan penggunaan istilah tersebut juga merupakan metode Al-Syafi’i dan sahabat-sahabatnya serta kebanyakan ahli-ahli ilmu dari negara-negara timur.[20]

Sedangkan keistimewaan lainnya dari Shahih Muslim adalah ketelitiannya dalam memperhatikan lafadz hadits yang disampaikan oleh rawi-rawi dan memiliki sikap konsekuen serta disiplin dalam hal periwayatannya. Sistematika penulisannya yang kronologis, dimana jalinan hadits-haditsnya memberikan kesan pembacanya untuk lebih mendalami pembahasan. Imam Muslim juga tidak melakukan pemotongan hadits di dalam kitab shahihnya sesuai dengan bab-babnya, sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Bukhari. Tetapi, beliau meriwayatkan hadits itu secara lengkap dan utuh tanpa dibagi-bagikan dengan sanadnya yang berbeda-beda.[21]

Dengan demikian, dalam analisis penulis dapat dikatakan bahwasanya hanya Imam Muslim yang memiliki kaidah yang baik dalam sistematika penyusunan kitab hadits, sehingga orang bisa memperoleh hadits yang dikehendakinya, karena beliau telah menempatkan hadits pada proporsi yang sebenarnya. Imam Muslim menghimpun dan menyebutkan semua sanad hadits yang dianggapnya shahih dari sanad yang berbeda-beda, sehingga memudahkan orang yang mencari hadits untuk diteliti secara detail terhadap sisi-sisi hadits itu. Imam Muslim wafat di Naisabur pada tahun 261 H/875 M dalam usia 55 tahun. Walaupun beliau telah tiada, namun kitab hadits Imam Muslim maupun Imam Bukhari tetap terjaga keshahihannya walaupun ada beberapa tokoh orientalis yang mengkritik dan mengugut terutama terhadap pola penyusunan kitab hadits Shahih Imam Bukhari.

Pola penyusunan hadits antara Imam Bukhari dan Imam Muslim memiliki perbedaan yang sangat mendasar antara keduanya. Walaupun ada perbedaan, namun tidak menimbulkan perpecahan di kalangan umat Islam dalam menyikapi hal tersebut. Dalam pandangan penulis, bahwa pola penyusunan kitab hadits shahih Imam Bukhari lebih utama jika dibandingkan dengan Imam Muslim karena kemurnian hadits lebih terjaga. Alasan kenapa penulis lebih mengikuti pola penyusunan hadits Imam Bukhari karena ditinjau dari segi bagaimana kemurnian hadits itu terjaga dan bagaimana hadits itu dikumpulkan. Walau keberadaan metodologi penyusunan kitab hadits Imam Bukhari banyak mendapat kritikan dari kalangan orang-orang orientalis, namun penulis tetap pada pendirian bahwa motodologi penulisan dan penyusunan hadits Imam Bukhari lebih utama dan lebih mudah untuk dipahami terutama oleh kalangan akademisi.

Namun jika kita padang dari segi sistem tata aturan penulisannya, maka kitab shahih Imam Muslim lebih bagus karena telah tersusun secara sistematika penulisan. Sebagai insan akademis kita tidak boleh menyalahkan dan mengklaim salah satu adalah yang paling benar. Kita jangan sampai terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran orientalis, yang mana mereka mempunyai tujuan dan kepentingan yaitu untuk memecahbela persatuan dan kesatuan umat Islam. Mereka tidak puas dengan Islam kerena begitu menghargai karya-karya para ulama/para ilmuwan.

Dengan demikian, berdasarkan penjelasan di atas dapat penulis simpulkan bahwa pada hakikatnya pola penyusunan hadits Imam Bukhari dan Imam Muslim sama benarnya, namun bagi kita bagaimana mampu mengamalkan isi dari kadungan yang terdapat dalam kitab-kitab hadits tersebut. Kitan hadits merupakan sumber hukum Islam yang kedua setelah kitab al-Qur’an. Sebagai insan akademis dan pejuang Islam, marilah kita jaga kemurnian kitab hadits yang telah disusun oleh para ahli hadits, jangan sampai ada segolongan umat Islam berpecahbela karena perbedaan dalam mazhab hadits.

 

  1. C.     Kesimpulan

Pola penyusunan kitab hadits antara Shahih Imam Bukhari dan Shahih Imam Muslim pada hakikatnya sama, namun jika dilihat dari sistematika penyusunan Shahih Imam Muslim lebih unggul dan baik serta lebih sempurna dari pola penyusunan Shahih Imam Bukhari. Adapun perbedaan yang sangat mendasar yang berkaitan dengan pola penyusunan kitab hadits Shahih Imam Bukhari dan Shahih Imam Muslim berdasarkan analisis dan pengamatan penulis antara lain:

  1. Dari tinjauan sanadnya. Jika dilihat dari sanadnya, Shahih Imam Bukhari, seorang perawi hadits harus benar-benar bertemu dengan pemberi/periwayat hadits walau hanya sekali, namun Shahih Imam Muslim tidak perlu bertumu asal pernah hidup satu masa, maka hadits tersebut dianggap shahih.
  2. Secara sistematikan penulisan, Shahih Imam Bukhari belum tersusun secara sistematika dengan baik, sedangkan Shahih Imam Muslim telah tersusun secara sistematika dengan baik bahkan lebih unggul dari Shahih Imam Bukhari dari sistematika penyusunannya
  3. Adanya pemotongan dan pengulangan hadits dalam kitab Shahih Imam Bukhari, tetapi dalam kitab Shahih Imam Muslim tidak terdapat pemotongan dan pengulangan hadits, sehingga keberadaan hadits dalam Shahih Imam Muslim lebih mudah untuk meneliti secara detail keberadaan sanadnya

DAFTAR PUSTAKA

 

 

                        Alawi Al-Maliki, Muhammad. 2006. Ilmu Ushul Hadits. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Al-Qardhawi, Yusuf. 2007. Pengantar Studi Hadis. Bandung: CV. Pustaka Setia

Khon, Majib, Abdul. 2008. Ulumul Hdits. Jakarta: Amzah

H.A Razak dan H. Rais Lathief. 1979. Terjemahan Hadits Shahih Muslim Jilid I. Jakarta: Pustaka al-Husna

                                                            . 1979. Terjemahan Hadits Shahih Bukhari Jilid I. Jakarta: Pustaka al-Husnah

Soetari, Endang. 2008. Ilmu Hadits: Kajian Riwayah & Dirayah. Bandung: CV. Mimbar Pustaka

http://webcache.goolecontetnt.kumpulanhadits/shahihbukhari/sejarah-singakt-imam-bukhari, diakses Rabu 12 Mei 2010 jam 18.30

                        http://webcache.goolecontetnt.kumpulanhadits/shahihmuslim/sejarah-singakt-imam-muslim, diakses Rabu 12 Mei 2010 jam 18.50

 


[1] Dr. H. Abdul Majid Khon, Ulumul Hadits, Jakarta: Amzah, 2008, hlm. 67-68

[2] Prof. Dr. Muhammad Alawi al-Maliki, Ilmu Ushul Hadits, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006, hlm. 270

[3] Prof. Dr. H. Endang Soetari Ad, Ilmu Hadits, Kajian Riwayat & Dirayah, Bandung: CV. Mimbar Pustaka, 2008, hlm. 280

[4] http://webcache.gooleusercontent.kumpulanhadits shahih-bukhari/sejarah-singkat-imam-bukhari, diakses Rabu 12 Mei 2010 jam 18.30

[5] Prof. Dr. H. Endang Soetari Ad, Ilmu Hadits, Kajian Riwayah & Dirayah, Bandung: CV. Mimbar Pustaka, 2008, hlm. 281

[6] Prof. Dr. Muhammad Alawi Al-Maliki, Ilmu Ushul Hadits, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006, hlm. 257

[7] Dr. H. Abdul Majid Khon, Ulumul Hadits, Jakarta: Amzam, 2008, hlm. 259

[8] Ibid, hlm. 259

[9] Op.cit., hlm. 259

[10] Lihat Dr. H. Abdul Majid Khon, hlm. 259

[13] Dr. H. Abdul Majid Khon, Ulumul Hadits, Jakarta: Amzah, 2008, hlm. 259-260

[15] H.A Razak dan H. Rais Lathief, Terjemahan Hadits Shahih Muslim Jilid I, Jakarta: Pustaka al-Husna, 1979, hlm. XXXVI

[16] Dr. H. Abdul Majid Khon, ibid, hlm. 260

[17] ’Illah disini adalah bahwa hadits yang dikutip oleh Imam Muslim tidak terdapat kecacatan baik ditinjau dari segi sanad maupun matannya.

[18] Dr. H. Abdul Majid Khon, op.cit. hlm. 260

[19] Prof. Dr. Muhammad Alawi Al-Maliki, Ilmu Ushul Hadits, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006, hlm. 264-265

[20] Lihat Prof. Dr. Muhammad Alawi Al-Maliki, ibid, hlm. 265-266

[21] Op.cit. hlm. 267

PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN & HADITS

Posted in Uncategorized on Mei 23, 2011 by mghazakusairi

M. Ghaza Kusairi

(Mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Malang, Jurusan Manajemen Pendidikan Islam)

PENDAHULUAN

Masyarakat global saat ini secara serius dihadapkan pada pengaruh sistem nilai sekuler dan materiali. Semua lapisan masyarakat, baik orang tua, pendidik, agamawan kini tengah mengahdapi dilema besar dalam pendidikan, yaitu tentang bagaimana cara terbaik untuk mendidik generasi muda dan mempersiapkan mereka penghadapi tantangan global di masa mendatang. Dilema tentang bagaimana memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak kita sekarang membutuhkan penilaian yang jujur tengtang pentingnya pendidikan pada era globalisasi ini. Salah sarana untuk mengakatualisasi diri adalah melalui pendidikan.

Masalah pendidikan adalah merupakan masalah hidup dan kehidupan manusia. Proses pendidikan berada dan berkembang bersama proses perkembangan hidup dan kehidupan manusia, bahkan keduanya pada hakikatnya adalah proses yang satu. Ini berarti bahwa seluruh proses hidup dan kehidupan manusia itu adalah proses pendidikan.[1] Proses pendidikan manusia dilakukan selama kehidupan manusia itu sendiri, mulai dari alam kandungan sampai lahir di dunia manusia telah melalui proses pendidikan, hal ini menunjukan pentingnya pendidikan untuk meningkat kemulian diri manusia itu sendiri. Sebagaimana Allah SWT telah jelaskan dalam firman-Nya yang berbunyi:

ù&tø%$# ÉOó™$$Î/ y7În/u‘ “Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7š/u‘ur ãPtø.F{$# ÇÌÈ “Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ

Artinya:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. al-‘alaq: 1-5)

Agar umat manusia mengetahu tentang kebesaran Allah SWT maka melalui belajarlah kita bisa memahami dari kebesaran penciptaan dan kekuasaan Allah SWT. Dengan perantaran pendidikan manusia akan dimuliakan oleh Allah SWT dalam kehidupannya. Nabi Adam as mulia karena dia belajar langsung kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya yang berbunyi:

zN¯=tæur tPyŠ#uä uä!$oÿôœF{$# $yg¯=ä. §NèO öNåkyÎztä ’n?tã Ïps3Í´¯»n=yJø9$# tA$s)sù ’ÎTqä«Î6/Rr& Ïä!$yJó™r’Î/ ÏäIwàs¯»yd bÎ) öNçFZä. tûüÏ%ω»|¹

Artinya:

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar. (QS. al-Baqarah: 31)

Ayat ini menunjukan kepada kita bahwa belajar dan menuntut ilmu itu sangat penting sehingga kita banyak mengetahui sesuatu yang benar. Para Malaikat tidak bisa menjawab pertanyaan dari Allah SWT karena mereka tidak mendapat proses pendidikan dari Allah SWT, berbeda dengan Nabi Adam as yang bisa menjawab pertanyaan dari Allah SWT karena telah diajarkan kepadanya. Disinilah letak pentingnya pendidikan bagi umat manusia.

Al-Qur’an sebagai petunju, pembeda, penjelas dan juga syifa’ ma fis shudur (obat dari penyakit yang ada dalam dada) pasti berbicara tentang pendidikan. Pendidikan menyangkut kebutuhan hakiki seseorang. Ajaran yang bersifat universal tidak mungkin secara operasional dan mendetail memperbincangkan pendidikan yang amat mendasar ini.[2] Berbicara tentang pendidikan, fokusnya selalu berkenaan dengan persoalan anak, sosok manusia yang dicintai, disayangi, dan generasi yang masa depannya harus dipersiapkan. Dalam makalah ini, penulis mencoba akan membahas tentang pentingnya pendidikan baik kita tinjau dari pandangan al-Qur’an maupun hadits yang membicarakan tetang penting pendidikan untuk kehidupan umat manusia menuju pintu kemuliaan.

 

PENTINGNYA PENDIDIKAN

Bertolak dari asumsi bahwa life is education and education is life, dalam arti pendidikan merupakan persoalan hidup dan kehidupan, dan seluruh proses hidup dan kehiduan manusia adalah proses pendidikan maka pendidikan Islam pada dasarnya hendak mengembangkan pandangan hidup Islami, yang diharapkan tercermin dalam sikap hidup dan keterampilan hidup orang Islam. Karena itu, pandangan hidup yang dimanifestasikan dalam sikap hidup dan keterampilan hidup seseorang harus bisa mendatangkan berkah, yakni nilai tambah, kenikmatan, dan kebahagian dalam hidup.

Pendidikan merupakan salah satu upaya untuk membangun dan meningkat mutu SDM menuju era globalisasi yang penuh dengan tantangan sehingga disadari bahwa pendidikan merupakan sesuatu yang sangat fundamental bagi setiap individu. Oleh karena itu, kagiatan pendidikan tidak dapat diabaikan begitu saja, terutama dalam memasuki era persaingan yang semakin ketat, tajam, berat pada abad millennium ini.[3] Dalam Islam menuntut ilmu itu wajib hukumnya, sebagaimana sabda Rasulullah saw dalam hadits yang berbunyai:

أُطلُبُ العِلمِ فَرِيضةٌ على كل مُسلمٍ والمسلمةٍ

Artinya:

Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuaan (al-Hadits)

Berdasarkan hadits tersebut, bahwa menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim. Disamping diwajibkan menuntut ilmu, hadits tersebut juga memberikan pelajaran kepada umat Islam tentang pentingnya pendidikan untuk kemulian hidupnya. Pendidikan merupakan salah proses untuk meningkat dan mendekatkan diri kepada sang pencipta yaitu Allah SWT. Dengan pendidikan manusia lebih mulia dan terhormat dipandangan Allah SWT dan lebih mulia dari pada mahkluk ciptaan-Nya yang lain. Pendidikan merupakan usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat.

Secara alamiah, manusia sejak dalam rahim ibu sampai meninggal dunia mengalami proses pertumbuhan dan berkembang tahap demi tahap. Begitu pula kejadian alam semesta ini diciptakan oleh Allah SWT dalam proses tingkat demi tingkat. Dengan demikian, pendidikan dapat dikatakan sebagai sarana utama untuk mengembangkan kepribadian setiap manusia dalam usaha manusia melestarikan hidupnya.[4]

Pentingnya pendidikan telah diungkapkan beberapa tokoh pendidikan Islam yang mengacu kepada definisi pendidikan Islam, yaitu:

  1. Abdurrahman al-Nahlawi mengemukakan bahwa pendidikan Islam merupakan suatu tuntutan dan kebutuhan mutlak umat manusia, karena (a) untuk menyelamatkan anak-anak di dalam tubuh umat manusia pada umumnya dari ancaman.[5]
  2. Dr. Muhammad Fadil al-Jamaly (Guru Besar Pendidikan di universitas Tunisia) mengatakan bahwa pendidikan adalah proses yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik dan yang mengangkat derajat kemanusiaannya, sesuai dengan kemampuan dasar atau fitrah dan kemampuaan ajarannya (pengaruh dari luar).[6] Esensi pendidikan yang harus dilaksankan umat Islam menurut beliau adalah pendidikan yang memimpin manusia kea rah akhlak mulia dengan memberikan kesempatan keterbukaan terhadap pengaruh dari dunai luar dan perkembangan dari dalam diri manusia yang merupakan kemampuan dasar yang dilandasi oleh keimanan kepada Allah SWT. Pandangan beliau ini didasarkan pada firman Allah SWT yang berbunyi:

ª!$#ur Nä3y_t÷zr& .`ÏiB ÈbqäÜç/ öNä3ÏF»yg¨Bé& Ÿw šcqßJn=÷ès? $\«ø‹x© Ÿ@yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noy‰Ï«øùF{$#ur   öNä3ª=yès9 šcrãä3ô±s?

Artinya:

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. an-Nahl: 78)

Firman Allah dalam surat an-Nahl ayat 78 tersebut mengindikasikan kepada kita bahwa ketika kita dilahirkan tidak mengetahui sesuatupun. Maka Allah ciptakan pada diri manusia pendengaran, penglihatan dan hati, ini semua untuk membantu manusia dalam proses pendidikan. Tanpa melalui pendidikan manusia tidak mengetahui apa-apa. Dengan pendidikanlah manusia bisa mengetahui tentang segala sesuatu terutama tentang kebesaran Allah SWT.

Pendidikan anak merupakan tanggung jawab orang tuanya. Memberikan pengertian pentinganya pendidikan merupakan keharusan orang tua tatkala proses pendidikan dalam keluarga. Pendidikan anak merupakan tanggung jawab orang tua didasarkan pada firman Allah SWT yang berbunyi:

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3‹Î=÷dr&ur #Y‘$tR

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (QS. at-Tahriim: 06)

Pendidik dalam padangan Islam secara umum adalah mendidik, yaitu mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensi psikomotorik, kognitif, maupun potensi afektifnya. Potensi ini harus dikembangkan secara seimbang sampai ke tingkat setinggi mungkin, menurut ajaran Islam.[7] Maka inilah tugas orang tua tersebut berdasarkan firman Allah dalam surat al-Tahriim ayat 06 tersebut di atas. Salah satu cara untuk menumbuhkembangkan potensi yang dimiliki anak adalah melalui pendidikan. Disinilah pentingnya pendidikan bagi umat manusia.

Dalam pandangan penulis, bahwa pada awalnya pendidikan merupakan murni tugas kedua orang tua, sehingga kedua orang tua tidak perlu mengirim anaknya ke sekolah, akan tetapi karena perkembangan ilmu pengetahun, keterampilan, sikap serta kebutuhan hidup sudah semakin luas, dalam, dan rumit, maka orang tua tidak mampu lagi melaksanakan sendiri tugas-tugas mendidik anaknya. Sekalipun demikian, secara teoritis seharusnya rumah tangga dan sekolah tetap menyadari sejarah pendidikan tersebut. Pengaruh pendidikan di dalam rumah tangga terhadap perkembangan anak memang sangat besar, mendasar dan mendalam.

Marimba (1989: 19) menyatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.[8] Dari pendapat Marimba tersebut, dapat penulis simpulkan bahwa pentingnya pendidikan adalah untuk menumbuhkembangan potensi jasmani dan rohani yang dimiliki manusia demi terwujudnya manusia yang memiliki kepribadian-kepribadian yang utama dalam istilah agamanya adalah Insan Kamil dan menjadi hamba Allah SWT yang selalu mendekatkan diri kepada-Nya.

Dalam teori pendidikan lama, yang dikemukan oleh dunia Barat, dikatakan bahwa perkembangan seseorang hanya dipengaruhi oleh pembawaan (nativisme). Sebagai lawannya berkembang pula teori yang mengajarkan bahwa perkembangan seseorang ditentukan oleh lingkungannya (empirisme). Sedangkan Islam memandang bahwa perkembangan seeorang ditentukan oleh pembawaan dan lingkungannya, hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw yang berbunyi:[9]

كُلُ مَولودٍ يولدُ على الفطرةِ فَاَبَوَاهُ يُهودانِه او يُنصرَانِهِ أَويمجسانِهِ (البخار ومسلم)

Artinya:

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam analisis penulis, berdasarkan hadits Rasulullah saw tersebut, bahwa sejak lahir manusia dalam keadaan fitrah atau telah membawa kemampuan-kemampuan dasar atau dengan istilah sekarang disebut dengan potensi. Fitrah atau kemampuan dasar tersebut harus ditumbuhkembangkan dengan baik sesuai dengan fitrah dasarnya. Salah satu cara untuk menumbuhkembangn fitrah atau potensi tersebut yang paling efektif adalah melalui pendidikan. Sehingga hadits tersebut menjelaskan begitu pentingnya pendidikan bagi manusia untuk menumbuhkembangkan fitrah atau potensi yang dimilikinya yang telah dibawa sejak manusia itu sendiri lahir. Walaupun tanpa pendidikan, fitrah atau potensi itu bisa berkembang, namun perkembangannya tidak sesuai dengan nilai-nilai dari ajaran Islam. Pendidikan mengarahkan bagaimana seharusnya fitrah atau potensi itu harus diarahkan dan ditumbuhkembangkan.

Para ahli pendidikan Islam telah sepakat bahwa maksud dari pendidikan dan pengajaran bukanlah memenuhi otak anak didik dengan segala macam ilmu yang belum mereka ketahui, tetapi maksudnya ialah mendidik ahklak dan jiwa mereka, menanamkan rasa fadilah (keutamaan), membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci seluruhnya ikhlas dan jujur. Maka tujuan pokok pendidikan Islam ialah mendidik budi pekerti dan pendidikan jiwa.[10]

Islam adalah agama ilmu dan cahaya, bukanlah suatu agama kebodohan dan kegelapan. Wahyu yang pertama-tama diturunkan mengandung perintah membaca kepada Rasulullah saw. Pengulangan atas perintah tersebut dan penyebutan kembali mengenai masalah ilmu dan pendidikan itu, dapat kita rasakan menghubungkan soal pendidikan dengan Tuhan dalam ayat:[11]

ù&tø%$# ÉOó™$$Î/ y7În/u‘ “Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7š/u‘ur ãPtø.F{$# ÇÌÈ “Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ

Artinya:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang paling pemurah, yang mengajar (manusia) dengan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. al-‘Alaq: 1-5)

Ayat ini menjelaskan kepada kita untuk selalu membaca dan belajar. Proses belajar dan mambaca hanya banyak dilakukan tetkala manusia melakukan proses pendidikan. Sehingga dengan banyak membaca, manusia lebih dekat dengan Allah SWT dan banyak mengetahui tentang ciptaan-Nya terutama tentang proses penciptaan alam semesta ini. Pendidikan merupakan salah media yang paling utama untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah SWT karena inti pendidikan itu adalah mendekatkan diri kepada-Nya. Namun, kebanyakan dari umat manusia tidak mengetahu hakikat dari penting pendidikan itu, sehingga mereka sering mengabaikan pendidikan pada anaknya.

Manusia sebagai mahluk biologis memiliki unsur mekanisme jasmani yang membutuhkan kebutuhan-kebutuhan lahiriyah, misalnya sandang, pangan dan papan dan kebutuhan biologisnya lainnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut harus dipenuhi secara layak, dan salah satu di antara persiapan untuk memenuhinya yang layak adalah melalui pendidikan. Dengan pendidikan, pengalaman dan pengetahuan seseorang dapat bertambah dan dapat menentukan kualitas dan kuantitas kerjanya.[12]

Pendidikan berusaha mengembangkan potensi individu agar mampu berdiri sendiri, untuk itu individu perlu diberi berbagai kemampuan dalam pengembangan berbagai hal, seperti komsep, prinsip, kreaktivitas, tanggung jawab, dan keterampilan. Dengan kata lain perlu perlu mengalami perkembangan dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Demikian juga individu juga makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan lingkungan sesamanya. Objek sosial ini akan berpengaruh terhadap perkembangan individu. Melalui pendidikan dapat dikembangkan suatu keadaan yang seimbang antara perkembangan aspek individual dan aspek sosial.[13]

Dalam analisis dan pengamatan penulis, pendidikan merupakan proses dimana seseorang memperoleh pengetahuan (knowledge acquisition), mengembangkan kemampuan/keterampilan (skills developments) sikap atau mengubah sikap (attitute of change). Pendidikan adalah suatu proses transpormasi anak didik agar mencapai hal-hal tertentu sebagai akibat dari proses pendidikan yang diikutinya. Sebagai bagian dari masyarakat, pendidikan memiliki fungsi ganda, yaitu fungsi sosial dan fungsi individual. Fungsi sosialnya untuk membantu setiap individu menjadi anggota masyarakat yang lebih efektif dengan memberikan pengalaman kolektif masa lalu dan sekarang, sedangkan fungsi individualnya untuk memungkin seseorang menempuh hidup yang lebih memuaskan dan lebih produktif dengan menyiapkannya untuk menghadapi masa depan. Fungsi tersebut dapat dilakukan secara formal seperti yang terjadi di lembaga pendidikan, maupun informal melalui berbagai kontak dengan media informasi seperti buku, surat kabar, majalah. Tv, radio dan lain sebagainya.

Dari penjelasan di atas maka tujuan pendidikan dalam pandangan Islam harus mampu menciptakan manusia yang berilmu pengetahuan yang tinggi, dimana iman dan takwa menjadi menjadi pengendali dalam pengamalan ilmunya di masyarakat. Manusia muslim yang dihasilkan oleh proses kependidikan Islam harus mampu mencari cara-cara hidup yang dapat membawa kebahagian hidup di dunia maupun di akhirat yang bercorak diri dan berderajat tinggi menurut ukuran Allah.[14] Manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi, untuk menjalankan kepemimpinannya, manusia harus memiliki pengetahuan untuk membantu dirinya dalam mengelola alam semesta ini. Hidup di dunia maupun bekal di akhirat nanti harus berilmu, sebagaimana sabda Rasulullah saw yang berbunyi:

مَن أَرَادَ الدنيَا فَعَلَيهِ بِالعِلم وَمَن أَرَادَ الاخِرَةَ فَعليهَ بِالعلمَ وَمَن أَرَادَهُما فَعليهَ بالعلمِ

Artinya:

Barangsiapa yang menginginkan (kebahagian) hidup di dunia maka hendaklah ia berilmu, dan barangsiapa yang meninginkan (kebahagian) hidup di akhirat maka hendaklah ia berilmu, dan barangsiapa yang menhendaki kedua-keduanya maka hendaklah ia berilmu.

Hadits tersebut memberikan pembelajaran kepada kita umat Islam agar memiliki ilmu pengetahuan baik ilmu pengatahuan agama maupun ilmu pengetahuan umum. Hadits Rasulullah saw tersebut, dalam pandangan penulis menjelaskan tentang pentingnya pendidikan bagi umat manusia. Ilmu pengetahuan merupakan bekal kita untuk hidup di dunia dan akhirat. Tujuan dari proses pendidikan adalah untuk kesempurnaan dan kemulian manusia itu sendiri.

Dihadapan Allah, orang yang menuntut ilmu sangat mulia. Apabila para pencari ilmu meninggal ketika dalam proses  pendidikan atau pencaraian ilmu, mereka adalah mati dalam keadaan syahid. Begitu mulianya orang memiliki ilmu dihadapan Allah SWT yang pemberi ilmu. Orang tua memilik peran yang penting untuk memahamkan pentingnya pendidikan demi kelangsungan hidup manusia.

Perumusan tujuan pendidikan Islam harus berorientasi pada hakikat pendidikan yang meliputi beberapa aspek, misalnya tentang pertama, tujuan dan tugas hidup manusia. Manusia hidup bukan karena kebetulan dan sia-sia. Ia diciptakan dengan membawa tujuan dan tugas tertentu. Tujuan diciptakan manusia adalah hanya untuk mengabdi kepada Allah SWT.[15]

Tujuan manusia agar menuntut ilmu agar hidupnya melia dan mendapat derajat yang tinggi disisi Allah SWT, sebagaimana firman-Nya yang berbunyi:

Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_u‘yŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz

Artinya:

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahu apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Mujadalah: 11)

Dalam proses pendidikan, tujuan akhir merupakan kristalisasi nilai-nilai yang ingin diwujudkan dalam pribadi peserta didik. Dalam ayat tersebut, Allah meninggi derajat orang yang berilmu dari yang lainnya. Mereka memiliki kemulian disisi Allah SWT. Tujuan akhir dari pentingnay pendidikan harus lengkap mencakup semua aspek, serta terintegrasi dalam pola kepribadain ideal yang bulat dan utuh. Tujuan akhir mengandung nilai-nilai Islami dalam segala aspeknya. Dari semua penjelasan di atas, dapat penulis simpulkan bahwa pendidikan adalah sebagai alat untuk memilihara, memperluas dan menghubungkan tingkat-tingkat kebudayaan, nilai-nilai tradisi dan sosial serta ide-ide masyarakat dan bangsa. Pendidikan juga sebagai alat untuk mengadakan perubahan, inovasi dan perkembangan yang secara garis besarnya memalui pengetahuan dan skill yang baru ditemukan, dan melatih tenaga-tenaga manusia yang produktif untuk menemukan keseimbangan perubahan sosial dan ekonomi. Namun dalam pandangan Imam al-Ghazali, tujuan akhir pendidikan adalah berahklak mulia dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, itulah tujuan terpenting dari pentingnya pendidikan itu dilakukan.

KESIMPULAN

Pendidikan dalam pandangan Islam yang sebenarnya adalah suatu sistem pendidikan yang memungkinkan seseorang dapat mengarahkan hidupnya sesuai dengan ajaran Islam. Pendidikan merupakan suatu proses untuk mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat dan alam sekitarnya. Prinsip ini adalah keseimbangan antara berbagai aspek kehidupan pada pribadi berbagai kebutuhan individu dan komunitas, serta tuntutan pemiliharaan kebudayaan silam dengan kebutuhan kebudayaan masa kini serta berusaha mengatasi masalah-masalah yang sedang dan yang akan dihadapi. Dari penjelasan di atas dapat penulis simpulkan bahwa tujuan pendidikan adalah:

  1. Mendidik akhlak dan jiwa manusia, menanamkan nilai-nilai keutamaan, membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi.
  2. Menjadi manusia yang hidup mulia dan bahagia dunia dan akhirat
  3. Menjadi hamba Allah SWT yang selalu mendekatkan diri kepada-Nya. Karena manusia diciptakan sebagai khalifah dan mengabdi kepada-Nya.
  4. Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kita dan orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan.
  5. Serta mampu menjalankan hidupnya sebagai khalifah Allah di muka bumi dengan memiliki pengetahuan baik pengatahuan agama maupun pengetahuan umum.


[1] Dra. Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Askara, 2008, hlm. 10

[2] Prof. Dr. Imam Suprayogo, Pendidikan Berparadigma Al-Qur’an, Malang: Aditya Media & UIN Malang Press, 2004, hlm. 7

[3] Prof. Dr. Veithzal Rivai, Dr. Sylviana Murni, Education Management, Analisis Teori dan Praktik, Jakarta: Rajawali Press, 2009, hlm. 1

[4] HM. Djumransjah, Abdul Malik Karim Amrullah, Pendidikan Islam, Malang: UIN-Malang Press, 2007, hlm. 12

[5] Fathiyyah Hasan Sulaiman, Konsep Pendidikan al-Ghazaly, Jakarta: P3M, 1986, hlm. 19

[6] HM. Djumransjah, ibid, hlm. 17

[7] Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007, hlm. 74

[8] Prof. Dr. Ahmad Tafsir, ibid, hlm. 24

[9] Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Op.cit. hlm. 34

[10] M. Athiyah al-Abrasyi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Media Surya Grafindo, 1987, hlm. 1

[11] Ibid, hlm. 33

[12] Abdul Mujib, Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006, hlm. 138

[13] Dr. Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008, hlm. 5

[14] Lihat HM. Djumransjah….hlm. 71

[15] Abdul Mujib, Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006, hlm. 71

KEPEMIMPINAN, MANAJEMEN, ADMINISTRASI & ORGANISASI PENDIDIKAN

Posted in Uncategorized on Mei 23, 2011 by mghazakusairi

M. Ghaza Kusairi

(Mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Malang, Jurusan Manajemen Pendidikan Islam)

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.     Latar Belakang

Dewasa ini lembaga pendidikan Islam berkembang sebagai lembaga yang semakin kompleks sehingga ia membutuhkan organisasi yang tertata dengan baik dan benar. Kompleksitas lembaga pendidikan Islam terutama terlihat dari kebutuhan akan pengelolaan pelaksanaan pendidikan dengan pendekatan manajeman. Itulah kebutuhan untuk mengunakan pendekatan ilmu manajemen di lembaga pendidikan khususnya lembaga pendidikan Islam menjadi mutlak. Sehingga perkembangan administrasi pendidikan menjadi bagian yang menarik bagi kalangan praktisi dan ahli pendidikan sampai sekarang ini.

Kepemimpinan kepala sekolah sebagai agen perubahan dalam sekolah mempunyai peran aktif dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Untuk meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah maka kepala sekolah sebagai pemimpin harus mampu mempunyai leadership yang baik. Kepemimpinan yang baik adalah kepala sekolah yang mampu dan dapat mengelolah sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran dan sumber daya manusia hendaknya mampu menciptakan iklim organisasi yang baik agar semua komponen sekolah dapat memerankan diri secara bersama untuk mencapai sasaran dan tujuan organisasi.[1]

Teori kepemimpinan yang berkembang selama ini ingin mengetahui bagaimana terjadinya keefektifan kepemimpinan dalam organisasi. Sehingga berbagai hasil penelitian menemukan teori bahwa kepemimpinan dapat dilihat dari pribadi pemimpin, perilaku pemimpin, situasi budaya organisasi, hubungan pemimpin dengan yang dipimpin, hubungan pemimpin dengan tugas-tugasnya dan seterusnya. Dalam lembaga pendidikan, hubungan antara kepemimpinan, manajemen, administrasi dan organisasi saling membutuhan dan memiliki peranan yang penting dalam memaju lembaga pendidikan Islam. Oleh karena itu, dalam pandangan penulis, empat komponen tersebut tidak bisa dipisahkan dalam lembaga pendidikan.

Kepemimpinan merupakan prilaku mempengaruhi individu atau kelompok untuk melakukan sesuatu dalam rangka tercapainya tujuan organisasi. Secara lebih sederhana dibedakan antara kepemimpinan dan manajemen, yaitu pemimpin mengerjakan suatu yang benar (people who do think right), sedangkan menejer mengerjakan suatu dengan benar (people do right think). Landasan inilah yang menjadi acuan mendasar untuk melihat peran pemimpin dalam suatu organisasi. Perbedaan ini memberikan gambaran bahwa pemimpin biasanya terkait dengan tingkat kebijakan puncak atau pengambil keputusan puncak yang bersifat menyeluruh dalam organisasi, sedangkan menejer merupakan pengambil keputusan tingkat menengah.[2]

Ada kecenderungan dalam masyarakat luas di Indonesia, bahwa administrasi dipersepsikan dalam pengertian yang keliru, yaitu sebagai aktivitas-aktivitas kantor, urusan surat menyurat, yang sering disebut tatausaha. Tetapi kajian secara ilmiah menunjukkan, bahwa administrasi memiliki cakupan arti yang luas, yaitu sebagai proses, sebagai fungsi dan sebagai institusi dari tiap kegiatan kerja sama. Secara definitive juga dengan tegas dinyatakan, bahwa administrasi adalah organisasi dan manajemendari tiap kerja sama pencapai tujuan. Dan ini merupakan beban dan sekaligus tantangan yang berat bagi para pembina (pengajar) ilmu administarsi.[3]

Dengan demikian, dalam pandangan penulis bahwa keberadaan kepemimpinan, manajemen, administarsi dan organisasi dalam lembaga pendidikan tidak bisa dipisahkan dalam rangka mengembangkan dan memajukan lembaga pendidikan tersebut. Komponen-komponen tersebut (kepemimpinan, manajmen, administarai dan organisasi) merupakan satu kesatuan yang memiliki hubungan yang erat dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Dalam proses kegiatan dan pemgembangan lembaga pendidikan, empat komponen tersebut merupakan alat untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Apabila salah satu dari empat komponen tersebut diabaikan, maka akan mempengaruhi terhadap komponen yang lainnya sehingga berdampak terhadap lekeberadaan lembaga pendidikan. Oleh sebab itu, antara kepemimpinan, manajemen, administrasi dan organisasi memiliki hubungan yang saling mendukung dalam sebuah lembaga pendidikan demi mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.     Konsep Dasar Kepemimpinan

Kepemimpinan dipahami sebagai segala daya dan upaya bersama untuk menggerakkan semua sumber dan alat (resources) yang tersedia dalam suatu organisasi. Untuk itu dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sengat tergantung atas kemampuan pempinannya untuk menumbuhkan iklim kerja sama agar dengan mudah dapat menggerakkan sumber daya tersebut, sehingga dapat mendayagunakannya dan dapat berjalan secara efektif dan efisien.

Di dalam lingkungan organisasi, kepemimpinan terjadi melalui dua bentuk, yaitu: kepemimpinan formal (formal leadership) dan kepemimpinan informal (informal leadership). Kepemimpinan formal terjadi apabila di lingkungan organisasi jabatan otoritas formal dalam organisasi tersebut diisi oleh orang-orang yang ditunjuk atau dipilih melalui proses seleksi. Sedangkan kepemimpinan informal terjadi, dimana kedudukan pemimpin dalam suatu organisasi diisi oleh orang-orang yang muncul dan berpengaruh terhadap orang lain karena kecakapan khusus atau berbagai sumber yang dimilikinya dirasakan mampu memecahkan persoalan organisasi serta memenuhi kebutuhan dari anggota organisasi yang bersangkutan.[4]

Kepemimpinan yang efektif dapat ditunjukkan dengan kemampuan seseorang dalam membaca situasi dan kondisi yang berkaitan dengan iklim kerja dalam sebuah organisasi yang ditunjukkan, misalnya dengan tinggi-rendahnya angka ketidakhadiran bawahan dalam bekerja, banyak-sedikitnya pengawai yang minta berhenti, rendahnya kedisiplinan kerja pegawai, tinggi-rendahnya produktivitas kerja pegawai dan banyak-sedikitnya keluhan pengawai, baik yabg disampaikan secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi. Seorang pemimpin harus mampu memberikan dorongan kepada anggota kelompoknya untuk bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab serta dapat bekerjasama untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.[5]

  1. 1.      Pengertian Kepemimpinan Pendidikan

Istilah kepemimpinan pendidikan mengandung dua pengertian, dimana kata pendidikan menerangkan di lapangan apa dan di mana kepemimpinan itu berlangsung, dan sekalaigus menjelaskan pula sifat dan ciri-ciri kepemimpinan, yaitu bersifat mendidik dan membimbing. Sebagaimana kata pendidikan yang menunjukkan arti yang dapat dilihat dari dua segi, yaitu:[6]

  1. pendidikan sebagai usaha atau proses pendidik dan mengajar seperti yang dikenal sehari-hari
  2. pendidikan sebagai ilmu pengetahuan yang membahas berbagai masalah tentang hakikat dan kegiatan mendidik mengajar dari zaman ke zaman atau yang membahas prinsip-prinsip dan pratik-praktik mendidika dan mengajar dengan segala cabang-cabangnya yang telah berkembang begitu luas dan mendalam.

Dari dual hal tersebut, maka dapat penulis jelaskan bahwa kepemimpinan pendidikan pada dasarnya terdapat dan berperan pada usaha-usaha yang berhubungan dengan proses mendidik dan mengajar di satu pihak, dan pada pihak lain berhubungan dengan usaha-usaha pengembangan pendidikan sebagai satu ilmu dengan segala cabang-cabangnya dan ilmu-ilmu pembantu lainnya.

Kepemimpinan dalam lembaga pendidikan sangat berperan penting dalam mengembangkan seluruh sumber daya yang ada termasuk sumber daya manusia (SDM), oleh karena itu, para pakar pendidikan mencoba mengartikan kepemimpinan pendidikan, yaitu:

  1. Nawawi (1994:82), mengatakan bahwa kepemimpinan pendidikan adalah proses menggerakkan, mempengaruhi, memberikan motivasi, dan mengarahkan orang-orang di dalam organisasi atau lembaga pendidikan tertentu untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya. Untuk mewujudkan tugas terebut, setiap pimpinan pendidikan harus mampu bekerja sama dengan orang-orang yang dipimpinnya untuk memberikan motivasi agar melakukan pekerjaannya secara ikhlas.[7] Dengan demikian, seorang pemimpin pendidikan harus memiliki jiwa kepemimpinan dalam mengembangkan sumber daya manusia lembaga pendidikan.
  1.  Fachrudi (1983: 33), mengatakan bahwa kepemimpinan pendidikan adalah suatu kemampuan dalam proses mempengaruhi, mengkoordinir orang-orang lain yang ada hubungannya dengan ilmu pendidikan dan pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, agar kegiatan-kegiatan yang dijalankan dapat berlangsung lebih efisien dan efektif di dalam pencapaian tujuan-tujuan pendidikan dan pengajaran.
  2. Sedangkan Assosiation of Supervision and curiculum Development (ASCD), menyatakan bahwa kepemimpinan pendidikan adalah tindakan atau tingkah laku di antara individu-individu dan kelompok-kelompok yang menyebabkan mereka bergerak kea rah tercapainya tujuan-tujuan pendidikan yang menambahkan penerimaan bersama bagi mereka.[8]

Dari beberapa pendapat tersebut di atas, tentang pengertian kepemimpinan pendidikan, maka dapat penulis simpulkan bahwa yang dimaksud dengan kepemimpinan pendidikan adalah kemampuan seseorang dalam mempengaruhi, mengkoordinir, menggerakkan, memberikan motivasi dan mengarahkan orang-orang dalam lembaga pendidikan agar pelaksanaan pendidikan dapat lebih efisien dan efektif dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang telah dirumuskan.

Dari uraian tersebut jelaslah bahwa manusia telah dikaruniai sifat dan sekaligus tugas sebagai seorang pemimpin. Pada masa sekarang ini setiap individu sadar akan pentingnya ilmu sebagai petunjuk/alat/panduan untuk memimpin umat manusia yang semakin besar jumlahnya serta komplek persoalannya. Atas dasar kesadaran itulah dan relevan dengan upaya proses pembelajaran yang mewajibkan kepada setiap umat manusia untuk mencari ilmu. Dengan demikian upaya tersebut tidak lepas dengan pendidikan, dan tujuan pendidikan tidak akan tercapai secara optimal tanpa adanya manajemen atau pengelolaan pendidikan yang baik, yang selanjutnya dalam kegiatan manajemen pendidikan diperlukan adanya pemimpin yang memiliki kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin.

Dengan demikian, dalam pandangan penulis bahwa kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan yang tidak sama di antara pemimpin dan anggotanya. Pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan anggota dan juga dapat memberikan pengaruh, dengan kata lain para pemimpin tidak hanya dapat memerintah bawahan apa yang harus dilakukan, tetapi juga dapat mempengnaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintahnya. Sehingga terjalin suatu hubungan sosial yang saling berinteraksi antara pemimpin dengan bawahan, yang akhirnya tejadi suatu hubungan timbal balik. Oleh sebab itu bahwa pemimpin diharapakan memiliki kemampuan dalam menjalankan kepemimpinannya, kareana apabila tidak memiliki kemampuan untuk memimpin, maka tujuan yang ingin dicapai tidak akan dapat tercapai secara maksimal.

Pemimpin pada hakikatnya adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Kekuasaaan adalah kemampuan untuk mengarahkan dan mempengaruhi bawahan sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakannya. Semakin banyak jumlah sumber kekuasaan yang tersedia bagi pemimpin, maka makin besar potensi kepemimpinan yang efektif.[9] Dengan demikian, penulis beranggapan bawah makin efektifnya kepemimpinan seseorang, maka kesuksesan dalam mencapai cita-cita semakin terbuka lebar. Dalam hal ini, seorang pemimpin benar-benar mampu mempengaruhi bawahnnya dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

  1. 2.      Pendekatan Dalam Kepemimipinan

Menurut kodrat serta irodatnya bahwa manusia dilahirkan untuk menjadi pemimpin. Sejak Adam diciptakan sebagai manusia pertama dan diturunkan ke bumi, ia ditugasi sebagai khalifah Allah di muka bumi ini. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi:

øŒÎ)ur tA$s% š•/u‘ Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ’ÎoTÎ) ×@Ïã%y` ’Îû ÇÚö‘F{$# Zpxÿ‹Î=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ߉šøÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡o„ur uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ωôJpt¿2 â¨Ïd‰s)çRur y7s9 ( tA$s% þ’ÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès?

Artinya:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (QS. al-Baqarah: 30)

Sebagai pemimpin di muka bumi, berdasarkan firman Allah tersebut, manusia harus memliki kemampuan dalam kepemimpinannya. Ada beberapa pendekatan dalam mengkaji kepemimpinan, yaitu:

  1. Pendekatan Sifat-Sifat Kepemimpinan

Usaha yang pertama kali dilakukan oleh psikolog dan peneliti untuk memahmi kepemimpinan yaitu mengenali karakteristik atau ciri-ciri para pemimpin yang berhasil. Penelitian masa itu ditunjukan untuk mengetahui sifat-sifat pemimpin yang mencaku: intelektualitas, hubungan sosial, kemampuan emosional, keadaan fisik, imajinasi, kekuatan jasmani, kesabaran, kemampuan berkorban, dan kemampuan bekerja keras. Ciri-ciri tersebut harus dimiliki oleh seorang pemimpin.[10]

  1. Pendekatan Perilaku

Pendekatan perilaku memandang bahwa kepemimpinan dapat dipelajari dari pola tingkah laku, dan bukan dari sifat-sifat (traits) pemimpin. Alasannya sifat seseorang relatif sukar untuk diidentifikasi. Beberapa pandangan ahli, antara lain James Owen (1973) berkeyakinan bahwa perilaku dapat dipelajari, hal ini berarti bahwa orang yang dilatih dalam perilaku kepemimpinan yang tepat akan dapat memimpin secara efektif. Namun demikian hasil penelitian telah membuktikan bahwa perilaku kemimpinan yang cocok dalam satu situasi belum tentu sesuai dengan situasi yang lain.[11]

  1. Pendekatan Situasional

Pendekatan situasional berpandangan bahwa keefektifan kepemimpinan bergantung pada kecocokan antara pribadi, tugas, kekuasaan, sikap dan persepsi. Pendekatan ini berusaha mengenali faktor-faktro yang paling penting dalam seperangkat situasi tertentu, dan meramalkan gaya kepemimpinan yang paling efektif dalam situasi seperti itu.[12]

Menurut analisis penulis, berdasarkan tiga pendekatan tersebut, ada ketidak cocokkan antara pendekatan satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, dalam pandangan penulis dalam mengkaji kepemimpinan harus mampu mengintegrasikan semua pendekatan tersebut, tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya karena ketiga pendekatan tersebut saling berkaitan.

  1. B.     Konsep Dasar Manajemen

Istilah manajemen mengaju kepada proses pelaksanaan aktivitas yang diselesaikan secara dengan dan melalui pendayagunaan orang lain. Siagian (1978) menyebutkan manajemen adalah kemampuan dan keterampilan untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegaiatan-kegiatan orang lain.[13]

Setiap jenis pengetahuan termasuk pengetahuan manajemen mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistimilogi), dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiganya berkaitan satu sama lain (sistem). Ontologi ilmu terkait dengan epistimologi, dan epistimologi berkaitan dengan aksiologi dan seterusnya. Di dalam pengatahuan manajemen, falsafah pada hakikatnya menyediakan seperangkat pengetahuan (a body of related knowledge) untuk berfikir efektif dalam memecahkan masalah-masalah manajemen. Ini merupakan hakikat manajemen sebagai suatu disiplin ilmu dalam mengatasi masalah organisasi berdasarkan pendekatan yang intelegen. Bagi seorang manajer perlu pengetahuan tentang kebenaran manajemen, asumsi yang telah dikaui dan nilai-nilai yang telah ditentukan. Pada akhirnya semua itu akan memberikan kepuasan dalam melakukan pendekatan yang sistematik dalam praktek manajerial.[14]

Menurut analisis penulis, bahwa teori manajemen mempunyai peran (role) atau membantu menjelaskan perilaku organisasi yang berkaitan dengan motivasi, produktivitas dan kepuasan. Karakteristik teori manajemen secara garis besar dapat dinyatakan mengacu kepada pengalaman empirik serta adanya keterkaitan antara satu teori dengan teori lain dan mengakui kemungkinan adanya penolakan.

  1. 1.      Pengertian Manajemen

Meskipun cenderung mengarah pada satu fakus tertentu, para ahli masih berbeda pandangan dalam mendefinisikan manajemen dan kerenanya belum dapat diterima secara universal. Manajemen merupakan pemanfaantan sumber-sumber yang tersedai atau yang berpotensi di dalam pencapaian tujuan. Adapun yang dimaksud dengan sumber daya manajemen dalam lembaga pendidikan yaitu: Man (orang), Money (uang), Material (material), Machine (peralatan/mesin), Method (metode), dan Time (waktu).[15]

Dari beberapa penjelasan diatas pada dasarnya manajemen dapat diartikan berdasarkan beberapa pendapat, yaitu:

  1. Longnecker & Pringle, merumuskan manajemen sebagai proses memperoleh dan menggabungkan sumber-sumber manusia, finansial dan fisik untuk mencapai tujuan pokok organisasi menghasilakn prosduk atau jasa/layanan yang diinginkan oleh sekelompok masyarakat.[16]
  2. Siagan (1978), menyebutkan menajemen adalah kemampuan dan keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain. Gr. Terry dalam bukunya principles of management (1972) menyebutkan bahwa manajemen meruapakan suatu proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya lainnya.[17]
  3. Manajemen adalah suatu proses/kegiatan/usaha pencapaiann tujuan tertentu melalui kerja sama dengan orang lain, di mana dapat dimanfaatkan dan dgunakan sebagai sumber dan sasaran-sasaran manajemen.
  4. Manajemen adalah suatu kerangka kerja yang terdiri atas berbagai bagian/komponen yang secara keseluruhan saling berkaitan dalam organisasi yang sedemikan rupa dalam mencapain tujuan (management as a system).[18]

Dari uraian beberapa pengertian manajemen di atas dapatlah penulis simpulkan, bahwa manajemen adalah sebagai suatu proses dari serangakaian kegiatan yang diarahkan pada pencapaian tujuan dengan pemanfaatan semaksimal mungkin dari sumber-sumner yang serta manajemen sebagai fungsi. Dari sisi lain, manajemen dipandang sebagai suatu ilmu, yaitu manajmen suatu ilmu yang sifatnya interdisipliner (menggunakan bantuan ilmu-ilmu lain, misalnya ilmu sosial, filsafat dan matematika). Dengan demikian, manajemen sebagai ilmu yang bersifat interdisipliner dimana dalam masalah konsep, teori-teori, merode-metode dan analisisnya tidak bisa lepas dari barbagai disiplin keilmuan lainnya. Karena kebenaran suatu teori tidak bisa lepas dari pandangan-pandangan dari sudup pandang keilmuan lainnya.

  1. 2.      Beberapa Tinjauan Terhadap Manjemen

Dalam menjelaskan tentang manajmen dapat ditinjau dari bebrapa segi (applied approach), yaitu:

  1. Segi Sifat Kerja

Dari segi sifat kerja, manajemen dapat digolongkan menjadi sebagai berikut:[19]

  1. Manajemen administratif (administrative mangement), yaitu manajmen atau pejabat pimpinan yang kerjanya menitikberatkan dalam bidang pemikiran (kerja pikir). Maksudnya adalah suatu pendekatan dari pempinan atas sampai ke tingkat pimpinan yang terbawah sekalipun, termasuk para pekerjanya.
  2. Manajemen operatif (oprative management), yaitu manajemen atau pejabat pempinan yang langsung memimpin kerja ke arah tercapainya kerja yang nyata. Makdunya adalah pendekatan dari bawah ke tingkat yang lebih atas, adapaun titik beratnya adalah efisien dan produktivitas para pelaksananya yang terdapat di tingkat bawah.[20]
  3. Manajemen administratif dan manajemen operatif (pejabat manajemen yang hidup dalam dua dunia). Artinya adalah bahwa pada suatu saat pemimpin dapat sebagai manajemen administrative dan pada kesempatan lain duduk sebagai manajemen operatif.
  4. Segi Luasnya

Jika dilihat dari segi luas atau ruang lingkup, manajemen pendidikan terdiri dari beberapa, antara lain yaitu:

  1. Makro Manajemen, yaitu manajemen apda umumnya terdapat dalam bidang kenegaraan, pendidikan dan perusahaan.
  2. Mikro manajemen, yaitu manajemen dalam bidang /lingkungan yang lebih khusus daripada makro manajemen seperti manajemen kantor personalia, pergudangan dan alat.
  3. Segi Pandangannya

Dari berbagai sudut pandangan, maka manajemen pendidikan dapat dibedakan atas beberapa tinjauan sebagai berikut:[21]

  1. Manajemen sebagai proses, yaitu merupakan proses dari pemberian fasilitas-fasilitas, pimpinan, teladan, bimbingan kepada orang-orang yang terorganisasi dalam satu kesatuan yang telah ditetapkan tujuannya (a desire goal). Dari sudut proses ini, manajemen dapat pula diartikan sebagai keseluruhan proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan atau pengendalian sampai tujuan yang dikehendaki menjadi kenyataan.
  2. Manajemen sebagai kolektivitas, yaitu bahwa tiap-tiap kita menjalankan manajemen, bukan hanya manajer puncak (top manager) atau pimpinan tunggal semata, tetapi semua pejabat pempinan dari rektur utama sampai kepada kepala-kepala bagian, kepala-kepala sub.seksi, kepala-kepala urusan dan bahkan kepala-kepala pesuruh. Dengan demikian, dalam manajemen sebagai kolektivitas menurut penulis, pekerjaan/usaha tadi dapat dilaksanakan secara bersama-sama dengan lancar demi tercapainya tujuan yang bersama diinginkan.
  3. Manajemen sebagai kerangka wewenang dan tanggung jawab. Sudah menjadi kelaziman, bahwa siapa saja yang mempunyai wewenang harus selalu didampingi dengan tanggung jawab, dan di dalam organisasi manapun ada orang-orang yang mempunyai wewenang lebih daripada yang lain.
  4. Manajemen sebagai kegiatan (aktivitas), yaitu manajemen sebagai kegiatan bukanlah kegiatan dari masing-masing orang/bagian/baidang secara sendiri-sedniri, tetapi merupakan kesatuan kegiatan dari seluruh bidang-bidang pekerjaan yang diadakan dan dilaksanakan demi tercapainya tujuan bersama. Guna mencapai tujuan bersama itu ada beberapa cara untuk menggerakan orang-orang/bagian-bagian yang ada dalam lingkunagn organisasi, antara laian dengan menggalang rasa kesetiakawanan, yaitu dengan dorongan dan memberikan penghargaan kepada masing-masing bagian, sehingga menimbulkan anggapan bahwa tiap-tiap bagian itu mempunyai fungsi dan peranan penting.

Dari beberapa penjelasan tersebut, menurut analisis penulis bahwa tinjauan dalam mengkaji manajemen sangat dibutuhkan. Penulis juga memberikan apresiasi yang sangat besar terhadap teori tersebut di atas, karena dengan adanya tinjauan-tinjauan tersebut, diharapkan dalam mengelola manajemen lembaga pendidikan bisa menghasilkan output atau sumber daya manusia yang berkualitas yang siap menghadapai persaingan pasar globalisasi.

  1. 3.      Fungsi Manajemen

Mengenai fungsi-fungsi manajemen ini terdapat banyak sekali pandangan-pandangan yang berbeda satu sama lain di kalangan para ahli. Namun secara garis besar, fungsi-fungsi manajemen yaitu:

  1. Perencanaan (Planning)

Perencanaan merupakan salah satu hal terpenting yang perlu dibuat untuk setiap usaha dalam rangka mencapai suatu tujuan. Karena seringkali pelaksanaan suatu kegiatan akan mengalami kesulitan dalam mencapai tujuan tanpa adanya perencanaan. Perancanaan sendiri adalah penentuan secara matang dan cerdas tentang apa yang akan dikerjakan di masa yang akan datang dalam rangka mencapai tujuan. Anderson dan Bowman (1964) (dalam marno, Triyo Supriyatno 2008), mengatakan bahwa perencanaan adalah proses mempersiapkan seperangkat keputusan bagi perbuatan di masa datang. Definisi ini meninsyaratkan bahwa pembuat keputusan merupakan bagian dari perencanaan, namunproses perencanaan dapat juga terpikir setelah tujuan dan keputusan diambil.[22]

  1. Pengorganisasian (Organizing)

Istilah organisasi mempunyai dua pengertian utama. Pertama, organisasi diartikan sebagai suatu lembaga atau kelompok fungsional, misalnya, sebuah perusahaan, sebuah sekolah, sebuah perkumpulan dan badan-badan pemerintahan. Kedua, merujuk pada proses pengorganisasian yaitu bagaimana pekerjaan diatur dan dialokasikan di antara para naggota, sehingga tujuan organisasi itu dapat tercapai secara efektif.[23] Pengorganisasian adalah pengaturan setelah ada rencana. Dalam hal ini diatur dan ditentukan tentang apa tugas pekerjaannya, macam/jenis serta sifat pekerjaan. Dalam pendapat lain, pengorganisasian adalah proses penentuan, pengelompokan dan penyusunan macam-macam kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan, penempatan orang-orang (staf) pada kegiatan-kegiatan ini, penyediaan faktor-faktor fisik yang cocok bagi lingkungan (keperluan kerja).[24]

Dengan demikian, dalam pandangan penulis, bahwa pengorganisasian merupakan fungsi administrasi yang dapat disimpulkan sebagai kegiatan menyusun struktur dan membentuk hubungan-hubungan agar diperoleh kesesuaian dalam usaha pencapaian tujuan bersama. Pengorganisasian yang baik memungkinkan semua bagian dapat bekerja dalam keselarasan dan akan menjadi bagian dari keseluruhan yang tak terpisahkan.

  1. Penggerakan (Actuating)

Penggerakan pada dasarnya merupakan fungsi manajemen yang komplek dan ruang lingkupnya cukup luas serta berhubungan erat dengan sumber daya manusia. Penggerakan merupakan salah satu fungsi terpenting dalam menejemen. Penggerakan adalah hubungan erta antara aspek-aspek individual yang ditimbulkan dari adanya pengaturan terhadap bawahan untuk dapat dimengerti dan pembagian kerja yang efektif dan efesien untuk mencapai tujuan pendidikan yang nyata. Sedangkan Terry (1986) mendefinisikan actuating sebagai usaha menggerakan anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan yang bersangkutan dan sasaran anggota perusahaan, karena para anggota ingin mencapai sasaran-sasaran tersebut.[25]

  1. Pengawasan (Contrilling)

Pada dasarnya rencana dan pelaksanaan merupakan satu kesatuan tindakan, walaupun hal ini jarang terjadi. Pengawasan diperlukan untuk melihat sejauh mana hasil tercapai. Menurut Murdick pengawasan merupakan proses dasar yang secara esensial tetap diperlukan bagaimanapun rumit dan luasanya suatu organisasi. Proses dasarnya terdiri dari tiga tahap (1) menetapkan standar pelaksanaan, (2) mengukur pelaksanaan pekerjaan dibandingkan dengan standar, dan (3) menentukan kesenjangan (deviasi) antara pelaksanaan standar dan rencana.[26]

Dengan demikian, pengawasan memilik peranan yang penting dalam mengevaluasi dan penilaian terhadap rencana yang ingin dicapai. Oleh karena itu, dalam pandangan penulis, keberhasilan suatu lembaga pendidikan dapat dilihat dan monitoring oleh pengawasan. Kendala-kedala yang bisa menghambat untuk mencapai tujuan bisa dilihat dari pengawasan ini.

  1. 4.      Prinsip-Prinsi Manajemen

Manajemen dipandang sebagai suatu sistem didasarkan pada asumsi bahwa organisasi merupakan sistem terbuka, tujuan organisasi mempunyai kebergantungan. Adapun prinsip-prinsip manajemen berdasarkan sistem yaitu:

  1. Prinsip Manajemen Berdasarkan Sasaran (MBS)

Istilah MBS (manajemen berdasarkan sasaran) pertama kali dipepulerkan sebagai suatu pendekatan terhadap perencanaan. MBS merupakan teknik manajemen yang membantu memperjelas dan menjabarkan tahapan tujuan organisasi dan juga dilakukan proses penentuan tujuan bersama antara atasan dan bawahan.[27]

  1. Prinsip Manajemen Berdasarkan Orang

Manajemen berdasarkan orang merupakan suatu konsep manajemen modern yang mengkaji keterkaitan dimensi perilaku, komponen sistem dalam kaitannya dengan perubahan dan pengembangan organisasi. Tuntutan perubahan dan pengembangan yang muncul sebagai akibat tuntutan lingkungan internal dan eksternal, membawa implikasi terhadap perubahan perilaku kelompok dan wadahnya. Salah satu upaya yang paling penting adalah dengan mengembangkan sumber daya manusia. Namun, pengembangan SDM harus diimbangi dengan pengembangan organisasi.[28]

  1. Prinsip Manajemen Berdasarkan Informasi

Perencanaan pengorganisasian, kepemimpinan dan pengawasan merupakan kegiatan manajerial yang pada hakikatnya merupakan proses pengambilan keputusan, semua kegiatan tersebut membutuhkan informasi. Informasi yang dibutuhkan oleh manajer disediakan oleh suatu sistem informasi manajemen (Management Information System/MIS) yaitu suatu sistem yang menyediakan informasi untuk manajer secara teratur. Informasi ini dimanfaatkan sebagai dasar untuk melakukan pemantauan dan penilaian kegiatan serta hasil-hasil yang dicapai.[29]

Dengan demikian, dapat penulis simpulkan bahwa fungsinya manajemen berdasarkan pendekatan sistem akan sangat ditentukan oleh informasi yang memenuhi persyaratan. SIM hadir memberikan pada manajemen informasi yang unifrom, lengkap, jelas, dan tepat waktu untuk dasar pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah.

  1. C.     Konsep Dasar Administrasi

Tuntutan akan pemenuhan kebutuhan mansuia yang semakin meningkat dan kompleks serta sulit untuk dipenuhi secara individual, keterbatasan sumberdaya mewarnai perkembangan kehidupan manusia dewasa ini dan untuk mendorong manusia melakukan kerja sama, baik secara individual maupun secara organisasional. Itulah sebabnya disebut, bahwa dunia modern adalah dunianya kerja sama, sebab tanpa melakukan kerja sama tiap imdividu, tiap organisasi bahkan tiap bangsa, negara dan pemerintahan tidak akan ada perubahan dan perbaikan demi memenuhi kebutuhan hidup manusia.

Meskipun demikian, aktivitas kerja sama sudah ada sejak adanya peradaban manusia dan pada zaman modern sekarang ini semakin menunjukkan kompleksitas dan menyangkut di semua aspek kehidupan, seperti ekonomi, politik, pemerintahan, sosial, dan budaya, agama, bisnis, pertahanan dan keagamanan serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Karenanya, fenomena, kerja sama organisasional bersifat universal, sedangkan ilmu yang mempelajari atau menelaah fenomena kerja sama organisasional adalah ilmu administrasi.[30]

Meskipun studi tentang fenomena kerja sama organisasional melalui atau dengan menggunakan analisis dan pendekatan ilmu administrasi masih relatif baru, akan tetapi menunjukkan dimensi bahasan yang amat luas. Demikian luasanya cakupan ilmu administrasi, sehingga ada yang mengatakan, tidak ada ilmu yang lebih luas daripada ilmu administrasi. Yang jelas dimensi utama dalam studi tentang ilmu administrasi adalah organisasi, manjemen, kepemimpinan, kengambil keputusan dan komunikasi.

Dengan demikian, dapat penulis katakan, bahwa hubungan antara administrasi, kepemimpinan, manajmen dan organisasi sangat penting, sehingga semua komponen ini tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Apabial salah satu dikaji, maka secara otomatis yang lainnya akan ikut dibahasan. Oleh karena itu, penulis mangatakan bahwa suatu organisasi sangat membutukan kepemimpinan, administrasi dan manajmen dalam mengembangkan organisasi dan dalam mencapai tujuan-tujuan telah direncanakan dalampelaksanaan organisasi.

  1. 1.      Pengertian Administrasi

Secara etimologis istilah administrasi berasal dari bahasa Inggris dari kata administration yang berbentuk infinitifnya adalah to administer. Dengan demikian, secara etimologis admnistrasi dapat diartikan sebagai kegiatan memberi bantuan dalam mengelola informasi, mengelola manusia, mengelola harta benda kearah suatu tujuan yang terhimpun dalam organisasi.[31] Administrasi dalam arti sempit merupakan penyusunan dan pencatatan data dan informasi secara sitematis dengan maksud untuk menyediakan keterangan serta memudahkan memperolehnya kembali secara keseluruhan dan dalam hubungannya satu sama lain.

Perkembangan penggunaan istilah dan pengartian administrasi di Indonesia juga masih menunjukkan ketidaksamaan pandangan atau pandangan. Di satu pihak administrasi diartikan sebagai tatausaha dan dilain pihak administrasi diartikan sebagai kegiatan pengelolaan human rasaources dan material resaouces  termasuk pengelolaan informasi atau kegiatan tatausaha. Dalam pengertian luas administrasi adalah keseluruhan proses pelaksanaan kegiatan yang dilakukan dua orang atau lebih yang terlibat dalam suatu bentuk usaha kerja sama demi tercapainya tujuan yang ditentukan sebelumnya .[32]

Dengan demikian, administrasi dalam artian luas dapat kita tinjau dari tiga sudut pandang pengertian, yaitu:

  1. Administrasi sebagai proses. Ditinjau dari sudut proses, administrasi merupakan keseluruhan proses yang dimulai dari proses pemikiran, perencanaan, pengaturan, penggerakan/bimbingan, pengawasan sampai proses pencapaian tujuan.[33]
  2. Admnistrasi sebagai fungsi. Ditinjau dari sudut fungsi atau tugas, admnistrasi bererti keseluruhan tindakan (aktivitas) yang mau tidak mau harus dilakukan dengan sadar oleh seseorang atau kelompok organisasi orang berkedudukan sebagai administrator atau orang yang berkedudukan sebagai manajemen puncak suatu organisasi.
  3. Administrasi sebagai kepranataan. Administrasi dapat dilihat dan diartikan sebagai suatu lembaga, misalnya PN Pembangunan Perumahan (sekarang PT Pembangunan Perumahan). Ini dilihat dari aktivitas-aktivitas orang-orang di dalamnya dalam perusahaan tersebut.

Dari beberapa pengertian administrasi tersebut di atas, dapat penuliskan simpulkan bahwa administrasi adalah sebagai berikut:

  1. Aktivitas-aktivitas untuk mencapai suatu tujuan atau sebagai proses penyelenggaraan kerja untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan sebeumnya.
  2. Administrasi adalah suatu bentuk daya upaya manusia yang kooperatif, yang mempunyai tingkat rasionalitas yang tinggi.
  3. Administrasi adalah sutau ilmu yang mmepelajari apa yang dikehendaki manusia dan cara mereka memperolehnya. Administrasi mementingkan aspek-aspek konkrit dari metode-metode dan prosedur-prosedur manajemen di mana kerja sama merupakan unsur utama.

Dalam proses untuk mencapai tujuan, sebagai gambaran tentang unsur-unsur administrasi dapat dilihat seperti dalam bagan di bawah ini:

Dengan demikian, berdasarkan bagan tersebut dapat penulis jelaskan dan dirumuskan suatu batasan tentang administrasi yaitu kegiatan kerja sama yang dilakukan sekelompok orang berdasarkan pembagian kerja sebagaimana ditentukan dalam struktur dengan mendayagunakan sumberdaya-sumberdaya untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

 

  1. D.    Konsep Dasar Organisasi

Setiap manusia akan berhubungan dengan bermacam-macam orang yang begitu kopleks dan bersangkutan dengan kebutuhan baik dari segi ekonomi, sosial, rekreasi, pendidikan dan lain sebagainya. Disadari atau tidak disadari, sengaja atau tidak disengaja, setiap manusia selalu berada, dibesarkan dalam dan menjadi anggota oeganisasi. Ini berlangsung sejak lahir hingga pada saat meninggal dunia.

Hidup anda banyak bergantung dan dipengaruhi oleh organisasi, sebab sebagian besar kebutuhan hidup anda dipenuhi melalui organisasi. Apa yang kita pakai, yang kita makan, dengan apa kita pergi, jalan yang kita lalui dan lain-lain, semuanya merupakan produk atau output organisasi. Jelasnya, seseorang masuk dan membentuk suatu organisasi karena dia mengharapkan bahwa ikut sertanya dalam organisasi akan memuaskan beberapa kebutuhan, baik emosional, spiritual, intelektual dan ekonomi.[34]

Menurut hemat penulis, inilah salah satu hakikat hidup manusia yaitu selalu hidup dalam organisasi atau berorganisasi, bukan saja karena manusia tak mampu hidup sindiri kecuali hidup dan berinteraksi dengan manusia lain dalam memenuhi kebutuhannya, melainkan juga karena manusia menghadapi pembatasan, ketidakmampuan fisik dan psikis, pemilikan materi dan waktu dalam usahanya untuk mencapai tujuan. Pada dasarnya organisasi itu ada karena organisasi mempersatukan sumber-sumber dan potensi individu. Dengan demikian, tanpa pengorganisasian musthil suatu rencana dapat mencapai tujuan, tanpa organisasi para pelaksana tidak memliki pedoman kerja yang jelas dan tegas sehingga pemborosan dan tumpang-tindih akan mewarnai pelaksanaan suatu rencana yang akibatnya adalah kegagalan dalam mencapai tujuan.

  1. 1.      Pengertian Organisasi

Istilah organisasi mempunyai dua pengertian umum. Pertama organisasi diartikan sebagai suatu lembaga atau kelompok fungsional, misalnya, sebuah perusahaan, sebuah sekolah, sebuah perkumpulan dan badan pemerintahan. Kedua, merujuk kepada proses pengorganisasian yaitu bagaimana pekerjaan diatur dan dialokasikan di antara para anggota, sehingga tujuan organisasi itu dapat tercapai secara efektif. Sedangkan organisasi itu sendiri diartikan sebagai kumpulan orang dengan sistem kerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

Hicks & Gullen (1981:321) mengatakan bahwa organisasi adalah kegiatan membagi-bagi tugas, tanggung jawab dan wewenang di antara sekelompok orang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan menurut Pierce I dan Robinson (1989:296) organisasi adalah proses membentuk hubungan-hubungan yang esensial di antara orang-orang, tugas-tugas dan aktivitas-aktivitas dengan cara mengintegrasikan dan mengkoordinasikan semua sumber organisasi kearah pencapaian suatu tujuan secara efektif dan efisien.[35]

Dari uraian di atas, dapat penuliskan katakan bahwa organisasi adalah proses penentuan, pengelompokan dan penyusunan macam-macam kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, dapat penulis simpulkan bahwa organisasi merupakan fungsi administrasi yang dapat disimpulkan sebagai kegiatan menyusun struktur dan membentuk hubungan-hubungan agar diperoleh kesesuaian dalam usaha mencapai tujuan bersama.

  1. 2.      Ciri-Ciri Organisasi
  2. Organisasi sebagai suatu sistem, yaitu adanya seperangkat unsur yang saling bergantung dan saling berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya
  3. Organisasi merupakan struktur, adanya suatu kadar formalitas dan pembagian tugas dan tanggung jawab yang harus dijalankan oleh anggota kelompok
  4. Adanya perencanaan yang dilakukan secara sadar berdasarkan rasionalitas dan pedoman-pedoman yang jelas
  5. Adanya koordinasi dan kooperasi yang baik diantara orang-orang yang bekerja sama, menunjukkan bahwa tindakan-tindakan orang-orang tersebut berjalan kearah suatu tanggung jawab tertentu.[36]

Oleh karena itu, organisasi bukanlah suatu sistem tertutup, tetapi harus berinteraksi dengan lingkungan. Organisasi adalah suatu sistem terbuka dan karena itu di samping mencakup proses produksi juga proses-proses lain yang bersifat hakiki untuk mempertahankan eksistensinya, ia mesti menopang fungsi-fungsinya dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

  1. 3.      Tujuan Organisasi

Tujuan adalah arah atau sesuatu yang ingin dicapai atau dipengaruhi yang menjadi sebab dilaksanakannya suatu kegiatan. Untuk mencapai tujuan, suatu organisasi menggunakan berbagai upaya. Tujuan organisasi pada hakikatnya merupakan intergrasi dari berbagai tujuan baik yang sifatnya komplementer yaitu tujuan individu atau anggota organisasi, maupun tujuan yang sifatnya substantif, yaitu tujuan organisasi secara keseluruhan. Tujuan substantif merupakan tujuann pokok organisasi yang menjadi sebab utama dibentuknya suatu organisasi. Oleh sebab itu, kegiatan-kegitan organisasi diarahkan kepada dua dimensi tujuan, yaitu:[37]

  1. Tercapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Keefektifan adalah yang berhubungan dengan tujuan organisasi baik secara iksplitis maupun implisit. Efisiensi adalah berhubungan dengan rasio output dengan input atau keuntungan dengan biaya. Adakalanya tujuan dapat dicapai secara efektik, tetapi tidak efisien, artinya tujuan dapat dicapai tetapi terjadi pemborosan tenaga, bahan dan waktu. Sebaliknya, bisa terjadi tujuan tersebut dicapai secara efisien dan efektif.
  2. Tercapainya kepuasan dari anggota organisasi. Dalam proses pencapaian tujuan organisasi, setiap orang atau anggota yang bekerja atau terlibat dalam aktivitas organisasi harus diberikan kepuasan, sehingga mereka merasa sebagai anggota organisasi, dan hal tersebut akan mendorong orang tersebut untuk bekerja dalam kondisi dan motivasi yang produktif.[38]
  3. 4.      Bantuk-Bentuk Organisasi

Banyak bentuk dan tipe organisasi tergantung pada sudut pandang dari orang yang mengkategorikan. Jika bentuk organisasi didasarkan pada hubungan otoritas, maka dapat dikategorikan bentuk organisasi atas:[39]

  1. Organisasi lini atau garis, dimana otoritas mengalir dari puncak organisasi dilimpahkan kepada unit-unit organisasi di bawahnya dalam semua sektor pekerjaan. Dan pertanggung jawaban juga mengalir dari bawah hingga ke tingkat yang paling atas secara bertahap berdasrkan hirarkis.[40]

           Pekerja

                                    Bagan 1: Bentuk organisasi lini

  1. Organisasi lini dan staf, di samping otoritas berasal dari pimpinan puncak dan dilimpahkan kepada unit di bawah secara hirarkis dalam semua kerja, juga ada satuan unit organsiasi yang membantu pimpinan dalam bidang tertentu tanpa ia ikut sert dalam otoritas lini.
  2. Organisasi fungsional, adalah organisasi dimana otoritas pimpinan puncak didelegasikan kepada unit-unit organisasi hingga kepaling bawah dalam bidang pekerjaan tertentu dan masing-masing pimpinan unit mempunyai otoritas secara fungsional untuk memerintah semua pelaksanaan dari semua unit sepanjang berhubungan dengan pekerjaannya.
  3. Organisasi lini fungsional, memperlihatkan ciri organisasi lini dan organisasi fungsional.
  4. Organisasi lini-staf-fungsional, memperlihatkan ciri-ciri organisasi lini dan sifat serta organisasi fungsional.

Dengan demikian, dapat penulis simpulkan bahwa setiap bentu-bentuk organisasi tersebut, memiliki ciri-ciri masing-msaing dalam melaksanakan tugasnya demi mencapai tujuan bersama yang ingin dicapai.

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.     Kesimpulan

Dalam pengembangan dan pengelolaan lembaga pendidikan Islam, maka unsur-unsur atau komponen-komponen yang ikut andil dalam mempengaruhi tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya, karena satu sama lain saling berhubungan dan berkaitan dalam memaju lembaga pendidikan. Komponen-komponen tersebut antara lain, kepemimpinan, manajemen, administrasi dan organisasi. Empat komponen ini, dalam pandangan penulis, saling berhubungan dalam mengembangkan lembaga pendidikan terutama pengembangan sumber daya manusainya.

Dalam pengelolaan organisasi, kepemimpinan, administrasi dan manajemen saling berkaitan dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah direncanakan pada pengembangan organisasi tersebut. Oleh karena itu, berdasarkan penjelasan di atas, dapat penulis simpulkan secara umum, antara lain yaitu:

  1. Hubungan antara kepemimpinan, manajemen, administrasi dan organsiasi sangat berkaitan erat terhadap pengembangan lembaga pendidikan terutama pengembangan disektor sumber daya mansusia.
  2. Dalam suatu organisasi, perencanaan merupakan langkah awal untuk mencapai tujuan berdasarkan visi dan misi organisasi tersebut.
  3. Untuk mengembangan lembaga pendidikan/organisasi, maka keberadaan penggerakan (actuating) sangat penting dalam mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan. Maju dan berkembangnya suatu lembaga pendidikan/organisasi sangat tergantung dengan fungsi manajemen yang berhubungan dengan penggerakan. Apabila fungsi ini berjalan dengan efektif dan efisen, maka akan bertampak terhadap pengembangan organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

DAFTAR RUJUKAN

 

                        Fattah, Nanang. 2009. Landasan Manajemen Pendidikan Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya

                        Jurnal el-Harakah. 2003. Wacana Baru Pendidikan, Keagamaan, dan Kebudayaan. Malang: Fakultas Tarbiyah UIN-Malang

Marno, Triyo Supriyatno. 2008. Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam. Bandung: Refika Aditama

Silalahi, Ulbert. 1997. Study Tentang Ilmu Administrasi: Konsep Teori dan Dimensi. Bandung: Sinar Baru Algensindo

Simbolon, Maringan, Masry. 2003. Dasar-Dasar Administrasi dan Manajemen. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Wahjosumidjo. 2005. Kepemimpinan Kepala Sekolah: Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya. Jakarta: RajaGrafindo Persada


[1] Jurnal el-Harakah, Wacana Kependidikan, Keagamaan dan Kebudayaan, Malang: fakultas Tarbiyah UIN-Malang, Edisi 59, 2003, hlm. 15

[2] Jurnal el-Harakah, ibid, hlm. 15-16

[3] Ulber Silalahi, Studi Tentang Ilmu Administrasi Konsep teori dan Demensi, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1997, hlm. xi-xii

[4] Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah, Tinjauan Teoritik dan Prmasalahannya, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005, hlm. 84

[5] Marno, Triyo Supriyatno, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam, Bandung: Refika Aditama, 2008, hlm. 31

[6] Marno, Triyo Supriyatno, ibid, hlm. 32

[7] Op. cit., hlm. 33

[8] Lihat Marno, Triyo Supriyatno, hlm. 32

[9] Nanang Fattah, Landasan Manajamen Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009, hlm. 88

[10] Ibid. hlm. 88-89

[11] Op.cit., hlm. 91

[12] Lihat Nanang Fatah, hlm 95-96

[13] Lihat Marno, Triyo Supriyatno, hlm. 1

[14] Dr. Nanag Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009, hlm. 11

[15] Maringan Masry Simbolon, Dasar-Dasar Administrasi dan Manajemen, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003, hlm. 23

[16] Lihat Marno, Triyo Supriyatno, hlm. 1

[17] Lihat Marno, Triyo Supriyatno, hlm. 1

[18] Maringan Masry Simbolon, ibid, hlm. 23

[19] Maringan Masry Simbolan, op. cit., hlm. 24-29

[20] Lihat Maringan Masry Simbolan, hlm. 24

[21] Lihat Maringan Masry Sombolan, hln. 28

[22] Marno, Triyo Supriyatno, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam, Bandung: Refika Aditama, 2009, hlm. 13

[23] Dr. Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009, hlm. 71

[24] Marno, Triyo Supriyatno, ibid, hlm. 16

[25] Marno, Triyo Supriyatno, op.cit., hlm. 20-21

[26] Dr. Nanang Fatah, ibid, hlm. 101

[27] Nanang Fattah, op.cit., hlm. 33

[28] Lihat Nanang Fattah, hlm. 39

[29] Lihat Nanang Fatah, hlm. 45

[30] Ulbert Silalahi, Studi tentang Ilmu Administrasi, Konsep, Teori dan Dimensi, Bandung: Sinar Baru al-Gensindo, 1997, hlm. xi

[31] Ibid, hlm. 3-4

[32] Lihat Ulbert Silalahi, hlm. 9

[33] Lihat Maringan Masry Simbolon, hlm. 15

[34] Lihat Ulbert Silalahi, hlm. 121

[35] Lihat Marno, Triyo Supriyatno, hlm. 16

[36] Lihat Marno, Triyo Supriyatno, hlm. 17

[37] Lihat Ulbert Silalahi, hlm. 128

[38] Ulbert Silalahi, ibid, hlm. 128

[39] Ulbert Silalahi, op.cit., hlm. 132-133

[40] Lihat Ulbert Silalahi, hlm. 132

TUGAS MANUSIA DI MUKA BUMI

Posted in Uncategorized on Mei 14, 2011 by mghazakusairi

M. Ghaza Kusairi

(Mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Malang, Jurusan Manajemen Pendidikan Islam)

 

 

Dalam perjalanan hidup dan kehidupannya, manusia sebagai makhluk Allah pada dasarnya mengemban amanah atau tugas-tugas kewajiban dan tanggungjawab yang dibebankan oleh Allah kepadanya agar dipenuhi, dijaga dan dipelihara dengan sebaik-baiknya. Al-Maraghy, ketika menafsirkan ayat “Innallaha ya’murukum an tu’addu al-amanaati ila ahliha … (Q.S. al-Nisa’: 58), ia mengemukakan bahwa amanah tersebut ada bermacam-macam bentuknya, yaitu: Amanah hamba terhadap Tuhannya, yakni sesuatu yang harus dipelihara dan dijaga oleh manusia, yang berupa mengikuti segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, serta menggunakan alat-alat potensialnya dan anggota badannya dalam berbagai aktivitas yang bisa menim­bulkan kemanfaatan baginya dan dapat mendekatkan diri kepada Tuhannya, sehingga bila manusia melanggarnya, maka berarti dia berkhianat kepada Tuhannya;
Amanah hamba terhadap sesama manusia, yakni mengembalikan barang-barang titipan kepada pemiliknya dan tidak mau menipu, serta menjaga raha­sia seseorang yang tidak pantas dipublikasikan; dan

Amanah manusia terhadap dirinya, yakni berusaha melakukan hal-hal yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagi dirinya untuk kepentingan agama dan dunianya, tidak melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya baik untuk kepentingan akhirat maupun dunianya, serta berusaha menjaga dan memelihara kesehatan dirinya.
Di dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa manusia termasuk makhluk yang siap dan mampu mengemban amanah terse­but ketika ditawari oleh Allah, sebaliknya makhluk yang lain justeru enggan menerimanya atau tidak siap dan tidak mampu mengemban amanah tersebut, sebagaimana firmanNya dalam Q.S. al-Ahzab : 72, yang artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dhalim dan bodoh” ()

Apa itu amanah? Ath-Thabathaba’i, ketika menafsirkan ayat tersebut, ia mengemukakan berma­cam-macam pengertian dari amanah, yaitu: (1) tugas-tugas/beban kewajiban, sehingga bila orang mau mematuhinya, maka akan dimasukkan ke dalam surga, sebaliknya bila melang­garnya akan dimasukkan ke neraka; (2) akal, yang merupakan sendi bagi pelaksanaan tugas-tugas/beban kewajiban dan tempat bergantungnya pahala dan siksa; (3) kalimah “La ilaaha illa Allah; (4) anggota-anggota badan, termasuk di dalamnya alat-alat potensial atau potensi-potensi dasar manusia, yang mampu mengemban dan melaksanakan amanah dari Allah yang harus dijaga dan hanya digunakan dalam batas-batas yang diridlai olehNya; (5) ma’rifah kepada Allah. Pengertian yang keempat itulah, menurut  Ath-Thabathaba’i, yang lebih mendekati kebenaran. Al-Raghib al-Asfahani, pakar bahasa al-Qur’an, mengemu­kakan beberapa pengertian tentang amanah, yaitu: (1) kalimah tauhid; (2) al-’adalah (menegakkan keadilan); (3) akal. Menurut Al-Asfahani, bahwa pengertian yang ketiga itulah yang benar, karena dengan akal bisa tercapai ma’rifah tau­hid, bisa terwujudkan keadilan dan mampu menjangkau berbagai ilmu pengetahuan dan sebagainya, bahkan akal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain.

Dari beberapa pendapat ahli tafsir tersebut dapat difahami bahwa tugas hidup manusia – yang merupakan amanah dari Allah – itu pada intinya ada dua macam, yaitu : ’Abdul­lah (menyembah atau mengabdi kepada Allah), dan Khalifah Allah, yang keduanya harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab.
1. Tugas manusia sebagai ’Abdullah (hamba Allah):

Tugas hidup manusia sebagai ’Abdullah merupakan reali­sasi dari mengemban amanah dalam arti: memelihara beban/tugas-tugas kewajiban dari Allah yang harus dipatuhi, kalimah La ilaaha illa Allah atau kalimat tauhid, dan atau ma’rifah kepadaNya. Sedangkan Khalifah Allah merupakan realisasi dari mengemban amanah dalam arti: memelihara, memanfaatkan, atau mengoptimalkan penggunaan segala anggota badan, alat-alat potensial (termasuk indera, akal dan qalbu) atau potensi-potensi dasar manusia, guna menegakkan keadilan, kemakmuran dan kebahagiaan hidup.
Tugas hidup manusia sebagai ’abdullah bisa difahami dari firman Allah dalam Q.S. Adz-Dzariyat ayat 56: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.

Mengapa manusia bertugas sebagai ‘abdullah? Untuk menjawab masalah ini bisa dikaitkan dengan proses kejadian manusia yang telah dikemukakan terdahulu. Dari uraian terdahu­lu dapat difahami bahwa pada dasarnya manusia terdiri atas dua substansi, yaitu jasad/materi dan roh/immateri. Jasad manusia berasal dari alam materi (saripati yang berasal dari tanah), sehingga eksistensinya mesti tunduk kepada aturan-aturan atau hukum Allah yang berlaku di alam materi (Sunna­tullah). Sedangkan roh-roh manusia, sejak berada di alam arwah, sudah mengambil kesaksian di hadapan Tuhannya, bahwa mereka mengakui Allah sebagai Tuhannya dan bersedia tunduk dan patuh kepadaNya (Q.S. al-A’raf: 172). Karena itulah, kalau manusia mau konsisten terhadap eksistensi dirinya atau naturnya, maka salah satu tugas hidup yang harus dilaksana­kannya adalah ’abdullah (hamba Allah yang senantiasa tunduk dan patuh kepada aturan dan KehendakNya serta hanya mengabdi kepadaNya).
Hanya saja diri manusia juga telah dianugerahi kemam­puan dasar untuk memilih atau mempunyai “kebebasan” (Q.S. al-Syams: 7-10), sehingga walaupun roh Ilahi yang melekat pada tubuh material manusia telah melakukan perjanjian dengan Tuhannya (untuk bersedia tunduk dan taat kepadaNya), tetapi ketundukannya kepada Tuhan tidaklah terjadi secara otomatis dan pasti sebagaimana robot, melainkan karena pilihan dan keputusannya sendiri. Dan manusia itu dalam perkembangannya dari waktu ke waktu suka melupakan perjan­jian tersebut, sehingga pilihannya ada yang mengarah kepada pilihan baiknya (jalan ketaqwaan) dan ada pula yang mengarah kepada pilihan buruknya (jalan kefasikan). Karena itu Allah selalu mengingatkan kepada manusia, melalui para Nabi atau Rasul-rasulNya sampai dengan Nabi Muhammad SAW. sebagai nabi/rasul terakhir, agar manusia senantiasa tetap berada pada naturnya sendiri, yaitu taat, patuh dan tunduk kepada Allah SWT. (’abdullah). Setelah rasulullah SAW. wafat, maka tugas memperingatkan manusia itu diteruskan oleh para shahabat, dan para pengikut Nabi SAW. (dulu sampai sekarang) yang setia terhadap ajaran-ajaran Allah dan rasulNya, termasuk di dalamnya adalah para pendidik muslim.
2. Tugas manusia sebagai Khalifah Allah

Tugas hidup manusia juga sebagai khalifah Allah di muka bumi. Hal ini dapat difahami dari firman Allah dalam Q.S. al-Baqarah: 30:
”Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Apa yang dimaksud dengan khalifah? Kata khalifah berasal dari kata “khalf” (menggantikan, mengganti), atau kata “khalaf” (orang yang datang kemudian) sebagai lawan dari kata “salaf” (orang yang terdahulu). Sedangkan arti khilafah adalah menggantikan yang lain, adakalanya karena tidak adanya (tidak hadirnya) orang yang diganti, atau karena kematian orang yang diganti, atau karena kelemahan/tidak berfungsinya yang diganti, misalnya Abu Bakar ditunjuk oleh umat Islam sebagai khalifah penggan­ti Nabi SAW, yakni penerus dari perjuangan beliau dan pemimpin umat yang menggantikan Nabi SAW. setelah beliau wafat, atau Umar bin Khattab sebagai pengganti dari Abu Bakar dan seterusnya; dan adakalanya karena memuliakan (memberi penghargaan) atau mengangkat kedudukan orang yang dijadikan pengganti. Pengertian terakhir inilah yang dimak­sud dengan “Allah mengangkat manusia sebagai khalifah di muka bumi”, sebagaimana firmanNya dalam Q.S. Fathir ayat 39, Q.S. al-An’am ayat 165. Manusia adalah makhluk yang termulia di antara makh­luk-makhluk yang lain (Q.S. al-Isra’: 70) dan ia dijadikan oleh Allah dalam sebaik-baik bentuk/kejadian, baik fisik maupun psikhisnya (Q.S. al-Tin: 5), serta dilengkapi dengan berbagai alat potensial dan potensi-potensi dasar (fitrah) yang dapat dikembangkan dan diaktualisasikan seoptimal mungkin melalui proses pendidikan. Karena itulah maka sudah selayaknya manusia menyandang tugas sebagai khalifah Allah di muka bumi.
Tugas manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi antara lain menyangkut tugas mewujudkan kemakmuran di muka bumi (Q.S. Hud : 61), serta mewujudkan keselamatan dan kebahagiaan hidup di muka bumi (Q.S. al-Maidah : 16), dengan cara beriman dan beramal saleh (Q.S. al-Ra’d : 29), bekerja­sama dalam menegakkan kebenaran dan bekerjasama dalam mene­gakkan kesabaran (Q.S. al-’Ashr : 1-3). Karena itu tugas kekhalifahan merupakan tugas suci dan amanah dari Allah sejak manusia pertama hingga manusia pada akhir zaman yang akan datang, dan merupakan perwujudan dari pelaksanaan pengabdian kepadaNya (’abdullah).

Tugas-tugas kekhalifahan tersebut menyangkut: tugas kekhalifahan terhadap diri sendiri; tugas kekhalifahan dalam keluarga/rumah tangga; tugas kekhalifahan dalam masyarakat; dan tugas kekhalifahan terhadap alam. Tugas kekhalifahan terhadap diri sendiri meliputi tugas-tugas: (1)  menuntut ilmu pengetahuan (Q.S.al-Nahl: 43), karena manusia itu adalah makhluk yang dapat dan harus dididik/diajar (Q.S. al-Baqarah: 31) dan yang mampu mendi­dik/mengajar (Q.S. Ali Imran: 187, al-An’am: 51); (2) menjaga dan memelihara diri dari segala sesuatu yang bisa menimbulkan bahaya dan kesengsaraan (Q.S. al-Tahrim: 6) termasuk di dalamnya adalah menjaga dan memelihara kesehatan fisiknya, memakan makanan yang halal dan sebagainya; dan (3) menghiasi diri dengan akhlak yang mulia. Kata akhlaq berasal dari kata khuluq atau khalq. Khuluq merupakan bentuk batin/rohani, dan khalq merupakan bentuk lahir/ jasmani. Keduanya tidak bisa dipisahkan, dan manusia terdiri atas gabungan dari keduanya itu yakni jasmani (lahir) dan rohani (batin). Jasmani tanpa rohani adalah benda mati, dan rohani tanpa jasmani adalah malaikat. Karena itu orang yang tidak menghiasi diri dengan akhlak yang mulia sama halnya dengan jasmani tanpa rohani atau disebut mayit (bangkai), yang tidak saja membusukkan dirinya, bahkan juga membusukkan atau merusak lingkungannya.

Tugas kekhalifahan dalam keluarga/rumah tangga meliputi tugas membentuk rumah tangga bahagia dan sejahtera atau keluarga sakinah dan mawaddah wa rahmah/cinta kasih (Q.S. ar-Rum: 21) dengan jalan menyadari akan hak dan kewajibannya sebagai suami-isteri atau ayah-ibu dalam rumah tangga. Tugas kekhalifahan dalam masyarakat meliputi tugas-tugas : (1) mewujudkan persatuan dan kesatuan umat (Q.S. al-Hujurat: 10 dan 13, al-Anfal: 46); (2) tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan (Q.S. al-Maidah: 2); (3) menegakkan keadilan dalam masyarakat (Q.S. al-Nisa’: 135); (4) bertanggung jawab terhadap amar ma^ruf nahi munkar (Q.S. Ali Imran: 104 dan 110); dan (5) berlaku baik terhadap golongan masyarakat yang lemah, termasuk di dalamnya adalah para fakir dan miskin serta anak yatim (Q.S. al-Taubah: 60, al-Nisa’: 2), orang yang cacat tubuh (Q.S. ’Abasa: 1-11), orang yang berada di bawah penguasaan orang lain dan lain-lain. Sedangkan tugas kekhalifahan terhadap alam (natur) meliputi tugas-tugas: (1) mengkulturkan natur (membudaya­kan alam), yakni alam yang tersedia ini agar dibudayakan, sehingga menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi kemaslahatan hidup manusia; (2) menaturkan kultur (mengalam­kan budaya), yakni budaya atau hasil karya manusia harus disesuaikan dengan kondisi alam, jangan sampai merusak alam atau lingkungan hidup, agar tidak menimbulkan malapetaka bagi manusia dan lingkungannya; dan (3) mengIslamkan kultur (mengIslamkan budaya), yakni dalam berbudaya harus tetap komitmen dengan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil-’alamin, sehingga berbudaya berarti mengerahkan segala tenaga, cipta, rasa dan karsa, serta bakat manusia untuk mencari dan mene­mukan kebenaran ajaran Islam atau kebenaran ayat-ayat serta keagungan dan kebesaran Ilahi.

Dari berbagai uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa manusia sebagai makhluk Allah harus mampu mengemban amanah dari Allah, yaitu menjalankan tugas-tugas hidupnya di muka bumi. Manusia sebagai makhluk Allah mempunyai dua tugas utama, yaitu: (1)  sebagai ’abdullah, yakni hamba Allah yang harus tunduk dan taat terhadap segala aturan dan KehendakNya serta mengabdi hanya kepadaNya; dan (2) sebagai khalifah Allah di muka bumi, yang meliputi pelaksanaan tugas kekhalifahan terhadap diri sendiri, dalam keluarga/rumah tangga, dalam masyarakat, dan tugas kekhalifahan terhadap alam.

MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE DISCIPLINE

Posted in Uncategorized on Mei 14, 2011 by mghazakusairi

 M. Ghaza Kusairi

(Mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Malang, Jurusan Manajemen Pendidikan Islam


 

  1. A.     Latar Belakang

Dalam proses belajar mengajar terdapat dua masalah yang turut menentukan berhasil tidaknya suatu proses belajar mengajar, yaitu masalah pengajaran (instructional problem) dan masalah manajemen kelas (classroom management). Antara keduanya diyakini mempunyai implikasi dalam pencapaian hasil pembelajaran. Masalah pembelajaran itu akan berhasil, dalam arti tercapainya tujuan-tujuan pengajaran akan sangat tergantung pada masalah manajemen kelas. Dengan kata lain, masalah manajemen kelas itu perlu diatur sedemikian rupa sehingga dapat menciptakan atau mempertahankan kondisi optimal yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar yang kondusif.

Pengajaran dan manajemen kelas adalah dua kegiatan yang saling berkaitan, namun dapat dibedakan satu sama lain, sebab keduanya mempunyai tujuan yang berbeda. Pengajaran mencakup semua kegiatan yang secara langsung dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan khusus pengajaran, sedangkan manajemen kelas merujuk kepada kegiatan-kegiatan yang menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajara dan suasana kelas yang kondusif, efektif, efisien dan produktif sesuai dengan tujuan daripada manajemen kelas (classroom management)

Cooperative discipline atau cooperatine learning adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Cooperative discipline merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam cooperative discipline atau cooperative learning, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.[1]

Rendahnya motivasi belajar siswa akan membuat mereka tertarik pada hal-hal yang negative. Raymond J.W dan Judith mengungkapkan bahwa secara harfiah anak- anak tertarik pada belajar, pengetahuan, seni (motivasi positif) namun mereka juga bisa tertarik pada hal–hal yang negative  seperti minum obat- obatan terlarang, pergaulan bebas dan lainnya. Motivasi belajar anak-anak muda tidak akan lenyap tapi ia akan berkembang dalam cara-cara yang bisa membimbing mereka untuk menjadikan diri mereka lebih baik atau juga bisa sebaliknya. Hal inilah yang harus diperhatikan oleh orang tua dan guru.[2]

Dalam model pembelajaran cooperative discipline Linda Albert ini terdapat dasar teoritis yang kuat untuk memprediksi bahwa metode-metode pembelajaran kooperatif yang menggunakan tujuan kelompok dan tanggung jawab individual akan meningkatkan pencapaian prestasi siswa. Walau demikian, sangat penting untuk melakukan penilaian atas metode-metode kooperatif ini langsung di dalam kelas pada proses belajar mengajar berlangsung.[3]

Cooperative discipline  dikembangkan untuk model kelas kode etik yang memegang semua siswa dan mengajarkan mereka bagaimana untuk menilai perilaku mereka sendiri. Cooperative discipline menggunakan teori tiga “C” sebagai inti dari kode etik. Tiga “C” adalah: terhubung, berkontribusi/aktif, dan merasa mampu. Cooperative discipline dirancang untuk mempengaruhi siswa sehingga mereka akan membuat pilihan yang baik dan menunjukkan keterampilan sosial yang baik melalui dorongan, intervensi, dan kolaborasi.  Tiga “C” adalah strategi yang diletakkan untuk mencegah perilaku siswa dalam proese belajar mengajar di kelas. Dr Linda Albert, yang penulis cooperative discipline, mendefinisikan tiga “C” sebagai berikut:

  1. Siswa diajarkan untuk mampu dalam belajar bersama, dalam belajar itu boleh saja melakukan kesalahan, membangun keyakinan, fokus pada kesuksesan masa lalu, membuat pembelajaran yang nyata, dan mengakui prestasi
  2. Siswa diajarkan rasa tanggung jawab dalam kelompok belajarnya, dengan cara memberikan perhatian, penghargaan dan rasa kasih sayang
  3. Siswa diajarkan untuk aktif di dalam kelas, sekolah dan di masyarakat

Pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Pelaksanaan prosedur model pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas lebih efektif. Model pembelajaran kooperatif akan dapat menumbuhkan pembelajaran efektif yaiut pembelajaran yang bercirikan: (1) memudahkan siswa belajar, sesuatu yang bermanfaat seperti: fakta, keterampilan, nilai, konsep dan bagaimana hidup serasi dengan sesama, (2) pengetahuan, nilai dan keterampilan diakui oleh mereka yang berkompetetnsi menilai.[4]

Dalam hal ini, Cooperative Discipline yang dikemukakan oleh Linda Albert, yang menjadi landasan model teori pembelajaran ini sama dengan konsep pembelajaran Demokratic Teacing oleh R. Dreikurs atau dengan menggunakan doktrin filsafat Alfred Adler dan R. Dreikurs yang beranggapan bahwa manusia diciptakan sama, sehingga memiliki hak yang sama memiliki rasa bermartabat dan rasa dihormati. Dengan demikian, dalam makalah ini, penulis mencoba menjelaskan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan model cooparative discipline dengan tujuan untuk menciptakan kelas yang aktif dan kondusif. Cooperative discipline ini bisa diartikan sebagai proses belajar bersama atau disiplin bekerja sama dalam proses belajar mengajar dalam kelas.

  1. 1.      Sekilas Manajemen Kelas (Classroom Management)

Pengajaran dan manajemen kelas adalah dua kegiatan yang saling berkaitan, namun dapat dibedakan satu sama lain, sebab keduanya mempunyai tujuan yang berbeda. Pengajaran mencakup semua kegiatan yang secara langsung dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan khusus pengajaran, sedangkan manajemen kelas merujuk kepada kegiatan-kegiatan yang menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajara dan suasana kelas yang kondusif, efektif, efisien dan produktif sesuai dengan tujuan daripada manajemen kelas (classroom management).

John W. Santrock dalam Mulyadi (2009) berpendapat bahwa menajemen kelas yang efektif bertujuan membantu siswa menghabiskan lebih banyak waktu untuk belajar dan mengurangi waktu aktivitas yang tidak diorientasikan pada tujuan pembelajaran dan mencegah siswa mengalami problem akademik dan emosional. Kelas yang dikelola denga biak tidak hanya akan meningkatkan pembelajaran yang berarti, tetapi juga membantu mencegah berkembangnya problem emosional dan akademik. Kelas yang dikelola dengan akan membuat siswa sibuk dengan tugas yang menantang dan akan memberikan aktivitas di mana siswa manjadi terserap ke dalamnya, termotovasi belajar, memahami aturan dan regulasi yang harus dipatuhi.[5]

Manajemen kelas mengacu kepada penciptaan suasana atau kondisi kelas yang yang memungkinkan siswa dalam kelas tersebut untuk dapat belajar dengan efektif. Untuk memperjelas pengertian manajemen kelas, Cooper, J. M. mendefinisikan tentang manajemen kelas, yaitu:[6]

  1. manajemen kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas
  2. manajemen kelas ialah seperangkat kegiatan memaksimalkan kebebasan siswa
  3. manajemen kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan.
  4. manajemen kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio emosional kelas yang positif
  5. manajemen kelas ialah seperangkat kegiatan untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif. Definisi pertama, memandang bahwa manajemen kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa. Dalam kaitan ini tugas guru adalah menciptakan dan memilihara ketertiban suasana kelas. Jadi pandangan ini bersifat otoritatif dan penggunaan disiplin amat diutamakan.[7]

Dengan demikian, berdasarkan definisi tersebut dapat penulis tarik suatu kesimpulan tentang pengertian manajemen kelas yaitu seperangkat kegiatan untuk untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah lahu yang tidak diinginkan, mengembangkan hubungan interpersonal dan iklim sosio omosional yang positif serta mengembangkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif dan produktif. Manajemen kelas jika ditinjau dari pendekatan psikologi pendidikan adalah ingin mengarahkan dan membimbing perkembangan tingkah laku siswa agar tidak mengarah kepada hal yang negatif. Dalam hal ini, guru memiliki peranan kunci untuk mengembangkan iklim sosio emosional kelas yang positif melalui penumbuhan hubungan interaksi antar guru dengan siswa dan siswa dengan siswa.

Namun, dalam pengamatan dan analisis penulis, fakta dilapangan masih banyak guru yang belum mampu mamahmi arti dan tujuan dari pelaksanaan manajemen kelas ini. Suatu yang mustahil akan tercipta suasana kelas yang efektif dan kondusif apabila guru tidak mampu memahami dari manajemen kelas. Hal ini berdampak pada siswa itu sendiri, misalnya ada siswa yang ramai atau menggangu temannya ketika proses belajar mengajar berlangsung, kemudian guru menghampiri siswa yang ramai atau menggangu temannya, lalu melayangkan tamparan ke pipih/wajah siswa. Hal ini akan menganggu pengembangan dan penciptaan iklim sosio emosional siswa dalam kelas. Ini terjadi karena guru tidak bisa menyikapi setiap tingkah laku siswa dalam kelas tersebut.

Banyak persoalan terhadap tingkah laku siswa dalam kelas ketika proses belajar berlangsung, maka seorang guru harus mencoba melibatkan peran orang tua atau berkerja sama dengan orang tua siswa, hal ini penulis mencoba mendefinisikan model pembelajaran Linda Albert  yaitu cooperative discipline dengan istilah menciptakan hubungan kerja sama yang disiplin antar guru dengan orang tua siswa. Dalam pendidikan guru harus melibatkan langsung peran orang tua dalam mengarahkan perkembangkan tingklah laku siswa.

Pendidik pertama dan utama adalah orang tua sendiri. Mereka keduanya bertanggung jawab penuh atas kemajuan dan perkembangan anak kandungnya, karena sukses tidaknya anak sangat tergantung pengasuhan, perhatian, dan pendidikannya. Kesuksesan anak merupakan cerminan kesuksesan orang tua juga.[8] Orang tua memiliki tanggung jawab terhadap perkembanhgkan tingkah laku anaknya. Sebagaimana firman Allah yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. al-Tahriim: 06)

Sebagai pendidika pertama dan utama terhadap anak-anaknya, orang tua tidak selamanya memiliki waktu yang leluas dalam mendidik anak-anaknya. Selain kerna kesibukan kerja, tingkat efetivitas dan efesiensi pendidikan tidak akan baik jika pendidikan hanya dikelola secara alamiah. Guru adalah pendidik profesional, karenanya secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagai tanggung jawab pendidikan yang terpikul di pundak para orang tua. Mereka ini, tatkala menyerahkan anaknya ke sekolah, sekaligus berarti melimpahkan sebagian tanggung jawab pendidikan anaknya kepada guru. Hal itupun menunjukkan pula bahwa orang tua tidak mungkin menyerahkan anaknya kepada sembarangan guru/sekolah karena tidak sembarang orang dapat menjabat guru.[9]

Tanggung jawab pendidikan bukan semata-mata menjadi tanggung jawab guru di sekolah, meski sekolah sudah menyiapkan kurikulum untuk mendidik anak. Pendidikan terbaik tetap saja terletak pada pendidikan orang tua. Pelaksanaan pembelajaran dengan meningkatkan kerja sama antara guru dengan orang tua, maka dalam pandnagan penulis, orang tua perlu terlibat langsung dalam pendidikan anak di sekolah, hal ini jika penulis mengartikan model pembelajaran Linda Albert yaitu Cooperative Discipilen dengan istilah disiplin kerja sama antara guru dan orang tua siswa. Dalam pandangan penulis, beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua, yaitu:

  1. Memberikan Dukungan. Selalu berikan perhatian kepada anak, dan tanamkan nilai dan tujuan pendidikan. Upayakan untuk selalu mengetahui perkembangan anak di sekolah. Orang tua bisa melakukan kunjungan untuk melihat situasi dan lingkungan pendidikan di sekolah. Menaruh minat terhadap aktivitas sekolah akan secara langsung mempengaruhi pendidikan anak.
  2. Sediakan Waktu untuk Anak. Sebagai orang tua, harus selalu menyediakan waktu yang cukup banyak bagi anak. Jadilah tempat curhat untuk menampung stress anak. Mendengarkan keluhannya, dan berusaha turut memberikan solusi atas permasalahannya disarankan dalam pendidikan anak.
  3. Awasi Kegiatan Belajar di Rumah. Tunjukkan orang tua berminat pada pendidikan anaknya. Pastikan anak sudah mengerjakan tugas mereka. Orang tua mewajibkan dirinya  untuk mempelajari sesuatu bersama anak-anaknya. Membacalah bersama-sama mereka. Jangan lupa jadwalkan waktu setiap hari untuk memeriksa pekerjaan rumah anak. Kendalikan waktu menonton TV, Internet dan kegiatan lainnya.
  4. Mengajarkan Tanggung Jawab. Anak dapat bertanggung jawab mengerjakan tugas di sekolah jika orang tua telah mengajar mereka untuk mengerjakan tanggung jawab di rumah. Cobalah mulai memberikan pekerjaan rumah tangga rutin setiap hari dengan jadwal yang spesifik. Hal itu akan mengajarkan rasa tanggung jawab yang mereka butuhkan agar berhasil di sekolah dan di kemudian hari dalam kehidupan.
  5. Menjadi Teman Terbaik. Jadilah teman terbaik bagi anak. Luangkan waktu untuk berbagi dalam banyak hal. Seorang anak membutuhkan semua teman yang matang yang bisa ia dapatkan. Sebagai orang-tua, kita dapat menghindari banyak problem dan kekhawatiran atas pendidikan anak dengan mengingat bahwa kerja sama yang sukses dibangun atas komunikasi yang baik.
  6. Disiplin. Jalankan disiplin dengan tegas namun penuh kasih sayang. Selalu menuruti keinginan anak tidak disarankan dalam pendidikan anak, karena membuatnya manja dan tidak bertanggung jawab. Problem lain bisa muncul seperti seks remaja, narkoba, prestasi yang buruk, dan lain sebagainya. Pendidikan dengan kasih saying sangat penting untuk membentuk kedisiplinan anak. Sebagaimana firman Allah yang Artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. ali-Imran: 159)

  1. Menjaga Kesehatan. Orang tua harus menjaga dan memperhatikan kesehatan anaknya agar prestasi belajarnya tidak terganggu. Buat jadwal tidur yang cukup untuk anak. Jika kelelahan, mereka tidak dapat belajar dengan baik. Hindari makanan seperti junk food (cepat saji), yang mendatangkan pengaruh buruk terhadap kesanggupannya untuk berkonsentrasi.
  2. Kerja Sama dengan Guru. Tidak ada salahnya jika orang tua mengenal guru dan menjalin hubungan baik dengan mereka. Berkomunikasilah untuk perkembangan anak. Guru perlu tahu bahwa orang tua memandang penting pendidikan anaknya, sebagai bagian kehidupannya. Ini akan membuat guru lebih memperhatikan anak. Hadirilah pertemuan orang tua murid dan guru yang diselenggarakan oleh sekolah, sehingga memiliki kesempatan untuk mengetahui prestasi akademis serta perkembangannya di sekolah.

Oleh karena itu, kerja sama antara guru dan orang tua sangat memberikan warna dan dampak terhadap pelaksanaan dan pengembangan kelas oleh guru kita kegiatan proses belajar mengajar berlangsung. Mengapa hal demikian penting, sebab apabila anak telah dididik dengan baik oleh orang tua dalam lingkungan keluarga, maka ketika proses belajar mengajar berlangsung di kelas, anak sudah biasa dengan disiplin yang tinggi dan selalu mengikuti prosese belajar dengan baik. Inilah tujuan yang ingin dicapai dalam pembentukan disiplin kerja sama antara guru dengan orang tua siswa, hal ini penulis mencoba mendefinisikan model pembelajaran Cooperative Discipline oleh Linda Albert dengan pengertian yang luas.

  1. 2.      Faktor-faktor Penghambat Manajemen Kelas

Manajemen kelas merupakan keterampilan yang harus dimiliki oleh guru dalam memutuskan, memahami, mendiagnosa dan kemampuan bertindak menuju perbaikan suasana kelas yang dinamis. Aspek yang harus diperhatikan guru dalam manajemen kelas adalah sifat kelas, pendorong kekuatan kelas, setuasi kelas, tindakan seleksi dan kreaktivitas.[10] Sedangkan tujuan dari manajemen kelas adalah: (1) mewujudkan situasi dan kondisi kelas, sebagai lingkungan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan mereka semaksimal mungkin, (2) menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalamgi terwujudnya interaksi pembelajaran, (3) menyediakan dan mengatur fasilitas serta media pembelajaran yang mendukung dan memungkinkan peserta didik belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional dan intelektual mereka dalam kelas, (4) membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya dan sifat-sifat induvidunya.

Dalam pelaksanaan manajemen kelas (classroom Management) akan ditemui berbagai faktor penghambat, yaitu:

  1. Faktor Guru. Salah satu tugas pokok guru adalah mengajar. Mengajar merupakan pekerjaan profesional yang memerlukan keahlian khusus yang ditempuh melalui pendidikan dan pengalaman. Untuk dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab secara profesional, guru harus memiliki kemampuan dan keterampilan mengajar secara teori maupun praktik.[11] Dalam arti sempit guru yang berkewajiban mewujudkan program kelas adalah orang yang kerjanya mengajar atau memberikan pelajaran di kelas. Secara lebih luas, guru berarti orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut bertanggung jawab dalam membantu anak-anak mencapai kedewasaan masing-masing.[12] Dalam manajemen kelas, menurut pandangan penulis bahwa guru pun dapat merupakan faktor penghambat dalam pelaksanaan penciptaan suasana yang efektif dan kondusif dalam proses belajar mengajar. Dalam hal ini guru bukanlah sekedar orang berdiri di depan kelas untuk menyampaikan materi pelajaran tertentu, akan tetapi guru adalah anggota masyarakat yang harus ikut aktif, kreaktif dan berjiwa besar dalam mengarahkan perkembangan anak didiknya. Ada beberapa faktor yang menghambat jika dilihat dari guru sebagai penyampaian meteri, antara lain yaitu: (a) tipe kepemimpinan guru yang otoriter, (b) format belajar mengajar yang menoton, (c) kepribadian guru, (d)terbatasnya kesempatan guru untuk memahami tingkah laku siswa dan latar belakangnya dan (e) terbatasnya pengetahuan guru tentang masalah manajemen dan pendekatan manajemen baik yang sifatnya teoritis maupun pengalaman praktis.[13]
  2. Faktor Siswa. Siswa sebagai unsur kelas memiliki perasaan kebersamaan yang sangat penting bagi terciptanya situasi kelas yang dinamis. Setiap siswa memiliki peraaan diterima terhadap kelasnya agar mampu ikut serta dalam kegiatan-kegiatan kelas. Perasaan diterima itu akan menentukan sikap bertanggung jawab terhadap kelas yang secara langsung berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangannya masing-masing.
  3. Faktor Keluarga. Tingkah laku siswa di dalam kelas merupakan pencerminan keadaan keluarganya. Sikap otoriter orang tua akan tecermin dari tingkah laku siswa yang agresif atau apatis. Di dalam kelas sering ditemukan siswa-siswi pengganggu dan pembuat ribut di kelas biasanya berawal dari keluarga yang tidak utuh dan broken home.
  4. Faktor Fasilitas. Ruangan kelas yang kecil dibandingkan dengan jumlah siswa dan kebutuhan siswa untuk bergerak dalam kelas merupakan salah satu problema yang terjadi pada manajemen kelas. Sehingga proses belajar mengajar tidak kondusif lagi untuk dilakukan.

Dengan demikian, dapat penulis analisis dari bebrapa faktor tersebut di atas, bahwa yang menjadi persoalan yang belum mendapat pehatian khusus oleh para ahli pendidikan  dalam menajemen kelas adalah faktor guru itu sendiri. Selama ini, toeri-teori manajemen kelas yang diterapkan hanya menyebutkan bahwa siswa merupakan faktor utama dan pertama penghambat dalam manajemen kelas termasuk teori model pembelajaran Linda Albert dengan Cooperative discipline-nya tetapi mengabaikan faktor dari guru itu sendiri. Oleh karena itu, dalam hal ini penulis tidak setuju dengan teori pembelajaran dengan model manajemen kelas (classroom management) termasuk model pembelajaran Linda Albert tersebut, karena fakta di lapangan masih banyak guru yang belum profesional dalam mengelola kelas sehinga kegagalan siswa maupun dalam menciptakan suasana kelas yang efektif dan kondusif banyak disebabkan karena guru tidak memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu dalam artian guru belum profesional menjadi seorang guru. Inilah yang harus menjadi perhatian dan tanggung jawab kita semua yang berkecimpung dalam dunia pendidikan.

  1. 3.      Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Discipline Linda Albert

Dalam pembelajaran cooperatif disiplin (cooperative discipline) model pembelajaran Linda Albert para guru harus memperhatikan hal-hal berikut:

  1. Menspesifikan tujuan pembelaran: di setiap pembelajaran seharusnya ada tujuan akademis yang mengkhususkan untuk mempelajari konsep da strategi dan tujuan kecakapan sosial yang mengkhususkan pada kecakapan interpersonal atau kelompok kecil untuk digunakan dan dikuasai selama pelajaran berlangsung.
  2. Membuat sejumlah keputusan sebelum pelajaran dimulai: Guru harus menentukan ukuran kelompok, metode penugasan, peran siswa yang akan diberi tugas, materi yang perlukan untuk menjalankan pelajaran dan cara menata ruangan.
  3. Menjelaskan tugas dan interdependensi positif: Guru menentukan penugasan dengan jelas, mengajarkan konsep dan strategi yang diperlukan, menentukan cara saling membantu yang positif dan akuntabilitas individual, memberikan kriteria keberhasilan dan menjelaskan kecakapan sosial yang diharapkan bisa dijalankan siswa
  4. Mengawasi pembelajari siswa dan memberikan intervensi di dalam kelompok untuk memberikan bantuan dalam mengerjakan tugas atau meningkatkan keterampilan interpersonal siswa atau kelompok: Guru secara sistematis mengamati dan mengumpulkan data tentang tiap-tiap kelompok ketika mereka bekerja. Jika dibutuhkan, guru ikut campur untuk membantu siswa menyelesaikan tugas secara tepat dan ketika bekerja bersama secara efektif.
  5. Mengevaluasi pembelajaran siswa dan membantu siswa memproses seberapa baik kelompok mereka berfungsi: Pembelajaran siswa secara hati-hati dinilai dan pemahaman mereka dievaluasi. Para anggota kelompok belajar kemudian memproses seberapa efektif mereka dalam bekerja bersama.[14]   

Jika guru memiliki keahlian dalam menggunakan cooperative discipline dalam proses belajar mengajar dan telah mampu mengelola kelas dengan baik, maka dalam padangan penulis guru harus menyusun lima komponen mendasar tersebut ke dalam ativitas pengajaran agar tercipta suasana kelas yang kondusif. Peningkatan kesadaran diri sebagai guru, merupakan langkah sangat strategis dan mendasar karena akan meningkatkan rasa tanggung jawab (sense of responsibility) dan rasa memiliki (sense of belonging) yang merupakan modal dasar bagi guru dalam melaksanakan tugasnya. Manajemen kelas akan dipengaruhi oleh sikap dan nilai guru, bagaimana mana menyikapi siswa yang pada gilirannya sebagai manusia akan merespons sikap guru tersebut secara positif sehingga terjadilah interaksi edukatif yang hangat, intim dan terbuka. Hal inilah yang diharapkan terjadi dalam manajemen kelas agar hambatan-hambatan yang tidak dinginkan bisa dikurangi.

Dalam hal ini, yaitu Cooperative Discipline yang dikemukakan oleh Linda Albert, yang menjadi landasan model teori pembelajaran ini sama dengan konsep pembelajaran Demokratic Teacing oleh R. Dreikurs atau dengan menggunakan doktrin filsafat Alfred Adler dan R. Dreikurs yang beranggapan bahwa manusia diciptakan sama, sehingga memiliki hak yang sama memiliki rasa bermartabat dan rasa dihormati. Dalam proses kegiatan belajar mengajar dalam kelas, seorang guru memerlukan strategi dan model pembelajaran efektif untuk mengelola kegiatan belajar mengajar tersebut. Salah satu model pembelajaran yang dikembangkan di dunia pendidikan adalah model cooperative discipline yang dikemukakan oleh Dr. Linda Albert. Dalam pengelolaan kelas, dalam padangan Linda Albert ada beberapa hal yang diperhatikan guru ketika proses belajar mengajar berlangsung. Hal ini sama dengan apa yang dikumukakan oleh R. Dreikurs dalam Management and Demokratic Teaching seorang guru harus memperhatikan empat model manajanmen dan pengajaran demokratis, yaitu: (1) mistaken goals, (2) demokratic teaching, (3) encouragement, dan (4) logical consequences.

Sedangkan Linda Albert dengan model pembelajaran coopertaive discipline, menjelaskan bahwa dalam proses belajar mengajar seorang guru harus menerapakan empat hal dalam pengelolaan pembelajarannya, antara lain yaitu:

  1. Mistaken Goals: Guru harus mampu meluruskan niat atau tujuan siswa yang salah agar proses belajar mengajar berjalan dengan efektif dan kondusif.
  2. Encourages: Linda Albert mondorong guru dalam proses belajar mengajar bekerja sama dengan orang tua dan siswa untuk menyelesaikan masalah-masalah para siswa yaitu:[15]
    1. 1.      Connect: terjalinnya hubungan antara guru dan murid dalam proses belajar mengajar
    2. 2.      Contribute: guru harus mampu membantu siswa agar berperan aktif dalam kelas, diskusi kelompok dan lain sebagainya.
    3. 3.      Capable: guru harus mampu membatu siswa berperilaku baik dan menyelesaikan masalah pendidikan/akademisnya.
  3. Consequences: sebelum proses kegiatan belajar mengajar dimulai guru harus membuat peraturan yang harus ditaati oleh siswa dan apabila melanggar maka siswa tersebut akan menanggung akibatnya.

Pada poin kedua yaitu Encourages, dalam pandangan dan analisis penulis bahwa kerja sama yang disiplin antar guru dan orang tua siswa sangat membantu permasalahan pendidikan yang dialami siswa, misalnya siswa yang tidak aktif di kelas, malas mengerjakan tugas dan berperilaku yang buruk serta mengganggu temannya bisa diselesaikan dengan baik sehingga manajemen kelas bisa tertata dengan baik pula dan akhirnya berdampak terhadap proses belajar mengajar di kelas yang efektif dan kondusif.

 

Penerapan teori Linda Albert dalam proses belajar mengajar dapat di pratikan dalam kegiatan diskusi siswa, terutama dalam mengatasi perilaku siswa yang buruk ketika kegiatan diskusi atau belajar bersama berlangsung. Ada empat tingkah laku buruk siswa yang biasa terjadi dalam kegiatan belajar mengajar menurut Linda Albert dalam cooperative discipline, yaitu:

  1. Attention (ingin mencari perhatian): seorang siswa yang memperoleh kegagalan menemukan kedudukan dirinya secara wajar dalam suasana hubungan sosial yang saling menerima biasanya bertingkah laku mencari perhatian orang lain, baik secara aktif maupun pasif. Tingkah laku secara aktif dapat dijumpai pada para siswa yang suka pamer, membuat onar, melawak, terus menerus bertanya dan memperlihatkan kenakalannya. Sedangkan yang betingkah laku pasif dapat ditemukan pada para siswa yang terus menerus meminta bantuan orang lain. Untuk mengatasi masalah siswa yang ingin mencari perhatian ini, menurut Linda Albert[16]seorang guru harus melakukan hal berikut, yaitu:
    1. Gunakan tatapan mata agar siswa menyadari bahwa tingkah laku buruknya diketahui
    2. Bergerak mendekati siswa sambil mengajarinya
    3. Minta pertanyaan langsung pada siswa atau menyebut namanya sambil melajutkan pelajaran
    4. Berikan pujian spesifik sambil mendekati siswa yang mengerjakan tugas
  2. Power (ingin berkuasa/merasa berkuasa/mencari kekuasaan): tingkah laku ini sama dengan tingkah laku mencari perhatian, tetapi lebih mendalam. Pencari kekuasaan aktif suka bohong, tidak mau melakukan apa yang diperintahkan guru/orang lain, menampilkan adanya pertentangan pendapat dan menunjukkan sikap tidak hormat/patuh secara terbuka. Sedangkan yang bersifat pasif tampak pada anak yang malas tidak mau melakukan apa-apa sama sekali. Untuk mengatasi siswa bertingkah laku buruk ini, linda Albert dalam cooperative discipilen-nya menyarankan guru untuk melakukan hal berikut, yaitu:[17]
    1. Hindari konfrontasi langsung dengan murid lalu bermusyawara atau ganti topik pembahasan
    2. Akui bahwa murid tersebut memang berkuasa sambil memberikan penilaian
    3. Rubalah aktivitas, lakukan sesuatu yang tidak diduga, atau mulai diskusi kelas dengan topik yang menarik
    4. Diperbolehkan istirahat dengan memberikan satu pilihan, kamu boleh duduk dengan tenang, sampai menyelesaikan tugas
  3. Revenge (pembalsan/dendam/rasa benci):  siswa yang menuntut balas mengalamai frustasi yang sangat mendalam dan tidak menyadari bahwa dia sebenarnya mencari sukses dengan jalan menyakiti orang lain. Siswa seperti ini sering melakukan penyerangan secara fisik terhadap sesame siswa, petugas dan guru. Anak yang berperilaku seperti ini biasanya lebih suka bertindak secara aktif daripada secara pasif dan dirinya merasa sakit kalau dikalahkan. Linda Albert dengan model pembelajaran cooperative discipline-nya mencoba menyelesaikan siswa yang bertingkah laku buruk ini dengan pendekatan khusus, antara lain yaitu:
    1. Berikan suatu perlakuan khusus
    2. Bangun hubungan komunikasi dan menggunakan statemen untuk mengatakan kamu setuju, tetapi kamu telah memilih perilaku yang salah
    3. Perlu diperbaiki kembali atau mengganti artikel yang dirusak
    4. Perlu melibatkan pihak/personel sekolah atau orang tua
  4. Avoidance of Failure (takut gagal/menghidari kegagalan/ketidakmampuan): siswa yang menunjukkan ketidakmampuan pada dasarnya merasa sengat tidak mampu berusaha mencarai sesuatu yang diinginkannya dan bersikap menyerah terhadap tantangan yang menghambatnya, bahkan siswa ini menganggap bahwa yang ada di depannya hanyalah kegagalan yang terus menerus. Perasaan tanpa harapan biasanya diikuti tingkah laku mengundurkan diri. Ada empat solusi yang harus diperhatiakan guru dalam menyelesaikan permasalahan siswa berperilaku putus asa/takut gagal ini, menurut Linda Albert, antara lain yaitu:
    1. Akui adanya kesulitan pada tugas yang diberikan, tetapi ingat siswa dengan kesuskesan masa lalu
    2. Ubahlah cara pelaksanaan dan materi/bahan pembelajaran
    3. Ajarkan/tanamkan pada siswa dengan mengatakan saya bisa/mampu daripada saya tidak bisa/mampu dengan menjadi berprestasi
    4. Menyediakan guru privat atau mintalah siswa lain untuk membantunya, barangkali siswa lebih mudah untuk membangun kepercayaan diri.[18]

Dari empat permasalahan tingkah laku siswa yang dihadapi ketika proses belajar mengajar berlangsung, menurut penulis seorang guru hendaknya benar-benar mampu mengenal dan memahami secara tepat arah tingkah laku siswa agar guru mampu menangani masalah-masalah yang dihadapi siswa secara tepat pula. Guru harus menyikapi semua tingkah laku siswa tersebut dengan bijaksana dan melibatkan pihak-pihak tertentu seperti orang tua siswa dan pihak sekolah yang diwakili guru bimbingan dan konseling.

Menurut Maman Rahman (1998) dalam mulyadi, bahwa dari keempat tindakan individual siswa di atas akan mengakibatkan terbentuknya empat pola tingkah laku yang sering dijumpai pada anak usia sekolah, yaitu:[19]

  1. pola aktif konstruktif yaitu pola tingkah laku yang ekstrem, ambiguous untuk menjadi superstar di kelasnya dan berusaha membentuk guru dengan penuh vetilitas dan sepenuh hati.
  2. pola aktif destruktif yaitu pola tingkah laku yang diwujudkan dalam bentuk suka marah, kasar dan pemberontak
  3. pola pasif konstruktif yaitu yang menunjukkan kepada satu bentuk tingkah laku yang lamban dengan maksud supaya selalu dibantu dan mengharapkan perhatian
  4. pola pasif destruktif yaitu pola tingkah laku yang menunjukkan kemalasan dan keras kepala.[20]

Manajemen kelas dikatakan menarik, karena pada satu sisi memerlukan kemampuan pribadi dan ketekunan menghadapi, sedangkan disisi lain manajemen kelas sangat menentukan berhasil tidaknya pencapaian tujuan instruksional yang telah ditentukan. Oleh karena itu, menurut penulis guru merupakan kunci keberhasilan dalam manajemen proses belajar mengajar, sehingga sudah seharusnya guru harus memiliki kemampuan profesional termasuk kemampuan manajemen kelas.

Dari empat tingkah laku buruk siswa (Attention, Power, Revenge, Avoidance of Failure) yang dikemukakan oleh Dr. Linda Albert, dalam pandangan penulis sangat baik untuk diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar untuk menyelesaikan permasalah-permasalahan dalam kelas, terutama dengan memberikan solusi atau sesuatu yang harus dilakukan guru apabila menghadapi siswa yang bertingkah laku buruk tersebut. Namun, teori Linda Albert masih banyak kelemahan dan kekurangannya dalam pelaksaan proses belajar mengajar berlangsung. Model pembelajaran cooperative discipline yang dikemukakan oleh Linda Albert ini, hanya menempatkan siswa sebagai faktor tunggal yang menyebabkan pengelolaan kelas yang tidak efektif dan kondusif, hal inilah yang tidak sesuai dengan pandangan penulis. Menurut penulis, tidak kondusif dan efektifnya pengelolaan kelas tidak hanya disebabkan oleh faktor siswa saja, tetapi faktor guru juga harus mendapatkan perhatian khusus. Kondisi kelas yang tidak efektif dan kondusif bisa jadi karena guru tidak mampu untuk mengelola kelas dengan baik atau guru kurang profesional menjadi guru. Inilah yang diabaikan oleh Linda Albert dalam kegiatan proses belajar mengajar.

Dalam menghadapi tingkah laku siswa yang buruk, menurut Linda Albert dalam model pembelajaran cooperative discipline, sikap yang harus dilakukan guru, antara lain yaitu:[21]

  1. a.      Assertive discipline(disiplin yang tegas)
    1. Non-assertive (tidak tegas/lemah lembut). Dalam menghadapi pemasalahan di kelas, guru harus menyikapinya dengan rasa kasih saying dan lemah lembut
    2. Hostile (marah) seorang guru harus memperhatikan bagaimana caranya untuk menegur siswa yang bertingkah laku buruk dalam kelas ketika proses belajar mengajar berlangsung, mungkin bisa dengan memarahinya sambil meberikan nasehat.
    3. Assertive (tegas) sorang guru harus bersikap tegas terhadap tingkah laku siswa yang menganggu proses belajar mengajar berlangsung di kelas
  2. b.      Establishing a positive discipline system: sebelum proses belajar mengajar berlangsung, guru harus membuat suatu sistem atau peraturan dengan murid yang berpengaruh positif terhadap proses belajar mengajar dan siswa di kelas.
  3. c.       Positive rather than negative consequences: guru harus menjelaskan konsekuensi logis apabila siswa bertingkah laku baik dan yang bertingkah laku buru.
  4. d.      Control techniques for disruptive students: seorang guru harus memiliki pengetahuan atau kemampuan tentang teknik untuk mengatasi siswa yang menganggu dalam kelas ketika proses belajar mengajar berlangsung.
  5. e.      Criticisms of assertive discipline: guru harus bersikap tegas terhadap siswa yang menganggu atau siswa yang bertingkah laku buruk di kelas ketika proses belajar mengajar berlangsung.

Dalam menciptakan dan mempertahan suasana kelas yang efektif dan kondusif, kelima langkah tersebut merupakan suatu yang harus dilakukan guru apabila dalam kegiatan belajar mengajar berlangsung di kelas ada siswa yang bertingkah laku buruk atau menganggu proses belajar mengajar tersebut. Penulis menganjurkan kepada guru agar benar-benar memahami strategi dalam pengelolaan kelas ketika proses belajar mengajar berlangsung. Setuju atau tidak setuju, dengan padangan penulis bahwa kenyataan dilapangan masih banyak guru belum mampu mengeolala kelas dengan baik, hal ini disebabkan karena foktor guru itu sendiri bukan faktor dari siswa. Masih banyak guru yang belum memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru sebagaimana telah dijelaskan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.

Pedekatan manajemen kelas dalam proses belajar mengajar Dr. Linda Albert berdasarkan perubahan tingkah laku bertolak dari sudut pandangan psikologi behavioral yang mengemukakan asumsi sebagai berikut:

  1. semua tingkah laku yang baik dari yang kurang baik merupakan hasil proses belajar. Asumsi ini mengharuskan guru berusaha menyusun program kelas dan suasana yang dapat merangsang terwujudnya proses belajar yang memungkinkan siswa mewujudkan tingkah laku yang baik menurut ukuran norma yang berlaku di lingkungan sekitarnya.
  2. dalam proses belajar terdapat proses psikologi fundamental. Asumsi ini menunjukkan bahwa ada empat proses yang perlu diperhitungkan dalam belajar bagi semua orang pada segala tingkatan umur dan segala keadaan (kondisi). Proses belajar itu sebagian atau seluruhnya dipengaruhi oleh kejadian-kejadian yang berlangsung di lingkungan. Dengan demikian tugas guru ialah menguasai dan menerapkan keempat proses yang telah terbukti merupakan pengontrol tingkah laku manusia, yaitu:[22]
    1. Penguatan Positif (positive reinforcement), dalam kegiatan belajar mengajar, penghargaan (penguatan positif) mempunyai arti penting. Tingkah laku dan penampilan siswa yang baik, diberi penghargaan dalam bentuk senyuman atau kata-kata pujian yang merupakan penguat terhadap tingkah laku dan penampilan siswa.
    2. Hukuman (punishment), masalah hukuman masih merupakan suatu delema atau masih diperdebatkan yaitu penggunaan hukuman untuk mengurangi atau meniadakan tingkahl laku siswa yang menyimpang. Dalam hal ini ada tiga pokok pandangan yaitu: pertama, penggunaan hukuman itu hendaklah sama sekali dihindarkan, kedua, penggunaan hukuman secara tepat adalah amat efektif untuk mengurangi atau menghilangkan tingkah laku siswa yang menyimpang, dan ketiga, penggunaan hukuman secara bijaksana terhadap hal-hal tertentu secara terbatas dapat menimbulkan akibat baik secara cepat, tetapi guru harus hati-hati mencatat akibat-akibat sampingan dari hukuman itu.
    3. Penghapusan (extinction) dan Penundaan (time out), penghapusan adalah menahan atau tidak lagi memberikan ganjaran yang diharapkan akan diberikan seperti yang sudah-sudah. Sedangkan penundaan merupakan tindakan tidak jadi memberikan ganjaran atau mengecualikan pemberian ganjaran untuk siswa tertentu.
    4. Penguatan Negatif (negative reinforcement), yang dimaksud dengan penguatan negative adalah peniadaan perangsangan yang tidak mengenakkan (hukuman) sehingga mengurangi tingkah laku yang menyimpang biasa dilakukan.[23]

Dalam pembelajaran cooperatif disiplin (cooperative discipline) model pembelajaran Linda Albert memiliki implikasi terhadap para guru dalam pengelolaan kelas ketika proses belajar mengajar berlangsung, yaitu:

  1. Menspesifikan tujuan pembelaran: di setiap pembelajaran seharusnya ada tujuan akademis yang mengkhususkan untuk mempelajari konsep da strategi dan tujuan kecakapan sosial yang mengkhususkan pada kecakapan interpersonal atau kelompok kecil untuk digunakan dan dikuasai selama pelajaran berlangsung.
  2. Membuat sejumlah keputusan sebelum pelajaran dimulai: Guru harus menentukan ukuran kelompok, metode penugasan, peran siswa yang akan diberi tugas, materi yang perlukan untuk menjalankan pelajaran dan cara menata ruangan.
  3. Menjelaskan tugas dan interdependensi positif: Guru menentukan penugasan dengan jelas, mengajarkan konsep dan strategi yang diperlukan, menentukan cara saling membantu yang positif dan akuntabilitas individual, memberikan kriteria keberhasilan dan menjelaskan kecakapan sosial yang diharapkan bisa dijalankan siswa
  4. Mengawasi pembelajari siswa dan memberikan intervensi di dalam kelompok untuk memberikan bantuan dalam mengerjakan tugas atau meningkatkan keterampilan interpersonal siswa atau kelompok: Guru secara sistematis mengamati dan mengumpulkan data tentang tiap-tiap kelompok ketika mereka bekerja. Jika dibutuhkan, guru ikut campur untuk membantu siswa menyelesaikan tugas secara tepat dan ketika bekerja bersama secara efektif.
  5. Mengevaluasi pembelajaran siswa dan membantu siswa memproses seberapa baik kelompok mereka berfungsi: Pembelajaran siswa secara hati-hati dinilai dan pemahaman mereka dievaluasi. Para anggota kelompok belajar kemudian memproses seberapa efektif mereka dalam bekerja bersama.[24]

Apabila kelima implikasi teori Linda Albert tersebu dapat dilaksanakan dengan baik oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, maka akan berdampak terhadap tingkah laku dan respon siswa ketika proses belajar berlangsung. Guru adalah aktor pertama dan utama dalam proses belajar mengajar, memiliki pengaruhi yang besar terhadap penciptaan suasana kelas yang efektif dan kondusif sehingga akan berpengaruhi juga terhadap prestasi siswa di kelas. Dengan demikian, dari keseluruahan penjelasan di atas, penulis mempunyai pandangan berbeda dengan apa yang dijelaskan oleh Linda Albert, yang mempokuskan kepada siswa penyebab utama dari tidak efektif dan kondusifnya keadaan kelas. Namun dibaliki itu, ada faktor lain yang mempengaruhi tidak kondusif dan tidak efektifnya suatu kelas sangat ditentukan oleh guru yang mengajar. Disisi inilah yang menjadi kelemahan dari teori Linda Albert jika diterapkan dalam pembelajaran menurut padangan penulis.

Namun, secara keseluruhan keberadaan guru dan siswalah yang akan menetukan keadaan dan situasi kelas. Guru yang tidak profesional dalam mengajar dampaknya jauh lebih besar jika dibandingkan daripada dampak yang disebabkan oleh tingkah laku siswa yang menyimpang. Kelas yang efektif dan kondusif merupakan dampak antara guru dan siswa. Dampak yang disebabkan karena tidak profesionalnya guru inilah yang harus menjadi perhatian khusus oleh pakar pendidikan dan pembelajaran. Oleh karena itu, peningkatan kualitas guru dalam manajemen kelas dan proses belajar mengajar harus menjadi prioritas pertama utama untuk saat ini, apalah artinya sebuah kelas dan sekumpulan siswa jika tanpa dikelola oleh tenaga profesional yaitu guru. Salah satu solusi menurut pandangan penulis dalam rangka mengelola kelas yang efektif dan kondusif ketika proses belajar mengajar berlangsung adalah tingkatkan kinerja dan profesional guru, tanpa itu seorang guru akan merasa kesulitan untuk mengelola kelas ketika proses belajar mengajar berlangsung.

.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Mujib, Jusuf Mudzakkir. 2006. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media.

Daradjat, Zakiah. 1992. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Askara.

Isjoni. 2009. Cooperative Learning: Efektifitas Pembelajaran Kelompok. Bandung: Alfabet, cet 2.

Mulyadi.2009. Classroom Management: Mewujudkan Suasana Kelas yang Menyenangkan bagi Siswa. Malang: UIN-Malang Press

M. Lee Manning, Katherine T., Bucher. 2003. Classroom Management Models, Applications and Cases. New Jersey: Marril Prentice

Robert E, Slavin. 2009. Cooperative learning: Teori, Riset dan Praktik. Bandung: Nusa Media

Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning: Teori dan Aplikasinya PAIKEM. Yokyakarta: Pustaka Pelajar

Sharan, Shlomo. 2009. Handbook of Cooperative Learning: Inovasi Pengajaran dan Pembelajaran untuk Memacu Keberhasilan Siswa di Kelas. Yogyakarta: Imperium

Tim Laboratorium LP3I. 2010. Keterampilan Dasar Mengajar. Malang: Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Wlodsowski R. J. & Jaynes J. H. 2004. Hastrat Untuk Belajar: Jogjakarta: Pustaka Pelajar


[1] Isjoni, Cooperative Learning: Efektifitas Pembelajaran Kelompok, Bandung: Alfabet, 2009, Cet 2, hlm. 11-12

[2] Wlodsowski R. J & Jaynes J. H., Hastrat Untuk Belajara, Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2004, hlm. 22

[3] Robert E. Slavin, Cooperative Learning: Teori, Riset dan Praktik, Bandung: Nusa Media, 2009, hlm. 41

[4] Agus Suprijono, Cooperative Learning: Teori & Aplikasi Paikem, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009, hlm. 58

[5] Mulyadi, Classroom Management: Mewujudkan Suasana kelas yang Menyenangkan bagi Siswa, Malang: UIN-Malang Press, 2009, hlm. 5

[6] Ibid, hlm. 2

[7] Mulyadi, op. cit., hlm. 2-3

[8] Abdul Mujib, Jusuf Mudzkkir, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006, hlm. 88

[9]  Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam,Jakarta: Bumi Askara, 1992, hlm. 39

[10] Lihat Mulyadi,…hlm. 4

[11] Tim Laboratorium LP3I, Keterampilan Dasar Mengajar, Malang: Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, 2010, hlm 35-36

[12] Hadari Nawawi dalam Mulyadi, ibid, hlm. 6

[13] Mulyadi, op.cit., hlm. 6-8

[14] Shlomo Sharan, Handbook Of Cooperative Learning: Inovasi Pengajaran dan Pembelajaran untuk Memacu Keberhasilan Siswa di Kelas, Yogyakarta: Imperium, 2009, hlm. 75-77

[15] M. Lee Manning, Katherine T. Bucher, Classroom Management Models, Applications and Cases, New Jersey: Marril Prentice, 2003, hlm. 239-240

[16]  M. Lee Manning, Katherine T. Bucher, ibid., hlm. 241

[17]  M. Lee Manning, Katherine T. Bucher, op.cit., hlm 241

[18]  Lihat M. Lee Manning, Katherine T. Bucher,…hlm. 241

[19] Lihat Mulyadi,…hlm. 15

[20] Maman Rahman dikutip dalam Mulyadi…., ibid., hlm. 15

[21] Linda Albert, Classroom Management and Cooperative Group Work for Efective Larning, New Jersey: tth., hlm. 271-273

[22] Lihat Mulyadi, ibid., hlm. 36

[23] Lihat Mulyadi..op.cit., hlm. 36-45

[24] Shlomo Sharan, Handbook of Cooperative Learning, Yogyakarta: Imperium, 2009, hlm. 75-77

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.